Bahasa | English


MATA UANG

Mengusahakan Multicurrency untuk Stabilitas

11 January 2019, 17:27 WIB

Sejatinya, kerja sama RI dengan Thailand dan Malaysia demi meningkatkan penggunaan Rupiah, Baht dan ringgit secara lebih luas. Namun efeknya dalam bertransaksi pun tidak perlu lagi dikonversi ke mata uang dolar AS.


Mengusahakan Multicurrency untuk Stabilitas Sumber foto: Shutterstock

Tampaknya Indonesia mulai sadar untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Salah satu caranya adalah dengan menjalin kerja sama negara-negara mitra dagang untuk menggunakan mata uang lokal dalam transaksi.

Pemerintah Indonesia sudah menjalin kerja sama dengan Thailand dan Malaysia untuk menetapkan standar mata uang masing-masing dalam melakukan transaksi. Jadi tidak perlu konversi ke mata uang dolar AS.

Tujuan kerja sama ini sebenarnya untuk meningkatkan penggunaan Rupiah, Baht dan ringgit secara lebih luas.

Saat ini memang lebih dari 90 komposisi ekspor kita menggunakan dolar AS. Sementara itu, komposisi impor hanya 78 persen saja yang menggunakan patokan dolar AS. Dengan local currency sattlement ini akan ada diversifiksasi mata uang untuk ekspor dan impor.

Sebetulnya kedua negara sangat diuntungkan dengan mekanisme penggunaan mata uang lokal. Pertama, jika komposisinya membesar, negara-negara tersebut tidak lagi memiliki ketergantungan pada fluktuasi dolar AS. Pasar uang dunia menjadi lebih seimbang.

Secara net, kerja sama seperti ini akan memberikan stabilitas sistem keuangan. Sebetulnya ide untuk menggunakan mata uang alternatif dalam bertransaksi antarnegara sudah cukup lama disuarakan. Misalnya, dengan Tiongkok. Indonesia bisa menggunakan patokan remimbi Cina dalam penghitungan transaksi luar negerinya. Apalagi Tiongkok sebagai mitra dagang terbesar bagi Indonesia.

Berdasarkan data statslistik nilai impor nonmigas dari Tiongkok mencapai 74 persen dari total perdagangan selama semester awal 2018. Untuk menjaga nilai tukar, tampaknya pemerintah perlu mendorong para pengimpor untuk membayarkan menggunakan mata uang remimbi.

Keuntungan lain yang bisa dipetik, depresiasi rupiah terhadap yuan remimbi relatif lebih kecil ketimbang terhadap dolar AS. Artinya, kita bisa lebih mengatur perencanaan keuangan dan memangkas ketidakpastian.

Sejak Januari 2018, nilai rupiah terdepresiasi terhadap yuan 5,47%. Jumlah tersebut lebih  kecil dibandingkan depresiasi rupiah terhadap dolar AS, yang sebesar 10,79%. Apalagi mitra dagang Indonesia lainnya seperti Jepang, Singapura atau Thailand memiliki porsi dagang yang signifikan dengan Tiongkok. Artinya tidak menutup kemungkinan negara-negara tersebut juga mau beralih menggunakan Yuan dalam perdagangan dengan Indonesia.

Perang dagang AS dan China serta kebijakan ekonomi AS yang tidak menentu menyebabkan ketidakpasgian global terus meningkat. Hal ini berimbas pada fluktuasi mata uang.

Tampaknya usaha negara-negara emerging market untuk sedikit demi sedikit melepas ketergantungannya terhadap dolar AS semakin dibutuhkan. Langkah yang bisa diambil dengan membentuk perjanjian antar mitra dagang untuk menggunakan matabuang lokal sebagai patokan.

Kemungkinan kedua, dengan mencari kebijakan mata uang alternatif seperti Yuan. (E-1)

Ekonomi
Narasi Terpopuler
Layanan Kependudukan dalam Genggaman
Mengantre di kantor dinas kependudukan dan catatan sipil (Dukcapil) untuk mengurus dokumen administrasi kependudukan segera menjadi aktivitas usang. Kini, semua itu bisa dilakukan dari rumah. ...
Waspada! Yang Hijau Susut, yang Kuning Menciut
Zona hijau menciut dari 112 jadi 104 daerah. Zona kuning berkurang dari 188 ke 175. Surabaya Raya dan Jawa Timur menjadi episentrum paling aktif. Orang tanpa gejala menjadi agen penularan yang senyap....
Startup Tumbuh Menjulang di Ekosistem Jakarta
Jakarta dinobatkan menjadi ekosistem terbaik kedua di dunia. Itu tak lepas dari ekonomi yang terus tumbuh, stabil, dan warga yang punya daya beli. Kelemahannya ada di talenta digital para pelaku. ...
Tahan Banting di Pasar yang Meriang
Harga tandan buah sawit (TBS) mulai bangkit. Perkebunan sawit dan industri CPO bisa beroperasi normal di situasi pandemi. Ada harapan di semester II 2020, industri sawit tumbuh postif. ...
Food Estate, Lumbung Baru di Kalimantan Tengah
Memanfaatkan 600 ribu hektar (ha) sisa lahan dari program sawah sejuta hektar di era Orde Baru, program food estate dipancangkan di Kalimantan Tengah. Sampai 2023, lahan pertanian seluas 140.000 ha te...
Trans-Sumatra, Ruas Pertama Tol di Serambi Mekah
Ruas pertama jalan tol segera beroperasi di Aceh. Panjang Jalan Tol Trans-Sumatra (JTTS) akan mencapai 672 km. ...
Antisipasi Amukan Si Jago Merah di Lahan Hutan
Musim kemarau tiba. Presiden mengingatkan untuk mengantisipasi kebakaran hutan. Beberapa langkah telah dilakukan. ...
Bisnis Teknologi Finansial, Tumbuh Bagai Cendawan di Musim Pandemi
Bisnis teknologi finansial tumbuh berkat kepercayaan yang baik pada industri ini. Pemerintah memberikan dukungan. Ekonomi digital bisa mendongkrak ekonomi nasional 10 persen. ...
Jakarta Merona Jingga, Surabaya Merah Menyala
Zona hijau dan kuning meningkat dari 226 (44 persen) menjadi 300 (58 persen) kabupaten/kota. Sejumlah kota besar kesulitan keluar dari zona merah atau jingga. Protokol kesehatan tak boleh ditawar. ...
Agar Konsumen Tenang Belanja Online
Pada 2019, jumlah aduan terkait perdagangan dengan sistem elektronik melonjak ke 1.518 kasus. Banyak kasus lain yang tak dilaporkan. Transaksi dengan sistem elektronik rawan penipuan. ...