COVID-19
  Ilustrasi. Covid-19 asal Afrika Selatan disebut-sebut ganas dan sangat menular, cepat bergulir ke seluruh penjuru dunia. VEKTOR

Mengenal Gejala dan Mutasi Omicron

  •   Selasa, 30 November 2021 | 23:12 WIB
  •   Oleh : Administrator

Dampak serangan Omicron sejauh ini tercatat lebih ringan dari Delta. Angka kematian di Afrika Selatan tak menunjukkan lonjakan berarti. Omicron justru bisa menyingkirkan Delta yang berbahaya.

Kabar pemunculan varian baru Covid-19 asal Afrika Selatan (Afsel), yang disebut-sebut ganas dan sangat menular, cepat bergulir ke seluruh penjuru dunia. Apalagi, hanya dalam tempo dua hari setelah menerima laporan, organisasi kesehatan dunia (WHO) menetapkannya sebagai varian of concern (VoC) dan menamainya Omicron.

Respons cepat datang dari dunia penerbangan. Pemeriksanaan ekstra ketat dilakukan atas semua kru pesawat dan penumpang asal embarkasi Afrika Selatan di semua bandara tujuan. Tak pelak, 600 orang penumpang yang baru mendarat di Bandara Schiphol, Amsterdam, harus menjalani tes PCR berstandar terbaik.

Mereka itu adalah penumpang dari dua pesawat KLM, yakni maskapai milik Belanda, yang terbang dari Johannesburg dan Cape Town, dua kota terbesar Afrika Selatan (Afsel), dan baru saja mendarat di Schiphol, pada Jumat (26/11/2021) pagi. Lalu, para penumpang itu dikumpulkan di ruang kedatangan yang terpisah dari penumpang asal bandara embarkasi yang berbeda.

Ketika penumpang asal Cape Town itu menunggu hasil tesnya, Pemerintah Belanda mengumumkan penutupan bandaranya bagi semua jenis penerbangan dari Afika Selatan (Afsel) dan enam negara tetangganya, yakni Botswana, Eswatini, Lesotho, Mozambique, Namibia, dan Zimbabwe.

Tak ayal, penjagaan atas penumpang dari Afsel itu semakin ketat. Mereka tak diizinkan keluar sama sekali dari ruang kedatangan selama menunggu hasil tes. Kebutuhan makan dan minum disediakan petugas  Bandara Schipol. Mereka  harus bermalam di bandara, tidur di lantai beralas selimut yang dipinjamkan petugas.

Baru Sabtu pagi hasil tes keluar. Ternyata, seperti diberitakan Reuters, ada 61 penumpang yang positif Covid-19. Mereka yang terkonfirmasi positif langsung dibawa ke hotel karantina tidak jauh dari Bandara Schipol. Yang negatif diisolasi di tempat berbeda.

Dari spesimen 61 orang yang  terkonfirmasi positif Covid-19 itu, pengujian berlanjut ke perunutan genom (genome squencing) virus. Hasilnya, ada 13 orang yang terkonfirmasi terinfeksi varian baru Omicron. Pada hari itu juga temuan itu diumumkan kepada masyarakat.

“Buka tidak mungkin, kasus-kasus lainnya akan bermunculan di Belanda,” kata Menteri Kesehatan Belanda Hugo de Jonge pada konferensi pers, Minggu (28/11/2011). “Kondisi ini bisa jadi seperti puncak gunung es,” tambahnya.

Kini Kementerian Kesehatan Belanda pun sibuk mengontak sekitar 5.000 warganya yang dalam satu dua pekan terakhir datang dari Afsel, Botswana, Eswatini, Lesotho, Mozambique, Namibia, dan Zimbabwe. Mereka diminta segera melakukan tes Covid-19.

Situasi yang sama bisa saja terjadi di negara Eropa lain. Namun sejauh ini, belum ada negara yang menyampaikan laporan situasi setegas Belanda. Laporan pers sejauh ini hanya menyebutkan bahwa varian baru itu telah terdeteksi muncul di Inggris, Jerman, Italia, Denmark, Belgia, Republik Ceko, Israel, Australia, dan Hongkong.

 Menyusul adanya pengumuman dari WHO yang menempatkan varian baru asal kawasan Afsel ini sebagai VoC dengan nama Omicron, sejumlah negara resmi menutup penerbangan dari kawasan tersebut. Inggris, Belanda, Jerman, Uni Eropa, Israel, Arab Saudi, Uni Eropa, Oman, UEA, Australia, Singapura, Hongkong, dan Jepang memberlakukan ketentuan tutup pintu itu sejak  27 November. Sedangkan, Indonesia memberlakukan ketentuan serupa sejak 29 November.

Melompati Xi dan Nu

Isu lahirnya varian baru asal Afsel ini baru merebak sejak November 2021, menyusul munculnya klaster-klaster tempat di Afsel dan Botswana dan ditandai oleh penularannya yang sangat cepat. Otoritas kesehatan Afsel turun tangan melakukan penelitian genom. Penemuan pertama adanya varian baru itu justru dari spesimen yang ditemukan di Botswana, pada awal November.

