Indonesia.go.id - Kuliner Jawa Barat yang Wajib Dicoba

Kuliner Jawa Barat yang Wajib Dicoba

  • Administrator
  • Rabu, 26 April 2023 | 16:54 WIB
  • 0
KULINER
  Sate Maranggi khas Purwakarta. ANTARA
Jalur pantai selatan (pansela) selain memiliki sejumlah tempat wisata yang eksotik, juga terdapat tempat-tempat kuliner yang wajib dicicipi.

Jika melakukan perjalanan dengan angkutan darat dari Banten menuju ke Jawa Tengah atau Jawa Timur, Anda akan menemukan sejumlah makanan khas daerah yang sayang hanya dilewati. Berikut kuliner jalur selatan Jawa Barat.

 

  1. Angeun Lada, Pandeglang

Ini sejenis masakan gulai dengan bahan dasar daging kerbau. Masakan khas Banten Selatan rasanya gurih. Selain itu, ada aroma daun walang yang sangat kuat. Angeun Lada menggunakan daging kerbau atau jeroan sapi, namun saat ini beberapa rumah makan mulai memodifikasi resepnya. Ada yang menggunakan ikan, atau mengombinasikan dengan sayuran seperti rebung. Berbuka puasa dengan nasi panas plus Angeun Lada pasti akan membangkitkan selera.

 

  1. Sekoteng Singapore, Sukabumi

Dari Pandeglang habis Magrib dan melanjutkan perjalanan ke timur dan akan tiba di Sukabumi sekitar tengah malam. Enaknya rehat di Sukabumi sambil menikmati Sekoteng Singapore. Sekoteng ini sudah sangat terkenal di sana dan bahkan sekarang berkembang di Bandung.

Sekoteng Singapore merupakan air jahe yang dengan isian berupa kacang hijau, pacar cina, kacang tanah, maupun potongan roti. Untuk Sekoteng Singapore ada tambahan kue jahe coklat sehingga menambah cita rasanya menjadi lebih nikmat.

Nah, jangan lupa juga kalau di Sukabumi membeli oleh-oleh khas daerah: Mochi. Mochi telah dikenal sebagai makanan khas Sukabumi. Kue ini sering dijadikan sebagai oleh-oleh. Mochi adalah sejenis wagashi atau sejenis kue tradisonal Jepang. Keberadaan mochi di Sukabumi terkait dengan keberadaan penjajah Jepang pada masa itu.

 

  1. Nasi Timbel dan Colenak, Bandung

Nasi Timbel Bandung adalah rekomendasi kuliner khas Bandung berikutnya. Kuliner khas Bandung ini terbuat dari olahan nasi putih panas yang dibungkus dengan daun pisang dan ditambah bermacam lauk-pauk juga sambal sebagai pelengkapnya. Cocok untuk makan siang.

Untuk cemilan, Anda bisa dengan mudah mendapatkan Colenak. Kuliner  khas Bandung ini merupakan kepanjangan dari “Cocol Enak”. Colenak sudah dikenal sejak 1930-an. Makanan ini terbuat dari olahan peuyeum yang dibakar lalu disiram dengan gula merah kental serta toping parutan kelapa diatasnya. Rasa asam dari peuyeum dan manis dari gula merah kental akan bercampur menjadi satu ketika digigit.

Sebelum meninggalkan Bandung, penting untuk beli oleh-oleh khas kota ini: Peuyeum!

Peuyeum adalah sejenis tape, hanya saja Peuyeum cenderung kering, berbeda dengan tape yang biasanya mengandung banyak air. Peuyeum terbuat dari bahan baku singkong.

Proses pembuatannya diawali dengan mengukus singkong hingga matang, kemudian didinginkan untuk ditaburi ragi dan disimpan ke dalam wadah tertutup sekitar 2-3 hari. Rasanya manis dan empuk saat digigit. Makanan khas Bandung ini juga bisa digoreng layaknya pisang goreng lalu diberi topping keju atau coklat.

 

  1. Nasi Cikur, Tasikmalaya

Melewati Tasikmalaya, jangan sampai kelewatan menikmati kuliner jalur pantai selatan satu ini. Cikur yang berarti kencur dalam bahasa Sunda, digunakan untuk membumbui ‘nasi goreng’ khas Tasikmalaya. Aroma nasi pun menjadi lebih harum, dengan rasa yang semakin sedap.

Nasi cikur dihidangkan dengan berbagai ragam lauk seperti telur dadar, sayuran yang dimasak semur (misalnya jengkol), suwiran daging ayam, tahu goreng, serundeng, acar wortel, dan keripik tempe. Kalau kamu beruntung, kamu akan menemukan cumi asin pedas yang ditumis dengan cabai hijau.

 

  1. Sate Maranggi, Purwakarta

Kalau Anda melalui Purwakarta, Anda harus mencoba Sate Maranggi yang asli.  Sate Maranggi menggunakan daging sapi yang telah direndam rempah seperti jahe, ketumbar, lengkuas, kunyit, dan sedikit cuka. Terkadang ada juga rumah makan yang menyediakan Sate Maranggi daging kambing.

Proses masak Sate Maranggi membuat penyajian Sate Maranggi tidak lagi menggunakan bumbu kacang; melainkan dengan sambal cabai rawit plus potongan tomat segar.

 

Penulis: Eri Sutrisno
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari