Bahasa | English


INDIKATOR EKONOMI

Menjaga Inflasi Menjelang Ramadhan

4 May 2019, 00:00 WIB

Menjelang Ramadan dan hari raya pemerintah berhasil mempertahankan angka inflasi rendah. Tahun ini inflasi terbesar disumbang oleh kenaikan harga bumbu masak seperti cabai, bawang atau bawang putih. Maklum, cuaca membuat pasokan sedikit seret.


Menjaga Inflasi Menjelang Ramadhan Pedagang menyiapkan bawang merah di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, Kamis (2/5/2019). Sumber foto: Antara Foto

Keberhasilan pemerintah menekan gejolak harga setiap memasuki Ramadan dan lebaran sepertinya akan dilanjutkan. Mengambil pelajaran Ramadan tahun-tahun lalu, pemerintah berhasil menekan angka inflasi hanya di kisaran 0,69% saja pada 2017. Sedangkan pada Ramadan dan Lebaran 2018, inflasi hanya mencapai 0,59%.

Pada Lebaran 2015, yang juga jatuh pada Juli, inflasi tercatat 0,93, kemudian Lebaran 2014 pada Juli, inflasi 0,93, lalu pada Lebaran 2013 pada Agustus inflasi tercatat 1,12. Sementara itu, Lebaran 2012 yang jatuh pada Agustus, inflasinya 0,95, dan Lebaran 2011 pada Agustus inflasi tercatat 0,93. 

Kenaikan angka inflasi Lebaran, biasanya bukan disumbang oleh bahan kebutuhan pokok. Pada 2017, misalnya, sumbangan inflasi juga ditentukan kenaikan harga transportasi, khususnya udara.

Tampaknya menjelang Ramadan sekarang angka itu sedikit melonjak disebabkan karena kenaikan harga bumbu dapur. Pada April 2019, inflasi bulanan tercatat 0,44% atau 0,80% secara tahun kalendar.

Sebagai catatan, inflasi bulanan pada Januari sebesar 0,32%, sedangkan Februari mengalami deflasi 0,08%, dan inflasi Maret sebesar 0,11%.

Secara rinci, inflasi April disebabkan oleh harga bawang merah yang rata-rata mengalami inflasi 22,93% dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,13%. Kemudian, bawang putih mengalami inflasi sebesar 35% dengan andil sebesar 0,09%.

Sementara itu, cabai merah memberikan andil sebesar 0,07% dan tomat sayur menyumbang inflasi sebesar 0,02%. Sejumlah bahan makanan lainnya justru mengalami deflasi, seperti beras yang memberikan andil sebesar 0,06%, serta daging ayam ras dan ikan segar yang masing-masing menyumbang deflasi 0,01%.

Di luar itu, subkelompok makanan mengalami inflasi 0,12%. Begitu juga dengan subkelompok minuman tidak beralkohol yang mengalami inflasi sebesar 0,24%. Sedangkan subkelompok tembakau dan minuman beralkohol mengalami inflasi 0,37%.

Kelompok perumahan, air, gas, dan bahan bakar mengalami inflasi sebesar 0,12% dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,03%. Penyumbang utama inflasi ialah tarif kontrak rumah yang memberikan andil 0,03%, sementara tarif sewa rumah memberikan andil 0,01%.

Kenaikan inflasi kelompok perumahan disebabkan kenaikan harga beberapa barang untuk pemeliharaan rumah. Misal semen, asbes, dan sebagainya, sehingga meningkatkan tarif kontrak rumah dan sewa rumah.

Di sisi lain, tarif listrik memberikan andil terhadap deflasi sebesar 0,02%. Deflasi pada tarif listrik disebabkan adanya insentif berupa diskon tarif listrik kepada pelanggan 900 Volt Ampere (VA) pada 1 Maret lalu.

Untuk kelompok sandang dan kesehatan hanya memberikan andil kecil terhadap inflasi sebesar 0,01%. Tidak hanya itu, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga tidak memberikan andil terhadap inflasi.

Untuk kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan, andil terhadap inflasi mencapai 0,05%. Penyebab utama tarif angkutan udara masih mengalami kenaikan.

Ada kenaikan tarif tiket pesawat di 39 kota. Salah satunya di Banjarmasin yang mengalami kenaikan tiket pesawat sebesar 23%. Secara rinci, andil tarif angkutan udara terhadap inflasi mencapai 0,03%. (E-1)

Ekonomi
Sosial
Narasi Terpopuler
Saatnya Coklat Bercita Rasa Nusantara Go Global
Bila kualitas dan perluasan perkebunan kakao ditingkatkan, Indonesia berpeluang menjadi produsen terbesar biji kakao dunia. ...
Penggunaan Panel Surya Terus Didorong
Penggunaan energi berbasis surya ternyata baru di bawah 100 megawatt (MW). Padahal dari sisi potensinya bisa mencapai 207 gigawatt (GW). ...
Penyesuaian Dengan Tarif Dunia
Pemerintah berniat menaikkan tarif cukai 23 persen. Dimaksudkan membendung prevalensi perokok di Indonesia yang mencapai 33,9 persen, tertinggi di dunia. Di Thailand cukainya 80 persen. ...
Tanah Tabi Calon Provinsi Paling Siap di Papua
Bahkan telah ditentukan Kota Jayapura yang kelak menjadi ibu kota provinsi baru nanti. Sedangkan nama DOB yang sempat muncul, yaitu Provinsi Papua Tabi, Tabi Papua, atau Provinsi Tanah Tabi. ...
Usaha Berbasis Kayu Tetap Jalan, Hutan Pun Tetap Lestari
Industri pengolahan kayu kini tidak lagi kesulitan untuk memperoleh bahan baku. Mereka banyak menyerap kayu dari hutan tanaman industri dan hutan tanaman rakyat. ...
Penerimaan Pajak dan Cukai Terus Tumbuh Positif
APBN 2020 diketok di angka Rp2,528,8 triliun, naik tipis 2,75 persen dari 2019. Defisit pun terjaga di posisi 1,76 persen. PNBP terus menguat. ...
Provinsi Baru Papua, Sebangun dengan Wilayah Adat
Masyarakat Papua minta pemekaran provinisi Papua dan Papua barat menjadi tujuh wilayah adat. Tapi Presiden RI Joko Widodo hanya menyetujui beberapa. Itu pun masih harus ada kajian terlebih dulu. ...
Kota Karet Dulu, Kota Hijau Kemudian
Forum Segitiga Indonesia-Malaysia-Thailand melakukan percepatan program penguatan kerja sama subregional itu. Jalur multimoda Dumai-Malaka akan beroperasi 2020. Arus barang lebih efisien. ...
Warisan Sang Maestro
Berkat sentuhan Habibie-Habibie muda, pesawat CN-235, N 212, dan N 219, juga kapal korvet, dan kereta listrik, tampil dengan eksterior yang elegan dan aeerodinamis.  Ekonomi berbasis teknologi pe...
Garis Bawah Presiden untuk Iklim Investasi Indonesia
Indonesia akan segera merevisi puluhan undang-undang dan aturan yang berkait dengan investasi. Hal itu dipentingkan untuk mempermudah dan mempersingkat prosedur sebagai salah satu daya tarik investasi...