Indonesia.go.id - Kerja Keras Pengadaan Vaksin

Kerja Keras Pengadaan Vaksin

  • Administrator
  • Selasa, 30 Maret 2021 | 07:35 WIB
VAKSIN COVID-19
  Petugas kesehatan menyuntikan vaksin kepada seorang karyawan perbankan di Mandiri University ,Batam, Kepulauan Riau, Jumat (26/3/2021). ANTARA FOTO/Teguh Prihatna
Tak kurang dari 17.300 perusahaan ikut mendukung pengadaan vaksin untuk program vaksinasi Gotong Royong. Saat ini pemerintah sedang mempertimbangkan beberapa usulan vaksin, di antaranya buatan Sinopharm dan Sputnik.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, program vaksinasi mandiri atau Gotong Royong sudah bisa dimulai April 2021. Vaksin yang sedang dipertimbangkan oleh pemerintah adalah Sinopharm dari Tiongkok. Perusahaan swasta dan BUMN yang berhimpun dalam aksi vaksinasi Gotong Royong itu akan menanggung biaya vaksin yang nantinya diperuntukkan kepada para pekerja. 

“Akan segera diundangkan keputusan Menteri Kesehatan RI tentang petunjuk teknis vaksinasi," kata Menkes Budi Gunadi dalam keterangan resminya yang dirilis lewat Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Jumat (26/3/2021).

Keputusan Menteri (Kepmen) itu nantinya akan mengatur hal ihwal vaksinasi Gotong Royong, mulai dari tahapan, distribusi, hingga skema pembiayaannya. Dengan adanya skema gotong royong ini, vaksinasi nasional akan bisa berjalan lebih cepat.  

Per 27 Maret 2021 vaksinasi sudah  menjangkau 7,2 juta orang. 3,2 juta di antaranya sudah menerima dua dosis suntikan, atau lengkap. Layanan vaksinasi juga terus meningkat, yang kini telah mencapai kecepatan 500.000 orang  per hari. Maka, Menteri Budi Gunadi mengharapkan setidaknya 77 juta dosis suntikan vaksin bisa  dikenakan sampai akhir Juni 2021. Jumlah itu belum vaksinasi Gotong Royong.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, yang jadi mitra andalan pemerintah dalam urusan aksi vaksinasi Gotong Royong ini, mengungkapkan respon pihak swasta maupun BUMN cukup antusias. "Hingga batch dua ditutup hari ini, total pendaftar mencapai 17.387 perusahaan, dengan jumlah peserta mencapai lebih dari 8,6 juta orang,” begitu Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan P Roeslani, dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 25 Maret 2021.

Hampir semua sektor usaha merasa berkepentingan dengan vaksinasi Gotong Royong itu. Menurut Rosan Roeslani, dari sektor industri padat karya atau manufaktur, misalnya, yang mendukung aksi vaksinasi ini dengan mendaftar pada vaksin.kadin.id, telah mencapai 981 perusahaan. Jumlah karyawan dan keluarganya yang didaftarkan ada yang mencapai ribuan, bahkan puluhan ribu orang.

Pada sektor perdagangan, ekspor-impor dan ritel yang mendaftar mencapai 4.882 unit perusahaan. Sektor konstruksi dan infrastruktur yang ikut mencapai 1.119 perusahaan dan sektor jasa mencapai 1403 perusahaan. “Datanya masih bergerak dan masih banyak perusahaan yang mau mendaftar di tahap ke-3," kata Rosan.

Sebagai induk organisasi dunia usaha, tutur Rosan, Kadin akan terus menyinergikan programnya dengan berbagai pihak untuk mengurangi transmisi (penularan) Covid-19 dengan segala risikonya. “Kami mendukung upaya-upaya percepatan untuk mencapai kekebalan kelompok di masyarakat (herd immunity) agar tetap produktif secara sosial dan ekonomi,” katanya pula. Ia pun optimis bahwa vaksinasi itu bisa dimulai pada pertengahan April 2021.

Ketersediaan vaksin pun dirasa aman. Pada Kamis (25/3/2021) lalu, sebanyak sembilan kontainer khusus (envirotainer) berisi bahan vaksin curah, untuk 16 juta dosis, kembali tiba di tanah air dan mendarat di Bandara Soekarno-Hatta dengan pesawat Garuda Indonesia. Kemasan vaksin dengan merek CoronaVac buatan Sinovac Life Science Ltd, Beijing, langsung dibawa ke lab industri PT Biofarma Bandung untuk diolah lebih lanjut.

Dengan kedatangan vaksin Sinovac itu, pasokan vaksin yang masuk ke Indonesia sudah mencapai sekitar 55 juta dosis, termasuk 4,1 juta dosis dalam bentuk vaksin jadi, yakni sebanyak 3 juta dari Sinovac, dan 1,1 juta dari AstraZeneca. Selebihnya dalam bentuk bulk (curah) yang setelah diproses di PT Biofarma ternyata hanya menghasilkan sekitar 41 juta dosis vaksin jadi.

Dengan demikian, secara keseluruhan vaksin yang sudah ada di Indonesia adalah sekitar 45 juta dosis, dan 10,4 juta dosis di antaranya sudah digunakan dalam program vaksinasi. Di antara yang sudah dipakai itu adalah vaksin AstraZeneca yang diracik para ahli gabungan Inggris-Swedia.

Meski demikian ke depan, Menkes Budi Gunadi Sadikin mengakui jika pengadaan vaksin masih terus butuh perjuangan. Saat ini, menurut Menkes, India mengembargo pengiriman produk vaksinnya keluar negeri dalam skema bantuan WHO-COVAX, karena adanya lonjakan kasus Covid-19 di dalam negerinya. Maka, seluruh produknya digunakan untuk percepatan vaksinasi nasionalnya. Padahal, India ialah salah satu negara produsen vaksin terbesar di dunia.  

Walhasil, pasokan ke dunia internasional terganggu. Ada realokasi vaksin. Indonesia yang mestinya menerima 11,7 juta dosis vaksin sampai April 2021, harus tertunda hingga Mei. Komitmen pasokan hanya ada dari Sinovac. ‘’Jadi, di bulan April nanti saya hanya punya pasokan 7 juta vaksin dari Sinovac,” kata Budi Gunadi Sadikin, dalam rilisnya, Minggu (28/3/2021). 

Pengadaan vaksin, di tengah kondisi pandemi akut ini, masih butuh upaya dan kerja keras. Maka, program vaksinasi Gotong Royong menjadi semakin penting. Akan halnya, jenis vaksin yang digunakan untuk vaksinasi Gotong Royong yang sudah pasti, adalah Sinopharm  dari Tiongkok.

Rencana semula mendatangkan vaksin Moderna dari Amerika Serikat (AS) masih terkendala penyediaannya. Belum ada komitmen Moderna untuk bisa mengirim vaksin dalam jumlah besar pada April 2021. Vaksin Sputnik dari Rusia pun dilirik. Pengadaan vaksin dilakukan melalui BUMN PT Kimia Farma sebagai anak perusahaan PT Biofarma.

Ihwal vaksin Sputnik ini tentu harus pula didiskusikan dahulu dengan para pemangku kepentingan pada program vaksinasi Gotong Royong. Namun apa pun vaksinnya, Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga menjanjikan, dalam soal penetapan harga dan pembiayaannya, Kemeneg BUMN akan melibatkan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk memastikan semuanya transparan dan akuntabel.

 

 

Penulis: Putut Trihusodo
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari