Indonesia.go.id - Memacu Performa Industri Minyak Atsiri

Memacu Performa Industri Minyak Atsiri

  • Administrator
  • Sabtu, 2 Desember 2023 | 16:33 WIB
  • 0
EKSPOR
  Pekerja menyelesaikan proses pengemasan minyak atsiri cengkeh yang siap dipasarkan di Dusun Kranjang, Desa Wayame, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon, Provinsi Maluku. ANTARA FOTO/ Galih Pradipta
Kinerja ekspor produk minyak atsiri Indonesia mencapai USD172,9 juta di 2022. Lima negara tujuan utama ekspornya adalah AS, India, Prancis, Tiongkok, dan Spanyol.

Kementerian Perindustrian terus mendorong pengembangan industri pengolahan minyak atsiri agar bisa berdaya saing di kancah domestik dan global. Posisi geografis di wilayah tropis, Indonesia mempunyai potensi yang besar untuk menjadi yang teratas dalam budi daya komersial tanaman penghasil minyak atsiri tropis.

Saat ini, di Indonesia terdapat 40 jenis tanaman atsiri tropis yang dapat berkembang, di antaranya bahkan telah dibudidayakan secara komersial. Minyak atsiri sendiri merupakan bahan baku utama industri hilir seperti aromatheraphy, flavour, fragrance, kosmetik, dan wellness products yang digunakan sebagai produk konsumsi masyarakat dan/atau menjadi bahan penolong bagi industri lainnya.

“Pengembangan minyak atsiri (essential oil), melibatkan rantai nilai yang terintegrasi dari hulu sampai hilir, yakni mulai dari petani atsiri rakyat, penyuling rakyat, hingga industri hilir pengolahan minyak atsiri yang dipasarkan di dalam negeri dan ekspor,” kata Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Putu menegaskan, pihaknya terus memacu performa industri pengolahan minyak atsiri dalam negeri agar turut berkontribusi mendongkrak perekonomian nasional. Kinerja ekspor produk minyak atsiri Indonesia pada tahun 2022 mencapai USD172,9 juta. Adapun lima negara tujuan utama ekspor komoditas minyak atsiri Indonesia adalah Amerika Serikat, India, Prancis, Tiongkok, dan Spanyol.

Dengan jumlah penduduk lebih dari 270 juta jiwa, kata Putu, Indonesia menjadi pasar yang potensial dan strategis untuk mengoptimalkan penggunaan berbagai produk turunan minyak atsiri. “Dengan program hilirisasi industri yang dikombinasikan dengan upaya peningkatan penyerapan pasar domestik, rantai nilai minyak atsiri dari hulu hingga hilir dapat terus berputar sehingga mampu menjaga harga jual minyak atsiri mentah yang dihasilkan petani rakyat,” tuturnya.

Untuk itu Kemenperin senantiasa mendukung aktivitas hilirisasi industri dalam rangka menciptakan nilai tambah komoditas produk agroindustri, termasuk minyak atsiri. Mereka terus mendukung upaya discovery inovasi, formulasi, recipe, dan/atau penciptaan ragam jenis baru produk hilir minyak atsiri yang akan memperkaya khazanah budaya bangsa sekaligus membuka peluang pengembangan industri hilir minyak atsiri.

Adapun dukungan konkret Kemenperin dalam mendorong hilirisasi industri minyak atsiri di tanah air, antara lain, melalui pembentukan Pusat Industri Minyak Atsiri Rakyat (PIMAR), yang merupakan virtual institution ekosistem penumbuhan industri yang menyediakan layanan dasar penumbuhan industri secara co-sharing.

PIMAR berperan sebagai penyediaan sarana produksi bersama, layanan inkubasi bisnis dan maturing start-up, penyediaan bahan baku/faktor produksi, pusat layanan jaminan mutu, promosi dan pemasaran produk, serta layanan dokumentasi inovasi/formulasi/resep menjadi Kekayaan Intelektual yang diakui hukum nasional.

PIMAR akan mulai dibentuk pada awal 2024 sebagai pusat penyedia jasa layanan produksi (co-working industrial space) dan pusat pemasaran produk hilir minyak atsiri. Operasional PIMAR juga didukung oleh kontinuitas pasokan bahan baku berkualitas dari jasa layanan pengujian mutu minyak atsiri mentah oleh Balai Industri di lingkungan Kementerian Perindustrian.

Selain itu, PIMAR juga akan didukung dengan ketersediaan SDM analis kimia yang kompeten dari beberapa lulusan sekolah vokasi milik Kemenperin.

 

Penulis: Eri Sutrisno
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari