INVESTASI
  Kawasan Ekonomi Khusus Galang Batang, Bintan, Kepulauan Riau. KEK.GO.ID

Investasi 25 T di Awal Tahun

  •   Jumat, 7 Januari 2022 | 15:42 WIB
  •   Oleh : Administrator

Tiga MoU kerja sama senilai 1,76 miliar dolar AS diteken Taihe Group dengan mitranya Tiongkok untuk investasi di Pulau Bintan.

Sebuah kabar menggembirakan datang di awal 2022. Tiga nota kesepahaman (MoU) senilai 1,76 miliar dolar AS atau sekitar Rp25 triliun ditandatangani pengusaha Indonesia dan pengusaha Tiongkok. Itu merupakan investasi mereka untuk berbagai sektor usaha di Pulau Bintan, Kepulauan Riau.

Duta Besar RI untuk Tiongkok Djauhari Oratmangun di Beijing menyebutkan, ketiga MoU tersebut merupakan komitmen para pebisnis dari kedua negara untuk sektor keuangan, energi terbarukan, dan logistik. Sektor-sektor tersebut akan direalisasikan dalam pembangunan berkelanjutan di Pulau Bintan.

Penandatanganan dilakukan di sela-sela promosi investasi Indonesia pada China Economic Summit yang digelar oleh Asia Brand Group, Asosiasi Pengusaha Tiongkok untuk Pembangunan Ekonomi Asia (CAEDA), dan Taihe Group Limited di Shanghai, pada Selasa  28 Desember 2021disaksikan Dubes Djauhari dan Konsul Jenderal RI di Shanghai, Deny Wachyudi Kurnia.

"Pada masa pandemi, hubungan ekonomi kedua negara semakin kuat dengan beberapa sektor kerja sama yang potensial untuk terus dikembangkan seperti energi dan infrastruktur," kata Dubes.

Promosi ditujukan untuk menggali peluang kerja sama investasi dan perdagangan di Indonesia, khususnya di Pulau Bintan. Duta Besar RI untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun bersinergi bersama Konjen RI Shanghai Deny Wachyudi Kurnia, CEO Taihe Group Dr Sukardi, Presiden Indonesia Chamber of Commerce in China (INACHAM) James Hartono, dan Chairman INACHAM Liky Sutikno. Mereka bersama mempromosikan peluang ekonomi Indonesia di sektor-sektor yang juga menjadi kepentingan Tiongkok.

Promosi dilakukan di China Economic Summit yang dibesut oleh Asia Brand Group, China Association for Asian Economic Development (CAEDA) dan Taihe Group Limited yang diikuti lebih dari 200 pengusaha Tiongkok. Promosi ditujukan untuk menggali peluang kerja sama investasi dan perdagangan di Indonesia, khususnya di Pulau Bintan.

“Tiongkok selama ini telah menjadi mitra utama investasi dan perdagangan bagi Indonesia. Di masa pandemi, hubungan ekonomi kedua negara semakin kuat dengan beberapa sektor kerja sama yang potensial untuk terus dikembangkan seperti energi dan infrastruktur," ujar Dubes Djauhari.

Dalam kesempatan tersebut, CEO of Taihe Group Shanghai Dr Sukardi, mempromosikan peluang investasi di Pulau Bintan kepada para pengusaha Tiongkok. Dalam forum tersebut  disepakati tiga MoU kerja sama senilai 1,76 miliar dolar AS. Kerja sama itu diteken Taihe Group dengan mitra Tiongkok untuk sektor keuangan, energi baru, dan logistik sebagai komitmen para pebisnis Indonesia dan Tiongkok, untuk bersama-sama membangun Pulau Bintan.

 

Ketiga MOU itu adalah:

1.     Offshore Financial Center Project dengan Asia Brand Group Holdings Co Ltd senilai USD680 juta;

2.     New Energy Project dengan Easypass Technology Co Ltd senilai USD500 juta;

3.     Logistics Port Project dengan Shanghai Maolin International Trade Co Ltd senilai USD580 juta.

Perlu diketahui, pemerintah Indonesia sebelumnya telah membangun Pulau Bintan sebagai Kawasan Ekononomi Khusus (KEK) Galang Batang. Di KEK saat ini telah dibangun sebuah  Smelter Grade Alumina (SGA). Bahkan smelter ini berhasil mengekspor alumina perdana  sebanyak 70 ribu ton dengan nilai USD21 juta. Ini merupakan bagian dari target ekspor tahun pertama sebesar 1 juta ton/tahun dengan nilai ekspor USD300 juta. Ekspor ini akan ditingkatkan pada tahun kedua, target ekspor menjadi 2 juta ton/tahun dengan nilai ekspor sebesar USD600 juta.

KEK Galang Batang ke depannya diharapkan mampu memberikan dampak bagi perekonomian nasional melalui penurunan impor produk alumina karena sudah bisa diproduksi di dalam negeri. KEK Galang Batang akan fokus pada industri manufaktur modern, seperti industri hilirisasi bauksit, industri ringan, dan logistik modern yang ramah lingkungan didukung lokasi geografis yang sangat baik untuk berintegrasi ke dalam rantai pasok industri global.

Sebagai informasi, KEK Galang Batang berhasil merealisasikan rencana pembangunannya senilai Rp14 triliun dan akan mencapai Rp36 triliun pada 2025. Kawasan ekonomi khusus ini lokasinya yang strategis di Pulau Bintan, Kepulauan Riau, menciptakan beragam peluang bisnis. Kawasan ini memiliki akses langsung ke Selat Malaka dan Laut Natuna Utara

KEK Galang Batang yang memiliki luas 2.300 hektare difokuskan untuk pengolahan bauksit menjadi alumina atau aluminium. Nilai investasi industri pengolahan bauksit diperkirakan mencapai Rp36,25 triliun pada 2027. Bahkan Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartanto memperkirakan nilai investasi tersebut dapat meningkat menjadi 5,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp77 triliun. Hingga akhir 2020, KEK Galang Batang dinilai sebagai realisasi investasi terbesar, dengan nilai sekitar Rp11 triliun.

Didukung para ahli dari Tiongkok, perusahaan smelter di KEK tersebut membeli bauksit dari wilayah setempat, seperti Pulau Bintan, Lingga, dan Karimun guna mencapai target pengolahan satu juta ton bauksit menjadi alumina. Selain untuk pengolahan bauksit, KEK Galang Batang berpotensi menjadi kawasan industri tekstil.

Sementara itu, Badan Koordinasi Penananaman Modal (BKPM) melaporkan, Tiongkok menanamkan modalnya sebesar USD2,3 miliar ke Indonesia pada Januari hingga September 2021. Nilai investasi ini berada di peringkat ketiga sebagai investor asing terbesar Indonesia. Sementara posisi pertama masih ditempati Singapura dengan nilai USD7,3 miliar. Kemudian, Hongkong naik ke posisi kedua dengan nilai USD3,1 miliar.

Nilai investasi Tiongkok mengalami peningkatan sejak 2018. Nilai investasi Tiongkok tercatat sebesar USD2,4 miliar pada 2018, posisi kedua setelah Singapura dan Jepang. Kemudian, peringkat Tiongkok naik ke posisi kedua dengan nilai USD4,7 miliar pada 2019. Lalu saat pandemi datang ke Indonesia, investasi Tiongkok kembali meningkat menjadi US4,8 miliar pada 2020. Kendati demikian, nilai investasi Tiongkok ke Indonesia masih belum bisa menyalip Singapura.

 

 

Penulis: Eri Sutrisno
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari