Bahasa | English


PEKERJA MIGRAN

Peran TKI Hadapi Krisis

18 September 2019, 03:41 WIB

Tenaga kerja migran memiliki peran signifikan untuk membantu pengisian devisa Indonesia. Perlu perhatian lebih serius terhadap peran dan fungsi mereka. Termasuk, perlindungan hukumnya.


Peran TKI Hadapi Krisis Rapat Koordinasi Pelayanan Publik dan Pelindungan WNI di Luar Negeri di Jakarta, Senin (9/9/2019). Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

Menghadapi dunia yang sedang diambas krisis, sepertinya Indonesia perlu terus menggali sumber-sumber devisa. Undangan orang agar mau menanamkan investasinya ke Indonesia memang sudah menjadi agenda penting yang tidak dapat ditunda. Sayangnya, hal ini masih terkendala dengan berbagai macam hambatan seperti perizinan yang memakan waktu lama.

Selain itu yang juga penting untuk dimaksimalkan adalah sektor pariwisata dan pendapatan dari Tenaga Kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri. Dua sektor inilah yang mampu membantu memperkuat ekonomi Indonesia.

Pertama, para TKI kita akan memberi masukan mata uang asing ke Indonesia yang pada akhirnya menjadi sumber devisa negara. Kedua, otomatis kebutuhan terhadap mata uang rupiah juga meningkat sehingga makin membuat mata uang Indonesia perkasa.

Dewasa ini jumlah TKI di luar negeri mencapai angka yang terhitung sangat banyak,yaitu sekitar 8 juta orang yang tersebar di berbagai negara di dunia ini. Sedangkan upah minimal yang mereka dapatkan selama bekerja di luar adalah sebesar 10 juta sampai 20 juta setahun per orang.

Dengan kata lain mereka mampu menghasilkan devisa negara yang masuk minimal dalam angka kisaran Rp160 triliun setahun. Tentu saja angka itu akan semakin membesar apabila TKI yang dikirim semakin memiliki kemampuan dan skill. Artinya, semakin terdidik TKI, akan semakin besar juga devisa yang didapatkan negara.

Jika kita bandingkan dengan besaran APBN yang angkanya mencapai Rp2400 triliun, artinya remitansi TKI ini nilainya bisa mencapai 7% dari ABPN kita. Sebuah sumbangsih yang luar biasa bagi Indonesia.

Melihat besarnya sumbangan devisa TKI, justru yang harus dilakukan pemerintah adalah memperbesar jumlah pengiriman TKI ke luar negeri. Tentu saja ini juga harus diikuti dengan pelatihan dan penambahan keterampilan bagi TKI agar harganya jauh lebih meningkat.

Saat ini sebagian besar TKI Indonesia memang masih dihiasi tenaga-tenaga nonterampil yang hanya mengisi posisi buruh kasar dan asisten rumah tangga. Sedangkan pengiriman tenaga terampil masih jauh dari harapan.

Tenaga terampil ini harus dilengkapi dengan kemampuan berbahasa di daerah tujuannya. Agar TKI memiliki kemampuan mengkomunikasikan masalahnya dengan pemerintah di negara tujuan. Tentu juga untuk menghindari adanya kesalahpahaman dengan majikan.

Selain itu, layanan-layanan untuk TKI, seperti di kedutaan besar berbagai negara, harus lebih ditingkatkat. Pejabat kedutaan besar bukan lagi memandang TKI sebagai warga kelas dua, tetapi harus menganggap mereka sebagai pahlawan devisa yang membantu mengisi kocek negara dengan pengorbanannya.

Yang paling penting, pemerintah harus memiliki komitmen untuk melakukan perlindungan hukum bagi TKI yang bermasalah dengan hukum di tempat kerjanya. Kita bisa mencontoh Filipina yang serius melindungi buruh migrannya di seluruh dunia.

