Bahasa | English


BISNIS PENERBANGAN

Berperan Wujudkan Konektivitas

12 November 2018, 09:00 WIB

Pembukaan rute dan pembangunan bandara baru sesuai keyakinan bahwa ‘yang menyatukan Bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke adalah konektivitas antarkota di seluruh Indonesia’.


Berperan Wujudkan Konektivitas Sumber foto: Antara Foto

Industri penerbangan nasional kini sedang berduka. Pesawat milik maskapai Lion Air bernomor JT 610 dengan rute Jakarta-Pangkal Pinang jatuh di lepas pantai Tanjung Pakis Karawang, Jawa Barat, setelah 13 menit lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta, Senin (29/11/2018), pukul 06.20 WIB.

Hingga kini, proses evakuasi korban jatuhnya pesawat Boeing 737 MAX 8 yang membawa 189 penumpang itu masih berlangsung. Badan SAR Nasional (Basarnas) telah menyerahkan sebanyak 196 kantong jenazah ke Rumah Sakit Polri, Kramatjati, Jakarta Timur.

Jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP tetap masih misteri. Memang Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah menemukan flight data recorder (FDR). Namun, cockpit voice recording (CVR)--bagian kotak hitam pesawat--belum ditemukan, seiring melemahnya sinyal ‘ping’ dari kotak tersebut.

Harus diakui, kisah sukses Lion Air menjadi ‘raja’ di langit Indonesia tidak terlepas dari figur pemiliknya, Rusdi Kirana. Dalam bilangan waktu relatif singkat, pria berkumis yang memulai bisnisnya dari jualan mesin tik bekas, kemudian merambah ke bisnis biro perjalanan, telah mencatatkan diri menjadi pemain nomor satu di industri penerbangan Indonesia, mengalahkan Garuda Indonesia.

Banyak muncul kesinisan seiring kisah sukses Rusdi Kirana. Namun tak dipungkiri, bisnis penerbangan yang dimulai pada Juni 2000, dengan berbekal satu pesawat bekas saja, kini telah menguasai hampir setengah pasar domestik.

Kini, maskapai Lion Air tercatat telah terbang di 36 kota di Indonesia dan mancanegara. Kerja keras Rusdi Kirana, berduet dengan kakaknya, Kusnan Kirana, membangun pionir maskapai penerbangan berbiaya murah (low cost carrier) telah menggelembungkan pundi kekayaannya, hingga ditaksir mencapai US$900 juta.

Melesatnya Lion Air menjadi penguasa ‘langit Indonesia’, dengan menguasai hampir setengah pangsa pasar penerbangan domestik, tidak terlepas dari kebijakan pemerintah. Yakni, melalui liberalisasi sektor penerbangan (open sky policy) yang dimulai pada 1999-2000.

Apakah Lion Air mendapatkan keistimewaan, sehingga bisa besar seperti sekarang? Satu pejabat yang tidak bersedia disebutkan namanya mengatakan, maskapai Lion Air tidak pernah mendapatkan keistimewaan. Mereka mendapatkan perlakuan sama seperti layaknya pelaku usaha lainnya.

Namun, tambah pejabat itu, Lion Air cenderung memiliki perbedaan dengan maskapai lainnya. Yaitu, kata dia, Lion Air tidak pernah menolak ketika disodori untuk membuka rute baru yang ‘kering’. Bisa jadi, keberanian ‘melayang’ di rute jenis itu tak terlepas dari tajamnya intiuisi bisnis sang pemilik, bahwa masyarakat butuh alat transportasi udara.

Di sisi lain, seiring kesejahteraan yang kian meningkat, masyarakat membutuhkan konektivitas cepat, tapi dengan harga terjangkau. Bertemunya dua sisi kebutuhan itu ditangkap Rusdi Kirana, sehingga kemudian lahirlah tagline Lion Air, ‘we make people fly’.

Dalam konteks bisnis, industri penerbangan sebenarnya tetap menunjukkan pertumbuhan yang positif. Di tingkat global, menurut data Oliver Wayman Global Fleet 2018, maskapai penerbangan global terus melakukan ekspansi untuk pengadaan pesawat.

Data yang dirilis lembaga itu pada 2017 menunjukkan, mereka hanya memproyeksikan pertumbuhan pengadaan pesawat 3,4% per tahun. Namun dalam rilisa terbarunya, proyeksi pengadaan pesawat selama periode 2018-2027 naik menjadi 3,7%.

Pada 2028, lembaga itu memproyeksikan pengadaan pesawat secara global bisa mencapai 37.978 unit, naik dari proyeksi permintaan pesawat yang hanya 26.307 unit pada 2018.

Dalam data yang disajikan, terbaca pula bahwa penguasaan atas pangsa pasar pesawat tetap berada kawasan Asia Pasifik, yakni mencapai 52%, termasuk China, India, dan Indonesia  

Proyeksi dari lembaga itu mendapatkan pembenaran dari data Ditjen Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan. Sepanjang periode 2016-2017, penumpang dalam negeri tetap tumbuh sebesar 8,40%. Bahkan, penumpang internasional tumbuh double digit, yakni 18,22%.

Begitu juga dengan rute-rute di dalam negeri. Sepanjang 2016-2017, rute-rute di dalam negeri tumbuh 20,26%. Sebaliknya, rute internasional hanya tumbuh 10,08%. Maskapai nasional kini telah melayani 381 rute dengan kota yang disinggahi mencapai 135 kota dan dilayani 13 maskapai.

Sepanjang 2018, di luar November dan Desember, jumlah penumpang yang diangkut mencapai 78,64 juta orang. Dari sisi angkutan barang, maskapai dalam negeri telah mengangkut sebanyak 481.228 ton sepanjang periode tersebut. Sepanjang periode itu pula, jumlah keberangkatan pesawat mencapai 674.345 keberangkatan.

Semua indikator telah membuktikan bahwa bisnis penerbangan sangat menjanjikan. Pemerintah juga menaruh perhatian besar dengan terus menggenjot pembukaan rute baru dan membangun bandara baru. Pasalnya, Pemerintahan Joko Widodo meyakini, ‘yang menyatukan Bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke adalah konektivitas antarkota di seluruh Indonesia’.

Ekonomi
Investasi
Narasi Terpopuler
Kemudahan Berusaha Pun Didorong
Tensi perang dagang AS dengan Tiongkok diyakini tetap tinggi tahun depan. Kedua negara adidaya diperkirakan tetap akan berseteru karena kepentingan geopolitik. ...
Pembenahan Dua BUMN
Pemerintah serius membenahi dua BUMN sektor energi, Pertamina dan PLN. Mantan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama ditunjuk sebagai Komisaris Pertamina dan mantan Menteri Kominfo Rudiantara diangka...
Robot Menantang Dunia Kerja
Perkembangan automatisasi serta kecerdasan buatan merupakan tantangan baru bagi para pekerja. Akan banyak bidang-bidang pekerjaan yang tergantikan oleh mesin. Para pekerja perlu meningkatkan kemampuan...
Perang Dagang Masih Akan Berlanjut
Kebijakan proteksionis ala Donald Trump menjadi faktor utama terjadinya perang dagang dunia, yang memicu instabilitas ekonomi. Jikapun dalam Pemilu AS Oktober nanti Trump tidak terpilih, tak otomatis ...
Arus Liar Di Balik Agenda Amendemen
Presiden Jokowi merasa terganggu oleh wacana amendemen yang melebar. Amendemen UUD perlu situasi khusus, yakni ketika visi politik sebagian besar elemen masyarakat telah terkonsolidasikan. ...
Dari Cikarang Lewat Patimban ke Pasar Dunia
Pelabuhan Patimban Subang akan jauh lebih besar dari Tanjung Perak dan Makassar. Dermaga terminal (hasil reklamasi) memberi kedalaman 17=18 meter hingga dapat melayani kargo ukuran ultra-large yang ta...
Membangun Industri Sawit Berkelanjutan
Setelah berproses sejak 2014, di penghujung tahun ini akhirnya Presiden Joko “Jokowi” Widodo menandatangani Instruksi Presiden (Inpres) No. 6 Tahun 2019 tentang Rencana Aksi Nasional Perke...
Ketika Rezim Cost Recovery Jadi Opsi Lagi
Menteri ESDM mempertimbangkan kembali hadirnya kontrak bagi hasil penggantian biaya operasi (cost recovery) bagi wilayah kerja baru dan terminasi. ...
Komitmen Hutan Mangrove dan Padang Lamun
Indonesia terus mencari peluang kerja sama pengendalian emisi karbon di arena COP ke-25 di Madrid. Prioritasnya menekan angka deforestasi, reboisasi hutan kritis, dan restorasi gambut. ...
Kemensos Fokus Penurunan Stunting dan Kemiskinan
Anggaran Kementerian Sosial kelima terbesar dalam APBN 2020. Kegiatan akan difokuskan pada penanganan stunting dan pengurangan kemiskinan. ...