Indonesia.go.id - Cara E-Smart Perluas Pasar Industri Kecil

Cara E-Smart Perluas Pasar Industri Kecil

  • Administrator
  • Selasa, 21 November 2023 | 11:47 WIB
  • 0
UMKM
  Warga menggunakan perangkat elektronik untuk berbelanja di salah satu situs belanja daring luar negeri di Bogor, Jawa Barat, Rabu (11/10/2023). Program E-Smart menuntut pelaku usaha dapat memahami pemasaran digital menjadi keahlian yang harus dikuasaii di era perdagangan modern. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya
Program e-Smart IKM merupakan sistem database industri kecil dan menengah yang menyajikan profil industri, sentra, dan produknya, terintegrasi dengan marketplace yang ada.

Kisah sukses merek Kampoeng Radjoet yang menaungi Sentra Rajut Binong Jati, Bandung, menjadi salah satu inspirasi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk menerapkan pemasaran digital. Sejak 2015, Kampoeng Radjoet aktif mengikuti pelatihan pemasaran digital dan menerapkannya, termasuk mengikuti program e-Smart IKM 2018 yang digulirkan oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin).

Mendapat sentuhan digital, mereka tidak hanya berhasil bertahan melewati krisis di masa pandemi, melainkan juga berkembang menjadi shopping village. Kampoeng Radjoet sampai diganjar akun baru terbaik Shopee 2020, karena berhasil mendapatkan 1.000 pesanan dalam sehari.

Kesuksesan Kampoeng Radjoet itu diutarakan Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita kepada para pelaku IKM di wilayah Bandung dan sekitarnya. Menurut dia, keberhasilan Kampoeng Radjoet tentunya bukan hasil yang dicapai sendiri.

“Mereka memberdayakan perajin sentra dan bermitra dengan berbagai pihak, jadi di era kolaborasi ini pelaku IKM memang sudah seharusnya turut melebarkan jaringan usaha,” tuturnya.

Dalam lingkup Kementerian Perindustrian, transformasi digital industri termasuk dalam agenda Making Indonesia 4.0 yang dicanangkan sejak 2018. Gerakan Making Indonesia 4.0 tidak hanya meliputi industri skala besar, melainkan juga industri kecil dan menengah. Untuk itu, Kemenperin membuat program e-Smart IKM.

“Kami memiliki program e-Smart IKM yang membantu pelaku IKM untuk memperluas akses pasar melalui pemasaran digital. Kami bekerja sama dengan marketplace ternama seperti Tokopedia, Shopee, BliBli, BukaLapak, dan juga asosiasi e-commerce Indonesia (idEA),” papar Reni Yanita di Jakarta, Sabtu (11/11/2023).

Program e-Smart IKM yang dikelola Ditjen IKMA sejalan dengan semangat Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) yang telah diluncurkan Presiden Joko Widodo sejak 2020. Gernas BBI merupakan gerakan bersama antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk mencintai dan membeli produk lokal.

Gernas BBI juga didorong sebagai upaya meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global. Melalui peningkatan kualitas, desain, branding, dan pemasaran yang efektif, produk lokal diharapkan dapat bersaing dengan produk impor dan mendapatkan tempat yang kuat di pasar internasional.

Program e-Smart IKM adalah sistem database industri kecil dan menengah yang menyajikan profil industri, sentra, dan produknya yang diintegrasikan dengan marketplace yang telah ada. Berikut ini adalah sejumlah keuntungan bergabung dengan program e-Smart IKM:

Pertama, diikutsertakan dalam Kampanye Bangga Besar Buatan Indonesia melalui promosi di marketplace selama masa kampanye e-SmartIKM. Kedua, capacity building pra dan pasca on boarding di media pemasaran online. Ketiga, pendamping selama masa berlaku program.

Lalu keempat, mendapatkan fasilitas Kementrian Perindustrian (fasilitas HKI pendaftaran merek, desain keamanan, branding material, sertifikasi Halal/SNI, kredit usaha rakyat). Kelima, kesempatan produk IKM untuk go international. Serta keenam, lesempatan mengikuti program restrukturisasi mesin peralatan IKM.

Menurut Dirjen IKMA Kemenperin, pemasaran digital menjadi keahlian yang harus dikuasai oleh pelaku usaha manapun di era modern. Tak dinyana kondisi pandemi Covid-19 yang sempat melanda Indonesia dan peningkatan penetrasi teknologi digital di Indonesia, konsumen mengalami perubahan selera berbelanja, dari yang semula belanja secara konvensional dengan mengunjungi toko menjadi belanja daring (online).

Potensi pemasaran digital di tanah air memang amat besar. Laporan “Digital 2023: Indonesia” mencatat pada Januari 2023 terdapat 212 juta pengguna internet di Indonesia, dengan penetrasi internet mencapai 77%. Kemudian Statista Market Insights juga melaporkan bahwa ada 179 juta jiwa pengguna e-commerce di Indonesia pada 2022 dan diprediksi mencapai 196 juta pada 2023. Prediksi Bank Indonesia pada akhir 2023, nilai transaksi e-commerce Indonesia bisa mencapai Rp572 triliun.

Model pemasaran digital yang mengandalkan telepon genggam dan internet jika dimanfaatkan secara baik bisa meningkatkan penjualan dan memperluas pasar tanpa perlu biaya banyak. Pemasaran produk menjadi efektif sehingga sangat cocok untuk para pelaku IKM. Mereka pada umumnya bekerja dari rumah atau lingkungan sekitar.

 

Penulis: Kristantyo Wisnubroto
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari