ARUS MUDIK
  Petugas PMI Kabupaten Banyumas melakukan pendampingan dan konseling kepada pemudik yang menjalani karantina di GOR Satria Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, Selasa (11/5/2021). ANTARA FOTO/ Idhad Zakaria

Pemudik Menenteng Kuman, Pemda Memikul Beban

  •   Senin, 17 Mei 2021 | 20:31 WIB
  •   Oleh : Administrator

Sebagai destinasi mudik terbesar, Jawa Tengah mengantisipasi lonjakan Covid-19 pascalibur lebaran. Sarana isolasi serta piranti tracing, testing, dan treatment disiapkan.

Dua hari berturut-turut Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menggelar open house virtual dari rumah dinasnya, Puri Gedhe, di Semarang. Sang istri, Siti Atikoh Ganjar, terus menemaninya. Di hari kedua, dengan mengenakan blangkon hitam dan surjan, Ganjar Pranowo bersilaturahmi dengan komunitas perantau Jawa Tengah di berbagai kota di Indonesia.

Komunikasi dijalin dengan berbagai platform. Ada instagram, youtube, facebook, dan zoom. Ramai. Dengan gayanya yang khas, banyak senyum, ia terus mengingatkan kewaspadaan dalam pandemi. ‘’Kita melakukan silaturahmi virtual ini untuk mengurangi mobilitas, agar penularan Covid-19 bisa diputus,’’ ujarnya, pada Jumat (14/5/2021).

Ganjar termasuk jajaran kepala daerah yang gencar melakukan kampanye larangan mudik dan tak melakukan perjalanan nonesensial jelang Idulfitri 2021. Dampak kebijakan itu terasakan di Jawa Tengah. Kemeriahan offline menyusut drastis. Dari berbagai kota di Jawa Tengah muncul ungkapan suasana lebaran kali ini terasa sepi, bahkan lebih sepi dari momentum serupa di 2020. Begitu ungkapan yang terdengar di mana-mana.

Potensi arus mudik ke Jawa Tengah, termasuk yang mengundang kekhawatiran tersendiri. Survei Kementerian Perhubungan menyebutkan, sebanyak tujuh persen responden tetap mudik meskipun ada larangan. Dari jumlah itu, lebih dari 30 persen destinasinya ke Jawa Tengah, 20 persen ke Jawa Barat, kemudian Jawa Timur, Banten, Lampung, Sumatra Selatan, dan seterusnya.

Pada kenyataannya, secara nasional arus mudik dipastikan jauh di bawah 7 persen yang setara 18 juta jiwa itu. “Bahkan, di bawah arus mudik 2020,’’ ujar Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy dalam rilis Minggu (16/5/2021). Pelarangan, menurut Menko Muhadjir, cukup berhasil, meski tidak seratus persen.

Dengan kata lain, arus mudik terbendung meskipun masih banyak kebocoran di sana-sini. Sejumlah pemudik bersiasat berangkat sebelum diperlakukan pelarangan  pada 6–17 Mei 2021. Selebihnya, ada yang menerobos larangan dengan berbagai cara. Situasi pelik pun dihadapi Jawa Tengah, yang berpotensi menerima limpasan arus mudik dari Jabodetabek, Jawa Barat, dan sekaligus Jawa Timur.

Dilaporkan Istri        

Sampai H-2 lebaran terpantau ada 5.031 pemudik merapat ke Kabupaten Purbalingga, JawaTengah. Sebagian besar dari Jabodetabek. Jumlah itu hanya 10-15 persen dari arus mudik masa normal prapandemi Covid-19. Petugas gabungan yang menjalankan pemeriksaan di pos-pos penyekatan  mendapati puluhan kasus positif Covid-19 di kalangan pemudik.

Mareka yang membawa virus corona itu langsung diminta menjalani isolasi di tempat yang tersedia, di Gedung SMPN 3 di Kota Purbalingga. Kekhawatiran bahwa ada kemungkinan pemudik itu datang  mencencang kuman virus dan berpotensi menularkannya di kampung halaman, bukan pula hal yang mengada-ada.

Tidak semua pemudik dapat terjaring di pos-pos penyekatan petugas gabungan. Ada sebagian yang lolos dari pemeriksaan dan bebas melenggang ke tempat tujuan. Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi bekerja sama dengan Satgas Covid-19 telah membentuk posko-posko pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) skala mikro di desa-desa dan kelurahan.

Petugas dari posko PPKM desa itu yang akan memeriksa kelengkapan dokumen pemudik, termasuk surat keterangan resmi tidak terinfeksi Covid-19 berdasarkan tes antigen. Mereka yang berdokumen akan dibawa ke puskesmas terdekat untuk menjalani tes. Biayanya Rp200 ribu per tes. “Yang tidak mampu digratiskan,” kata Bupati Dyah Pratiwi. Yang positif akan dirawat, yang negatif tetap harus menjalani isolasi lima hari di tempat yang telah ditentukan.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengakui, sampai H-2 telah tercatat sekitar 632 ribu pemudik telah masuk ke wilayahnya. Sebagian besar dari Jabodetabek. “Kalau dalam situasi normal, jumlah pemudik Jawa Tengah itu bisa mencapai 6,5 juta,” kata Ganjar Pranowo. Arus pemudik 2021 cukup terbendung, meski masih bocor di sana-sini.

Kebocoran itu telah diantisipasi. Maka, Ganjar menggelorakan terus gerakan “Jogo Tonggo”, saling menjaga antartetangga, yang dirintisnya lebih dari setahun silam. Pada intinya, warga di  tingkat RT-RW diaktifkan menjaga lingkungan. Bila ada pendatang, termasuk pemudik, harus dipastikan tidak membawa kuman virus. Untuk memastikannya, pendatang harus menunjukkan surat tak terinfeksi Covid-19. Tanpa keterangan itu, ia harus menjalani isolasi sambil memeriksakan diri ke puskesmas terdekat.

Dalam prakteknya, gerakan Jogo Tonggo itu bekerja sama dengan Posko PPKM yang dibentuk oleh pemerintah. Banyak warga yang suka rela mendukungnya. Walhasil, Wagiman pun dilaporkan oleh sang istri ke Pak RT, karena nekat mudik tanpa dokumen yang sah ke kampung halamannya, salah satu desa di Kabuten Banyumas, Jawa Tengah.

Wagiman pun dibawa ke posko PPKM desa, dan kemudian diisiolasi di GOR Satria Purwokerto. Ia tetap harus menjalani isolasi lima hari meski hasil tes antigen menunjukkan hasil negatif Covid-19. Wagiman pasrah.

‘’Awalnya, saya sempat jengkel ke istri. Tapi, kalau aturannya begitu ya kami ngikut saja,” ujarnya  kepada Gubernur Ganjar Pranowo yang meninjau GOR Satria Purwokerto, sebagai lokasi karantina pemudik Kabupaten Banyumas,(7/5/2021). Berita baiknya, Wagiman, yang menjadi pekerja migran di Bekasi itu bisa berkumpul dengan istrinya dua hari sebelum lebaran.

Ganjar pun mengapresiasi sikap istri Wagiman. “Dia istri yang baik. Dia punya rasa tanggung jawab pada keluarga dan lingkungan sosialnya,” kata Ganjar. Gerakan Jogo Tonggo, katanya, hanya bisa efektif kalau didukung oleh masyarakat luas.

Gubernur Jawa Tengah itu juga punya cerita getir. Menjelang Ramadan, seorang pemudik datang ke Desa Kuryokalangan, Kecamatan Gabus, Pati. Ia menggelar manaqiban, hal yang biasa dilakukan jelang Ramadan. Tak lama berselang, ia diketahui terinfeksi Covid-19, dan dirawat di rumah sakit. Saat tracing dilakukan, ada 36 orang lainnya yang tertular dari klaster manaqiban itu.

‘’Kalau sejak awal prinsip Jogo Tonggo dijalankan, insiden semacam itu tidak perlu terjadi,’’ Ganjar menambahkan. Ganjar memberikan apresiasi pada Pemkab Pati yang cepat bertindak, mengisolasi dan merawat warganya yang terinfeksi. Tidak ada korban jiwa.

Kasus Desa Kuryokalangan itu bisa membuat para perantau asal Pati berpikir dua kali untuk mudik. Alhasil, sampai H-5, hanya 2.000-an pemudik yang datang ke Pati. Jauh di bawah jumlah pemudik 2020 yang mencapai 11.000 orang. Para pemudik yang tak berbekal dokumen tes antigen dibawa puskesmas terdekat untuk menjalani tes swab antigen. Pemkab Pati telah menyiapkan  11.000 tes kit antigen sebagai tindakan skrining untuk pencegahan ledakan Covid-19.

Sejuta Test Kit

Jauh hari sebelum lebaran, Pemprov Jawa Tengah telah mengantisipasi kerepotan besar dari arus mudik itu. Dari posisinya yang berada dekat dari pusat-pusat pertumbuhan ekonomi Jabodetabek, Cilegon-Serang, Karawang-Subang, Bandung  Raya, di sisi barat, dan Surabaya Raya di arah timur, banyak pekerja asal Jateng yang mengalir ke sana.

Sebagian mereka ialah pekerja migran yang mencari nafkah tanpa membawa keluarganya. Secara periodik mereka kembali ke kampung halamannya, terutama di hari lebaran. Belum lagi, perantau permanen yang tak kalah banyak jumlahnya. Maka di tengah situasi pandemi pun, arus mudik ke Jateng masih cukup kuat.

Bila pada hari H-4 sudah ada 632 ribu pemudik, dengan tambahan mereka yang ngeyel menabrak larangan mudik, jumlahnya tentu akan lebih besar. Namun, Ganjar berharap angka akan di bawah angka pemudik 2020 yang  mencapai 1 juta orang. Mengacu ke arus mudik 2020, lima kabupaten penyumbang pemudik terbesar adalah Brebes, Banyumas, Pemalang, Tegal, dan Wonogiri.

Gubernur Ganjar Pranowo telah memerintahkan Dinas Kesehatan Jateng menyediakan sedikitnya satu juta unit test kit antigen untuk keperluan tracing arus mudik itu. Sampai hari H+3 tidak ada isu kekurangan test kit antigen.

Bahkan, ketika sebagian pemudik sudah berangsur kembali ke tempat asal, Ganjar Pranowo masih meminta para bupati-wali kota tak buru-buru untuk mengendorkan kewaspadaan. Kesiagaan “Jogo Tonggo” juga tidak boleh surut. Tempat-tempat isolasi harus terus disediakan.

“Dampak arus mudik ini harus kita cermati,” katanya. Ia tak mau pejabat daerah kaget dan lambat merespons bila terjadi lonjakan insidensi Covid-19 pascalibur lebaran. Setidaknya sarana untuk jurus 3T, yakni tracing, testing, dan treatment, sudah tersedia dan tinggal dioperasikan.

 

 

 

Penulis: Putut Trihusodo
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari