Indonesia.go.id - Mewujudkan Mimpi di HUT ke-78 RI

Mewujudkan Mimpi di HUT ke-78 RI

  • Administrator
  • Minggu, 30 April 2023 | 07:39 WIB
  • 0
KERETA CEPAT
  Rampungnya pembangunan dan pengoperasian KCJB membuktikan kemampuan Pemerintah Indonesia dalam menyelesaikan proyek-proyek besar secara optimal. KCIC
Kereta cepat Jakarta-Bandung akan memasuki masa uji coba pada Mei 2023 dan beroperasi pada 18 Agustus 2023.

Mimpi Indonesia memiliki kereta cepat segera terealisasi. Bila kereta cepat Jakarta-Bandung (KCJB) telah resmi beroperasi, masyarakat tidak perlu menghabiskan waktu 2-3 jam untuk menuju ke Bandung dari Jakarta. Mereka hanya membutuhkan waktu 46 menit, dari stasiun Halim, Jakarta, menuju Stasiun Tegalluar, Bandung.

Bila hanya sampai Stasiun Padalarang, waktu yang dibutuhkan hanya 30 menit. Tentu bagi pebisnis, jarak tempuh hanya maksimal 46 menit sangat nyaman dan efektif, bila mereka ada kepentingan bisnis di kedua kota tersebut, baik di Jakarta atau sebaliknya, di Bandung. Hasilnya pun maksimal.

Berkaitan dengan rencana peresmian itu, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan juga telah memastikannya. Luhut memaparkan, target Commercial Operation Date (COD) KCJB tersebut dipilih karena berdekatan dengan perayaan hari ulang tahun ke-78 Indonesia. “Operasional KCJB akan jadi kado HUT ke-78 RI,” ujarnya, Senin (10/3/2023).

Dalam kesempatan itu, dia juga menjelaskan KCJB akan memasuki masa uji coba atau trial pada Mei 2023. Dia mengharapkan kehadiran tokoh pimpinan dari Pemerintah Tiongkok untuk menghadiri seremonial peresmian operasi KCJB.

Luhut menuturkan keinginan itu telah disampaikan kepada Pemerintah Tiongkok, saat delegasi Indonesia berkunjung ke Tiongkok, pada 4--6 April 2023.

Menurut Luhut, rampungnya KCJB juga membuktikan kemampuan Pemerintah Indonesia dalam menyelesaikan proyek-proyek besar. “Proyek itu sudah berjalan optimal.”

Dia menambahkan, proses pemasangan lintasan rel dengan total panjang 304 kilometer dari Stasiun Tegalluar, Bandung, hingga Stasiun Halim, Jakarta, telah rampung. Pemasangan rel terakhir, imbuhnya, telah dilakukan pada awal April.

Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung menghabiskan nilai investasi USD6,07 miliar, atau setara dengan Rp86,67 triliun. Dalam perjalanannya, proyek itu mengalami pembengkakan (cost overrun) USD560 juta, atau setara Rp8,3 triliun. Masa masa konsesi proyek itu selama 50 tahun. Perjanjian KCJB itu ditandatangani pada 2016.

Proyek KCJB itu pertama kali dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo pada awal 2016. Rencana semula, ketika pertama kali dicanangkan, proyek KA cepat sepanjang 142,3 kilometer direncanakan selesai dan beroperasi pada 2021.

Bila sesuai dengan rencana, pengoperasian KCJB akan mencatatkan Indonesia sebagai negara pertama di Asia Tenggara yang mengoperasikan KA cepat. Namun apa lacur badai wabah Covid-19 menghajar dunia, termasuk Indonesia, serta beberapa kendala pendanaan proyek itu muncul dan menghambat jadwal operasional sesuai dengan rencana, termasuk terjadinya pembengkakan biaya proyek.

Di Asia Tenggara, kereta cepat meluncur pertama di Laos. Per Desember 2021, negari Indochina itu mengoperasionalkan KA cepat perdananya yang menghubungkan Kumnung di Tenggara Tiongkok dengan Ibu Kota Laos, Vientiane.

Meskipun demikian, Indonesia tetap yang terdepan dalam penggunaan teknologi terkini di bidang transportasi. Nantinya, Indonesia akan menjadi negara Asia ke lima setelah Jepang, Tiongkok, Laos, dan Arab Saudi.

Bencana kesehatan tak hanya mengganggu proyek pengadaan kereta cepat di Indonesia, operasional KA Cepat Harramain Express milik Arab Saudi yang menghubungkan Madinah-Makkah bernilai USD6,7 miliar atau sekitar Rp100 triliun juga sempat bermasalah.

Pada 2022, KA Cepat yang menghubungkan Madinah-Jeddah, Makkah sepanjang 450 kilometer dengan kecepatan 320 mph itu sempat beroperasi. Namun kemudian berhenti operasional selama setahun, dan baru beroperasi kembali pada 31 Maret 2023.

 

Tiga Kelas

Kembali lagi ke cerita KCJB, menurut rencana operator KCJB, yakni PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) akan membaginya menjadi tiga kelas mulai dari kelas ekonomi hingga eksekutif. Rencana itu dibenarkan oleh Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Risal Wasal.

Sedangkan soal besaran harga tiket KCJB, masih terus dibahas oleh pemerintah dan pihak terkait. “Nanti ada tiga kelas di situ, kelas ekonomi, eksekutif, dan bisnis eksekutif,” jelasnya, belum lama ini.

Selain itu, Risal mengatakan, pemerintah juga tengah mengkaji bentuk tarif integrasi yang tepat untuk KCJB dan juga LRT Jabodebek. Langkah itu dilakukan mengingat kedua moda transportasi itu dapat diakses melalui Stasiun Halim yang memungkinkan penumpang berpindah dari kereta cepat ke LRT dan sebaliknya.

Dalam kesempatan terpisah, General Manager Corporate Secretary PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Rahadian Ratry mengatakan, kehadiran KCJB di Indonesia bisa meningkatkan aksesibilitas dan mengurangi waktu tempuh Jakarta-Bandung layaknya jalur KA Cepat pertama di Tiongkok yaitu Beijing-Tianjin. Jalur KA Cepat Beijing-Tianjin di Tiongkok dibangun pada 2004 dalam rangka menyambut perayaan Olimpiade 2008 di Beijing.

Sebelum ada kereta cepat, perjalanan Beijing-Tianjin dapat ditempuh dalam waktu sekitar dua jam dengan menggunakan mobil. Namun, semenjak hadirnya kereta cepat waktu perjalanan dapat dipangkas menjadi 33 menit saja.

Hal tersebut serupa dengan layanan KCJB. Rahadian mengatakan, kehadiran KCJB di Indonesia akan membawa berbagai kemudahan dan dampak perekonomian yang akan dirasakan berbagai lapisan masyarakat.

Tersedianya layanan kereta api cepat yang tepat waktu, stasiun dan kereta yang bersih, juga akan menghadirkan budaya baru bagi masyarakat Indonesia. Nantinya, KCJB beroperasi sebanyak 68 perjalanan per hari mulai pukul 05.00 WIB hingga 23.00 WIB setiap harinya.

Headway KCJB pada saat jam sibuk, pagi dan sore menjelang malam, mencapai 20 menit sekali. Sedangkan di luar jam sibuk, KCJB akan beroperasi setiap 35 menit dan 60 menit sekali. Yuk, siap-siap menikmati KA Cepat Jakarta-Bandung.

 

Penulis: Firman Hidranto
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari