Indonesia.go.id - Gambaran Ekonomi Maluku Utara dari Pasar Jailolo

Gambaran Ekonomi Maluku Utara dari Pasar Jailolo

  • Administrator
  • Rabu, 5 Oktober 2022 | 15:28 WIB
  • 0
PERTUMBUHAN EKONOMI
  Presiden Joko Widodo berbincang dengan pedagang di Pasar Rakyat Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara, Rabu, 28 September 2022. SETPRES
Gambaran Ekonomi Maluku Utara dari Pasar Jailolo

Berada cukup  jauh dari sentra ekonomi nasional di Pulau Jawa, Provinsi Maluku Utara ternyata bisa menorehkan pertumbuhan yang tinggi. Apresiasi itu disampaikan langsung Presiden Joko Widodo, saat melakukan kunjungan kerja ke Jailolo, salah satu kota industri baru di Pulau Halmahera, pulau  terbesar di Maluku Utara. Ekonomi di Maluku Utara tumbuh di atas angka rata-rata nasional.

“Di Provinsi Maluku Utara, dengan adanya industri tambang di sini yang sudah masuk tahapan dari mentah ke smelter, pertumbuhan ekonominya pasti akan di atas rata-rata nasional. Saya pastikan itu. Ini yang harus dijaga terus, kondusivitas setiap kabupaten, kota, maupun provinsi karena di sini mungkin menjadi salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang tertinggi, Maluku Utara,”  ujar Presiden Jokowi, di Jailolo, Halmahera Barat, Rabu (28/9/2022).

Mengutip laporan yang dirilis Bank Indonesia (BI) Agustus 2022, laman resmi Sekretariat Presiden menyebutkan, perekonomian Provinsi Maluku Utara pada triwulan II-2022 tumbuh sebesar 27,74 persen year on year (yoy). Capaian itu melanjutkan tren positif sebelumnya, dengan catatan pertumbuhan ekonomi 16,4 persen (yoy) pada kuartal I-2022.

Maluku Utara pun muncul sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang tertinggi, bersama Papua dan Sulawesi Tengah. Pada kuartal I dan II tahun 2022, Provinsi  Papua mencatatkan growth 15,11 dan 14,38 persen; sedangkan Sulawesi Tengah (Sulteng) 11,70 dan 11,17 persen.

Dengan catatan pertumbuhan rata-rata nasional di level 5,44 persen pada kuartal II-2022, memang terjadi variasi yang cukup lebar antarprovinsi. Pada saat yang sama, tiga provinsi yang mencatat growth paling rendah yakni Bali 3,04 persen, Nusa Tenggara Timur (NTT) 3,01 persen, serta Sulawesi Barat (Sulbar) 2,56 persen.

Presiden Jokowi mengatakan, pertumbuhan ekonomi tinggi di Maluku Utara itu bisa terlihat dari aktivitas masyarakat di pasar dan pusat perdagangan di Kota  Jailolo. Geliat perdagangan di pasar Jailolo dinilai cukup tinggi, riuh, dan ramai. ‘’Untuk Halmahera Barat, saya belum cek ke BI, pertumbuhan ekonominya seperti apa. Tetapi kalau melihat daerah di pasar seperti ini, ya saya kira hampir mirip-mirip sama, rata-rata ya pasti di atas (angka pertumbuhan ekonomi) nasional,” kata Presiden Jokowi.

Secara umum, dilihat dari sisi belanja, pertumbuhan ekonomi itu ditentukan oleh konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, investasi, dan capaian ekspor. Dalam laporan BI disebutkan, di Maluku Utara, pada kuartal I dan II belanja pemerintah bukan pengungkit ekonomi yang utama. Realisasi belanja APBD oleh pemerintah daerah baru 24 persen dari pagu anggaran yang Rp14,1 triliun.

BI memperkirakan lonjakan ekonomi di Maluku Utara itu adalah dari kegiatan barang galian (nikel) yang berlanjut sampai proses pengolahannya di industri smelter-smelter yang tumbuh cukup pesat di sana. Efek rembesan ekonominya ialah daya beli penduduk meningkat dan mendorong kegiatan perdagangan. Konsumsi masyarakat meningkat. Ditambah dengan adanya investasi baru di sektor pengolahan nikel dan kegiatan ekspornya, maka pertumbuhan ekonomi pun melonjak.

Situasi yang hampir serupa terjadi di Sulawesi Tengah dengan sentra industri nikelnya di Morowali. Kegiatan penambangan, industri, serta ekspor nikel (olahan) terus meningkat, yang pula dibarengi oleh aliran investasi baru di sektor pengolahannya. Konsumsi masyarakat pun meningkat. Sulawesi Tengah kemungkinan akan mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih panjang, karena aktivitas tambang itu memberikan keuntungan lebih, yang kini mulai diinvestasikan di sektor pertanian dan perikanan.

Untuk Provinsi Papua, menurut laporan BI, pertumbuhannya yang tinggi pada kuartal II-2022 itu lebih banyak ditopang oleh peningkatan ekspor hasil tambang. Sektor tambang di Provins Papua itu sendi utamanya  adalah ekspor olahan biji tembaga. Kegiatan produksi dan ekspor tembaga dari PT Freeport Indonesia (BUMN) meningkat seiring selesainya penyiapan instalasi tambang di bawah tanah di Timika.

Adapun Bali mencatat pertumbuhan yang relatif rendah karena industri pariwisata  yang menjadi sektor ekonomi  andalannya belum pulih dan tidak banyak sektor industri lain yang cukup kuat di sana. Kondisi NTT dinilai serupa. Pertumbuhan  di sektor pertanian dan perikanannya belum cukup kuat.  Kawasan pariwisata bahari Labuan Bajo dan Pulau Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Sulawesi Barat, masih perlu waktu untuk tumbuh menjadi destinasi yang kuat.

Khusus untuk Sulbar, BI mencatat bahwa ada pelambatan pertumbuhan ekonomi karena adanya gangguan pada hasil produksi di sektor pertanian, perikanan, dan kelautan. Gangguan pada siklus musim membuat produksi pertanian dan perikanan itu menyusut.

Lain ladang, lain belalang. Lain lubuk, lain ikannya. Situasi satu daerah berbeda dari yang lain. Maka, Presiden Jokowi menyatakan sering melakukan kunjungan ke daerah-daerah untuk melihat secara langsung kondisi masing-masing, termasuk kondisi infrastrukturnya. Dari kunjungannya ke Maluku Utara itu, Presiden Jokowi harus melihat situasi yang ironis, di mana tidak ada jalan yang berstatus jalan nasional, yang tanggung jawab pengelolaannya ada di pundak pemerintah pusat.

Indonesia, kata Presiden Jokowi, memiliki 514 kabupaten/kota. Dari jumlah itu, sebagian memiliki daerah atau pulau terpencil masing-masing. “Ya, negara ini dari Sabang sampai Merauke  banyak sekali pulau terpencilnya. Di sebelah barat, misalnya, Nias, Simeulue, Pulau Mentawai, dan juga yang  ada di Bangka Belitung. Di sebelah timur, kemarin kita baru ke Maluku Barat Daya, juga ada. Semua butuh (infrastruktur). Kenapa saya turun ke bawah? Untuk memastikan hal-hal yang tadi saudara tanyakan, seperti apa lapangannya, seperti apa kondisi ekonominya,” kata Presiden Jokowi kepada wartawan.

 

Penulis: Putut Trihusodo
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari