Bahasa | English


PRODUK BIODIESEL

Peluang di Tengah Perang Dagang

28 August 2018, 10:43 WIB

Di tengah perang dagang Amerika-Tiongkok, ada celah peluang untuk produk sawit. Pasar Tiongkok terbuka untuk biodiesel Indonesia. Meski dihadang tarif, produk sawit tetap bisa menembus India.


Peluang di Tengah Perang Dagang Sumber foto: Antara Foto

Predikat Indonesia sebagai penghasil Raja Kelapa Sawit tetap tak tergoyahkan. Sampai 2017, menurut catatan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), hamparan kebun sawit Indonesia mencapai 11,9 juta ha.

Perinciannya, 4,7 juta ha (42%) kebun rakyat, dan porsi lebih BUMN dan korporasi swasta. Hasilnya, sekitar 38 juta ton minyak sawit. GAPKI mengklaim, ekspor sawit dan produk turunannya pada 2017 mencapai US$22,9 miliar atau sekitar Rp315 triliun.

Setelah puluhan tahun diusahakan, industri hilir sawit sudah jauh bekembang. Di hulu, komoditas yang dihasilkan berupa CPO (crude palm oil), yakni  ekstraks daging buah yang porsinya 92%, dan 8% lainnya PKO (palm kernel oil), ekstraks biji sawit. Keduanya sering disebut CPO.

Kini, setidaknya ada 47 produk turunan CPO dan PKO yang bisa dihasilkan di Indonesia. Ada yang dalam bentuk produk pangan seperti minyak goreng, minyak salad, margarin, mentega, bahan campuran cokelat, hingga pro-Vitamin A. Ada pula yang nonpangan, seperti lotion, sabun, semir sepatu, sabun, sampo, deterjen, hingga bahan bakar biodoesel.

Produksi nasional sawit sendiri cenderung terus meningkat, meski ada berfluktuasi karena faktor cuaca. Kemarau panjang 2015, misalnya, menyebabkan gangguan produksi sampai kuwartal I 2016 dan mengakibatkan penurunan sampai  5% di tahun itu.

Namun, cuaca basah pada 2016 dan 2017 membuat produksi 2017 meningkat sekitar 17%. Curah hujan yang cukup tinggi itu, menurut GAPKI, juga mendorong produksi sawit  semester I 2018 melesat 22% dibanding semester I 2017.

Peningkatan produksi ini agaknya juga terjadi di berbagai negara produsen seperti Malaysia, Thailand, dan sejumlah negara Afrika. Pasokan sawit melimpah. Alhasil, harga CPO (sebagai patokan) sepanjang semester I 2018 ini tertahan di bawah US$ 700 per ton. Padahal di kwartal I  2017 hampir selalu di atas US$ 750 bahkan menyentuh US$ 800.

Tak hanya menekan harga, produksi yang melimpah inipun memangkas ekspor. Secara keseluruhan, ekspor CPO, KPO, dan produk turunannya (tidak termasuk oleochemical dan biodiesel) turun 6% (data GAPKI). Namun, BPS menyebutkan anjloknya ekspor sawit dan produk turunannya pada semester I 2018 mencapai 15,6%.

Sawit sebuah komoditas dengan nilai politik tinggi. Di luar faktor cuaca yang mempengaruhi pasokan dan harga, sawit asal Indonesia dan Malaysia dilabel sebagai komoditas perusak lingkungan. Perkebunan sawit dianggap mengilas hutan tropis atau  mendegradasikannya, termasuk hutan yang berada di atas lahan gambut.

Kampanye lingkungan ini yang membuat pangsa pasar kelapa sawit di Uni Eropa terus merosot. Bahkan, Uni Eropa membuat kebijakan resmi mengurangi penggunaaan CPO dalam produksi biodiesel mereka dan menghapuskan sama sekali pada 2021.

Di India, salah satu pasar potensial bagi sawit Indonesia di samping Uni Eropa dan Tiongkok, produk turunan CPO dikenai bea masuk 15 - 25%, dengan alasan melindungi industri refinery dalam negerinya. Menurut GAPKI, anjloknya ekspor CPO, PKO, dan produk turunnya itu mencapai 34%, dari 3,74 juta ton pada semester I 2017 menjadi 2,5 juta ton di sepanjang semester I 2018.

Pasar Baru

Di tengah melemahnya ekspor ke pasar utama Uni Eropa dan India, pasar Tiongkok justru membuka pintu lebih lebar. Pada semester I 2018, Tiongkok mengimpor kelapa sawit dan produk turunannya 23% lebih besar, dari 1,48 juta ton menjadi 1,82 juta ton.  Yang menarik, pada periode ini pula  untuk kali pertama Tingkok mengimpor biodiesel dari Indonesia. Volumenya 186 ribu ton.

Pada saat yang sama Amerika Serikat (AS) pun mengimpor produk turunan sawit lebih banyak. Ada peningkatan ekspor ke pasar AS sebesar 13%, dari 542 ribu ton ke 611 ribu ton.

Rupanya, perang dagang AS-Tiongkok membuka peluang baru bagi Indonesia. Merosotnya pasokan kedelai dan serealia dari AS, membuat Tiongkok mencari sumber alternatif. Industri hilir minyak nabati yang sebelumnya menggunakan kedelai AS beralih ke CPO. Sebaliknya, kekurangan sumber bahan minyak nabati olahan dari Cina digantikan minyak nabati Indonesia.

Terlepas dari kebijakan politik Uni Eropa, India, dan perang dagang AS-Tiongkok, kebutuhan dunia akan minyak nabati terus meningkat--termasuk untuk kebutuhan biosiesel. Perkiraan GAPKI, kebutuhan akan empat produk minyak nabati utama (sawit, minyak kedelai, bunga matahari, serta rapeseed) mencapai 171 juta ton pada 2018, dengan kecenderungan yang terus meningkat pada tahun-tahun mendatang, utamanya untuk memenuhi permintaan biodiesel.

Sebagai produsen sawit terbesar, tren global itu adalah peluang bagi Indonesia. Namun, Presiden Joko Widodo menanggapinya dengan hati-hati. Presiden justru mengumumkan adanya moratorium kebun sawit baru sejak dua tahun lalu, demi menunjukkan komitmen Indonesia pada isu perubahan iklim.

Maka, Inpres nomor 7 tahun 2017 pun diterbitkan sebagai langkah konkret mengurangi emisi karbon dengan tidak membiarkan lebih banyak  hutan alam dan lahan gambut terdegradasi fungsinya.

Meski tak ada lagi hutan alam dan lahan gambut yang akan dialokasikan untuk kebun sawit baru, tak berarti produksi sawit bakal stagnan. Faktanya, lahan yang dikuasai korporasi dan BUMN belum semuanya diutilisasikan sebagi kebun sawit.

Saat ini juga masih banyak kebun baru dengan sawit muda yang belum berproduksi optimal. Ditambah lagi, kebun rakyat masih bisa ditingkatkan produktivitasnya sampai dua kali lipat karena produktivitasnya saat ini masih sekitar 10-12 ton per tahun. Masih tersedia potensi produksi sawit di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pasar dunia dan pasar domestik akan minyak nabati dengan segala turunannya. 

Ekonomi
Investasi
Narasi Terpopuler
5 Tahun Membangun Tanah Papua
Pemerintahan Joko Widodo periode 2014-2019 sangat menaruh perhatian terhadap pemajuan masyarakat Papua dan Papua Barat. ...
Wajah Ekonomi Kerakyatan Sangat Kental
Kita melihat wajah pemerintahan yang sangat peduli terhadap ekonomi kerakyatan. Wujudnya, adanya aliran dana ke desa, terciptanya desa mandiri dan penggunaan dana desa yang tepat. ...
Keamanan Membaik, Tapi Politik Masih Berisik
Meski teror meski ada, ancaman terorisme di Indonesia lebih rendah dibanding Jerman, Prancis, dan Inggris. Postur TNI lebih kuat. Tapi, masih ada gangguan hak sipil dan hak politik minoritas. ...
Ada Musik dan Salsa di Kampus Dramaga
Sivitas Akademika IPB meneken Deklarasi Komitmen Kebangsaan. Meski diterpa isu sebagai sarang radikal, IPB bertahan di level papan atas dan menjadi kampus terbaik ke-3 di Indonesia 2019. ...
Ambil Risiko Sesuai Rantai Komando
Berdiri di depan dalam langkah penanggulangan separatisme, HAM, isu khilafah, dan aksi-aksi massa, Jenderal Purnawirawan Wiranto menjadi sasaran ketidakpuasan banyak pihak. Ia memilih ambil risiko itu...
Suara Optimistis pun Datang dari Tanah Papua
Teknologi digital sudah menerobos batasan jarak dan waktu. Bahkan, internet yang cepat adalah keniscayaan yang harus dihadirkan di seluruh wilayah di Indonesia. ...
Lagi, Tiga Bandara Dikelola Angkasa Pura
Tiga bandara Kementerian Perhubungan dikerjasamakan dengan pihak Angkasa Pura. Selain agar pelayanan menjadi prima, juga bisa mengalihkan anggaran APBN untuk pembangunan dan perbaikan bandara di pelos...
Ke Wamena Mereka Kembali
Kota Wamena mulai pulih. Tapi masih sepi. Dari 41 ribu penduduk, 11 ribu mengungsi. Polisi terus mengejar para dalang. Aksi massa diorkrestasi dari LN, dilaksanakan organ bawah, termasuk kelompok bers...
Berlayar di Tataran Praksis dan Konseptual
Mewakili fraksi dengan 128 suara, Ahmad Basarah pegang posisi strategis di MPR. Kiprahnya akan mewarnai proses amandemen terbatas UUD 1945 yang akan dilakukan dalam waktu dekat. ...
Dibentuk Lembaga Pengelola Dana Lingkungan
Pemerintah Indonesia membentuk badan pengelola dana lingkungan hidup. Lembaga ini akan dikelola  secara akuntabel dengan tata kelola berstandar internasional, sehingga dapat menjadi sebuah solusi...