Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


INDUSTRI NASIONAL

Gerbong INKA Mengalir Hingga Bangladesh

Friday, 1 Febuary 2019

PT INKA bahkan diproyeksi akan menjadi salah satu pemain besar dalam industri perkeretaapian dunia.


Gerbong INKA Mengalir Hingga Bangladesh Produksi PT INKA untuk Bangladesh Railway. Sumber foto: Antara Foto

PT Industri Nasional Kereta Api (INKA) mulai mengirim secara bertahap gerbong kereta pesanan Bangladesh. Indonesia tidak lagi mengandalkan komoditas untuk diekspor.

Geliat industri nasional menunjukkan hasilnya. Beberapa waktu lalu PT Industri Nasional Kereta Api (INKA) memulai pengiriman kereta ke Bangladesh. INKA mendapat kontrak untuk membuat 250 gerbong kereta yang dikirim secara bertahap. Nilai kontraknya USD100,8 juta atau sekitar Rp1,4 triliun rupiah.

Ini menunjukkan komposisi ekspor Indonesia bukan hanya didominasi oleh sektor komoditas. Tetapi kita mulai dipercaya dunia untuk memproduksi permesinan dan barang-barang berteknologi.“Daya saing industri kita sudah diperhitungkan terbukti dengan memenangi tender tetap,” ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.

Ekspor manufaktur memang lebih menguntungkan dibanding dengan ekspor komoditas. Harga komoditas yang sangat fluktuatif dan hambatan perdagangan yang sering dialami membuat sektor ini bisa mengalami kelesuan ekspor. Sementara itu, sektor manufaktur lebih stabil dengan harga yang bisa memberikan nilai cukup besar. Contohnya, ekspor INKA ini menunjukkan bahwa 73% ekspor kita kini sudah berasal dari industri olahan.

Jika mau diurai komposisi bahan baku lokal dari industri INKA mencakup 65%. Kalau permesinan dihitung sebagai local content, TKDN bisa mencapai 80% ditambah sinergi dengan bahan baku lokal yang sudah tersedia. Struktur industri kereta api diperkuat dengan ketersediaan bahan baku dalam negeri, seperti baja dan stainless steel.

Ekspor kereta produksi PT INKA telah didukung dengan skema National Interest Account dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Dengan dukungan tersebut produk berorientasi ekspor tidak akan mengalami hambatan dalam proses produksinya.

Saat ini, PT INKA juga tengah menyelesaikan pesanan dari dalam negeri, yakni 438 kereta LRT Jabotabek pesanan PT KAI, rangkaian kereta untuk Filipina, serta menggarap potensi di Srilanka.

Untuk memenuhi berbagai pesanan tersebut PT INKA mulai melakukan perluasan produksi dengan mengembangkan pabrik di Banyuwangi, Jawa Timur. Produksi pada pabrik ini menggandeng mitra dari Swiss, Stadler Rail Group. Dengan adanya pabrik ini, direncanakan akan diproduksi empat kereta per hari.

INKA telah bekerja sama dengan beberapa perusahaan dunia. Namun, hanya sebatas hubungan sebagai pemasok dan vendor. Tidak ada yang mau 'transfer of knowledge'. Hal ini berbeda dengan Stadler Rail yang mau membawa teknologi dan pasarnya ke Banyuwangi.

Dalam produksi nantinya, INKA akan fokus ke pasar Asia, seperti Bangladesh, India, dan Filipina. Selain itu, INKA juga mengincar pasar Afrika. Sedangkan Stadler akan memenuhi pasar kawasan Amerika Latin, Amerika Utara, dan Eropa.

Produk pabrik Banyuwangi ini adalah berbagai jenis kereta, seperti kereta Metro, LRV (Light Rail Vehicles), dan beberapa jenis lainnya. Dengan jumlah tenaga kerja yang terserap 500 hingga 2.000 orang.

PT INKA sendiri telah mengekspor produknya ke berbagai wilayah di dunia. Sebanyak 250 gerbong dipesan Bangladesh, setelah sebelumnya sudah dikirim pula 200 gerbong untuk negara itu. Sebanyak 400 gerbong gereta PT INKA juga sudah dinikmati warga Australia. Ekspor lain dari PT INKA mencakup Negara Thailand, Malaysia, Filipina, Zambia, dan Senegal. Total nilai ekspor PT INKA sejak 1991 mencapai USD52,4 juta.

Saat ini kapasitas terpasang yang dimiliki PT INKA mencapai 800 unit gerbong barang, 120 unit gerbong penumpang, 40 unit KRL, 15 unit lokomotif, dan 300 perangkat roda kereta per tahun. Dengan pengembangan pabrik di Banyuwangi kapasitas itu akan meningkat jauh lebih besar. Tak heran PT INKA diproyeksi akan menjadi salah satu pemain besar dalam industri perkeretaapian dunia. (E-1)

Layanan
Narasi Terpopuler
Indonesia Sudah Mengikuti Standar Pengelolaan Sawit
Pemerintah Indonesia siap melakukan tindakan tegas terhadap produk-produk Eropa bila kebijakan Komisi Eropa terkait penghapusan minyak kelapa sawit sebagai biofuel diberlakukan. ...
Menatap Kinerja Ekspor Lebih Optimistis
Indonesia menargetkan pertumbuhan ekspor nonmigas 2019 naik 7,5%, serta menembus 2% pangsa ekspor Indonesia ke dunia pada 2025. ...
Tak Ada Negosiasi Pembangunan Trans-Papua
Pemerintah RI memperkuat satuan TNI/Polri untuk penegakan hukum di wilayah pedalaman Papua. Tata pemerintahan, pelayanan negara, dan pembangunan tidak  boleh terganggu. Satuan TNI/Polri tak dibek...
Tan Hana Wighna Tan Sirna
Berhasil membangun kapal selam rudal kelas Changbogo dan fregat SIGMA futuristik, industri perkapalan Indonesia naik kelas. Order kapal perang mengalir, juga tanker dan kargo.  ...
Minat Investasi yang Cukup Menjanjikan
Baik pemerintah maupun pelaku usaha masih menyakini prospek iklim investasi tahun ini masih berada di jalur yang benar. ...
Indonesia Melangkah ke Swasembada Senjata
Indonesia sudah mampu mencukupi kebutuhan paket kesenjataan infanterinya di dalam negeri. Industri persenjataan arteleri dan kavaleri juga sudah bergerak maju. PBB memesan 350 unit APC Anoa sebagai ke...
Sri Mulyani (Kembali) Peroleh Gelar Menteri Ekonomi Terbaik
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati kembali dinobatkan sebagai menkeu terbaik di Asia Pasifik tahun 2019. Penghargaan ini bukanlah yang pertama kali untuk Sri Mulyani. Sebelumnya, Fin...
Bisnis Hulu Migas Makin Menjanjikan
Negara ini pernah mengecap harga tertinggi pada periode Mei 2018 yang mencapai USD72,46 per barel. ...
Kembalinya Ilmu Berpikir, Jurus Santri Tangkal Hoax
Hanya kyai atau ulama dengan 'skill' tinggi yang mampu menyajikan kemampuan logika mantiq dalam pengajaran-pengajaran kemasyarakatan. ...
Pengiriman TKI Terampil, Solusi Masalah Buruh Migran
Lahirnya Undang-Undang No. 18/2018 merupakan bentuk keberpihakan pemerintah terhadap nasib TKI. ...