Indonesia.go.id - Pagar Pembatas Bali semakin Tipis

Pagar Pembatas Bali semakin Tipis

  • Administrator
  • Selasa, 8 Maret 2022 | 10:41 WIB
PARIWISATA
  Wisatawan mancanegara tiba di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Senin (7/3/2022). ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo
Kewajiban karantika dihapus bagi pelancong asing yang datang ke Bali. Layanan visa on arrival pun diberikan untuk pelancong dari 23 negara. Kepri kemungkinan segera menyusul.

Pagar pembatas menuju Pulau Bali semakin tipis. Persyaratan masuk yang dikenakan bagi para pelaku perjalanan luar negeri (PPLN) semakin ringan. Peraturan Pemerintah melalui Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) nomor 13 tahun 2022 menyatakan, PPLN termasuk para pelancong asing, boleh datang tanpa harus menjalani karantina. Mereka hanya dikenai kewajiban menjalani tes PCR di bandara dan menunggu hasilnya di kamar hotel.

‘’Ketentuan ini berlaku mulai hari ini, 7 Maret 2022,” ujar Menko Marinves Luhut B Pandjaitan, selaku Koordinator Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa-Bali, dalam keterangan pers yang disiarkan melalui kanal youtube Sekretariat Presiden RI. Menko Luhut memberikan keterangan pers itu usai menghadiri rapat terbatas kabinet evaluasi PPKM, Senin (7/3/2022).

Dengan ketentuan baru itu, kewajiban karantina tiga hari yang dijalankan pada pekan sebelumnya, dinyatakan tidak berlaku. Situasi pandemi terus membaik. Kasus baru, kasus  positif aktif, tingkat kematian (fatality rate), dan tingkat okupasi rumah sakit (BOR) di Jawa-Bali terus melandai menuju level yang lebih rendah. Pandemi mulai surut.

Bahkan, bila situasi terus membaik, protokol kesehatan berupa kewajiban karantina bagi PPLN akan dihapuskan secara nasional. ‘’Hal ini akan dilakukan pada 1 April 2022 atau lebih cepat,’’ kata Menko Luhut.

Dengan dihilangkannya mandatory karantina itu tidak berarti pelaku perjalanan luar negeri bebas melenggang tanpa syarat. Untuk masuk ke Bali ,misalnya, mereka harus  telah menjalani vaksinasi lengkap dan dibuktikan dengan aplikasi  digital. Setiba di Bandara Ngurah Rai, mereka akan dites dengan PCR. Tanpa harus menunggu hasil tes, mereka diizinkan menuju ke hotel. Hasilnya akan diinfokan kemudian.

Bila hasil tes PCR negatif, mereka bebas melakukan kegiatan ke mana saja. Namun, bila ternyata positif Covid-19, mereka harus menjalani isolasi mandiri. Pada hari ketiga juga diwajibkan untuk menjalani tes PCR lagi. Karenanya, para pelancong ketika datang harus membawa bukti booking hotel minimum 8 hari, plus jaminan asuransi.

Bali sudah semakin terbuka. Setidaknya kini ada lima maskapai asing yang terbang langsung ke Bandara Ngurah Rai. Geliat kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) itu terlihat sejak masa karantina PPLN diperpendek dari tujuh hari menjadi lima hari (22--28 Februari 2022), lantas  diubah lagi menjadi tiga hari (1–7 Maret 2022). Sepanjang dua pekan itu, sekitar 2.000 wisman datang ke Bali, dan ternyata tak ada dampak epidemiologis yang buruk.

Tak hanya urusan karantina, pemerintah juga memberikan kemudahan dalam urusan visa. Per 7 Maret 2022 itu pula dibuka layanan visa on arrival di Bandara Ngurah Rai. Untuk sementara ini, visa on arrival diberikan untuk warga dari 23 negara. Rinciannya ialah 10 negara Asean ditambah Australia, Selandia Baru, Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Prancis, Italia, Belanda, Belgia, Turki, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) Sandiaga Uno pun menyambut baik kebijakan bebas karantina di Bali itu. Bahkan, ia berharap ketentuan bebas karantina itu segera berlaku di Pulau Batam dan Bintan, dua destinasi  terpenting di kawasan Barat Indonesia.

Sebagai  catatan, setidaknya sudah satu dasawarsa Batam-Bintan itu menjadi destinasi wisman terbesar kedua di Indonesia setelah Bali. Pada era normal, 2019 misalnya, dari 16,5 juta wisman yang datang ke Indonesia, 38 persen tujuan utamanya ialah Bali, 17,8 persen ke Kepulauan Riau, 15,2 persen ke Jakarta, dan seterusnya. Pada 2019 ada 2,86 juta wisman berkunjung ke Kepri.

Dari 2,86 juta wisman yang datang itu, 1.39 juta ialah warga Singapura. Selebihnya dari Malaysia 10 persen, Tiongkok 10 persen, dan dalam jumlah yang lebih kecil dari Korea, Jepang, India, Filipina, dan seterusnya. Mereka umumnya datang melalui Singapura atau ekspatriat di Singapura.

Pintu kunjungan dari Singapura ke Kepri sebetulnya sudah dibuka sejak 23 Februari 2022 dengan skema travel bubble. Syaratnya, pelancong harus sudah menjalani vaksinasi lengkap, tidak terinfeksi Covid-19, membawa kartu jaminan asuransi senilai setidaknya Sing$ 30.000, lantas mendaftar secara online. Mereka akan diatur datang secara rombongan (bubble),  dan menempuh perjalanan dengan kapal ferry ke Batam atau Bintan dengan jaminan kondisi yang serba steril dari Covid-19.

Sesampai di pelabuhan mereka langsung di-swab, bila hasil tes PCR negatif mereka dibawa dengan bus steril di resor yang steril pula dan disebut bubble area. Di area situ semua petugas pelayanan juga dipastikan bebas dari infeksi Covid-19.

Namun, skema travel bubble ini dianggap ribet dan mahal. Pengunjung yang datang dari Singapura tidak sampai 300 orang dalam dua pekan. Selain mahal, skema ini juga dianggap ‘mengarantina’ para pelancong itu di area bubble, seperti di Lagoi Resort di Bintan atau Nongsa Resort di Batam. Para wisatawan itu tak leluasa melakukan wisata kuliner, misalnya. Maka, kunjungan langsung tanpa karantina itulah yang diharapkan Menteri Parekraf Sandiaga Uno untuk memulihkan  dunia pariwisata nasional yang sudah dua tahun terpuruk.

“Dengan kebijakan bebas karantina, jumlah wisatawan akan upsize. Angkanya perlu direvisi,’’ ujarnya dalam weekly press briefing, Senin, 7 Maret 2022.

Kemparekraf sebelumnya menargetkan, jumlah wisman pada 2022 ini paling banyak 3,6 juta. Proyeksi itu sudah berlipat dari realisasi kunjungan wisman yang ‘hanya’ 1,56 juta di 2021.

Sandiaga Uno juga sudah siap gerak cepat. Program calendar of event di seluruh destinasi utama akan segera digerakkan untuk menambah daya tarik bagi wisatawan asing dan domestik. ‘’Kantong-kantong destinasinya sudah siap,” tutur Mas Menteri, begitu sapaan akrab Sandiaga Uno.

Hanya saja, sesuai dengan dengan level PPKM yang berlaku di wilayah destinasi wisata, memakai masker tetap dianjurkan. Pandemi belum bisa disebut berakhir selama masih ada saja orang yang terjangkit Covid-19.

 

Penulis: Putut Trihusodo
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari