Bahasa | English


INVESTASI

Menunggu Investasi Setelah Naik Kelas

14 June 2019, 00:00 WIB

Berbagai Lembaga survei menempatkan ekonomi Indonesia dalam kacamata positif. Kini waktunya Indonesia lebih giat menebarkan jalan untuk menarik investasi langsung ke dalam negeri.


Menunggu Investasi Setelah Naik Kelas Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (15/5/2019). Foto: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso

Optimisme harus terus ditumbuhkan. Di tengah perang dagang yang membuat ekonomi dunia tidak stabil, sepertinya Indonesia bisa mendapat rapor bagus. Baru saja kemarin Lembaga pemeringkat dunia Standard and Poor’s menaikkan peringkat utang Indonesia dari BBB menjadi BBB. Itu tandanya, Indonesia merupakan tempat yang layak untuk menanamkan investasi.

Tidak beda jauh, sebuah Lembaga penilai Instutute for Management Development (IMD) dalam World Competitiveness Develompent (WCY) 2019 menaikkan peringkat daya saing Indonesia dari posisi 43 kini berada pada posisi 32. Kenaikan 11 poin itu merupakan hasil dari kerja keras.

Capaian itu sendiri menjadikan Indonesia dengan peningkatan peringkat tertinggi se-Asia Pasifik. Selain Indonesia, lima negara berdaya saing tertinggi tercatat berubah. Singapura yang pada 2018 berada pada peringkat ketiga, unggul jadi peringkat pertama pada tahun ini, menggeser posisi Amerika Serikat. Sedangkan Hong Kong tetap berada di posisi kedua, Uni Emirat Arab untuk pertama kalinya masuk dalam kelompok lima besar.

Sementara itu, daya saing Jepang  turun lima peringkat dari posisi 25 pada tahun lalu ke level 30 pada tahun 2019. Penurunan itu disebabkan merosotnya kondisi ekonomi, utang pemerintah, dan melemahnya iklim usaha.

IMD World Competitiveness Center menilai, 63 negara dengan lebih dari 230 indikator yang dikelompokkan ke dalam empat pilar. Pertama kinerja ekonomi, yang mencakup perdagangan dan investasi internasional. Kedua efisiensi pemerintah, di antaranya kedisiplinan pemerintah dalam anggaran, kepatuhan hukum, dan peningkatan inklusivitas institusi.

Selanjutnya efisiensi bisnis, termasuk produktivitas dan efisiensi sektor swasta dan kemudahan akses finansial. Terakhir dari sisi infrastruktur, termasuk infrastruktur sains, kesehatan, dan lingkungan serta pendidikan. 

Peningkatan tersebut membawa peringkat daya saing Indonesia saat ini berada di atas negara-negara peers seperti India, Filipina, Turki, Afrika Selatan dan Brazil. Berdasarkan penilaian WCY, Indonesia memiliki keunggulan dalam hal ekonomi domestik (peringkat 7), kebijakan perpajakan (4), pasar tenaga kerja (3), serta tingkah laku dan nilai (14). 

Di sisi lain Indonesia tetap harus terus memperbaiki aspek perdagangan internasional (peringkat 59), kesehatan dan lingkungan (58), pendidikan (52), dan infrastruktur teknologi (49).

Berdasarkan Executive Opinion Survey yang menjadi salah satu bagian penilaian daya saing WCY, faktor yang dianggap paling menarik dari perekonomian Indonesia adalah ekonomi yang dinamis, perilaku terbuka dan positif masyarakat, serta kebijakan yang stabil dan terprediksi.

Perbaikan peringkat daya saing Indonesia menunjukkan hasil positif dari berbagai reformasi struktural dan ekonomi yang secara konsisten terus dilakukan oleh Pemerintah. Fundamental ekonomi Indonesia yang terjaga juga merupakan modal penting bagi peningkatan daya saing. Hal ini antara lain ditandai dengan ekonomi Indonesia yang tumbuh sehat di atas 5 %, dengan tingkat inflasi rendah dan mendukung daya beli masyarakat serta konsumsi. 

Kualitas pertumbuhan juga dinilai terjaga yang ditandai dengan penurunan tingkat pengangguran, kemiskinan, dan ketimpangan. Prestasi tersebut menggembirakan karena diumumkan ketika situasi dunia sedang tidak stabil. Perang dagang, Brexit, kondisi Jepang, dan lain-lainnya, sedang tidak pasti.

Dampak global ke Indonesia juga menjadi tidak menentu. Kadang modal asing masuk, tapi bisa juga tiba-tiba keluar. Di sisi lain hasil ini merupakan tantangan bagi pemerintah Indonesia untuk terus memperbaiki berbagai kekurangan agar bisa memanfaatkan momentum dengan lebih baik.

Indonesia misalnya, harus terus membangun infrastruktur, terus memperdalam pasar keuangan, membereskan inefisiensi yang masih terjadi, sinkronkan gerak pusat-daerah. Investasi adalah kuncinya. Karena itu, sinyal-sinyal perbaikan harus kita kirim terus ke pelaku bisnis. Membangun infrastruktur, menstabilkan harga, termasuk menstabilkan kondisi keamanan dan ketertiban serta iklim sosial-politik yang kondusif.

Tidak cukup, hasil penelitian Nielsen dan The Conference Board Global Consumer Confidence Survey merilis hasil studi yang menunjukkan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia relatif stabil di angka 125 pada kuartal pertama 2019 dibanding kuartal empat 2018.

Angka ini menempatkan Indonesia di peringkat keempat negara paling optimistis di dunia. Menurut Nielsen, IKK dipengaruhi oleh tiga indikator yang dihitung selama 12 bulan ke depan, yakni optimisme konsumen terhadap prospek lapangan kerja lokal, keadaan keuangan pribadi, dan keinginan untuk berbelanja. 

Berdasarkan riset mereka, optimisme terhadap prospek lapangan kerja lokal meningkat dari 68 % di kuartal empat 2018 menjadi 72 % di kuartal pertama 2019. Selanjutnya,

83 % konsumen memiliki persepsi positif mengenai keadaan keuangan pribadi mereka, meningkat dari 79% di kuartal sebelumnya.

Sementara itu, lebih dari setengah konsumen (56 %) menyatakan bahwa waktu 12 bulan ke depan adalah waktu yang baik untuk berbelanja barang-barang yang mereka inginkan dan butuhkan. Namun, untuk indikator terakhir ini ada penurunan persentase dari sebelumnya 63% di kuartal terakhir 2018.

Secara global,  Nielsen melihat IKK stabil dengan penurunan hanya sebesar satu poin, dari 107 pada kuartal empat 2018 menjadi 106 pada kuartal satu 2019. (E-1)

Ekonomi
Investasi
Narasi Terpopuler
E-Wallet Kian Tebal di Tengah Pandemi
Sepanjang Januari 2020, aktivitas pembayaran digital mencapai lebih 457 juta transaksi dengan valuasi sekitar Rp15,87 triliun. ...
Penting Menjaga si Pelindung Pantai
Moratorium dan konservasi hutan mangrove berguna sebagai mitigasi bencana. Mangrove mampu mengurangi dampak terjangan tsunami ke daratan. ...
Silaturahmi Lebaran dengan Normal Baru
Hal-hal yang sebelumnya mungkin kita anggap tak lazim dan tak pernah terpikirkan. Tapi perubahan harus kita terima, mau tak mau. ...
Melonggarkan Karantina dan Herd Immunity
Pelonggaran pembatasan fisik di tengah ancaman virus Covid-19 selalu bertolak dari sejumlah indikator perbaikan kesehatan. Ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi. ...
Mengusung Sarinah Kembali ke Khittah
Renovasi akan segera dilakukan atas gedung Sarinah dan akan selesai Mei 2021. Restoran Mc Donald’s pergi. Pembaharuan dilakukan agar Sarinah bisa terus bersaing, dengan tak meninggalkan nilai se...
Jalan Cepat Memangkas Antrean
Pemakaian tes cepat molekuler (TMC) untuk Covid-19 praktis, cepat, dan berguna untuk memangkas antrean pasien. Ada 305 faskes yang siap mengoperasikan. Tapi, pasokan cartridge terbatas di tengah pande...
Tangkap Peluang Relokasi Pabrikan Amerika dari Tiongkok
Pemerintah menyediakan lahan seluas 4.000 hektare untuk menampung relokasi pabrik AS dari Tiongkok. Lokasi industri tersebut berada di Jawa Tengah. Brebes siap. ...
Selamatkan Satwa dari Dampak Covid-19
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan siap memasok kebutuhan pakan dan obat-obatan bagi satwa di 81 lembaga konservasi berizin di Indonesia selama pandemi Covid-19. ...
Pesan Terbuka di Balik Angka-Angka
Kapasitas diagnosis molekuler meningkat empat kali lipat. Pasien yang positif Covid-19 cenderung susut, dari 10,7% ke 8,86%. Namun, antrean pasien yang harus menjalani diagnosis tambah panjang. ...
Geraknya Mendatar tapi Potensinya Masih Besar
RUU Minerba telah disinkronkan dengan RUU Cipta Kerja sesuai dengan keinginan pemerintah. ...