Mengacu pada runutan genomnya, secara taksonomi dia disebut sebagai varian B.1.1.529. Pihak Kementerian Kesehatan Afsel mengumumkan temuan itu pada 14 November 2021. Tindakan pemantauan berikutnya menunjukkan, kasus B.1.1.529 itu jauh lebih banyak ditemukan di  Afsel ketimbang di Botswana.

Pemeriksaan genom sequencing di Provinsi Gauteng, tempat di mana kota terbesar Johannesburg berada, menunjukkan bahwa 77 sampel (90 persen dari spesimen yang diuji) ialah B.1.1.529.  Spesimen itu dikumpulkan 12--20 November. Kemunculan varian baru ini ditandai pula oleh eskalasi penularan yang sangat cepat di masing-masing klaster. Secara nasional, kasus positif harian Afsel yang rata-rata 800 pada 20 November, meloncat ke rata-rata 4.500 kasus pada 28 November.

Tim peneliti dari Afsel mendiskripsikan, varian baru itu telah mengalami 50 mutasi genetik, yang hasilnya ditunjukkan oleh penampakannya yang berubah. Mutasi itu mengakibatkan perubahan atas 32 spike protein pada belalainya, dan 18 mutasi lain terjadi pada bagian lainnya. Perubahan besar itu dikhawatirkan bisa membuat virus tersebut lebih menular dan lebih ganas.

Munculnya 32 spike protein baru itu perkirakan bisa menambah kemampuan virus mengelak dari hadangan antibodi tubuh, baik yang terbentuk dari vaksinasi (herd imunnity) maupun kekebalan alamiah dari para penyintas, dan mereka yang pernah terciprat virus dosis rendah yang kemudian mendorong munculnya antibodi.

Varian B1.1.529 itu juga terbukti telah mengakibatkan infeksi ulang (reinfeksi) dari para penyintas. Strain baru itu juga mudah menginfeksi mereka yang telah menjalani vaksinasi, meski lebih banyak pada kelompok tak belum tersentuh vaksin. Di Afrika Selatan, baru 25 persen penduduk menerima vaksin lengkap dua dosis.

Pemerintah Afrika Selatan melaporkan, lahirnya strain virus baru itu ke WHO pada 24 November, disertai desakan supaya badan internasional itu melakukan tindakan pencegahan penyebarannya. Tanpa membuang waktu, tim ahli independen yang mendampingi WHO bersidang, berdiskusi, dan merekomendasikan agar WHO menetapkannya sebagai VoC.

Ternyata WHO setuju. Lebih dari lima juta jiwa sudah direnggut Covid-19, maka kewaspadaan harus dijaga. WHO pun menetapkannya sebagai VoC pada 26 November 2021. Nama Omicron diberikan kepada varian asal Afsel ini, mengikuti nomenklatur yang telah ditetapkan, yakni merujuk ke abjad Yunani.

Dari sisi urutan abjad Yunani, sebelulnya ada dua yang dilewati, yakni Xi dan Nu. Namun, menurut Al Jazeera, sebutan Xi itu terlalu dekat berasosiasi dengan nana famili atau marga (she di Tiongkok), sedangkan Nu dikuatirkan rancu dengan kata new dalam bahasa Inggris.

Kondisi Afrika Selatan

Isu Omicron itu membuat dinamika Covid-19 di Afrika Selatan menjadi perhatian dunia. Media di Afrika Selatan melaporkan, ribuan pasien yang terindikasi terserang Omicron mengeluhkan mual, sakit kepala, kelelahan, dan denyut nadi yang tinggi, tetapi tampaknya tidak ada yang mengalami anosmia (kehilangan rasa atau penciuman) seperti yang terjadi pada Covid-19 lainnya. Tak banyak pula ditemui kasus sesak nafas yang akut.

“Gejalanya amat berbeda, lebih ringan, mild, dibandingkan Covid-19 sebelumnya,” kata Dr. Angelique Coetzee, seorang dokter terkenal di Johannesburg, kepada pers. Kementerian Kesehatan Afsel juga mengonfirmasikan, angka kematian (fatality rate) yang diakibatkan pun tak signifikan, termasuk di Johannesburg. Angka kematian akibat Covid-19 di Afsel secara nasional tetap melandai di level 20-30 orang per hari hingga akhir November ini.

Dengan daya infeksinya yang tinggi tapi patogenitasnya rendah, menurut viroloh Belgia Marc van Ranst, sebagaimana dikutip banyak media di Eropa, justru membuat Omicron bisa berguna untuk menyingkirkan varian Delta yang sangat berbahaya. “Dengan daya infeksinya yang besar, Omicron bisa menyerang banyak orang seraya menyingkirkan Delta. Hal itu sangat mungkin,” katanya.

Namun kalangan saintis tetap menyerukan kewaspadaan kepada Omicron. Surveilans dilakukan di seluruh dunia untuk menemukannya dan mempelajari dampak serangannya. Masih terlalu sedikit data ilmiah yang bisa digunakan untuk menyusun diskripsinya secara lengkap.

 

 

Penulis: Putut Trihusodo
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari