BUDAYA
  Kuda-kuda Sumba dalam sebuah hajat Pasola seusai panen di Waingapu, Sumba Timur. KEMENDIKBUD

Beri Daku Sumba

  •   Sabtu, 25 Juni 2022 | 12:00 WIB
  •   Oleh : Administrator

Populasi kuda di Sumba terus bertahan di tengah arus zaman. Seperti sapi, kerbau, babi, dan kambing, kuda Sumba laku dijual keluar pulau. Kuda itu bagian dari Tradisi Marapu.

Yang istimewa dari Pulau Sumba adalah kuda. Maka, ketika Ingin menyuguhkan sajian spesial untuk Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana, yang berkunjung ke daerahnya, Bupati Sumba Timur Khristofel Praing pun memilih menghidangkan ekshibisi pacuan kuda. Atraksi kuda itu dihelat di Lapangan Rihi Eti Prailiu, Waingapu, pada sebuah siang di awal Juni 2022.

Presiden Joko Widodo duduk di tribun utama yang cukup lengang. Ibu Iriana pun mengajak siswa-siwa usia SD dan SMP yang berkerumun di sekitar tribun agar duduk di bangku-bangku kosong di sekitarnya. ‘’Ayo sini, nak...,’’ ajak ibu negara. Dalam sekejap, tribun utama itu pun dijejal dengan anak-anak sekolah berbaju putih bercelana pendek. Ekshibisi pun siap dimulai.

Sekitar 20 lelaki penunggang kuda siap berlomba. Mengenakan celana selutut, tanpa sepatu, ikat kepala warna-warni di kepala, para joki itu siap beraksi. Berdera start diangkat, dan kuda-kuda itu pun lari berderap. Para  joki  memacu kudanya tanpa pelana. Mereka duduk di atas bantalan kain tenun dengan kedua kaki menjepit badan kuda. Posisi badan mereka  tegak, bukan membungkuk. Penonton bersorak sorai.

Kuda-kuda berlari kencang. Setiap kali melewati tribun utama, para joki itu menghormat ke arah tribun utama, dan Presiden Jokowi membalasnya dengan acungan dua jempol disertai senyum lebar. Tiga putaran berjalan, lomba balap pun usai. Para penunggang kuda itu telah menunjukkan kebolehan lelaki Sumba menunggang kuda. Presiden Jokowi segera turun dari tribun, menghampiri para joki dan berbincang.

 

Festival Kuda

Bukan hanya pacuan kuda, masyarakat Sumba punya tradisi spesial Festival Pasola yang digelar di musim panen. Dalam festival ini, ada dua grup penunggang kuda, biasanya berdasarkan kelompok desa atau kecamatan. Mereka bertarung bak pasukan kavaleri. Tombak tajam diganti batang kayu tumpul sepanjang 1,5 meter dengan diameter 3 cm. Kostum pasukan mirip dengan pakaian joki di area pacuan kuda, dan beberapa di antaranyya mengenakan topi rumput di kepala.

Di padang rumput yang luas, kedua kelompok ini berlaga. Satu lawan satu. Kedua petarung saling memacu kudanya dan menghampiri lawan. Dalam jarak cukup dekat, batang kayu itu dilempar ke arah lawan. Bisa kena bisa luput. Para petarung adu pintar mengelak dan melempar. Penonton pun bersorak-sorai ramai.

Luka lecet dan memar biasa dalam Pasola. Insiden terjatuh dari kuda bisa terjadi. Oleh karenanya, para peserta biasanya penunggang kuda yang terlatih. Mereka berlatih dengan berburu babi dan rusa dengan tombak tajam di tangan.

Pacuan kuda dan Pasola itu hanya sebagian kecil dari kehidupan masyarakat Sumba, sebuah pulau  di ujung barat-selatan Nusa Tenggara Timur (NTT). Pulau seluas 10.700 km2 itu dihuni oleh 780 ribu penduduk, yang tersebar di empat kebupaten, yakni Sumba Barat, Sumba Barat Daya, Sumba Tengah, dan Sumba Timur.

