G20
  Area pelepasan roket antariksa milik SpaceX. SPACEX

Space20, Ajang Perkuat Industri Keantariksaan

  •   Jumat, 4 November 2022 | 09:22 WIB
  •   Oleh : Administrator

Indonesia mendorong penguatan pemanfaatan teknologi antariksa untuk pemulihan dan pertumbuhan ekonomi, melalui ekonomi digital dan ekonomi biru-hijau.

Antariksa selalu menarik untuk dibahas karena menjadi bagian potensial untuk dikembangkan, baik dari segi lingkungan dan ekonomi. Berkacalah kepada Elon Musk, orang paling makmur di muka bumi menurut Forbes. Pria asal Afrika Selatan itu punya pundi-pundi harta menyentuh angka USD219,6 miliar atau Rp3.425,76 triliun. Kekayaannya turut disumbangkan dari bisnisnya menjalankan perusahaan antariksa SpaceX sejak 2002.

Pemilik pabrik kendaraan listrik Tesla itu adalah swasta pertama di muka bumi yang mampu meluncurkan roket sendiri bernama Falcon. Bukan itu saja, SpaceX hingga September 2022 telah menempatkan 3.000 satelit kecil bernama Starlink di orbit rendah bumi. Ribuan satelit mungil itu berfungsi melayani jaringan internet yang mampu menjangkau semua sisi bumi.

SpaceX bahkan mampu membawa pulang kembali roket-roket mereka ke bumi dan bisa digunakan kembali. SpaceX juga tercatat sebagai mitra strategis Badan Ruang Angkasa dan Antariksa Amerika Serikat atau NASA untuk membawa satelit-satelit dari banyak negara ke orbit.

Itu dilakukan sejak NASA tak lagi menjalankan misi luar angkasa dan antariksanya. Perusahaan antariksa Musk itu pun berhasil membawa dua astronot NASA ke orbit stasiun luar angkasa internasional dengan pesawat Crew Dragon Demo-2 Pusat Antariksa Kennedy, Florida, 30 Mei 2020.

Semua keberhasilan tadi berimbas kepada keuntungan SpaceX. Forbes menghitung, setidaknya setiap sejak 2020, usaha antariksa Musk itu mendulang keuntungan bersih hingga USD4 miliar (Rp62,4 triliun). Valuasi SpaceX pun turut melesat dari semula senilai USD14 miliar (Rp218,4 triliun) pada 2014, ketika 2020 sudah di angka USD74 miliar (Rp1.154,4 triliun).

Melihat fenomena SpaceX ini dan dampak ekonomi yang dihasilkan, 20 kepala badan antariksa dari negara-negara kelompok G20 dan para mitra mereka berkolaborasi untuk membangun sektor keantariksaan berbasis ekonomi dan lingkungan. Termasuk, melibatkan swasta seperti halnya SpaceX.

Kedua hal itu menjadi fokus utama 3rd Space Economy Leaders Meeting atau Space20 di Jakarta, 27-28 Oktober 2022. Pertemuan ini sebagai lanjutan dari dua pertemuan sebelumnya pada 2020 di Arab Saudi dan 2021 di Italia.

Dalam dua pertemuan terakhir itu, para kepala badan antariksa telah sepakat bahwa isu lingkungan dan ekonomi penting untuk dibahas secara mendalam. Pada pertemuan di Jakarta, Indonesia selaku tuan rumah akan mendorong diperkuatnya pemanfaatan teknologi antariksa untuk pemulihan dan pertumbuhan ekonomi melalui ekonomi digital, dan ekonomi biru-hijau.

Hal itu dikatakan Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Robertus Heru Triharjanto dalam keterangan persnya di Jakarta, Kamis (27/10/2022). Menurutnya, para pemimpin lembaga antariksa dari negara-negara Kelompok 20 (G20) setuju bahwa teknologi keantariksaan itu pada masa sekarang ini merupakan penggerak ekonomi.

Pemanfaatannya adalah untuk memberi akses adil dari pengembangan dunia digital bagi semua lapisan masyarakat, supaya tidak ada satu pun tertinggal untuk mengakses informasi secara digital. Pada ekonomi biru, teknologi keantariksaan dapat dioptimalkan dalam membangun ekonomi berbasis maritim dan menjaga serta memelihara laut dari pencemaran. Juga mencegah eksploitasi laut berlebihan seperti penangkapan ikan secara ilegal.

Sedangkan pada ekonomi hijau didorong untuk menjaga kebelanjutan kehidupan di muka bumi dan ruang angkasa. Pemanfaatan ruang antariksa harus dilakukan secara bertanggung jawab dan untuk tujuan damai bagi manusia. Space20 dapat dipakai sebagai etalase semua pihak untuk mencegah dampak buruk dari perubahan iklim. Misalnya pemanfaatan satelit dalam teknologi keantariksaan misalnya untuk memantau dinamika laut yang berpotensi mempengaruhi cuaca. Atau, kenaikan muka air laut sebagai indikator pemanasan global.

Teknologi keantariksaan dapat dipakai untuk memantau kekeringan dan sebagai peringatan dini untuk melacak efek rumah kaca dan polusi udara. Turut membantu memantau penebangan hutan ilegal, serta menghitung luas tutupan lahan atau hutan.

Sehingga Indonesia mendorong terjalinnya kerja sama dengan swasta untuk semakin bergairah berinvestasi di sektor keantariksaan. Utamanya, berkolaborasi dalam penginderaan jarak jauh karena pemerintah sudah berinvestasi di dalamnya. Robertus beralasan, teknologi keantariksaan tidak lagi menjadi ranahnya negara, melainkan sudah menjadi wilayah swasta karena ada dampak ekonominya.

Sedangkan Direktur Eksekutif Indonesia Space Agency BRIN Erna Sri Adiningsih dalam acara serupa menekankan pentingnya kegunaan teknologi keantariksaan untuk pembangunan berkelanjutan selain isu-isu space for digital, blue, and green economy yang telah diuraikan tadi. Misi Indonesia pada Space20 di Jakarta kali ini menurut Erna adalah agar negara-negara dengan kemampuan teknologi keantariksaan sangat dominan dapat ditularkan kepada siapa saja.

"Sehingga manfaatnya untuk pembangunan berkelanjutan bisa diperlebar untuk misi kemanusiaan," ucapnya.

Sejak dunia memasuki masa pandemi, sebuah perubahan besar terjadi ketika kebutuhan akan internet semakin tinggi sebagai dampak pembatasan kegiatan luar jaringan (offline) dan menekankan lebih banyak kegiatan dalam jaringan (online). Dibutuhkan adanya konektivitas jaringan yang baik lewat teknologi keantariksaan mumpuni dan butuh kesiapan industrinya.

Sementara itu, Kepala BRIN Laksana Tri Handoko dalam keterangan tertulisnya mengatakan, saat ini Indonesia berencana mengembangkan peluncuran 19 konstelasi satelit untuk misi penginderaan jauh dan peningkatan kapasitas satelit komunikasi untuk mendukung ekonomi digital dan ekonomi biru-hijau.

 

Penulis: Anton Setiawan
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari