PARIWISATA
  Vaksinator menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada seorang warga negara asing yang menetap di Bali saat pelaksanaan vaksinasi di Discovery Shopping Mall, Kuta, Badung, Bali, Sabtu (10/4/2021). ANTARA FOTO/Fikri Yusuf

Pariwisata Jadi Lokomotif Keluar dari Pandemi

  •   Kamis, 15 April 2021 | 09:02 WIB
  •   Oleh : Administrator

Rencana pembukaan sektor pariwisata tentunya harus dilakukan dengan penuh kedisiplinan, dari segi testing, tracing, dan treatment.

Sektor pariwisata merupakan sektor yang paling terdampak akibat wabah Covid-19. Derita yang cukup panjang, lebih dari setahun, dialami sektor itu sejak virus ditemukan berjangkit di Indonesia pada awal Maret 2020. 

Tak heran jika pelaku sektor tersebut sudah sangat mendambakan wisatawan. Namun pertanyaannya, apakah kedatangan wisatawan dijamin aman dari ancaman pandemi atau justru memperparah situasi?

Menurut rencana, Pulau Bali mulai dibuka untuk wisatawan mancanegara pada Juni atau Juli. Dalam rangka itulah, sejumlah persiapan mulai dilakukan, termasuk menerima kunjungan wisatawan Nusantara.

Keputusan untuk membuka Pulau Bali bagi wisatawan mancanegara pada Juni-Juli boleh jadi diambil dengan menimbang sejumlah hal. Salah satunya, digelarnya vaksinasi massal. Diharapkan melalui langkah itu, pandemi kian melemah karena tingkat imun manusia sudah semakin kuat.

Selain itu, pembukaan daerah juga berdasarkan tingkat kegawatan pandemi di daerah yang bersangkutan. Misalnya, izin diberikan bila sebuah daerah sudah berada di zona hijau atau orange, dan tentunya dengan tetap mengacu pada protokol kesehatan.

Rencana pembukaan sektor pariwisata tentunya harus dilakukan dalam bingkai PPKM skala mikro dan dilakukan dengan penuh kedisiplinan, baik dari segi testing, tracing, dan treatment. Memang harapan agar Pulau Bali segera dibuka untuk wisatawan pernah pula dikemukakan Presiden Joko Widodo saat meninjau pelaksanaan vaksinasi di pulau itu, Kamis (16/3/2021).

Harus diakui, masifnya program vaksinasi

The tourism sector is one of the sectors most affected by the Covid-19 outbreak as they have been suffering for more than a year since the virus was first discovered in Indonesia in early March 2020.

 

It is only natural if the actors of the sector are very eager for the return of tourists to Indonesia. However, the question is whether the return of these tourists is guaranteed safe from the risk of Covid-19 transmission, or will it worsen the situation?

 

It is planned that in June or July the Island of Bali will be reopened for foreign tourists. Therefore, a number of preparations were made, including accepting domestic tourist visits.

 

 

Various considerations must have been thought carefully by authorized parties before making this decision. One of which is by holding a mass vaccination which expected to weaken the growth rate of the Covid-19 pandemic as our immune levels are getting stronger.

 

 

In addition, the regional opening will also refer to the severity of the pandemic in the area. For example, a permit will only be granted if the area is located in the green or orange zone, and of course, strict health protocol must also be applied.

 

The reopening plan must also enforce a discipline and strict micro-scale public activity restrictions (PPKM), both in testing, tracing, and also treatment. The same hope was also expressed by President Joko Widodo while reviewing the implementation of the vaccination program in Bali on Thursday (16/3/2021).

 

 

It must be admitted that in addition to increasing the level of immunity, the vaccination programs are also able to boost the confidence of business actors, including those in the tourism industry. Until Monday (12/4/2021) at 15.00 WIB, based on data from the Covid-19 Handling Task Force, as many as 10.2 million people or 25.43% of the target of 40.34 million people have received the first dose of Covid-19 vaccination.

 

Meanwhile, the data also shows that as many as 5.31 million people have received their first and second dose of the Covid-19 vaccine. The vaccination program is one of the community’s efforts to maintain the health and safety of themselves and others.

 

The plan to immediately reopen the tourism sector for foreign tourists, especially Bali in June or July, is in line with the desire to strengthen and revitalize the economy of the sector.

 

 

 

The UNWTO Scenarios

 

In a recent report, the United Nations World Travel Organization (UNWTO) released two scenarios that probably will happen with tourism trends in 2021.

 

First, the UNWTO predicts a potential rebound in July with an increase in flight volume of up to 66% compared to the same period in the previous year.

 

Second, they also predict a potential rebound in September 2021 with the growth in global aviation volume of up to 22% compared to the previous year. It is possible that this report may be one of the references that initiate the tourism areas reopening scenarios that will start in June or July.

 

 

In relation to the tourism reopening plan, the Minister of Tourism and Creative Economy, Sandiaga Salahuddin Uno, explained that his party would continue to monitor the readiness of Bali Island before it was reopened for foreign tourist visits.

 

 

"We will continue to monitor (the preparations), Bali's readiness is getting better. Sanur, Ubud and Nusa Dua are green zones. As of today, the data I have received shows that the number of domestic tourist visits has reached more than 6,000. This means that we are entering a quite decisive periodization," said the Minister in Nusa Dua, Thursday (09/04/2021).

 

The Minister also added that domestic tourist visits are a form of exercise before welcoming foreign tourists in June-July. “Do not be unprepared. Therefore, the increasing number of domestic tourist visits will also become an opportunity for the country to continue to improve,” said Sandiaga. 

 

 

The Minister also explained that a number of preparations in this reopening should also be improved. “June-July just days away. We are improving our readiness. Yesterday, we took firm action against health protocol violators and we are increasing the discussion on the Travel Corridor Arrangement (TCA),” he said.

 

 

 

The minister then added one thing that was very clear during his visits in Bali was that he could feel the extraordinary enthusiasm from tourism actors in the area to rise and recover from the Covid-19 outbreak. 

 

 

 

Sandiaga also assured that the plan to reopen the tourism sector can be continued by enforcing strict micro-scale public activity restrictions (PPKM) and discipline in testing, tracing, and treatment.  "The tourism sector and creative economy are actually the locomotive to get out of this pandemic, but of course with the synergy and collaboration of all parties," said Sandiaga Uno.

, termasuk pada pelaku industri pariwisata, memberikan kepercayaan diri pelaku usaha, selain menambah imunitas. Hingga Senin (12/4/2021) pukul 15.00 WIB, berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19, jumlah orang yang sudah menerima vaksinasi Covid-19 dosis pertama telah mencapai 10,2 juta atau 25,43 persen dari target vaksinasi warga sebanyak 40,34 juta orang.

Masih menurut data yang sama, warga masyarakat yang sudah mendapatkan suntikan pertama dan kedua vaksin Covid-19 sebanyak 5,31 juta orang. Masifnya vaksinasi menjadi ikhtiar warga negeri ini demi menjaga kesehatan.

Keinginan agar sektor pariwisata segera dibuka demi menggulirkan kembali roda ekonomi di sektor tersebut kian menguat. Berbekal harapan itu pulalah kemudian muncul wacana pembukaan kembali Bali bagi wisatawan mancanegara pada Juni atau Juli 2021.

 

Dua Skenario UNWTO

United Nation World Travel Organization (UNWTO) dalam satu laporannya belum lama ini merilis dua skenario yang terjadi dengan tren pariwisata di 2021.

Pertama, lembaga itu memprediksi potensi rebound pada Juli dengan penambahan volume penerbangan hingga 66 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Kedua, potensi rebound pada September 2021 dengan pertumbuhan volume penerbangan global hingga 22 persen dibandingkan pada tahun sebelumnya. Laporan UNWTO itulah yang boleh jadi memunculkan skenario pembukaan kawasan wisata itu mulai Juni atau Juli.

Berkaitan dengan rencana pembukaan Pulau Bali bagi wisatawan mancanegara pada Juni atau Juli, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan, pihaknya terus memantau kesiapan Pulau Bali menjelang pembukaan kunjungan wisatawan mancanegara.

"Kita pantau terus, kesiapan Bali semakin membaik. Sanur, Ubud, dan Nusa Dua adalah zona hijau. Per hari ini data yang saya terima bahwa kunjungan wisatawan Nusantara sudah di atas 6.000. Berarti ini kita memasuki satu zonasi atau periodisasi yang cukup menentukan," ujarnya di Nusa Dua, Kamis (9/4/2021).

Dia mengatakan, meningkatnya jumlah kunjungan itu merupakan latihan kesiapan dalam menyambut wisatawan mancanegara pada Juni-Juli mendatang. "Jangan sampai kita nanti tidak memiliki kesiapan. Oleh karena itu, kunjungan yang meningkat dari wisatawan Nusantara ini sekaligus menjadi ajang bagi bangsa ini untuk terus berbenah," ujarnya.

Menparekraf Sandiaga Uno menjelaskan, berbagai persiapan untuk membuka kembali sektor pariwisata bagi wisatawan mancanegara di Bali nantinya harus juga terus ditingkatkan. "Juni-Juli tinggal menghitung hari. Kita tingkatkan kesiapan kita. Kemarin, kita lakukan tindakan tegas untuk pelanggar protokol kesehatan dan kita tingkatkan pembahasan Travel Corridor Arrangement (TCA)," katanya.

Yang jelas, dia menambahkan, dari hasil pemantauan selama beberapa hari berkantor di Pulau Dewata, dirinya merasakan semangat yang luar biasa dari pelaku sektor pariwisata di daerah itu untuk keinginan dan motivasi untuk bangkit bersama dan pulih pascapandemi Covid-19.

Dia juga menyakinkan bahwa pembukaan sektor pariwisata dalam bingkai PPKM skala Mikro dan penuh kedisiplinan dari segi testing, tracing, dan treatment pada prinsipnya bisa dilanjutkan. "Sektor pariwisata dan ekonomi kreatif ini justru jadi lokomotif untuk keluar dari pandemi ini tentunya dengan sinergi dan kolaboratif dengan semua pihak," ujar Sandiaga Uno.



Penulis: Firman Hidranto
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari