Bahasa | English


PERBANKAN

Menjaga Momentum Pertumbuhan

31 July 2019, 05:32 WIB

BI mengambil kebijakan mendahului Bank Sentral AS untuk memangkas suku bunga 25 basis poin menjadi 5,57%. Suku bunga deposito diperkirakan akan menyusul turun dalam sebulan. Sedangkan bunga kredit baru menyesuaikan dalam tiga bulan ke depan.


Menjaga Momentum Pertumbuhan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (tengah) memberikan keterangan pers hasil Rapat Dewan Gubernur di kantor Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (20/6/2019). Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan BI sebesar 25 basis poin menjadi 5.75 persen. Diharapkan penurunan suku bunga ini akan lebih menggairahkan dunia usaha. Sebab pada akhirnya akan diikuti oleh penurunan suku bunga kredit. Istilahnya dengan dipangkasnya suku bunga, maka cost of fund akan turun.

Cost of fund adalah biaya yang dibutuhkan bank untuk memperoleh simpanan setelah ditambah dengan cadangan wajib yang ditentukan oleh pemerintah.

Memang butuh jeda beberapa saat agar suku bunga kredit turun mengikuti suku bunga acuan ini. Biasanya pada tahap awal akan direspons oleh suku bunga di pasar uang antarbank. Baru kemudian akan berpengaruh ke suku bunga kredit. Umumnya membutuhkan waktu tiga bulan. Artinya bagi dunia usaha, kebijakan pemerintah itu baru akan dirasakan sekitar tiga bulan ke depan. Sementara itu untuk suku bunga deposito biasanya lebih cepat, sekitar satu bulan.

Berdasarkan data per April 2019, posisi rata-rata suku bunga deposito perbankan 12 bulan sekitar 6,94 persen. Sementara itu, suku bunga kredit modal kerja sekitar 10,53 persen. Belum tahu berapa besar penurunan yang dimungkinkan nanti. Tapi setidaknya, kebijakan ini memberi angin segar bagi dunia usaha.

Selain penurunan suku bunga, BI juga telah melakukan beberapa bauran kebijakan lain untuk memenuhi kebutuhan likuditas perbankan, salah satunya penurunan rasio Giro Wajib Minimum (GWM) denominasi Rupiah sebesar 50 bps pada bulan lalu.

Dengan demikian, meski tahun lalu BI secara agresif menaikkan suku bunga sebesar 175 bps, dan sejak November 2018 menahannya di level 6 persen, terjadi anomali dengan suku bunga kredit yang justru turun sebesar 23 bps.

Penurunan suku bunga ini diperkirakan akan berdampak pada aktivitas ekspor dan impor. Hal ini karena biaya untuk pinjaman perusahaan ekspor impor ke bank menjadi lebih murah dari biasanya. Dengan ini bisa diasumsikan permintaan kredit akan meningkat, lalu ekspektasi konsumen terhadap kredit juga melonjak.

Kebijakan ini semakin menguatkan fungsi bank sebagai intermediasi lembaga jasa kekuangan. Apalagi BI juga sudah mengambil kebijakan pelonggaran kewajiban Giro Wajib Minimum kepada perbankan. Dana masyarakat bisa dengan cepat disalurkan kepada sektor industri.

Sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga akan mengalami dampak paling positif, seperti sektor properti, keuangan, konstruksi, dan sektor-sektor turunannya.

Di tengah ketidakpastian ekonomi dunia akibat belum kelarnya perang dingin AS-Cina, kebijakan ini diharapkan bisa memberikan angin segar untuk tetap mendorong ekonomi Indonesia. Namun ada juga yang melihat, pelemahan ekonomi Cina akibat perang dagang akan berimbas tidak efektifnya kebijakan penurunan suku bunga itu. Kalau diperhatikan kebijakan moneter dalam lima tahun terakhir tidak berimbas banyak pada perekonomian.

Seolah ekonomi sudah kebal dengan kebijakan moneter. Karena itu, ada pengamat yang memprediksi bahwa suku bunga BI akan terus dikerek turun sampai batas 5,5% sampai akhir tahun. Apalagi kebijakan penurunan suku bunga ini sebetulnya hanya menetralkan kenaikan suku bunga yang dilakukan pada tahun lalu sebesar 175 basis poin.

Langkah BI pada tahun ini menurunkan suku bunga tidak bisa dianggap sebagai kebijakan yang agresif, sebab hanya memindahkan perseneling ekonomi dari tertahan menjadi lebih netral. Istilahnya, kondisi jalan kendaraan akan normal kembali.

Yang perlu juga diingat, penurunan suku bunga ini akan berdampak pada larinya modal asing, khususnya yang bersifat jangka pendek. Di bursa saham Indonesia, misalnya, langkah BI yang mendahului Bank Sentral AS ini menyebabkan investor asing meninggalkan saham-saham perbankan.

Secara keseluruhan, kebijakan ini dianggap sebagai usaha menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah kondisi ekonomi dunia yang tidak stabil. (E-1)

Perbankan
Narasi Terpopuler
Kemudahan Berusaha Pun Didorong
Tensi perang dagang AS dengan Tiongkok diyakini tetap tinggi tahun depan. Kedua negara adidaya diperkirakan tetap akan berseteru karena kepentingan geopolitik. ...
Pembenahan Dua BUMN
Pemerintah serius membenahi dua BUMN sektor energi, Pertamina dan PLN. Mantan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama ditunjuk sebagai Komisaris Pertamina dan mantan Menteri Kominfo Rudiantara diangka...
Robot Menantang Dunia Kerja
Perkembangan automatisasi serta kecerdasan buatan merupakan tantangan baru bagi para pekerja. Akan banyak bidang-bidang pekerjaan yang tergantikan oleh mesin. Para pekerja perlu meningkatkan kemampuan...
Perang Dagang Masih Akan Berlanjut
Kebijakan proteksionis ala Donald Trump menjadi faktor utama terjadinya perang dagang dunia, yang memicu instabilitas ekonomi. Jikapun dalam Pemilu AS Oktober nanti Trump tidak terpilih, tak otomatis ...
Arus Liar Di Balik Agenda Amendemen
Presiden Jokowi merasa terganggu oleh wacana amendemen yang melebar. Amendemen UUD perlu situasi khusus, yakni ketika visi politik sebagian besar elemen masyarakat telah terkonsolidasikan. ...
Dari Cikarang Lewat Patimban ke Pasar Dunia
Pelabuhan Patimban Subang akan jauh lebih besar dari Tanjung Perak dan Makassar. Dermaga terminal (hasil reklamasi) memberi kedalaman 17=18 meter hingga dapat melayani kargo ukuran ultra-large yang ta...
Membangun Industri Sawit Berkelanjutan
Setelah berproses sejak 2014, di penghujung tahun ini akhirnya Presiden Joko “Jokowi” Widodo menandatangani Instruksi Presiden (Inpres) No. 6 Tahun 2019 tentang Rencana Aksi Nasional Perke...
Ketika Rezim Cost Recovery Jadi Opsi Lagi
Menteri ESDM mempertimbangkan kembali hadirnya kontrak bagi hasil penggantian biaya operasi (cost recovery) bagi wilayah kerja baru dan terminasi. ...
Komitmen Hutan Mangrove dan Padang Lamun
Indonesia terus mencari peluang kerja sama pengendalian emisi karbon di arena COP ke-25 di Madrid. Prioritasnya menekan angka deforestasi, reboisasi hutan kritis, dan restorasi gambut. ...
Kemensos Fokus Penurunan Stunting dan Kemiskinan
Anggaran Kementerian Sosial kelima terbesar dalam APBN 2020. Kegiatan akan difokuskan pada penanganan stunting dan pengurangan kemiskinan. ...