Indonesia.go.id - Bibir Pasifik Menjadi Destinasi Superprioritas Anyar

Bibir Pasifik Menjadi Destinasi Superprioritas Anyar

  • Administrator
  • Minggu, 21 Maret 2021 | 17:42 WIB
  • 0
PARIWISATA
  Pantai di Pulau Morotai. ANTARA FOTO/Fanny Octavianus
Langkah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) patut diapresiasi dan didukung. Itu semua bagian dari upaya memulihkan sektor pariwisata yang terpuruk akibat Covid-19.

Indonesia patut bersyukur diberkahi dengan keindahan alam yang mempesona. Apalagi bila berbicara soal potensi keindahan alam Indonesia di bagian timur, terutama pantai putihnya yang menghampar dan laut biru yang menyejukkan mata. Itu semua tak diragukan lagi.

Nah, salah satu destinasi wisata Kepulauan Maluku yang patut Anda kunjungi adalah Pulau Morotai. Decak kagum pasti akan terucap tak habis-habisnya bila sudah sampai destinasi ini.

Anda sebagai wisatawan akan dimanjakan dengan keindahan pantai pasir putih melalui Hopping Island, Pulau Pasir Putih dengan ikan lumba-lumbanya, dan Pulau Dodola, yang tidak kalah indahnya dengan dua pulau sebelumnya. Benar, pulau itu memiliki keindahan alam darat dan bawah laut yang sangat luar biasa. 

Morotai adalah pulau terluar di Indonesia yang memiliki luas sekitar 1.800 km², terletak di Kepulauan Halmahera. Pada zaman dahulu, Morotai digunakan sebagai basis pertahanan negara Jepang selama Perang Dunia ke-II.

Dengan kekayaan dan keindahan alam dan jejak sejarah perang yang dimilikinya, wajar bila Morotai menjadi satu dari lima destinasi superprioritas baru di 2021 bersama Belitung, Wakatobi, dan Raja Ampat.

Menurut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) Sandiaga Salahuddin Uno, kementerian itu akan membentuk lima destinasi pilihan, selain lima destinasi superprioritas. "Kami siapkan destinasi pilihan. Ada lima destinasi superprioritas, tapi ada lima lagi yang disiapkan termasuk Belitung, Wakatobi, Raja Ampat, Morotai, dan destinasi-destinasi lain," kata Sandi dalam Rapat Kerja Nasional Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) 2021 secara virtual, Jumat (5/3/2021).

Selain itu, pemerintah tetap mempersiapkan destinasi tulang punggung, seperti Bali, Batam, Bintan, Jabodetabek, Puncak, Yogyakarta, Solo, Semarang, Bromo, Tengger, dan Semeru. Destinasi pariwisata itu akan dipersiapkan untuk kembali bangkit serta mendukung pemulihan ekonomi.

Tentu rencana Kementerian Parekraf patut diapresiasi dan didukung. Tak dipungkiri, itu semua merupakan bagian dari upaya pemerintah memulihkan sektor pariwisata yang terpuruk akibat Covid-19.

Hantaman wabah Covid-19 sangat tak terperi bagi sektor pariwisata. Kementerian Parekraf mencatat, tenaga kerja sektor pariwisata pada 2020 tinggal tersisa sekitar 13,97 juta jiwa, turun 6,57 persen dibandingkan 2019, yakni sebanyak 14,96 juta jiwa.

 

Pemasukan Devisa

Kemudian, devisa sektor pariwisata pada 2020 diperkirakan hanya bisa mencapai USD3,2 miliar, turun 81 persen dibandingkan 2019 sebesar USD 16,91 miliar. Sementara itu, jumlah wisnus pada 2020 mencapai 198,2 juta orang, turun 29,7 persen dibandingkan 2019. Jumlah wisman pun pada 2020 hanya 4,02 juta orang, turun 75,03 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun Sandi memastikan, seluruh pihak tidak boleh pesimistis. Upaya membangkitkan pariwisata dapat dilakukan dengan fokus pada wisatawan dalam negeri. “Selagi atasi Covid-19, wisata nusantara jadi andalan,” katanya.

Sementara itu, lima destinasi yang saat ini dibangun di antaranya Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Mandalika, Nusa Tenggara Barat, Danau Toba, Sumatra Utara, Likupang, Sulawesi Utara, dan Borobudur, Jawa Tengah. Dengan begitu, ada 10 destinasi superprioritas yang dimiliki Indonesia.

Sandi optimistis, kesepuluh kawasan ini akan mampu mendongkrak kinerja perekonomian dalam negeri. Dalam konteks pandemi, kebangkitan sektor pariwisata menjadi signal bagi pemulihan ekonomi nasional. “Saya garis bawahi, kebangkitan pariwisata itu sinyal pulihnya ekonomi kita. Dan ini harus kita lakukan dalam konteks inovasi,” kata dia.

 

Bibir Pasifik

Keindahan Pulau Morotai sudah tak terbantahkan. Bahkan, pulau itu dijuluki dengan “Mutiara di Bibir Pasifik”. Pasalnya, di depan pulau itu terbentang Samudra Pasifik.

Secara administratif, pulau ini merupakan sebuah kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Halmahera Utara, pada 29 Oktober 2008. Kabupaten Pulau Morotai memiliki 33 pulau besar dan kecil dengan 7 pulau dihuni dan 26 sisanya tidak berpenghuni.

Morotai tak hanya dikenal sebagai bekas pangkalan militer Jepang dan Pasukan Sekutu di masa Perang Dunia II beserta peninggalannya. Kekayaaan Kepulauan Morotai lebih dari itu. Yakni, kekayaan alam bawah laut dan keanekaragaman biota lautnya.

Bagi Anda penikmat diving, jangan lupa menyempatkan diri untuk melakukan penyelaman di pulau itu. Sedikitnya ada 28 titik penyelaman di sekitar Morotai untuk dapat menikmati keindahan bawah laut termasuk kecantikan terumbu karangnya. Belum lagi keindahan pulau-pulau dengan pantai berpasir putih serta keunikan lainnya.

Anda penikmat pasir puih? Di pulau ini, Anda juga akan menemukannya. Ada kawasan pasir putih sepanjang 500 meter yang menghubungkan Pulau Dodola Besar dengan Dodola Kecil. Seolah seperti jalan, bentangan pasir putih ini dapat dilihat dengan mudah ketika air sedang surut.

Keistimewaan Morotai dengan wisata sejarah dan wisata alamnya itu menjadi alasan pemerintah pada 2014 menetapkannya sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata melalui Peraturan Pemerintah nomor 50 tahun 2014 yang diterbitkan pada 30 Juni 2014.

Pemerintah membangun sebuah kawasan khusus pendukung pariwisata Morotai di atas lahan seluas 1.101,76 ha. Setelah itu, pada 2016, Pulau Morotai ditetapkan sebagai salah satu dari 10 destinasi wisata utama di Indonesia atau 10 “Bali Baru”.

Ketika meresmikan KEK Morotai, 1 April 2019, Presiden Joko Widodo menargetkan Pulau Morotai mampu menarik investasi hingga Rp37,24 triliun dan menyerap 30.000 tenaga kerja hingga 2025 dari sektor pariwisata dan perikanan.

Tidak mau tanggung-tanggung, pembangunan infrastruktur pun digenjot di Morotai. Pemerintah telah membangun sarana pendukungnya. Salah satunya, bandar udara komersial memanfaatkan bekas landasan udara milik Pasukan Sekutu di Pitu, Desa Wawama.

Bandara Leo Wattimena diresmikan pada 18 Maret 2016. Bandara Leo Wattimena masuk kategori Kelas C dengan sebuah landasan pacu sepanjang 2.800 meter dengan lebar 45 meter, dilengkapi terminal penumpang, apron, dan taxi way.

Kini, Bandara Leo Wattimena sudah bisa didarati pesawat sekelas Boeing 737-500. Menurut rencana, bandara itu telah diusulkan menjadi bandara internasional sehingga landasan pacunya harus diperpanjang hingga 4.500 meter dengan lebar 50 meter agar bisa didarati pesawat berbadan lebar.



Penulis: Firman Hidranto
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari