COVID-19
  Sejumlah petugas menurunkan tabung berisi oksigen di Posko Darurat Oxygen Rescue, kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Senin (5/7/2021). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra.

Menjawab Kebutuhan Oksigen dengan Konsentrator

  •   Jumat, 30 Juli 2021 | 07:27 WIB
  •   Oleh : Administrator

Pemerintah berencana mendatangkan 50 ribu unit konsentrator oksigen untuk mengatasi kebutuhan oksigen medis di rumah sakit-rumah sakit. Alat ini nantinya juga dapat dipinjam pakai bagi masyarakat terkonfirmasi positif corona dengan gejala ringan hingga sedang.

Seiring laju pertambahan kasus mereka yang terkonfirmasi positif virus corona, kebutuhan akan oksigen buatan pun ikut meningkat. Ini terjadi utamanya sejak awal Juli 2021 dan bahkan ketika angka psikologis di atas 50 ribu kasus per hari mulai terlewati.

Pemandangan puluhan warga membawa tabung oksigen antre di depo-depo isi ulang oksigen terjadi di sejumlah kota di tanah air. Oksigen menjadi kebutuhan vital yang tidak dapat dihindarkan bagi mereka yang terkonfirmasi virus SARS COV-2.

Hal itu karena dalam banyak kasus, pasien positif corona gejala ringan dan sedang kerap mengalami sesak napas atau kesulitan bernapas dan memerlukan bantuan oksigen buatan. Data Kementerian Kesehatan menyebutkan, kebutuhan harian oksigen untuk medis saat pandemi berkisar di angka 400 ton.

Tetapi saat terjadi peningkatan secara eksponensial sejak awal Juli hingga hari ini, kebutuhan oksigen itu meningkat hingga 5 kali lipatnya. Untuk memenuhi pasokan oksigen buatan, kalangan badan usaha milik negara (BUMN) dan swasta pun berlomba memberikan donasi ribuan tabung oksigen serta isi ulang tabung oksigen. Terutama, bagi kebutuhan rumah sakit di seluruh Indonesia, khususnya Pulau Jawa dan Bali saat penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat.

Kendati demikian, sejatinya kebutuhan udara segar buatan tidak hanya didapatkan dari tabung oksigen yang beragam ukuran dan bentuknya. Ketika menghadiri rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI, Selasa (13/7/2021), Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sempat mengungkapkan strategi mengantisipasi kebutuhan oksigen bagi pasien corona.

Salah satunya adalah penggunaan konsentrator oksigen (oxygen concentrator) terutama untuk menggantikan fungsi tabung oksigen pada ruang rawat yang dikonversi sebagai tempat perawatan pasien Covid-19. Termasuk di rumah sakit darurat atau rumah sakit lapangan yang tidak memiliki instalasi oksigen tersendiri.

 

Kebutuhan Konsentrator Oksigen

Mantan Wakil Menteri BUMN ini mengatakan, pihaknya sudah mengidentifikasi kebutuhan pengadaan tabung oksigen dan konsentrator oksigen di angka 60 ribu-70 ribu unit. "Alat ini sempat diterapkan oleh Pemerintah India ketika terjadi lonjakan kasus pada April lalu dan kita juga ikut menyumbangkannya ke sana," kata mantan direktur utama Bank Mandiri dan PT Inalum ini seperti dikutip dari kanal Youtube DPR RI.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam siaran persnya, Senin (12/7/2021) mengatakan, pemerintah akan mengimpor 50 ribu unit konsentrator oksigen yang dapat dipinjamkan kepada masyarakat terkonfirmasi positif corona gejala ringan dan sedang. Saat ini telah tersedia hampir 10 ribu unit oksigen konsentrator berasal dari bantuan internasional dan swasta-BUMN.

Konsentrator oksigen sendiri bekerja dengan memproses udara bebas di sekitarnya menjadi oksigen murni berkadar hingga 93 persen atau di atas kadar rata-rata oksigen alami sebesar 21 persen. Oksigen yang dihasilkan dari alat ini bisa langsung dimanfaatkan oleh pasien corona. Kemampuan setiap alat dalam memproduksi oksigen pun beragam, bergantung dari kapasitasnya, biasanya mulai 1-10 liter oksigen per menit.

Alat yang memakai listrik sebagai sumber energinya ini menggunakan teknologi khusus. Namanya pressure swing adsorption atau menggunakan ayakan molekuler untuk mengadsorpsi gas-gas. Ada semacam otak pintar ditanamkan pada alat ini yang mampu bekerja otomatis memompa oksigen ketika pasien menghirupnya (pulse delivery).

Alat akan mendeteksi dulu kapan penggunanya menghirup napas untuk mendapatkan pasokan oksigen baru. Karenanya alat canggih ini akan berdiam sejenak pada waktu di mana sedang terjadi pertukaran gas di paru-paru pasien.

Namun ada juga konsentrator oksigen yang dibuat dengan teknologi memompa oksigen setiap saat meski pasien sedang tidak memerlukannya saat itu. Sehingga oksigen yang dihasilkan dari jenis continuous flow ini banyak terbuang sia-sia.

 

Aman dari Kebocoran

Semula konsentrator oksigen dibuat untuk memenuhi kebutuhan oksigen tambahan bagi pasien penyakit paru obstruktif kronis (chronic obstructive pulmonary disease/COPD). Dalam konsentrasi lebih tinggi, juga dapat membantu pasokan oksigen tambahan pada penderita hipoksemia kronis dan endema paru. Juga dapat difungsikan sebagai alat terapi tambahan bersama alat Continuous Positive Airway Pressure pada penanganan penderita sleep apneaatau kesulitan bernapas saat tidur.

Seperti dikutip dari kanal Youtube Inova Labs Inc, salah satu produsennya yang berpusat di Austin, Texas, Amerika Serikat, disebutkan bahwa konsentrator oksigen pertama kali diciptakan pada awal abad milenium. Setiap unitnya terdiri dari air compressor, dua silinder yang terisi pellet zeolite, penyaring, pipa, nasal kanula, dan face mask.

Terdapat unit berukuran berat maksimal 10 kilogram yang dapat diletakkan di tiap sudut ruang dan bertenaga listrik. Alat canggih ini dapat digunakan terus menerus selama 24 jam selagi terdapat pasokan listrik. Ada pula konsentrator oksigen portabel seberat 2 kilogram yang dapat di bawa-bawa ke mana saja karena menggunakan baterai yang dapat dicas ulang.

Pihak Inova Labs Inc menyebutkan, tidak seperti tabung oksigen yang rawan risiko kebocoran, konsentrator oksigen diklaim lebih aman dipakai di ruangan tertutup. Meski demikian, harga konsentrator oksigen lebih mahal dibandingkan dengan tabung oksigen jenis portabel kendati memiliki fungsi dan manfaat yang tidak jauh berbeda.

Kehadiran konsentrator oksigen nantinya di tiap ruang perawatan pasien corona diharapkan dapat membantu proses penyembuhan mereka agar dapat kembali beraktivitas. Jangan lupa juga untuk terus memperketat protokol kesehatan dengan selalu memakai masker ganda selama berkegiatan, selalu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, dan tetap menjaga jarak minimal 1,5 meter serta hindari kerumunan.



Penulis: Anton Setiawan
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari