KEANEKARAGAMAN HAYATI
  Kerbau rawa Pampangan mencari makan di tengah rawa di Kecamatan Rambutan, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Sabtu (13/2). ANTARA FOTO/ Nova Wahyudi

Menyelamatkan Kerbau Pampangan dari Kepunahan

  •   Minggu, 23 Mei 2021 | 15:29 WIB
  •   Oleh : Administrator

Kebakaran hutan dan lahan serta pembukaan perkebunan sawit memberikan ancaman bagi penyusutan populasi kerbau rawa pampangan, plasma nuftah khas Sumatra Selatan.

Ada satu fauna endemik di Sumatra Selatan yaitu kerbau rawa (swamp buffalo), satu dari dua golongan besar kerbau yang ada di dunia, selain kerbau sungai (river buffalo). Kerbau rawa di Sumsel ini telah diakui pemerintah sebagai sumber daya genetik (SDG) ternak lokal Indonesia.

Hewan bernama ilmiah Bubalus bubalis ini sesuai ciri khasnya gemar berenang dan menyelam di kawasan rawa gambut yang terdapat di Bumi Sriwijaya. Kerbau yang hobi bermain lumpur itu mudah dijumpai di Kecamatan Pedamaran, Jawi, Pangkalan Lampam, dan Pampangan di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Populasinya juga bisa ditemui di Kecamatan Tanjung Senai (Kabupaten Ogan Ilir) dan Kecamatan Rambutan (Kabupaten Banyuasin).

Daerah-daerah di atas merupakan lumbung gambut Sumsel dengan luas total sebesar 1,2 juta hektare.Kendati dapat ditemui di banyak tempat di Sumsel, hewan berkaki empat itu dikenal juga dengan sebutan kerbau rawa pampangan. Hal itu karena asal usulnya memang bermula dari daerah itu.

Di dalam Keputusan Menteri Pertanian nomor 694/Kpts/PD.410/2/2013 tentang Penetapan Rumpun Kerbau Pampangan disebutkan bahwa plasma nuftah itu merupakan rumpun kerbau lokal asli Indonesia. Kerbau pampangan merupakan persilangan antara induk kerbau asal India dengan kerbau lokal pada awal abad 19.

Untuk memperkuatnya sebagai rumpun asli Indonesia, Badan Standardisasi Indonesia pada April 2016 menerbitkan standar nasional Indonesia (SNI) nomor 8292.2 tahun 2016 soal bibit unggul kerbau pampangan yang dikenal memiliki nilai ekonomi tinggi. Hal itu mengacu kepada konsensus yang dilakukan di Bogor, Jawa Barat, 27 November 2015, dan jajak pendapat yang diadakan 28 Januari--28 Maret 2016.

Di masa Kesultanan Palembang awal abad 19, sejumlah indukan kerbau bersama para penggembalanya didatangkan langsung dari kawasan Teluk Benggala. Indukan-indukan unggul dari India itu kemudian dikawinkan dengan kerbau lokal. Kesultanan menempatkan kerbau-kerbau tersebut di kawasan rawa gambut Pulau Kuro yang kaya akan makanan alami berupa rumput hijau.

Menurut pakar kerbau rawa dari Universitas Sriwijaya Palembang Abrar Arpan, secara visual hewan ternak ini terlihat memiliki kekerabatan dengan murrah, jenis kerbau rawa dari Punjab, India. Ini adalah jenis kerbau rawa unggul dengan ciri khas garis chevrons, yaitu terdapat warna putih terang di bawah leher membentuk setengah lingkaran atau seperti bulan sabit.

Kerbau rawa pampangan, menurut dosen Peternakan Fakultas Pertanian Unsri itu, terpelihara pada suatu ekosistem pasang surut tahunan. Sehingga memiliki perilaku makan (feeding behavior) yang khas karena dibentuk oleh lingkungannya. Terutama kemampuan berenangnya yang cukup jauh serta dapat menyelam untuk mencari dan memakan tumbuhan hijau di dasar rawa.

 

Bahan Gulo Puan

Seperti halnya murrah, kerbau rawa pampangan, menurut Abrar, dikenal sebagai ternak tipe dwiguna yaitu penghasil daging dan susu. Kerbau-kerbau rawa pampangan menghasilkan susu atau puan dan menjadi bahan baku gulo puan, semacam fermentasi susu kerbau dan gula. Gulo puan ini adalah makanan favorit di lingkungan kesultanan pada masanya.

Teknik memerah susu kerbau rawa pampangan tak seperti pada sapi, susah-susah gampang. Untuk mendapatkan susu dari induknya, perlu melibatkan anak kerbau atau gudel di dalam prosesnya. Gudel akan dibiarkan dulu menyusui pada induknya. Dan beberapa saat kemudian si anakan dipisahkan dari induknya untuk dilanjutkan ke proses pemerahan susu.

Doktor bidang produktivitas hewan pada Program Bioresource Mie University, Jepang, itu menjelaskan, jika proses di atas tidak dilakukan, maka susu yang keluar akan sedikit dan bahkan tidak akan keluar sama sekali. Seekor indukan dapat menghasilkan 800-1.200 liter susu dalam masa laktasi yang berlangsung selama 200-300 hari.

Saat ini, tak hanya gulo puan yang bisa dibuat dari susu kerbau pampangan. Kudapan lainnya, seperti sagon puan, juadah puan, srikaya puan, dan minyak kerbau, pun bisa. Dibutuhkan setidaknya 10 liter susu kerbau pampangan untuk menghasilkan 4 kilogram gulo puan atau sagon puan. Produk olahan susu kerbau pampangan tadi bernilai jual tinggi.

Untuk tiap kilogram gulo puan, kita harus menebusnya dengan harga tak kurang dari Rp80.000 dan seharga Rp150.000 untuk tiap kilogram sagon puan. Selain daging dan susu, kotoran kerbau pampangan juga dimanfaatkan masyarakat di kawasan rawa gambut sebagai pupuk dan bahan baku biogas.

 

Ancaman Kepunahan

Kendati demikian, di antara beragam keunggulan seperti disebut tadi, terdapat beberapa hal yang menjadi ancaman bagi kepunahannya. Misalnya saja makin berkurangnya lahan penggembalaan karena kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dan pembukaan perkebunan kelapa sawit. Seperti yang terjadi di Pedamaran, salah satu habitat alami kerbau rawa pampangan. Karakter perkebunan sawit yang rakus air menyebabkan pada musim kemarau lahan-lahan gambut menjadi cepat kering sehingga mudah terbakar.

Kondisi tadi menyebabkan ternak kesulitan mendapatkan pakan alaminya berupa rumput hijau yang tumbuh subur di sekitar rawa gambut. Karena itu tak sedikit dari para peternak yang menjual kerbau rawa pampangan. "Sebagian lainnya ditemukan tewas karena kurang makan," kata Abrar berdasarkan riset yang dilakukannya pada 2019.

Dalam rentang 10 tahun saja, populasi ternak ini menyusut hingga 10.000 ekor. Dalam catatan Abrar, pada 2010 populasi kerbau rawa pampangan berjumlah 15.000 ekor. Namun pada 2019 hanya tersisa 10.000 ekor dengan jumlah terbanyak di Pampangan sebagai habitat in situ, yaitu 5.000 ekor.

Hal lain yang cukup mengganggu kelestarian ternak endemik ini adalah usia produktif indukannya yang makin lambat karena ditemukan adanya induk yang baru bunting di usia 15 tahun. Normalnya usia produktif mereka di kisaran 8-9 tahun. Masyarakat setempat pun hanya menjadikan kerbau rawa pampangan sebagai tabungan keluarga dan belum menjadi usaha produktif.

Abrar khawatir, jika tidak dilakukan pelestarian kerbau rawa pampangan, bukan hanya fauna ini saja yang tinggal nama. Tetapi juga produk turunan dari susu yang dihasilkannya pun ikut punah. Tak ada lagi yang bisa memproduksi gulo puan, sagon puan, juadah puan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. 

 

Pusat Pengembangan Kerbau

Melihat kondisi itu pada 2014 saat Gubernur Sumsel masih dijabat oleh Alex Noerdin, ia mencanangkan pelestarian ternak endemik ini secara in situ dan ex situ. Ia membangun pusat pengembangan kerbau atau swap buffalo center di Desa Rambutan, Kecamatan Rambutan, Banyuasin. Sebuah lahan penggembalaan seluas 1.200 ha berupa rawa gambut dan daratan disiapkan. Ini menjadi pusat pengembangan dan pelestarian ternak kerbau rawa terintegrasi pertama di Indonesia.

Keseriusan itu juga ditunjukkan dengan pengiriman 4 orang pakar ternak dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dinas Peternakan, serta Balai Penelitian dan Pengembangan Daerah Sumsel mengikuti pelatihan manajemen budi daya dan industri kerbau ke International Buffalo Federation (IBF) di Roma, Italia, Agustus 2014 silam. Pemerintah Provinsi Sumsel juga melakukan studi banding ke Philippine Carabao Center di Kota Munoz, Nueva Ejica, Filipina. Ini adalah salah satu pusat pengembangan kerbau terbaik di Asia.

Guru besar riset bioteknologi Puslitbang Bioteknologi LIPI Baharuddin Tappa, salah satu peserta pelatihan kerbau rawa ke Roma, mengatakan bahwa perlu upaya peningkatan mutu genetik untuk menyelamatkan populasi kerbau rawa pampangan. Seperti dikutip dari Antara, salah satu caranya adalah melakukan kawin silang dengan kerbau unggul asal Italia yang terkenal memiliki produksi susu melimpah dan kualitas daging yang sangat baik.

Semua itu dilakukan agar kerbau rawa pampangan tetap bisa lestari sebagai fauna endemik yang bernilai ekonomi tinggi dari Sumsel sejalan dengan menjaga kelestarian lingkungan habitatnya agar tidak ikut dirusak. Sehingga plasma nuftah ini tidak punah dan hanya tinggal namanya saja. Yuk kita lestarikan fauna asli Indonesia sambil ikut menjaga dan merawat lingkungan di sekitar habitatnya.




Penulis: Anton Setiawan
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Saris