Bahasa | English


PERANG DAGANG

Indonesia Berpotensi Raih Berkah

12 June 2019, 00:00 WIB

Perlu segera diantisipasi dampak perang dagang AS-Cina agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga dan bisa lebih baik ke depannya.


Indonesia Berpotensi Raih Berkah Aktivitas bongkar muat peti kemas di Terminal Operasi IPC, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Sabtu (8/6/2019). Foto: ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto

Perang dagang AS-Cina masih terus berlanjut. Bahkan, perang dua negara adi daya kini telah memasuki fase baru yang berbahaya. Pengenaan tarif diperkirakan terus naik. Imbas dari pengenaan trade barrier kedua negara itu tentu berdampak bagi ekonomi global termasuk Indonesia.

Dunia pun masih berharap tensi perang dagang dua penguasa ekonomi dunia itu bisa mereda. Harapan itu ada ketika kedua pimpinan AS dan Cina itu, Presiden Donald Trump dan Xi Jinping, akan bertemu di KTT G-20 di Osaka Jepang pada 28-29 Juni 2019.

Tetapi pada titik ini, skenario terburuk kedua negara itu adalah  bila tidak ada titik temu untuk menurunkan tensi perang dagangnya. Arti lainnya, kemungkinan besar perang dagang akan panjang, berantakan, dan tentu berbiaya mahal.

Berbagai kalangan memprediksi imbas yang cukup berat bagi ekonomi dunia dari perang dagang tersebut. Kesimpulan utama mereka: Jika tarif meluas untuk mencakup semua perdagangan AS-Cina, dan berdampak pasar global merosot.

Sebagai gambaran, Cina cukup menderita akibat pengenaan tarif bea masuk produk 10% - 25%. Nilainya pun cukup lumayan, bisa mencapai USD200 miliar. Begitu juga bagi ekonomi global. Prediksi PDB global yang bisa mencapai USD600 miliar pada 2021 pun akan terancam.

Pemerintah Joko  Widodo pun sebenarnya sudah mengantisipasinya. Antisipasi itu tercermin dari pernyataan Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution. Menurutnya, negara ini tak perlu mengkhawatirkan meningkatnya tensi perang dagang AS dan Tiongkok, meski dampak tetap ada, yakni pelambatan ekonomi.

"(Situasi perang dagang AS dan Tiongkok) Tidak kemudian membuat gejolak yang tajam. Kalau mengkhawatirkan sih tidak," kata Darmin di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (14/5/2019).

Walau begitu, Darmin menilai efek perang dagang antara AS dan Tiongkok tersebut harus segera diantisipasi, sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga dan bisa lebih baik ke depannya. Dan, instrumen untuk menjaga pertumbuhan adalah dengan memacu ekspor, mendorong investasi dan pariwisata.

Kekhawatiran terhadap dampak perang dagang AS-Cina wajar saja. Namun bila dilihat dari neraca dagang negara ini selama kuartal pertama 2019 memang belum mengkhawatirkan meski kinerja ekspor dengan model penajaman tetap perlu digenjot.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca dagang ekspor impor selama Januari memang tercatat defisit, ekspor mencapai USD13,93 miliar dan impor USD14,99 miliar.

Bulan berikutnya, Februari, ekspor tercatat USD12,55 miliar dan impor US$12,23 miliar, dan ekspor di Maret mencapai USD14,12 miliar dan impor USD13,45 miliar. Secara akumulasi selama kuartal I 2019 masih terjadi defisit.

Tren Positif

Berkaitan dengan kondisi nercara dagang, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution justru menilai ada perbaikan kinerja ekspor dan impor Indonesia pada dua bulan terakhir.  "Defisit itu kan karena Januari defisitnya. Sedangkan Februari dan Maret, kinerjanya surplus toh."

Terlepas dari semua itu, perang dagang AS-Cina bisa jadi berkah bagi Indonesia. Pasalnya, negara ini akan menerima limpahan permintaan sejumlah produk yang sebelumnya dipasok Cina. Produk-produk itu antara lain komoditas perikanan, manufaktur, furnitur, dan tekstil.

Dalam rangka itu, pemerintah dan pelaku usaha harus ekstra hati-hati dan perlu bekerja keras untuk mencari peluang pasar selain tentunya mewaspadai dampak perekonomian nasional dari perang dagang  AS-China yang berkepanjangan tersebut.

Menurut hemat saya, dibutuhkan insiatif baru atau kebijakan antisipatif diperlukan agar ekses perang dagang itu tidak menimbulkan kerusakan perekonomian nasional secara serius.

Tidak itu saja, negara ini juga perlu mewaspadai banjir produk impor dari Cina. Wajar saja, dengan potensi pasar Indonesia yang luar biasa, negara ini bisa dipastikan akan mendapatkan limpahan produk-produk asal Cina.

Pertanyaan selanjutnya, apakah pemerintah bisa menahannya? Tentu diharapkan itu bisa dilakukan karena dampak lanjutan dari derasnya impor adalah meningkatnya permintaan valuta asing akibat tingginya volume impor. Tingginya permintaan valuta asing berpotensi mendepresiasi rupiah.

Pelbagai kemungkinan buruk dari perang dagang AS-Cina harus diantisipasi. Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan usaha negeri ini harus bersiasat, agar ketidakpastian global itu tidak menimbulkan dampak serius bagi ekonomi nasional.

Yang jelas, negara ini memiliki modal dasar yang cukup mumpuni untuk menghadapi karut-marut perdagangan global. Indonesia masih sangat potensial menarik investasi asing.

Modal itu ada karena tingkat keyakinan komunitas pebisnis mancanegara masih cukup tinggi. Indikator itu tercermin dari pernyataan tiga lembaga pemeringkat internasional, yakni Standard and Poor's atau S&P Global Rating, Fitch Ratings dan Moody’s yang memberikan peringkat cukup bagus hingga kini.

Semua modal dasar itu bisa dieksploitasi untuk mempertebal daya tahan ekonomi nasional. Namun, semua itu harus didukung aspek lainnya yang tak kalah penting, yakni tetap terjaganya stabilitas keamanan nasional, ketertiban umum, dan terjaganya stabilitas politik. (F-1)

Ekonomi
Industri
Infrastruktur
Investasi
Narasi Terpopuler
Satria Baju Hitam dari Watukosek
Brimob adalah wajah paramiliter Polri. Kekuatannya sekiitar 30 ribu personel. Multifungsi. Brimob menjawab tantangan adanya unit khusus untuk penegakan hukum dengan intensitas tinggi. ...
Kinerja Industri Pengolahan Masih Menjanjikan
PMI Bank Indonesia itu tetap memberikan sinyal positif pada level ekspansi pada kuartal III 2019. ...
Peluang Investasi Ramah Lingkungan
Dunia sedang mengarah pada kesadaran untuk terus menjaga lingkungan. Perkembangan industri dan lingkungan yang terjaga perlu diseimbangkan. Peluang besar buat Indonesia. ...
Lima Fokus Visi Indonesia
Pembangunan SDM dan reformasi birokrasi merupakan dua hal yang akan menjadi titik fokus pemerintahan ke depan. ...
Perikanan Masih Jadi Sektor Unggulan
Bangsa ini butuh kedaulatan dan keberlanjutan. Industri perikanan negara ini,  bila tanpa kedaulatan dan keberlanjutan, akan berhenti. ...
Sulut Siap Jadi Masa Depan Ekonomi Indonesia
Jokowi berharap diresmikannya KEK Bitung akan diikuti dengan masuknya investasi pabrik pengolahan bahan jadi. ...
Defisit Air Pun Menyergap Zona Basah
Memasuki Juli ini hujan akan semakin langka. Kemarau panjang mengintai. Produksi sawit, tembakau, padi, dan hortikultura, pun tertekan. Warga terancam problem air bersih. Pembangunan embung dan bendun...
Perangi Sampah dengan Cukai
Rencana penerapan cukai untuk kantong plastik dan produk plastik lainnya, pasti banyak ditentang kalangan industri. Tapi melihat sekeliling kita yang dikepung sampah plastik, sepertinya kita harus mul...
Jemaah Semakin Termanjakan
Menteri Agama memastikan persiapan akomodasi dan transportasi pelaksanaan haji 2019 sudah mencapai 100%. ...
Susu dan Madu Melimpah di Pinggiran Hutan
Kelompok Tani Wono Lestari bisa menjadi model keberhasilan program Perhutanan Sosial. Dukungan bank bisa meningkatkan kapasitas produksi. Petani sejahtera, hutannya terjaga. ...