AM IMF-WB 2018

Contoh Sukses dari Tuan Rumah

  •   Senin, 8 Oktober 2018 | 08:12 WIB
  •   Oleh : Administrator

Pertemuan IMF-World Bank di Bali kali ini memang agak lain dari biasanya. Sekarang dunia sedang disibukkan dengan perang dagang yang terus berlanjut, utamanya antara dua raksasa AS dan Cina. Dampak perang dagang juga berimplikasi pada fluktuasi mata uang. Akibatnya banyak negara yang kolaps.

Kita saksikan Venezuela yang ekonominya ambruk. Atau Turki yang tetiba goyang karena tekanan dolar AS terhadap Lira. Demikian juga negara lain yang nilai mata uangnya mengalami masalah serius. Indonesia juga terkena dampaknya. Nilai rupiah turun sampai 10%.

Di tengah kondisi ekonomi dunia seperti itulah pertemuan IMF-WB ini berlangsung. Sebanyak 189 negara akan terlibat, membahas persoalan-persoalan mendesak berkenaan dengan bagaimana dunia harus menyikapi kondisi terkini.

Bagaimana mengantisipasi suasana ekonomi global yang penuh tekanan ini sehingga pemerintah di masing-masing negara bisa keluar dari lingkaran setan yang mencekik.

Pada 2014, Indonesia mengirimkan proposal mengajukan diri jadi tuan rumah pertemuan tersebut. Bersama proposal dari negara lain kita bersaing. Pada 2015 proposal Indonesia disetujui.

Menurut Sri Mulyani, yang saat itu duduk sebagai salah satu Direktur WB, pertimbangan WB menunjuk Indonesia sebagai tuan rumah selain karena pertimbangan kemampuan pemerintah Indonesia menyelenggarakan event besar juga karena dunia melihat stabilitas perekonomian kita.

Bayangkan. Di tengah tekanan global yang tidak habis-habisnya kita masih stabil dengan tingkat pertumbuhan rata-rata di atas 5%. Bukan hanya itu, berbagai bencana alam yang menghampiri Indonesia tidak membuat negara ini kelimpungan. Bahkan dalam waktu tidak terlalu lama perekonomian di daerah bencana pulih dengan cepat.

 Sepuluh tahun sejak tsunami Aceh menghancurkan semua fasilitas dan kehidupan, kini Aceh sudah bisa bergerak lagi. Ekonomi tumbuh dan kehidupan berjalan dengan normal. Artinya, bantuan dunia untuk menangani gempa dan tsunami Aceh bisa dikelola dengan baik hingga mengembalikan kehidupan masyarakat seperti sedia kala. Padahal bangkit dari keterpurukan akibat bencana alam yang dahsyat bukan sebuah hal yang mudah.

Berbeda dengan Haiti, misalnya. Ketika negeri ini ditimpa gempa besar, seluruh dunia juga membantu. Tapi sampai sekarang Haiti belum bisa keluar dari krisis. Ekonominya masih jeblok.

Atau Pakistan. Negeri ini pernah tertimpa bencana serius. Tapi tidak seperti Aceh yang sehabis bencana masyarakatnya memutuskan untuk mengakhiri konflik berkepanjangan antara pemerintah dan GAM. Di Pakistan bencana tidak membawa perdamaian.

Indonesia di mata dunia adalah sebuah negeri besar yang terus menggeliat. Secara besaran ekonomi kita termasuk negara dengan besaran sampai satu triliun dolar. Dari jumlah penduduk, Indonesia menempati posisi keempat dunia.

Dari sisi politik, boleh dibilang kita adalah negeri yang sukses menjalankan demokrasi damai. Sejak reformasi proses pergantian kekuasaan kita berlangsung mulus. Bahkan sistem pemilihan langsung yang diterapkan dalam pilkada, tidak banyak mengganggu stabilitas ekonomi.

Kemampuan pemerintah Indonesia mengelola segala aspek ini dengan ekonomi yang relatif stabil tampaknya dijadikan semacam contoh keberhasilan negara-negara lain. Faktor itulah yang membuat Indonesia layak menjadi tuan rumah pertemuan IMF-WB 2018.

Banyak kepala pemerintahan ingin belajar pada Indonesia. Bagaimana mengelola negara besar ini, yang terdiri dari beragam perbedaan, lalu berhasil diubah menjadi energi pembangunan yang luar biasa.