Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


LRT-MRT

Transportasi Berbasis Rel Mengurai Kemacetan Jakarta

3 December 2018, 20:33 WIB

Inefisiensi akibat kemacetan di Jakarta bisa mencapai Rp67 triliun per tahun. Dua model transportasi berbasis rel pun dibangun. Targetnya, awal 2019 beroperasi.


Transportasi Berbasis Rel Mengurai Kemacetan Jakarta Sumber foto: Antara Foto

Mungkin Jakarta 5 tahun mendatang akan berbeda dengan Jakarta sekarang. Jumlah kendaraan yang tidak sebanding dengan jumlah jalan membuat Jakarta menjadi salah satu kota yang paling tidak efisien. Menurut hitungan Bappenas, pada 2020 biaya kemacetan Jakarta akan mencapai Rp67 trilun per tahun. Biaya itu terjadi akibat bahan bakar yang terbuang percuma dan waktu yang molor akibat terlalu lama di jalan.

Angka itu bertambah besar jika kita mengacu pada hitungan Masyarakat Transportasi Indonesia. Lembaga ini menghitung dampak kemacetan Jakarta mencapai angka Rp150 triliun setahunnya.

Sebetulnya persoalan ini sejak lama disadari oleh pemangku kebijakan. Kajian dasar untuk proyek Mass Rapid Transportation telah dilakukan sejak 1990-an. Sayangnya, dokumen kajian itu melulu hanya menyajikan aspek finansial. Dengan pendekatan yang melulu bisnis, proyek MRT memang kesannya jauh dari penguntungkan.

Tetapi jika dilihat lebih luas dengan kacamata ekonomi, biaya yang dikeluarkan untuk membangun MRT rasa-rasanya bisa dibandingkan dengan kerugian masyarakat akibat kemacetan Jakarta yang mencapai Rp67 triliun setahun.

Oleh sebab itu perlu dilakukan pendekatan berbeda dengan menghitung seluruh aspek ekonomi. Artinya, jika aspek kemacetan dapat terurai dengan beroperasinya MRT, biaya kemacetan Rp67 triliun setahun itu bisa dapat ditekan. Pendekatan baru inilah yang mendorong pemerintahan Jokowi lebih antusias menyelesaikan berbagai proyek transportasi masal yang tertunda.

Sebetulnya dibandingkan negara tetangga, Jakarta termasuk telat sekitar 30 tahunan dalam pengembangkan transportasi berbasis rel. Kita memang punya KRL (Kereta Api Listrik). Hanya saja jalur KRL yang masih memakan perlintasan sebidang menyebabkan bertambahnya kemacetan. Ketika jumlah gerbong dan volume KRL meningkat, ini berdampak pada kemacetan di jalur lain.

Sementara itu, pembangunan sarana baru transportasi massal berbasis rel di Jakarta diusahakan tidak menyebabkan terjadinya perlintasan sebidang. MRT menitikberatkan jalur di bawah tanah (subway) yang tidak akan mengganggu lalu lintas di atasnya.

MRT Jakarta dibangun dalam dua fase. Fase I yakni lintasan dari Lebak Bulus sampai Bundaran Hotel Indonesia yang rencanakan akan rampung pada 2019. Kemudian fase II jurusan Bundaran HI-Kampung Bandan sebagai sambungan dari Fase I. Presiden Jokowi sudah beberapa kali melakukan peninjauan pengerjaan proyek ini.

Selain MRT, pemerintah juga sedang mengejar pembangunan LRT (Light Rail Transit). Saat ini, ada empat proyek kereta yang sedang digarap pemerintah, yakni LRT Jabodebek, LRT Jakarta, LRT Palembang, dan MRT Jakarta.

LRT Jabodebek dibangun oleh PT ADHI KARYA (Persero) Tbk dengan menggunakan teknologi U Shape Girder. Panjang lintasan pada tahap 1, yaitu Cawang-Dukuh Atas mencapai 11,05 km, Cawang-Cibubur 14,89 km, dan Cawang-Bekasi Timur 18,49 km, direncanakan akan rampung pada 2019. Tujuan pembangunan LRT Jabodebek ini, adalah untuk mengurangi kepadatan kendaraan yang masuk ke Jakarta.

Moda transportasi ini untuk memberikan alternatif transportasi lain yang lebih fleksibel. Saat ini penumpang KRL Bekasi-Jakarta merupakan salah satu yang terpadat, selain jurusan Tanggerang-Jakarta. Sedangkan volumenya tidak terlalu banyak. Berbeda dengan jurusan Bogor-Jakarta yang meskipun padat tetapi volume perjalanannya lumayan tinggi.

Selain LRT Jabodebek, terdapat LRT Jakarta dibangun oleh PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. Pada pembangunannya, LRT Jakarta menggunakan Box Girder dengan panjang lintasan 5,8 km. Mulanya LRT Jakarta ditargetkan selesai sebelum digelarnya Asian Games 2018, dan dapat digunakan sebagai sarana transportasi atlet dari Wisma Atlet di Kemayoran menuju lokasi pertandingan di Senayan. LRT Jakarta ditargetkan beroperasi berbarengan dengan LRT di Palembang yang sudah lebih dulu melayani penumpang.

LRT mempunyai gerbong yang fleksibel. Ini membuat LRT dapat meliuk di jalur melayang atau elevated rel di kawasan Kelapa Gading hingga Velodrom, Rawamangun. Sementara itu, MRT lebih kaku, tapi unggul dalam kapasitas penumpang. Ribuan orang dapat diangkut dengan sekali pemberangkatan. Kereta full otomatis ini menjadi back-bone bagi transportasi di Ibu Kota. (E-1)

Narasi Terpopuler
Angin Segar dari Pertemuan G20 Fukuoka
Digital ekonomi Indonesia menjadi yang terbesar di Asia Tenggara dengan nilai diprediksi mencapai USD100 miliar pada 2025 dari sebelumnya USD27 miliar pada 2018. ...
Mengoptimalkan Aspal Buton Mengurangi Ketergantungan Impor
Aspal Buton merupakan satu-satunya aspal di Indonesia yang terbaik dan terbesar di dunia. Sejak 2015, pemerintah RI juga mengarahkan untuk mengoptimalkan penggunaan aspal Buton untuk pembangunan jalan...
Menunggu Investasi Setelah Naik Kelas
Berbagai Lembaga survei menempatkan ekonomi Indonesia dalam kacamata positif. Kini waktunya Indonesia lebih giat menebarkan jalan untuk menarik investasi langsung ke dalam negeri. ...
Peluang Investasi di Indonesia semakin Menarik
Indonesia kini memiliki peringkat kredit BBB/Outlook stable, meningkat dibandingkan periode sebelumnya di posisi BBB-/Outlook stable. ...
Rekayasa Menekan Angka Kecelakaan
Angka kecelakaan pada arus mudik 2018 menurun drastis. Jalan tol,  perbaikan jalan negara dan provinsi, serta rekayasa lalu lintas yang ketat dinilai berhasil menekan laju kecelakaan. Pemudik dar...
PT PELINDO II Naik Peringkat
IPC memiliki 12 (dua belas) cabang pelabuhan yang tersebar di wilayah bagian barat Indonesia, yakni Pelabuhan Tanjung Priok, Sunda Kelapa, Palembang, Pontianak, Teluk Bayur, Banten, Bengkulu, Panjang,...
Indonesia Berpotensi Raih Berkah
Perlu segera diantisipasi dampak perang dagang AS-Cina agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga dan bisa lebih baik ke depannya. ...
Buah dan Sayur Makin Menjanjikan
Nilai tukar petani (NTP) Januari-Mei 2019 mencatat yang tertinggi  selama enam tahun. Ada harapan beberapa bulan ke depan akan terus bergerak positif. Namun, subsektor perkebunan rakyat masih bel...
Tujuh Dermaga di Gerbang Jawa-Sumatra
Arus mudik Jawa-Sumatra 2019 berjalan lancar. Terminal kelas eksekutif ikut menyambut para pemudik. Dermaga baru dan feri-feri besar membuat kapasitas penyebarangan meningkat ...
Hore, Peringkat Indonesia Naik Lagi
Lembaga pemeringkat dunia S&P menaikkan peringkat utang Indonesia dari BBB- dengan outlook stabil menjadi BBB. Kesempatan Indonesia untuk meraih investasi langsung lebih banyak. ...