Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


ERA BARU PELABUHAN

Bukan Cuma Untung, Tapi Menuju Digital Port Berkelas Dunia

26 March 2019, 10:41 WIB

Sekarang untuk mengirim barang, para eksportir dan importir tak lagi harus lewat Singapura. Bisa langsung ke negara yang dituju. Pada 2018, keuntungan IPC pun mencapai Rp11,3 triliun.


Bukan Cuma Untung, Tapi Menuju Digital Port Berkelas Dunia Pelabuhan Tanjung Priok sudah berbenah menuju pelabuhan dengan perangkat digital bertaraf dunia. Sumber foto: Istimewa

Pada 2018 Presiden Joko Widodo melepas pengiriman ekspor berkapasitas 10.000 TEUs di JICT yang dibawa langsung ke Los Angeles, Amerika. Peristiwa itu membuktikan bahwa Indonesia telah mampu melayani kapal-kapal besar dengan bertujuan langsung (direct vessel), bukan hanya ke Amerika tetapi juga ke Afrika, Australia, Eropa, dan negara-negara Asia tanpa melalui Singapura.

Direct Vessel ini mendongkrak efisiensi biaya dan waktu logistik perdagangan internasional tanpa harus tergantung pada kegiatan singgah (transhipment) di Singapura dan Malaysia. Konon, bypass tersebut  mampu memotong biaya sekitar 20%.

Direktur Utama IPC Elvyn G Masassya menjelaskan, PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/IPC membukukan kinerja positif pada 2018. Memasuki era baru pelabuhan, IPC berkomitmen untuk mendukung program pemerintah guna menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Alhasil selama 2018, manajemen serius meningkatkan pelayanan kepada pengguna jasa melalui perbaikan infrastruktur dan suprastruktur serta digitalisasi pelabuhan.

Berkat kinerja operasional yang meningkat pada 2018, IPC mencatat peningkatan laba bersih sebesar Rp2,43 triliun dari Rp2,21 triliun di tahun sebelumnya. Sementara pendapatan usaha meningkat sebesar Rp11,44 triliun dari Rp10,65 triliun di tahun sebelumnya. Angka EBITDA meningkat sebesar Rp4,17 triliun dari Rp4,03 triliun di tahun sebelumnya. Secara keseluruhan, total aset meningkat sebesar Rp51,43 triliun dari Rp47,22 triliun.

Senada dengan kinerja keuangan di tahun 2018, kinerja operasional IPC juga mengalami peningkatan. IPC mencatatkan throughput peti kemas sebesar 7,64 juta TEUs yang menjadi salah satu pencapaian tertinggi aktivitas IPC dalam kurun waktu 25 tahun terakhir. Arus peti kemas ini meningkat 10,24% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 6,92 juta TEUs. Arus nonpeti kemas pada 2018 sebesar 61,97 juta ton atau meningkat 8,55% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 57,09 juta ton. Arus kapal di tahun 2018 sebesar 224,3 juta GT atau meningkat 10,95% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 202,15 juta GT. Arus penumpang di tahun 2018 sebesar 714,93 ribu orang atau meningkat 39,25% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 612,68 ribu orang.

IPC sekarang telah melakukan transformasi radical change pola operasional dari yang sebelumnya masih manual. Digital bukan hanya dalam konteks pelayanan di terminal, tapi melingkupi seluruh kegiatan pelabuhan secara koorporasi, baik dari sisi laut maupun darat.

Di sisi laut, IPC menyiapkan Marine Operation System (MOS), Vessel Management System (VMS), dan Vessel Traffic System (VTS). Sistem digital ini berfungsi memonitor dan memantau pergerakan kapal sejak mereka berangkat dari pelabuhan awal sampai tiba di Pelabuhan Tanjung Priok.

Di sisi darat, IPC telah memiliki Terminal Operating System (TOS) dan Non Peti Kemas Terminal Operating System (NPKTOS) serta Auto Tally untuk perhitungan kontainer. Selain itu, IPC juga menyiapkan Container Freight Station (CFS), Buffer Area, DO Online, Auto Gate, Car Terminal Operating System, Reception Facility, serta Truck Identification untuk mengidentifikasi pengemudi dan tujuan pengiriman barang dari seluruh armada pengangkut barang yang masuk ke Pelabuhan Tanjung Priok.

“Standardisasi pelayanan berbasis digital di sisi darat dan laut diimplementasikan dan dioptimalkan secara menyeluruh mulai saat barang dikirimkan ke pelabuhan sampai kemudahan pembayaran serta tracking dan tracing barang,” kata Elvyn.

Sementara itu di sisi keuangan, IPC melakukan transformasi yang signifikan. Saat ini seluruh transaksi di pelabuhan berbasis elektronik  Cashless Payment System. Dampaknya terjadi peningkatan kualitas pelayanan menjadi lebih cepat, lebih terdata, lebih transparan dan lebih akurat. Produktivitas meningkat, revenue koorporasi meningkat karena semua tercatat dengan baik. Ini merupakan cikal bakal IPC yang ingin menjadi pelabuhan Digital Port berkelas dunia.

IPC akan bertransformasi dari Terminal Operator menjadi Trade Corridors. Transforming From Infrastructure Player into Ecosystem Player. Kelak  IPC akan berperan sebagai trade facilitator dan lebih jauh lagi menjadi trade accelerator.

“Dengan konsep ini IPC tidak hanya akan melayani bongkar muat barang tapi juga mendorong perdagangan melalui ekosistem,” papar Elvyn.

Pada 2019, IPC berada pada fase Sustainable Superior Performance (Performance yang Berkelanjutan) dengan 3 (tiga) fokus utama. Yaitu, growth strategy baik secara organic maupun nonorganic, national connectivity artinya bagaimana IPC terus membangun proyek-proyek strategis, dan global expansion program.

Melalui organic growth strategy, IPC akan terus kembangkan kapasitas internal, bagaimana produktivitas bisa lebih tinggi, layanan bisa lebih cepat, ongkos/biaya-biaya bisa lebih kompetitif. Tujuannya adalah agar pelayanan pelabuhan bisa lebih cepat, lebih mudah dan lebih murah. Ini dalam rangka mendukung program pemerintah menurunkan biaya logistik.

Sementara itu, nonorganic growth merupakan keinginan IPC untuk mengambil alih pengelolaan pelabuhan UPT. Sehingga, IPC bisa lebih bertumbuh dan pelabuhan-pelabuhan itu bisa lebih optimal pengelolaannya.

Fokus lain di tahun ini adalah national connectivity, IPC akan terus membangun proyek-proyek strategis. IPC akan bangun pelabuhan untuk peti kemas, nonpeti kemas, curah cair, curah kering, dan sebagainya yang akan dilengkapi dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Ini adalah dalam rangka meningkatkan konektivitas antarpulau di Indonesia dari Barat sampai Timur.

Juga, di era sustainablity ini, IPC ingin menjalankan global expansion. Melalui strategi ini IPC memulai mengembangkan sayap dengan menjajaki potensi kerja sama, IPC menjadi operator pelabuhan di negara-negara lain seperti Filipina, Vietnam, Bangladesh, dan sebagainya yang rencananya akan dilakukan melalui anak-anak perusahaan IPC.

Sepanjang 2018, IPC telah melayani direct call ke 4 benua, yakni Inter Asia, Amerika, Eropa, dan Australia. Direct call telah berkontribusi dalam penghematan biaya logistik sebesar 40% lebih murah dari transhipment via Singapura. Selain itu, layanan ini juga menghemat waktu pengiriman barang dari 31 hari menjadi 21 hari.

Maritim adalah masa depan Indonesia dan masa depan harus dirancang. Untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan 3 aspek kunci mengembangkan dan mengeksplore potensi maritim yang disebut dengan trilogy maritime (integrated port network).

Pertama, pengembangan pelabuhan di berbagai daerah di Indonesia untuk membuka konektivitas agar memiliki standar dan kualitas pelayanan. Kedua, pengembangan transportasi pelayaran yang selama ini didominasi oleh kapal-kapal asing. Terakhir, pengembangan area industri yang linked dengan pelabuhan. Apabila tiga hal ini bisa dilaksanakan dan semua policy maker sepakat dengan ini, Indonesia akan menjadi negara maritim besar di dunia.  (E-2)

Infrastruktur
Investasi
Layanan
Perairan
Narasi Terpopuler
Mengejar ketertinggalan dari Negeri Tetangga
Nilai ekspor Indonesia kalah dibandingkan dengan negara tetangga. Ke depan ekspor tak lagi bertumpu pada sumber daya alam. Tapi harus memperkuat ekspor produk industri manufaktur. ...
Minyak Alami Defisit, Potensi Panas Bumi Melimpah
Potensi energi baru terbarukan di Indonesia sangat tinggi. Indonesia memiliki potensi panas bumi mencapai 11 giga watt (GW) dengan realisasi baru 1,9 GW atau 0,44 persen. Di energi dari air, Indonesia...
Situasi Lesu, Komoditas Indonesia Butuh Pasar Baru
Pemerintah butuh strategi yang matang melalui pemilihan pasar nontradisional untuk dongkrak ekspor. ...
Busana Fungsional Menuju Pasar Global
Industri tekstil Indonesia menggeliat bangkit. Tumbuh 19% di kuartal I 2019, bahkan 29% untuk pakaian jadinya. Ada peluang mengisi pasar AS di masa Perang Dagang ini. Perlu insentif khusus. ...
Mobile Payment Kian Ngetren
Volume transaksi mobile payment di Indonesia diperkirakan bisa mencapai USD16,4 miliar pada 2019. ...
Kinclong Berkat Kantong Para Pelancong
Di tengah ketidakpastian global, pariwisata diharapkan jadi penopang ekonomi nasional. Destinasinya beragam, wisatasport berkembang dan destinasi wisata halal pun nomor satu. Perlu jaminan kemudahan i...
Angin Segar dari Pertemuan G20 Fukuoka
Digital ekonomi Indonesia menjadi yang terbesar di Asia Tenggara dengan nilai diprediksi mencapai USD100 miliar pada 2025 dari sebelumnya USD27 miliar pada 2018. ...
Mengoptimalkan Aspal Buton Mengurangi Ketergantungan Impor
Aspal Buton merupakan satu-satunya aspal di Indonesia yang terbaik dan terbesar di dunia. Sejak 2015, pemerintah RI juga mengarahkan untuk mengoptimalkan penggunaan aspal Buton untuk pembangunan jalan...
Peluang Investasi di Indonesia semakin Menarik
Indonesia kini memiliki peringkat kredit BBB/Outlook stable, meningkat dibandingkan periode sebelumnya di posisi BBB-/Outlook stable. ...
Menunggu Investasi Setelah Naik Kelas
Berbagai Lembaga survei menempatkan ekonomi Indonesia dalam kacamata positif. Kini waktunya Indonesia lebih giat menebarkan jalan untuk menarik investasi langsung ke dalam negeri. ...