Dibanding Flores, yang ada di sebelah utara, Sumba lebih kering. Pesisir utara Pulau Sumba sering kali hanya menerima curah hujan 800–1.000 mm per tahun. Pada bagian barat sedikit lebih basah, dengan curah hujan sampai  1.500 mm per tahun.  Secara umum, kemarau yang meranggas biasa terjadi 6--7 bulan dalam setahun. Kondisi alamnya pun berbeda. Di pegunungan, tumbuh hutan-hutan tropis kering dengan kerapatan pohon yang tak terlalu tinggi. Di lembah muncul padang savana yang luas menghampar.

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka

Di mana Matahari membusur api di atas sana

Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka

Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga

Tanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput

Kleneng genta, ringkik kuda, dan teriakan gembala

Berdiri di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut

Dan angin zat asam panas dikipas dari sana

 

Nukilan puisi berjudul “Beri Daku Sumba” yang ditulis oleh Taufiq Ismail (1970), untuk sahabatnya penyair asal Sumba, Umbu Landu Paranggi (1943-2021), adalah kerinduan untuk alam Sumba yang berdiri megah di atas Tanah Marapu. Para perjaka menunggang kuda di atas padang, mengembala kuda-kuda sandel, sapi, dan kerbau di kaki perbukitan. Di pondok bambu di dusun, ibunda mereka mengurus kambing dan babi.

 

Marapu

Pulau Sumba yang juga berjulukan Tanah Marapu menyimpan kehidupan yang khas. Bagi sebagian penduduk Sumba, mengurus sapi, kerbau, kambing, dan babi adalah urusan ekonomi. Namun soal kuda, itu terkait ke masalah budaya lokal yang akarnya terikat ke sistem keyakinan Merapu, agama klasik yang sejak lama hidup di kalangan masyarakat adat setempat.

Ritual penyembelihan kuda masih sering menjadi bagian dari ritual pemakaman para tokoh adat Marapu. Pengorbanan itu dianggap penting untuk mengantarkan ruh ke Prai Marapu, yakni surga yang diyakini pada penghayat Marapu. Adat itu masih bertahan dengan ritual pemujaan ke arwah para leluhur. Secara harfiah, marapu berarti mulia.

Berada di posisi terluar, Sumba relatif bebas dari pengaruh luar. Ekspedisi Kerajaan Singasari dan Majapahit tercatat pernah sampai ke pulau ini, tapi tak meninggalkan jejak budaya. Orang Eropa (Portugis) juga pernah masuk 1522, tapi tak membangun koloni. Sumba tak dijajah oleh siapapun hingga Pemerintah Hindia Belanda datang 1866 memasukkan Sumba dalam wilayahnya.

Penyebaran Kristen berlangsung sejak 1881, antara lain, melalui lembaga Zending yang membuka  sekolah rakyat. Tapi, pengaruhnya hanya pada golongan atas saja, yaitu pada kelompok Ratu dan Maramba, yang tidak banyak jumlahnya. Sebagian besar masyarakat masih tetap memilih menjadi penghayat Marapu.

Bahkan, di Kecamatan Umalulu, Sumba Timur, misalnya, hingga 1982 hanya 1,1% saja dari seluruh penduduk yang beralih agama menjadi pemeluk agama Kristen. Namun, situasi telah berubah. Kini, dari sekitar 260 ribu warga Sumba Timur, 77,6% beragama Kristen. Katolik 8,8%, Islam 6,3%, Hindu 0,16 persen, dan penghayat Marapu 6,8%. Selebihnya Buddha dan Konghuchu.

Lonjakan jumlah umat beragama itu tak lepas dari dinamika masyarakat Sumba sendiri, di samping ada tuntutan administrasi negara yang mensyaratkan semua orang  menganut  agama resmi. ‘’Mau ambil KTP, daftar sekolah, apalagi yang mau ikut tes masuk pegawai negeri  atau TNI-Polri, semua harus mengisi kolom agama, ‘’ kata Umbu Laiya Kasedu, tokoh adat Marapu pada  sebuah seminar  di Solo (2018).

Toh, keprihatinan Umbu Kasedu tidak berlarut-larut. Ketentuan kolom agama yang telah berumur 41 tahun itu dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK). Sejak awal 2019, Kemendagri mengizinkan warga mengisi aliran kepercayaan yang dianutnya (termasuk Marapu) pada kolom agama di KTP.

Adat Marapu pun kini makin leluasa bergerak bersama derap kuda-kuda Sumba. Kini, kuda Sumba tak hanya menjadi bagian dari ritual budaya, ia pun bagian dari geliat ekonomi rakyat. Populasinya terus bertahan. Di Sumba Barat ada 6.900 ekor kuda, dan di Kabupaten Sumba Timur yang padang kembaranya lebih luas dan lebih hijau hidup 37.000 ekor. Masih ada 15.000 ekor lainnya di Sumba Tengah dan Barat Daya.

Meski tak terlalu cepat, perekonomian Pulau Sumba juga terus berkembang. Populasi sepeda motor, sapi potong, dan kerbau sudah melampaui jumlah kuda. Ribuan ekor sapi, kerbau, dan kuda setiap tahunnya dikapalkan keluar pulau untuk diperdagangkan. Begitu halnya dengan kambing dan babi.

Sumba  adalah tempat hewan ternak dibudidayakan. Untuk  sapi, kerbau, kambing, dan babi, ada banyak sentra produksinya, tapi untuk “komoditas kuda” Sumba ialah “agen tunggalnya”. Sekitar 6.000–7.000 ekor kuda Sumba dijual ke luar pulau. Ada yang diperdagangkan sebagai kuda wisata, kuda pacu, kuda delman, atau kuda indukan. Harganya sekitar Rp7 juta hingga Rp8 juta untuk kuda anakan, Rp20 juta untuk kuda dewasa, dan bisa berlipat kali untuk kuda juara.

Secara geneologis kuda Sumba disebut berasal dari ras kuda Mongol, yang datang ke Nusantara pada awal era penyebaran  Hindu. Kuda bukan hewan endemik Nusantara. Belum  ada dokumen kuat yang menyebut awal kedatangannya ke Sumba. Namun diyakini, mereka datang pada waktu yang hampir bersamaan dengan kuda-kuda yang ada di Flores dan Pulau Timor.

Kemungkinan ketika Portugis datang ke Sumba awal 1500-an untuk berdagang, kuda-kuda Sumba sudah ada. Orang Portugis diduga membawa kuda Arab sebagai alat pembayaran untuk kayu-kayu cendana (sandalwood) yang diborongnya. Persilangan kuda Arab dan kuda lokal itu agaknya yang menjadi tetua dari kuda sandelwood Sumba. Orang Belanda kemudian mendatangkan kuda-kuda jantan Australia untuk membuat kuda sandelwood itu lebih kekar.

Hasilnya ialah kuda sandelwood yang ada saat ini. Tinggi kuda Sumba diukur dari punggung antara 110–130 cm, dengan berat rata-rata 210 kg. Lebih kecil dari kuda Arab yang tingginya 140--150 cm dengan berat di atas 300 kg. Sementara itu, kuda-kuda Eropa-Amerika tingginya 150--170 cm, dengan berat badan di atas 400 kg.

Karena fisiknya yang kecil, sebagian tingginya di bawah 110 cm, kuda Sumba sering disebut sebagai kuda pony. Ciri khasnya adalah bentuk kepala yang besar, rata, kuping kecil, dan leher serta bahu yang kekar. Namun, kuda Sumba relatif lebih gagah dari kuda-kuda di Jawa yang hingga kini masih banyak digunakan untuk kuda delman atau kuda wisata.

Kuda Sumba kini terus berlari berpacu dengan zaman, ketika sebagian padang gembala digunakan untuk budi daya sapi potong dan kerbau. Mereka juga harus beradaptasi pada situasi baru setelah Presiden Jokowi menargetkan hadirnya 5.000 ha (50 km2) ladang-ladang di Sumba dijadikan food estate, dengan tanaman pagi, jagung atau sorgum.

Kuda-kuda Sumba itu akan berderap bersama lenguhan sapi, kerbau, dan derum traktor dan ribuan sepeda motor. Mereka bukannya sedang berlomba dan saling menyingkirkan, hanya mencari derap yang padu dalam harmoni adat Tanah Marapu.

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka

Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh

Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda

Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh (Taufiq Ismail)

 

Penulis: Putut Trihusodo
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari