Indonesia.go.id - Bukit Menumbing Saksi Sejarah Perjuangan Bangsa

Bukit Menumbing Saksi Sejarah Perjuangan Bangsa

  • Administrator
  • Minggu, 13 Agustus 2023 | 07:37 WIB
  • 0
SEJARAH
  Bukit Menumbing. Pemprov Belitung
Tokoh-tokoh pemimpin Indonesia di masa lalu pernah diasingkan Belanda ke Muntok dan menempati Pesanggrahan Menumbing, dataran tinggi Kabupaten Bangka Barat.

Ada sebuah dataran tinggi di Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung, yang erat kaitannya dengan perjalanan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Namanya Menumbing, sebuah bukit setinggi hampir 500 meter di atas permukaan laut dan menjadi bagian dari Taman Hutan Raya (Tahura) Gunung Menumbing. Letaknya sekitar 20 menit berkendara dari Muntok, ibu kota kabupaten. Tahura Menumbing berfungsi sebagai kawasan konservasi alam yang menyimpan beragam kekayaan hayati.

Berdasarkan hasil penelitian dan pendataan yang dilakukan Fakultas Kehutanan IPB University pada 2016 diketahui di Tahura Menumbing terdapat koleksi fauna, meliputi 94 jenis burung, 14 jenis binatang amfibi, 25 jenis reptil, dan 11 jenis mamalia. Hewan-hewan itu di antaranya kijang, tupai terbang, babi hutan, kucing hutan, monyet ekor panjang, dan ular. Ada pula burung puyuh, punai, elang, dan pelatuk.

Dalam tahura seluas 3.333,2 hektare tersebut juga terdapat aneka tumbuhan termasuk pohon pala raksasa berusia 150 tahun yang bibitnya berasal dari Maluku. Layaknya sebuah hutan, Bukit Menumbing menyajikan aneka flora khas dataran tinggi seperti pinus, pakis, anggrek hutan, dan lainnya.

Sebuah jalan aspal sepanjang 4,5 kilometer dan lebar 6 meter dengan ruas berkelok-kelok menjadi akses hingga menuju kawasan puncak dengan pemandangan Selat Bangka. Kicau burung bakal menemani kita sepanjang perjalanan.

Lebatnya pepohonan di tahura memberi kesan sejuk dan teduh meski sinar matahari sedang bersinar terik. Sambil menyusuri jalan menuju ke arah puncak bukit, kita dapat menyaksikan di kejauhan danau-danau kaolin berwarna hijau keabu-abuan bekas penambangan timah. Maklum saja, sejak era Kolonial Belanda, Pulau Bangka sudah dikenal sebagai daerah penghasil timah terbaik di dunia.

Perjalanan selama 15 menit sejak di pintu masuk tahura berujung di sebuah gerbang hitam sebagai penanda kita telah sampai di puncak bukit. Tepat di kawasan puncak ini berdiri tiga bangunan, salah satunya berukuran lebih besar dan bertingkat. inilah kastil atau tempat peristirahatan yang dibangun oleh perusahaan timah kolonial, Banka Tin Winning Bedrijft (BTW) pada 1927 silam.

Kendati lokasinya menyepi dan jauh dari keramaian, fasilitas dari kompleks peristirahatan atau berghotel ini terbilang lengkap di masanya seperti lapangan tenis, listrik dan air bersih, serta mess penjaga. Kastil ini resmi digunakan pada 28 Agustus 1928 dan Pesanggrahan Menumbing menjadi bangunan utama di sana. Bangunan utama ini memiliki 25 kamar dan diperuntukkan bagi para petinggi BTW saat berlibur.

 

Lokasi Pengasingan

Seperti dikutip dari website Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, peran Pesanggrahan Menumbing makin terasa tatkala peristiwa Agresi Militer II oleh tentara Belanda meletus pada 19 Desember 1948. Ketika Belanda menguasai Yogyakarta, mereka menangkapi tokoh-tokoh nasional seperti Soekarno, Sutan Sjahrir, Agus Salim, pada 22 Desember 1948 dan diasingkan ke Berastagi memakai pesawat B-25.

Selanjutnya, giliran Mohammad Hatta, Ali Sastroamidjojo, Mohammad Roem, Ass'at, Soerjadi Soerjadarma, dan AG Pringgodigdo diasingkan ke Muntok pada 31 Desember 1948. Mereka menjadi rombongan pertama yang masuk ke Muntok sebelum ditempatkan di kastil BTW. Mereka mendarat di landasan udara Kampung Dul yang sekarang dikenal sebagai Bandar Udara Depati Amir, Kota Pangkal Pinang dan menyusuri perjalanan darat selama empat jam membelah hutan belantara ke arah barat menuju Muntok.

"Tuan-tuan akan dibawa ke Muntok. Dekat Muntok ada Gunung Menumbing, di situ ada sebuah pesanggrahan kepunyaan Tambang Timah dan tuan-tuan akan ditempatkan sementara di situ," kata kontrolir Belanda yang menjemput Mohammad Hatta dan kawan-kawan. Hal itu diungkapkan Bung Hatta dalam bagian ketiga seri buku otobiografinya Untuk Negeriku: Menuju Gerbang Kemerdekaan.

Wakil presiden pertama di Indonesia itu menggambarkan gedung peristirahatan itu selain bertingkat dua, terdapat sebuah bungalow yang belum selesai dicat. Lantai pertama Pesanggrahan Menumbing disebut Hatta terdapat ruang duduk, di sebelah kiri bersambung ke sebuah kamar tidur dan kamar mandi, di sebelah kanan bersambung turut bersambung dengan kamar tidur tetapi tanpa kamar mandi.

Tepat di lantai dua terdapat sejumlah kamar, dan atapnya berbentuk datar mirip sebuah ruang terbuka yang dipakai para pemimpin bangsa yang diasingkan untuk menghangatkan badan sembari memandangi Kota Muntok dari segala sisi dan tentu saja Selat Bangka dan samar-samar daratan Pulau Sumatra di kejauhan.

Belanda kemudian mengirimkan Soekarno bersama Agus Salim, Mohammad Roem, dan Ali Sastroamidjojo untuk diasingkan ke Muntok pada 6 Februari 1949. Mereka ditempatkan di Pesanggrahan Menumbing, namun berbeda kamar. Soekarno ditempatkan di kamar 12, kamar 12-A diisi oleh Mohammad Roem, dan Agus Salim di kamar 11.

Belakangan, Soekarno tidak nyaman dengan hawa dingin puncak Bukit Menumbing dan minta dipindahkan ke Pesanggrahan Muntok atau Wisma Ranggam bersama Agus Salim, Mohammad Roem, dan Ali Sastroamodjojo. Selama masa pengasingan di Menumbing, tokoh-tokoh pemimpin bangsa tersebut tetap sibuk berjuang lewat jalur diplomasi.

Mereka menyiapkan berbagai konsep penyusunan strategi perundingan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. "Dari Alcatraz saya di Bangka, saya tahu perlawanan 350 tahun negara kami segera berakhir," ucap Soekarno seperti dituliskan Cindy Adams, penulis Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Keyakinan Soekarno itu membuahkan hasil, karena pada 17 April 1949, Indonesia duduk bersama dengan Belanda untuk menyelesaikan niat kolonial untuk pengembalian kedaulatan. Perjanjian yang diwakilkan kepada kedua pemimin delegasi, Mohammad Roem dan Herman van Roijen itu di kemudian hari dikenal sebagai Perjanjian Roem-Roijen.

Usai Perjanjian Roem-Roijen itu, Soekarno pada 6 Juli 1949 kembali dari pengasingannya di Muntok ke Yogyakarta, ibu kota sementara Republik Indonesia. Selanjutnya pada 13 Juli 1949, perjanjian penting tersebut disahkan oleh pemerintahan sementara Republik Indonesia.   

 

Dijadikan Museum

Melihat pentingnya posisi Pesanggrahan Menumbing di dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, terutama sewaktu penyerahan kembali kedaulatan yang sempat terampas oleh Belanda pascakemerdekaan, maka pada 2010 ditetapkan sebagai salah satu benda, situs, atau kawasan cagar budaya. Diterbitkan pula Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata nomor PM.13/PW.007/MKP/2010.

Beleid tadi dilanjutkan oleh SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 210/M/2015 tanggal 5 November 2015 yang menyebutkan bahwa kastil peninggalan kolonial itu dijadikan sebagai cagar budaya peringkat nasional. Sejak beberapa tahun belakangan, Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi Kemendikbudristek menata kembali kawasan ini untuk dijadikan museum.

Sejumlah peninggalan penting pun dipamerkan di Pesanggrahan Menumbing, seperti surat-surat Soekarno saat berada di kamar pengasingannya. Mulai dari tempat tidur, meja kursi, buku-buku bacaan para pemimpin bangsa, yang diasingkan ke lokasi ini turut dipamerkan. Begitu pula dengan mobil sedan hitam produksi pabrik otomotif asal Amerika Serikat buatan 1938. Sebuah pelat nomor polisi BN 10 masih tersemat di bagian depan mobil yang warnanya mulai terlihat sedikit kusam.

Mobil yang dipinjamkan dari BTW itu dijadikan kendaraan operasional Bung Hatta selama 17 hari di pengasingan. Misalnya, dipakai untuk beribadah ke masjid atau melakukan rapat dengan Bung Karno di Wisma Ranggam, sekitar 16 km dari Menumbing. Sejak 2021, pihak BPCB Jambi merenovasi Pesanggrahan Menumbing, seperti sebuah galeri atau ruang tata pamer bertajuk Cahaya Kebangsaan kendati aslinya telah sejak lama difungsikan sebagai museum.

Dua patung tembaga proklamator Indonesia dihadirkan di ruang tengah bangunan bersejarah dan di latar belakang patung ditampilkan efek multimedia berisi kutipan dari tokoh bangsa yang pernah diasingkan di sini. Foto-foto lawas dari kehadiran para pemimpin yang diasingkan di Pesanggrahan Menumbing ditampilkan layaknya sebuah pameran karya seni.

Ada banyak sinar lampu menerangi ruang utama di lantai satu bangunan serta sudut-sudut lainnya. Semua lampu telah diatur tingkat cahayanya, sehingga terlihat ruang tata pamer ini semakin elegan. Sebuah sudut multimedia berisi tayangan sejarah pengasingan tokoh-tokoh bangsa dalam bentuk tiga dimensi melengkapi isi dari museum Menumbing.

"Kami mau mengajak pengunjung untuk ikut mengalami sendiri, merasakan sendiri apa yang mereka inginkan dan bukan sekadar mengetahui apa yang terjadi di masa itu. Karena benda yang dipajang hanya dipakai untuk membangun cerita dari apa yang ingin disampaikan kepada pengunjung," ungkap Kepala BPCB Jambi Agus Widiatmoko, seperti diwartakan Antara.

Ruang tata pamer itu telah diresmikan oleh Menteri Sosial Tri Rismaharini pada 19 Desember 2021. Mantan Wali Kota Surabaya tersebut juga turut melepasliarkan satwa langka elang brontok muka gelap (Spizaetus cirrhatus) yang berusia lima tahun dari puncak Menumbing untuk menambah ekosistem burung di tahura tersebut.     

 

Penulis: Anton Setiawan
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari