Bahasa | English


INDUSTRI FILM

Menjadikan Insentif Sebagai Jurus Pemikat

30 September 2019, 04:06 WIB

Dibukanya daftar negatif investasi bagi industri perfilman disambut antusias para pelaku film dunia untuk menjadikan Indonesia sebagai lokasi produksi film. Selain ada keuntungan, ekonomi juga berdampak promotif untuk Indonesia. Dibutuhkan insentif agar makin menarik.


Menjadikan Insentif Sebagai Jurus Pemikat Ilustrasi. Foto: Istimewa

Semakin ke sini, perfilman Indonesia memberikan ruang baru bagi tumbuhnya ekosistem industri yang memberikan nilai tambah. Dalam setahun ini, misalnya, ada sekitar 14 film Indonesia yang berhasil mencetak lebih dari satu juta penonton.

Prestasi itu dulu sangat sulit diraih. Tapi kini, penonton Indonesia mulai menggemari karya-karya anak bangsa yang memang semakin baik kualitasnya. Baik dari sisi penceritaan, teknik perfilaman, dukungan suara, maupun faktor lainnya.

Dikeluarkannya film dari daftar negatif investasi juga mendorong industri film dunia melirik ke Indonesia. Kolaborasi rumah produksi film besar seperti Fox atau HBO dengan para pekerja film lokal mulai banyak dilakukan.

Menurut Triawan Munaf, ada banyak rencana produksi film dunia yang berlokasi di Indonesia. Tentu saja dalam produksinya nanti akan melibatkan pekerja-pekerja film asal Indonesia.

Hal ini bukan saja akan memberikan masukan secara ekonomi, tetapi juga akan terjadi proses transfer pengetahuan dan pengalaman. Pada akhirnya kerja sama tersebut memberikan udara baru bagi produksi film nasional.

Menurut catatan, nilai produksi film asing yang berlokasi di Indonesia mencapai sekitar Rp1,4 triliun atau 100 juta dolar AS. Triawan mengaku pihak produser film dunia itu sudah menemuinya dan menyampaikan rencana tersebut.

Badan ekonomi kreatif akan lebih aktif mendorong industri film dalam negeri, termasuk produksi film dunia di tanah air. Namun demikian, diperlukan insentif dari pemerintah agar Indonesia makin dilirik sebagai salah satu lokasi pembuatan film. Sebab selain sebagai sebuah proses produksi, film pada dasarnya juga sebagai ajang promosi.

Kita bayangkan jika Indonesia sering menjadi lokasi syuting film, otomatis ini akan menjadi dampak promosi yang efektif. Agar semakin banyak produser film dunia melirik Indonesia sebagai lokasi produksinya, butuh sejumlah insentif dari pemerintah.

Dengan begitu, Indonesia bisa bersaing dengan negara-negara lain. Sebagai contoh, pemerintah Malaysia memberikan insentif fiskal kepada para produser film internasional dalam bentuk cashback sebesar 25%.

Contoh lainnya, Perancis menjanjikan insentif biaya produksi jika sebuah film menampilkan ikon-ikon di negera itu, seperti Menara Eiffel. Sementara Indonesia satu-satunya negara di dunia yang belum punya insentif seperti itu.

Ke depan Indonesia perlu mendorong adanya aturan pemberian insentif untuk produksi film seperti itu.

Industri film memang menjadi salah satu sektor prioritas yang saat ini dikembangkan pemerintah melalui Bekraf. Bagaimana tidak, kontribusi ekonomi kreatif (ekraf) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun ini ditargetkan mencapai Rp1.200 triliun.

Tiga subsektor ekraf yang diperkirakan tumbuh paling pesat adalah film, video, dan animasi, aplikasi, serta musik. Pencabutan film dari Daftar Negatif Investasi (DNI) pada 2016 pun membuat bisnis ini semakin terbuka.

Karena itu, beberapa perusahaan film mancanegara telah melirik pasar film Indonesia. Contohnya, produser Fox Internasional Productions dari 20th Century Fox Film Corporation terlibat dalam produksi film Wiro Sableng. Sony Pictures Entertainment sedang memproduksi film di Indonesia. Perusahaan film terbesar asal Korea Selatan, Lotte, juga sedang proses ekspansi melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal.

Pesatnya perkembangan perfilman nasional, diyakini akan makin tumbuh mengesankan. Pertumbuhannya bisa mencapai 20% per tahun. Itu saja sebelum pemerintah memberikan insentif kepada para pemain dunia untuk masuk ke Indonesia.

Diperkirakan dalam lima tahun ke depan, industri film Indonesia akan tumbuh dua kali lipat dibanding saat ini. Sekali lagi, untuk mendorong pertumbuhannya pemerintah perlu memikirkan insentif, khususnya kepada industri-industri besar asing yang akan mengembangkan produksinya di Indonesia. (E-1)

Industri
Perfilman
Narasi Terpopuler
Robot Menantang Dunia Kerja
Perkembangan automatisasi serta kecerdasan buatan merupakan tantangan baru bagi para pekerja. Akan banyak bidang-bidang pekerjaan yang tergantikan oleh mesin. Para pekerja perlu meningkatkan kemampuan...
Perang Dagang Masih Akan Berlanjut
Kebijakan proteksionis ala Donald Trump menjadi faktor utama terjadinya perang dagang dunia, yang memicu instabilitas ekonomi. Jikapun dalam Pemilu AS Oktober nanti Trump tidak terpilih, tak otomatis ...
Ketika Rezim Cost Recovery Jadi Opsi Lagi
Menteri ESDM mempertimbangkan kembali hadirnya kontrak bagi hasil penggantian biaya operasi (cost recovery) bagi wilayah kerja baru dan terminasi. ...
Arus Liar Di Balik Agenda Amendemen
Presiden Jokowi merasa terganggu oleh wacana amendemen yang melebar. Amendemen UUD perlu situasi khusus, yakni ketika visi politik sebagian besar elemen masyarakat telah terkonsolidasikan. ...
Dari Cikarang Lewat Patimban ke Pasar Dunia
Pelabuhan Patimban Subang akan jauh lebih besar dari Tanjung Perak dan Makassar. Dermaga terminal (hasil reklamasi) memberi kedalaman 17=18 meter hingga dapat melayani kargo ukuran ultra-large yang ta...
Membangun Industri Sawit Berkelanjutan
Setelah berproses sejak 2014, di penghujung tahun ini akhirnya Presiden Joko “Jokowi” Widodo menandatangani Instruksi Presiden (Inpres) No. 6 Tahun 2019 tentang Rencana Aksi Nasional Perke...
Komitmen Hutan Mangrove dan Padang Lamun
Indonesia terus mencari peluang kerja sama pengendalian emisi karbon di arena COP ke-25 di Madrid. Prioritasnya menekan angka deforestasi, reboisasi hutan kritis, dan restorasi gambut. ...
Kemensos Fokus Penurunan Stunting dan Kemiskinan
Anggaran Kementerian Sosial kelima terbesar dalam APBN 2020. Kegiatan akan difokuskan pada penanganan stunting dan pengurangan kemiskinan. ...
Lompatan Katak Kendaraan Listrik
Pemerintah Indonesia mematok target produksi dua juta motor listrik pada tahun 2025. Pemerintah  diminta segera melakukan disain peta jalan BEV tanpa harus menunggu kesiapan industri komponen uta...
Menuju Fasilitator Perdagangan Kelas Dunia
Pelindo II atau Indonesia Port Corporation atau disingkat IPC akhir tahun 2019 ini merayakan ulang tahunnya yang ke-27. IPC telah menyusun road map hingga 2024. Di mana pada 2024, IPC memiliki target ...