Menurut data yang diperoleh Bank Dunia, Filipina telah mendapatkan devisa sebesar 10 miliar USD bahkan india telah mencapai angka 20 miliar USD dari tenaga kerja migrannya. Sedangkan angka untuk Indonesia hanya 5 miliar USD.

Data ini masih menunjukkan bahwa Indonesia belum bisa mengoptimalkan potensi dari sektor tenaga kerja Indonesia. Di lain sisi, data ini bisa saja menjadi pendorong semangat untuk meningkatkan ketenagakerjaan kita di dunia internasional.

Menghadapi bonus demografi ini, Indonesia bisa memanfaatkan peluang dengan mengisi kebutuhan tenaga kerja dunia dengan meningkatkan skill para buruh migrannya. Selain itu perlindungan hukum yang dibutuhkan TKI kita harus lebih dimaksimalkan.

Dunia memang sedang menghadapi krisis ekonomi. Ketika itu melanda, justru TKI-TKI kita tampil bak pahlawan yang bisa memberikan udara segar bagi perekonomian nasional. Karena itu, perhatian terhadap TKI harus lebih serius dibanding sebelumnya. (E-1)

Tenaga Kerja Migran
Ekonomi
Narasi Terpopuler
Pangkas Waktu Tempuh, Tol Cibitung-Cilincing Sudah 60%
IPC melalui anak perusahaannya PT Akses Pelabuhan Indonesia bekerja sama dengan Waskita Toll Road  membangun jalan Tol Cibitung-Cilincing. Tol ini diharapkan mampu memangkas waktu tempuh angkut b...
Sang Akademisi yang Politikus
Hidayat tercatat dalam tiga besar calon legislatif dengan suara terbanyak di peringkat tiga setelah Puan Maharani (PDIP) dan Cornelis, juga dari PDIP. ...
Kader Anshor Menyalip Mentor
Sebagai santri politik Jazilul Fawaid menjadi peraih suara terbesar di antara semua caleg PKB pada Pemilu 2019. Dua kali dipanggil KPK, toh kekayaannya paling kecil di antara pimpinan MPR yang lain. ...
Politik Dijalankan Dengan Hukum
Memegang disiplin hukum yang ketat, Wakil Ketua MPR Arsul Sani terbiasa memandang isu politik kenegaraan dalam perspektif hukum. Menonjol perannya dalam TKN Jokowi-Ma’ruf Amin. ...
Politisi Luwes yang Kembali Menjejak Kursi Pimpinan
Karier politiknya dimulai dengan menjadi pengurus PAN di bidang logistik PAN. Tidak butuh lama karier politiknya pun membumbung. ...
Indonesia Jadi Raja Digital Asia Tenggara
Menkominfo Rudiantara memberikan isyarat akan lahir satu perusahaan rintisan sebagai unicorn selanjutnya, yakni berasal dari sektor pendidikan. ...
Strategi Menangkap Masa Depan
Maritim adalah masa depan Indonesia. Oleh karena itu trilogi maritim atau jaringan pelabuhan yang terintegrasi (integrated port network) menjadi salah satu kuncinya. ...
Presiden Joko Widodo dan Jati Diri TNI
Jelas, perubahan paradigma ini bukan hanya merupakan konsekuensi logis dari perubahan zaman dan tatanan, dari Orde Baru ke Orde Reformasi, tetapi lebih dari itu. ...
Figur Generasi Ketiga yang Fleksibel, Lincah, dan Moderat
M Azis Syamsuddin menjadi Wakil Ketua DPR-RI. Ia mewakili generasi ketiga Golkar yang berkiprah pascareformasi. Tanpa beban masa lalu, Azis lincah dalam melangkah, tapi tetap dalam tradisi moderasi Go...
Pendiri Partai Gerindra dan Pekerja Senyap
Sufmi Dasco memang orangnya tidak suka publikasi yang berlebihan. Namun, justru itu yang menjadi faktor penentu keberhasilannya. ...