EKSPOR
  Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan saat memimpin delegasi misi dagang Indonesia ke New Delhi, India. KEMENDAG

Indonesia Berpotensi Ekspor Senilai 46 Triliun ke India

  •   Jumat, 16 September 2022 | 10:12 WIB
  •   Oleh : Administrator

Lawatan Menteri Perdagangan ke India berhasil membukukan potensi ekspor sekitar Rp46,98 triliun yang diperoleh lewat penandatanganan 22 kesepakatan.

Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan memimpin delegasi misi dagang Indonesia ke New Delhi, India, pada 22 Agustus 2022. Dalam lawatan itu, Mendag menggandeng 10 pelaku usaha dan eksportir Indonesia serta asosiasi. Ini adalah kunjungan kerja Mendag Zulkifli yang pertama ke luar negeri sejak menjabat, pada 15 Juni 2022.

Dalam lawatan itu, mereka berhasil membukukan potensi ekspor dengan nilai sebesar USD3,2 miliar atau sekitar Rp46,98 triliun. Pontensi ekspor itu diperoleh dari penandatanganan 22 kesepakatan kerja sama (MoU) antara pelaku usaha kedua negara.

India merupakan tujuan ekspor CPO kedua terbesar setelah Tiongkok, dengan nilai ekspor pada 2021 mencapai USD3,4 miliar atau 25 persen dari total ekspor Indonesia ke India.  Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Kementerian Perdagangan, total perdagangan Indonesia dan India pada Januari--Juni 2022 tercatat sebesar USD16,67 miliar.

Total ekspor nonmigas Indonesia ke India pada periode tersebut tercatat sebesar USD15,3 miliar atau meningkat 75 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya sebesar USD8,7 miliar. Sementara itu, pada 2021 nilai perdagangan Indonesia dan India mencapai USD19,8 miliar dengan surplus bagi Indonesia sebesar USD6,3 miliar. Ekspor nonmigas Indonesia ke India pada 2021 tercatat sebesar USD13,11 miliar.

Mendag Zulkifli Hasan menjelaskan, India dipilih sebagai kunjungan pertama ke luar negeri karena merupakan mitra dagang strategis RI. Kedua negara memiliki hubungan sejarah yang panjang dan erat, sesama negara G20. Kerja sama ekonomi pun sudah terbangun lama.

Penandatanganan sebanyak 22 MoU pada misi dagang tersebut meliputi produk-produk  minyak kelapa sawit (CPO), olein, batu  bara, furnitur, perkakas plastik, serta bubur kertas dan kertas dengan nilai total mencapai USD3,2 miliar. "Khusus produk kelapa sawit total komitmen yang menjadi kesepakatan sebanyak 2,6 juta ton atau senilai USD3,16 miliar,” imbuh Mendag Zulkifli Hasan.

 

Memperkuat Kemitraan Strategis

Penandatanganan MoU disaksikan Duta Besar Republik Indonesia untuk India dan Bhutan Ina Hagniningtyas Khrisnamurthi dan Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Didi Sumedi. “Ini merupakan hari bersejarah bagi kedua negara. Di tengah situasi penuh ketidakpastian dan tantangan ekonomi, Indonesia dan India terus memperkuat kemitraan yang strategis khususnya dalam kerja sama perdagangan. Semoga kemitraan yang saling menguntungkan antara pelaku usaha Indonesia dan India, semakin erat dan berkelanjutan,” kata Mendag Zulkifli Hasan.

Para pelaku usaha yang turut berpartisipasi dalam misi dagang menyatakan, momen penjualan CPO ini sangat tepat mengingat Indonesia saat ini sedang berupaya mengembalikan pasar konsumen India, khususnya dalam memenuhi lonjakan permintaan  kebutuhan minyak nabati menjelang Hari Raya Deepavali, pada 24 Oktober 2022.

Indonesia dan India akan mempererat hubungan dagangnya dengan target perdagangan kedua negara mencapai USD50 miliar pada 2025. Kedua negara berkomitmen untuk bersama-sama meningkatkan perdagangan bilateral dan investasi.

Produk ekspor utama Indonesia yaitu batu bara, minyak kelapa sawit, besi paduan, asam lemak monokarbosilik industri, dan bijih tembaga. Sementara itu, impor utama Indonesia dari India yaitu produk besi setengah jadi, gula tebu atau bit, kacang tanah, daging sapi beku, dan besi paduan.

India juga merupakan sumber penanaman modal asing (foreign direct investment/FDI) ke-26 bagi Indonesia. Realisasi investasi India di Indonesia tercatat USD49,5 juta yang tersebar dalam 465 proyek. Tiga sektor terbesar meliputi industri tekstil, lahan bangunan, kawasan industri, dan aktivitas bisnis; serta perdagangan dan reparasi.

Hanya saja sejak 13 Mei 2022, India resmi melarang ekspor gandumnya. Hal itu disebabkan inflasi harga konsumen tahunan yang mendekati level tertinggi, selama delapan tahun di negara Bollywood. Inflasi India tercatat 7,79 persen pada April 2022 dan inflasi makanan ritel yang melonjak tinggi menjadi 8,38 persen.

Impor gandum dari India sendiri hanya sekitar 2,8 persen dari total impor gandum Indonesia. Pada 2021, Indonesia impor seberat 184,6 juta ton, dengan nilai sebesar USD60 juta sedangkan pada 2022, BPS mencatat impor gandum dari India mencapai 98,18 juta ton hingga Maret, dengan nilai sebesar USD3,9 juta.

 

Penulis: Eri Sutrisno
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari