Bahasa | English


INFRASTRUKUR

Pangkas Waktu Tempuh, Tol Cibitung-Cilincing Sudah 60%

13 October 2019, 10:10 WIB

IPC melalui anak perusahaannya PT Akses Pelabuhan Indonesia bekerja sama dengan Waskita Toll Road  membangun jalan Tol Cibitung-Cilincing. Tol ini diharapkan mampu memangkas waktu tempuh angkut barang ke pelabuhan.


Pangkas Waktu Tempuh, Tol Cibitung-Cilincing Sudah 60% Interchange Tambelang. Foto: Dok. API

Pembangunan akses jalan di bagian timur pelabuhan itu kini sudah mencapai 60% lebih.  Akses jalan tersebut akan memperlancar arus keluar masuk barang dari KBN ke pelabuhan dan dermaga-dermaga di Tanjung Priok. Tol membentang dari Cibitung menuju Cilincing sepanjang 34 km lebih. PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/IPC optimistis Jalan Tol Cibitung-Cilincing (JTCC) bisa beroperasi pada 2020.

“Berdasarkan laporan terbaru PT Cibitung Tanjung Priok Port (CTP) Tollways selaku BUJT (Badan Usaha Jalan Tol) pembangunan JTCC, konstruksinya saat ini telah mencapai lebih dari 60 persen, dan lahan yang sudah dibebaskan lebih dari 80 persen,” kata Direktur Teknik IPC Dani Rusli.

JTCC akan memperlancar akses transportasi dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju kawasan industri di Bekasi, Cibitung, Cikarang, hingga Karawang dan sebaliknya. Pada akhirnya, kelak keberadaan akses tol ini akan membantu menekan biaya logistik dan mengurangi beban trafik sekitar ruas Tol Jakarta-Cikampek.

Ruas Jalan Tol Cibitung-Cilincing dibangun PT CTP Tollways. Saham PT CTP Tollways dimiliki oleh PT Akses Pelabuhan Indonesia (45 persen) yang merupakan cucu usaha IPC dan PT Waskita Toll Road (55 persen). Total investasi pembangunannya mencapai sekitar Rp10,8 triliun di mana 70% dari biaya investasi diperoleh dari pinjaman sindikasi perbankan dan sisanya 30% diperoleh dari ekuitas.

Direktur Operasi dan Pengembangan Bisnis PT Akses Pelabuhan Indonesia Ari Sunaryono menjelaskan, jalan tol sepanjang 34,8 kilometer ini sebagian besar berada di wilayah Bekasi (80 persen). Sekitar 20 persen lainnya berada di wilayah Jakarta bagian Utara.

Akses JTCC merupakan bagian dari pembangunan Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta 2 (JORR 2). Ruas ini terdiri dari 4 seksi, yaitu Cibitung-Telaga Asih (3,14 km),  Telaga Asih-Tambelang (10,30 km), Tambelang-Tarumajaya (14,3 km), dan Tarumajaya-Cilincing (7,10 km).

Di sepanjang Jalan Tol Cibitung-Cilincing terdapat 43 jembatan, 5 simpang susun (interchange), 7 underpass dan 8 overpass, sehingga memiliki kompleksitas yang tinggi.

“Jalan ini dibuat dengan perhitungan elevasi seakurat mungkin untuk memastikan kenyamanan dan keamanan pengguna jalan. Apalagi nantinya sebagian besar pengguna jalan adalah truk kontainer dan angkutan barang yang memiliki bobot dan ukuran relatif besar,” jelasnya.

Ari menambahkan, JTCC merupakan Proyek Strategis Nasional, yang seluruh pekerjaannya dilakukan oleh tenaga ahli dalam negeri dan pekerja lokal.

Ada beberapa hal yang menyebabkan keterlambatan pembangunan tol yang seyogyanya selesai di akhir 2019 ini. Perubahan disain dari tanah uruk menjadi penanaman tiang pancang adalah salah satu yang menyebabkan keterlambatan. Disain awal hampir sebagian besar jalan tol akan di lakukan dengan tanah uruk. Tapi dengan pertimbangan jalan tol ini berada di samping pipa gas dan juga melewati soft soil (tanah lembek), maka diperlukan redesign.

Pengurukan tanah di areal jalur gas akan membahayakan, karena tanah akan bergerak ke samping dan menekan pipa gas. Pengurukan tanah di tanah lembek juga akan menjadikan perawatan jalan tol semakin mahal. Karena tanah akan selalu bergerak.

Pembangunan jalan Tol Cibitung Cilincing melewati sejumlah jalur padat lalu lintas dan padat penduduk. Selain melewati jalan tol dan sejumlah jalan umum, tol ini beberapa kali menyeberangi sungai dan rawa. Dan yang juga menyulitkan adalah saat membangun jembatan layang yang melewati tol  aktif atau jalan umum, mereka tidak boleh menghentikan aktivitas jalan di bawahnya.

