PERDAGANGAN
  Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Menteri BUMN Erick Thohir melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Cina, Wang Yi di Sanya, China, Kamis (20/8/2020) waktu setempat. KEMENLU

Ketika Tiga Pendekar Melawat ke Tiongkok

  •   Rabu, 7 April 2021 | 12:34 WIB
  •   Oleh : Administrator

Tiga Menteri Kabinet Indonesia Kerja melawat ke Republik Rakyat Tiongkok. Mereka membawa misi meningkatkan ekspor hingga tiga kali lipat.

Tiga menteri Kabinet Indonesia Maju, yaitu Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi bersama Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Menteri BUMN Erick Thohir, melakukan lawatan ke Republik Rakyat Tiongkok (RRT) pada 1-3 April 2021. Bagaikan pendekar silat yang diutus gurunya untuk menyelesaikan misi, sesampai di negeri tirai bambu itu mereka pun menyebar demi menemui mitra-mitra mereka. 

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi bertemu dengan mitranya, Menlu Tiongkok Wang Yi.  Dalam pertemuan itu, Menlu Retno menekankan pentingnya perusahaan-perusahaan vaksin Tiongkok, yang telah menandatangani komitmen dengan Indonesia, agar segera memenuhi jadwal penyediaan vaksin yang telah disepakati bersama.

Menlu Retno juga menyampaikan harapannya kepada Pemerintah Tiongkok agar bisa memfasilitasi pemulangan anak buah kapal (ABK) asal Indonesia. Ia juga berharap, dukungan Tiongkok agar memfasilitasi kembalinya para pelajar asal Indonesia untuk melanjutkan pendidikan di negeri itu. Hal itu mengingat, kegiatan perkuliahan dan sekolah di daratan Tiongkok telah kembali normal sejak akhir 2020.

Sementara it, Menteri BUMN Erick Thohir dalam kunjungannya ke Tiongkok bertemu dengan pejabat Komisi Supervisi dan Administrasi Aset Milik Negara (SASAC). Selain itu, digelar pula pertemuan dengan praktisi industri baterai listrik dan perusahaan yang membangun kilang peleburan.

Sedangkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi pun melakukan serangkaian pertemuan bisnis dengan sejumlah pelaku usaha di RRT, salah satunya bertemu dengan Ketua China Agricultural Wholesale Market Association (CAWA) Ma Zengjun. CAWA merupakan salah satu asosiasi grosir terbesar di RRT yang para anggotanya merupakan mitra strategis bagi Indonesia dan rutin mengimpor produk Indonesia, seperti produk sarang burung walet.

Selain CAWA, Mendag Lutfi juga bertemu dengan Huang Jian, Chairman Xiamen Yan Palace Sinong Food Co Ltd, salah satu perusahaan importir produk sarang burung walet Indonesia terbesar di RRT. Pada 2020, Xiamen Yan Palace Sinong Food Co Ltd mengimpor lebih dari 50 ton produk sarang burung walet dari Indonesia senilai USD110 juta. Ke depan, perusahaan tersebut berkomitmen meningkatkan pembelian produk sarang burung walet Indonesia.

Dalam pertemuan itu Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mendorong serta memberikan dukungan dan fasilitasi penuh terhadap eksportir produk sarang burung walet Indonesia. Hal yang sama juga diutarakan Lutfi kepada CEO Guangzhou Tianjin Trading Co Ltd Winnie Hon. Guangzhou Tianjin Trading Co Ltd sendiri merupakan salah satu mitra strategis dan importir terbesar untuk produk sarang burung walet Indonesia.

Selaih itu, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi juga menemui Vice President Da Zhou Xin Yan (Xiamen) Biotechnology Co Ltd Shan Yongjun. Xiamen Biotechnology merupakan importir sekaligus industri pengolahan produk sarang burung walet. Dalam tiga tahun terakhir, perusahaan tersebut menggunakan lebih dari 98% produk sarang burung walet Indonesia untuk industrinya. "Jadi saya bisa melaporkan bahwa tadi setelah kita menyepakati setidaknya lima perusahaan (Tiongkok) yang akan mengimpor sarang burung walet dari Indonesia lebih dari 1,13 miliar dolar AS, dan juga ditambah dengan ekspor serta investasi untuk produk furnitur dari Shandong Wood and Furniture dengan jumlahnya lebih dari 200 juta dolar AS," kata Mendag M Lutfi, pada Jumat (2/4/2021).

Kemudian juga dibicarakan tentang investasi yang mendatangkan 150 perusahaan Tiongkok di Kalimantan Barat. Yang mana itu, sambung dia, akan mempekerjakan lebih dari 3.000 pekerja, dan ini total investasinya 1,38 miliar dolar AS. Perlu diketahui, dalam rangkaian kegiatan tersebut, Mendag Lutfi menyaksikan enam letter of intent (LoI) antara importir dari Tiongkok dan Indonesia yang mencakup produk sarang burung walet, buah-buahan, serta produk kayu dan mebel. Total nilai kontrak LoI tersebut mencapai USD1,38 miliar atau senilai Rp20 triliun dengan masa kontrak hingga 2023.

Penandatanganan tersebut dilakukan oleh importir Tiongkok dan Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun, serta Atase Perdagangan Indonesia di Tiongkok. "Pada kesempatan itu pertemuan bilateral ini kami berkesempatan untuk berbicara dengan mitra kami yakni Kementerian Perdagangan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) terdapat beberapa poin yang bisa diberikan. Pertama adalah target baru dalam tiga tahun ke depan di mana kita akan meningkatkan tiga kali lipat ekspor kedua negara dari 31 miliar dolar AS pada saat ini menjadi 100 miliar dolar AS pada tahun 2024," ujar Mendag Lutfi dalam konferensi pers virtual pada Jumat, 2 April 2021 bersama Menteri Retno dan Menteri Erick di Wuyi, Fujian, Republik Rakyat Tiongkok. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, ekspor Indonesia ke Tiongkok pada 2020 tercatat sebesar 31,78 miliar dolar AS atau naik 13,64 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, total perdagangan kedua negara di tahun yang sama tercatat sebesar 71,41 miliar dolar AS.

Selain kesepakatan perdagangan dan investasi, Mendag Lutfi mengungkapkan, kedua negara sepakat menjajaki kerja sama ekonomi yang lebih dalam dengan melakukan pembaruan dari skema bilateral Economic and Trade Cooperation yang telah terjalin sejak 2011 menjadi Trade and Investment Facility Agreement (TIFA). Indonesia dan Tiongkok juga sepakat mengoptimalisasi kesepakatan yang telah terjalin seperti dalam skema ASEAN- Tiongkok FTA dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).

Kedua negara juga sepakat memperkuat perdagangan multilateral dalam kerangka World Trade Organization (WTO). Pemerintah Tiongkok berharap Indonesia dapat mendukung proposal investment facilitation yang sedang digagas di WTO.

 


Penulis: Eri Sutrisno
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari