Bahasa | English


INDUSTRI TEKSTIL

Busana Fungsional Menuju Pasar Global

19 June 2019, 00:00 WIB

Industri tekstil Indonesia menggeliat bangkit. Tumbuh 19% di kuartal I 2019, bahkan 29% untuk pakaian jadinya. Ada peluang mengisi pasar AS di masa Perang Dagang ini. Perlu insentif khusus.


Busana Fungsional Menuju Pasar Global Industri tekstil Indonesia. Foto: Dok. Sritex

Banyak jalan menuju Roma. Pepatah ini sepertinya sesuai untuk  menggambarkan optimistis yang bergulir pada pertemuan singkat antara Presiden Joko Widodo dan pengurus KADIN (Kamar Dagang dan Industri) di Istana Merdeka Jakarta, Rabu (12/5/2019). Diskusi tersebut membuahkan beberapa butir  rekomendasi tentang terobosan, di tengah problem ekonomi akibat pelambatan global yang diperburuk oleh perang dagang Amerika Serikat (AS)-Cina.

Salah satu jalan yang disorongkan adalah tekstil. Lama tak banyak tersorot, ternyata industri tekstil mencatat kinerja yang menggembirakan. Industri ini tumbuh ketika banyak cabang industri lainnya tertekan. Pada 2018, tekstil tumbuh 8,73%. Tren itu terus berlanjut. Pada kuartal I/2019, di tengah perang dagang AS-Cina yang makin memanas, tekstil Indonesia tumbuh semakin kokoh, mencapai 19%.

Lonjakan dari sektor tekstil di kuartal I 2019 ini utamanya disokong oleh industri pakaian jadi yang mencatat rekor tumbuh 29,2%. Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) pun menunjukkan, produksi industri manufaktur besar dan sedang (IBS) selama triwulan I 2019 hanya tumbuh 4,45%.  Momentum tekstil ini patut mendapatkan dukungan yang memadai. Produk tekstil-garmen, yang lebih populer disebut tekstil dan produk tekstil (TPT) itu punya peluang untuk mengisi produk Cina yang dikenai pajak tinggi di pasar AS.

Perkembangan terbaru industri tekstil dan pakaian jadi (garmen) ini patut disambut gembira. Sejak beberapa dekade lalu tekstil telah menjadi andalan ekspor Indonesia. Hanya saja sejak 2013 tekstil dan garmen mengalami pelambatan. Kinerja ekspornya cenderung menurun, meski tak begitu tajam. Namun, pada 2018 tanda-tanda kebangkitan mulai tampak. Ekspornya mencapai USD13,22 miliar, terkerek 5,55% dari tahun 2017. Tekstil dan garmen ini juga masih bersifat padat karya, dan mampu menyerap tenaga kerja sampai 3,6 juta.

Peningkatan kinerja industri tekstil dan garmen sejak 2018 itu tak lepas dari adanya investasi yang cukup besar di sektor hulu, khususnya untuk produksi rayon (benang tekstil). PT Asia Pacific Rayon (APR) di Riau, misalnya, telah menanamkan investasi Rp11 triliun, untuk pabrik baru  yang mulai berproduksi pada 2018.

Menurut catatan di Kementerian Perindustrian, APR pun menambah kapasitas produksinya sampai 240 ribu ton per tahun. Dari jumlah tersebut, sebanyak 120 ribu ton diekspor dan selebihnya untuk kebutuhan  industri dalam negeri akan rayon yang lebih murah tapi dengan mutu yang lebih  prima. Pasokan ini pada gilirannya juga menggairahkan sektor hilirnya. Ekspor tekstil dan garmen naik 1,1% pada triwulan I 2019, sementara pada periode yang sama impornya turun 2%.

Mau tidak mau, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) harus masuk skema industri 4.0, agar dapat bersaing. Kebutuhan investasi tak terhindarkan. Toh, Kementerian Perindustrian yakin investasi itu akan menguntungan, mengingat pasar domestik Indonesia yang sangat besar dengan penduduknya yang mencapai 265 juta. Tak heran bila industri TPT ini masuk ke dalam prioritas pemerintah dalam skema Makin Indonesia 4.0 yang kini sedang digencarkan oleh Kementerian Perindustrian.  Adapun targetnya, masuk lima besar dunia pada 2030.

Pemerintah pun mendorong  industri TPT melakukan transformasi segera, dengan mengoptimalkan pemanfaatan teknologi digital, seperti 3D printing, automation, dan pemanfaatan internet of things (IOT). Transformasi tersebut diyakini bisa  mendongkrak produktivitas dan kualitas sekaligus, secara efisien, serta membangun klaster industri TPT yang terintegrasi dengan industri sarat teknologi atau industri 4.0.

Modal dasarnya sudah tersedia. Struktur industri TPT  sudah terintegrasi dari hulu sampai hilir,  dan produknya juga dikenal baik di pasar internasional. Dengan pertumbuhan ekonomi dan pergeseran permintaan dari pakaian sehari-hari (basic clothing) menuju pakaian yang lebih  fungsional, seperti baju olahraga dan seragam kerja, industri TPT nasional tinggal menyesuaikan kemampuan produksi dan meningkatkan skala ekonominya agar dapat memenuhi permintaan domestik maupun ekspor.

Namun, untuk keperluan jangka pendek, demi memanfaatkan momentum yang ada, memang perlu insentif khusus. Penurunan biaya logistik, terutama transportasi darat dan  laut, masih menjadi isu penting. Selebihnya, seperti yang terekam dalam pertemuannya dengan Presiden, reformasi  pajak dan penyesuaikan pajak pendapatan badan usaha (PPH) menuju ke 17-18% (dari sebelumnya 25%) juga mengemuka.

Isu-isu tersebut dianggap penting untuk merealisasi target, bahwa pada 2025 nilai ekspor TPT Indonesia bisa menembus USD30 miliar per tahun. (P-1)

Ekonomi
Industri
Narasi Terpopuler
Tanah Tabi Calon Provinsi Paling Siap di Papua
Bahkan telah ditentukan Kota Jayapura yang kelak menjadi ibu kota provinsi baru nanti. Sedangkan nama DOB yang sempat muncul, yaitu Provinsi Papua Tabi, Tabi Papua, atau Provinsi Tanah Tabi. ...
Usaha Berbasis Kayu Tetap Jalan, Hutan Pun Tetap Lestari
Industri pengolahan kayu kini tidak lagi kesulitan untuk memperoleh bahan baku. Mereka banyak menyerap kayu dari hutan tanaman industri dan hutan tanaman rakyat. ...
Penerimaan Pajak dan Cukai Terus Tumbuh Positif
APBN 2020 diketok di angka Rp2,528,8 triliun, naik tipis 2,75 persen dari 2019. Defisit pun terjaga di posisi 1,76 persen. PNBP terus menguat. ...
Provinsi Baru Papua, Sebangun dengan Wilayah Adat
Masyarakat Papua minta pemekaran provinisi Papua dan Papua barat menjadi tujuh wilayah adat. Tapi Presiden RI Joko Widodo hanya menyetujui beberapa. Itu pun masih harus ada kajian terlebih dulu. ...
Kota Karet Dulu, Kota Hijau Kemudian
Forum Segitiga Indonesia-Malaysia-Thailand melakukan percepatan program penguatan kerja sama subregional itu. Jalur multimoda Dumai-Malaka akan beroperasi 2020. Arus barang lebih efisien. ...
Warisan Sang Maestro
Berkat sentuhan Habibie-Habibie muda, pesawat CN-235, N 212, dan N 219, juga kapal korvet, dan kereta listrik, tampil dengan eksterior yang elegan dan aeerodinamis.  Ekonomi berbasis teknologi pe...
Garis Bawah Presiden untuk Iklim Investasi Indonesia
Indonesia akan segera merevisi puluhan undang-undang dan aturan yang berkait dengan investasi. Hal itu dipentingkan untuk mempermudah dan mempersingkat prosedur sebagai salah satu daya tarik investasi...
Pasar E-Sports Semakin Menjanjikan
Industri e-sports patut diberi dukungan penuh dikarenakan memiliki tiga manfaat. ...
Saatnya Berbenah untuk Dongkrak Investasi
Semua pemangku kepentingan negeri ini perlu segera mencari solusi bagi kondisi investasi Indonesia. Mengapa negeri cantik ini menjadi kalah ‘seksi’ dibanding negara serumpun di Asean. ...
Peran TKI Hadapi Krisis
Tenaga kerja migran memiliki peran signifikan untuk membantu pengisian devisa Indonesia. Perlu perhatian lebih serius terhadap peran dan fungsi mereka. Termasuk, perlindungan hukumnya. ...