Untuk mewujudkan maritim  sebagai masa depan Indonesia, dibutuhkan 3 aspek kunci mengembangkan dan mengeksplorasi potensi maritim yang disebut dengan Trilogi Maritime.

Kunci tersebut adalah: Pertama, pengembangan pelabuhan di berbagai daerah di Indonesia untuk membuka konektivitas agar memiliki standar dan kualitas pelayanan. Kedua, pengembangan transportasi pelayaran yang selama ini didominasi oleh kapal-kapal asing. Ketiga, pengembangan area industri yang terhubung dengan pelabuhan.

Dalam konsep ini penting ada tranformasi dalam integrated port, shipping line, dan industrial area, demi peningkatan daya saing. Pelabuhan agar bisa berkembang tentu harus didukung kawasan industri. Produsen yang bisa memasok barang yang bisa dikirim. Kemudian dikirim lewat pelabuhan yang baik. Serta, untuk mendistribusikan barang harus ada aliansi pelayaran yang hebat.

Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/Indonesia Port Corporation (IPC) Elvyn G Masassya mengatakan, sebagai pengelola pelabuhan kelas dunia, IPC berkomitmen untuk terus melakukan efisiensi agar seluruh pelayanan dan operasionalnya memiliki daya saing tinggi. Efisiensi ini pada akhirnya akan menguntungkan konsumen.

Sebagai pintu gerbang aktivitas ekspor-impor, IPC turut berperan menjadikan produk-produk di dalam negeri memiliki daya saing tinggi di luar negeri. Oleh karena itu, positioning IPC sebagai fasilitator perdagangan menjadi penting.

Dalam konteks sebagai fasilitator perdagangan tersebut, saat ini IPC sedang mengembangkan New Priok Eastern Access (NPEA) yang menghubungkan Tanjung Priok dengan Kawasan Berikat Nusantara (KBN). (E-2)

Infrastruktur
Narasi Terpopuler
Roman dan Satire di Tengah Ancaman Corona
Kesan sarat kemewahan selalu melekat pada perjalanan wisata dengan kapal pesiar. Termasuk moda tersebut harus dialihfungsikan menjadi karantina bagi penyakit mematikan virus Corona Virus Desease 2019 ...
Satu Data untuk Indonesia
Sensus Penduduk 2020 membuka kesempatan warga mendaftar secara online, mulai 15 Februari--31 Maret. Sensus manual dimulai 1 Juli 2020. Hasilnya diumumkan 2021. Keragaman agama dan etnis akan dicatat. ...
Stimulan Pendongkrak Sektor Pariwisata
Bangsa ini cukup liat untuk mensiasati kondisi pascawabah virus corona. Masih banyak peluang yang bisa diraih dengan hilangnya peluang pasar wisatawan asal Tiongkok. ...
Jalan Terang Menuju Kesembuhan
Virus Wuhan belum ada obatnya. Metode perawatan suportif cukup efektif. Pemerintah Tiongkok mencoba obat baru remdesivir. Udara panas dan lembab disinyalir bisa menekan perkembangan virus. ...
Solusi Ketergantungan Impor Bahan Baku Obat
Tujuan pembentukan holding BUMN Farmasi adalah untuk menekan impor bahan baku obat, yang nantinya akan membantu menurunkan harga obat. ...
Vonis Akhir Hanya dari Laboratorium Percetakan Negara
Dari 58 pasien suspect virus corona wuhan, seluruhnya dinyatakan negatif. Para dokter di RS rujukan dipastikan mampu mengenali para suspect. Identifikasi virus hanya di Laboratorium Biomedis Kemenkes,...
Kembalinya Kecintaan pada Buah Lokal
Pemerintah tidak melarang impor seluruh komoditas dari Tiongkok. Larangan hanya berlaku terhadap hewan hidup dari negeri itu. ...
Konsentrasi di Zona Merah, Pangkas Ancaman Kualitas SDM
Bukan sekadar masalah kurangnya tinggi badan anak, stunting telah diyakini sebagai ancaman nyata kualitas dan produktivitas sumber daya manusia. Alhasil, pemerintah pun tancap gas mewujudkan target 14...
Kemerdekaan Belajar bagi Siswa di Negeri Merdeka
Ujian nasional cenderung menjadi indikator keberhasilan individual siswa. Momentum ujian pun menciptakan stres bukan hanya pada siswa, tapi juga orang tua bahkan guru. Konsep pendidikan yang merdeka p...
The Silent Killer Van Surabaya
Kini, Indonesia menjadi satu-satunya negara di kawasan Asia Tenggara yang mampu membangun kapal selam. Diberi nama Alugoro 405, kapal selam buatan anak bangsa itu dibidani PT PAL Indonesia (persero). ...