G20

Think20 (T20) Hasilkan Rekomendasi Pemulihan Krisis Global

  •   Jumat, 9 September 2022 | 17:37 WIB
  •   Oleh : Administrator

G20 dapat mengumpulkan momentum untuk pemulihan inklusif dengan semangat kerja sama dan pengetahuan ilmiah yang besar serta sumber daya teknologi.

Perhelatan menuju pertemuan puncak pemimpin G20 di Bali pada November 2022 sudah semakin dekat. Sejumlah isu yang berkaitan dengan tema besar “Pulih Bersama, Pulih lebih Kuat” (Recover Together, Recover Stronger) terus dikerucutkan dan dirampungkan.

Ada tiga isu besar dan prioritas dari pertemuan puncak pemimpin kelompok G20, yakni masalah arsitektur kesehatan global, transformasi digital, dan transisi energi berkelanjutan. Dari ketiga isu prioritas itu, Presidensi G20 kemudian membagi pokok bahasan ke dalam dua kelompok besar, masing-masing Sherpa Track dan Finance Track.

Selain dibahas melalui dua kelompok besar itu, sejumlah isu G20 juga dibantu oleh kelompok Think20 (T20). Diketahui, T20 merupakan lembaga resmi bagian dari Presidensi G20 yang menjadi wadah pemikiran dan riset isu-isu terkini dari sejumlah pakar dan peneliti global. Mereka itu diharapkan bisa memberikan sumbangan berupa solusi terbaik dari permasalahan dunia saat ini.

Ada sembilan satuan tugas yang dibentuk melalui lembaga T20. Salah satunya adalah Satgas TF1 yang bertugas membahas masalah perdagangan terbuka dan investasi berkelanjutan. Lalu ada Satgas TF2 yang membahas konektivitas digital yang berarti, keamanan cyber, dan pemberdayaan. Satgas selanjutnya adalah TF3 yang bertugas mengatur soal target iklim, transisi energi, dan perlindungan lingkungan.

Satgas keempat, yakni TF4 yang membidangi masalah ketahanan pangan, pertanian berkelanjutan. Ada juga Satgas TF5 yang membahas masalah ketimpangan, sumber daya manusia, dan kesejahteraan. Kemudian Satgas TF6 yang membahas masalah keamanan, kesehatan global, dan Covid-19.

Berikutnya, Satgas TF7 yang membahas masalah keuangan internasional dan pemulihan ekonomi. Satgas TF8 mengenai infrastruktur dan pembiayaan yang tangguh, dan Satgas TF9 mengenai kerja sama global untuk pembiayaan SDGs.

Sejak Indonesia ditunjuk sebagai Pimpinan G20 setelah kepemimpinan G20 Itali, sejumlah pakar dan peneliti global yang tergabung ke dalam T20 telah menghasilkan 764 abstrak kebijakan singkat dan menghasilkan 130 ringkasan kebijakan.

“Sejumlah abstraksi dan ringkasan kebijakan itu ditulis oleh lebih dari 200 penulis dari jaringan think tank di seluruh dunia,” ujar Lead Co-Chairs T20 Indonesia Bambang Brodjonegoro, saat pembukaan T20 Summit di Nusa Dua Bali, Senin (5/9/2022).

Agenda T20 Indonesia Summit 2022 itu berlangsung di Nusa Dua, Bali, pada 5 September 2022--6 September 2022. Tema yang diusung dari pertemuan puncak T20 Indonesia adalah 'Strengthening The Role Of The G20 To Navigate The Current Global Dynamics'.

Tidak berhenti pada aspek penelitian dan riset saja, seperti dijelaskan Bambang Brodjonegoro, untuk memastikan output yang ketat, T20 Indonesia juga telah menyelenggarakan tiga acara sampingan utama (side event).
Tiga side event itu adalah Global Solutions Summit, Global Policy Forum, dan Global Dialogue. Selain itu, Satgas T20 Indonesia juga menggelar lebih dari 200 side event dari sembilan satgas.
Tak dipungkiri, T20 sebagai sebuah lembaga resmi dan bagian dari Presidensi G20 mendapatkan tugas melakukan kajian pemikiran dan riset isu-isu terkini. Forum ini menjadi bank ide yang dibentuk untuk merekomendasikan kebijakan-kebijakan berbasis riset bagi para pemimpin dunia di ajang G20.

Nah, setelah sekian lama bekerja, T20 Indonesia berhasil menelurkan rekomendasi yang tercantum dalam T20 Communique. Kelak, rekomendasi itu disampaikan dalam T20 Indonesia Summit 2022 yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, belum lama ini.

“Semua topik yang ada di dalam T20 Communique saling berkaitan dengan prioritas G20,” ujar Lead Co-Chair T20 Djisman S Simanjuntak. Djisman dan Bambang Brodjonegoro memang ditunjuk sebagai Co-Chair T20.

Bambang menambahkan, ada lima rekomendasi yang dihasilkan T20 Indonesia. Rekomendasi itu adalah pertama, mendorong pemulihan dan ketahanan. Kedua, mempercepat kemajuan menuju net zero emission (NZE).

Ketiga, mengatur transformasi menuju masyarakat digital. Keempat, menjadikan ekonomi lebih inklusif dan berpusat kepada rakyat. Dan kelima, menghidupkan kembali tata kelola global.

“Kelima rekomendasi itu dikembangkan melalui proses yang ketat,” ujar Bambang.

Mantan Menteri Ristek/Dikti itu mengharapkan, T20 Indonesia bisa memberikan sumbangan kepada semua negara yang tergabung G20, demi pemulihan bersama dari berbagai guncangan. Mulai dari krisis keuangan berkala, pergeseran kekuatan geopolitik, berbagai dampak perubahan iklim, pandemi Covid-19, hingga efek dari perang antara Rusia dan Ukraina serta sanksi ekonomi terkait.

“Bukan pertama kalinya dunia dihadapkan pada lingkungan kebijakan yang sulit. Para pemimpin dunia telah berulang kali membuktikan tekad dan kemahiran untuk mengubah banyak kejutan menjadi peluang untuk penataan ulang kelembagaan yang inovatif yang berfungsi sebagai sumber pembaruan di semua lapisan masyarakat termasuk bisnis,” paparnya.

Bambang mengatakan, para pemimpin G20 dapat menciptakan dan mengumpulkan momentum untuk pemulihan inklusif pada sisa 2022 dan 2023 dengan semangat kerja sama dan pengetahuan ilmiah yang besar serta sumber daya teknologi.

“Untuk berkembang lebih jauh di dalamnya, pendalaman kerja sama sangat diperlukan. Apa pun keberhasilan yang dapat dicapai oleh para pemimpin G20 Indonesia, mereka akan mengumpulkan momentum yang lebih besar karena Presidensi G20 bergerak berturut-turut ke India, Brasil, dan Afrika Selatan, sebagai rangkaian presidensi yang diselenggarakan oleh negara berkembang,” jelasnya.

Menurut Bambang, T20 Indonesia juga menilai, kooperasi antarnegara tidak dapat ditawar di tengah dunia berada pada fase pemulihan pascapandemi Covid-19 hingga era inflasi tinggi.

 

Penulis: Firman Hidranto
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari