Bahasa | English


EKONOMI

Perang Dagang Masih Akan Berlanjut

10 December 2019, 08:03 WIB

Kebijakan proteksionis ala Donald Trump menjadi faktor utama terjadinya perang dagang dunia, yang memicu instabilitas ekonomi. Jikapun dalam Pemilu AS Oktober nanti Trump tidak terpilih, tak otomatis masalah selesai.


Perang Dagang Masih Akan Berlanjut Kapal membawa peti kemas di kawasan Pelabuhan Bongkar Muat Tanjung Priok milik Pelindo II, Jakarta, Kamis (28/11/2019). Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Banyak orang menilai, perang dagang yang terjadi antara Tiongkok dan AS dimulai dari kebijakan proteksionisme ala Presiden AS Donald Trump. Presiden asal Partai Republik ini memang membalikkan semua kesepakatan dagang dunia yang termaktub dalam WTO.

Globalisasi pasar yang tadinya didorong AS sebagai pelopor kapitalisme, justru kini malah dihambat. Yang menghambat adalah AS sendiri melalui kebijakan perdagangan Trump yang memusuhi semua negara yang memiliki neraca dagang positif.

Tentu saja yang paling kena dampaknya adalah Tiongkok. Negara dengan kekuatan ekonomi raksasa ini memiliki kemampuan produksi yang luar biasa. Barang-barang produksi Tiongkok gencar memasuki AS. Bahkan, handphone produksi Tiongkok, seperti Huawei, dalam penjualan dunia berhasil menyalip iPhone. Huawei menguasai 17% pasar, sedangkan iPhone hanya menguasai 11%.

Melihat ancaman tersebut, AS mengambil kebijakan memblacklist Huawei. Tiongkok pun membalas dengan mengurangi sangat signifikan pasar iPhone di negeri tirai bambu itu.

Bukan hanya pasar handphone. Hal ini juga terjadi terhadap pasar besi baja, kendaraan bermotor, elektronik dan sebagainya. Akibatnya kondisi ekonomi dunia agak susah diprediksi karena hambatan kebijakan bisa saja dengan cepat mendistorsi pasar.

Orang berharap, kondisi ini akan berubah setelah Oktober 2020. Pasalnya pada saat itulah terjadi Pemilihan Presiden di AS. Anggapannya, jika Trump dikalahkan, kebijakan AS akan sama sekali berbeda. Dan itu akan dengan cepat mengakhiri perang dagang AS-Tiongkok.

Namun sepertinya tidak semudah itu. Kementerian Keuangan RI, misalnya, memprediksi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok akan tetap berlanjut meski Donald Trump kalah dalam pemilihan umum (pemilu) tahun depan. Kalau ramalan benar, ekonomi global masih berpotensi melamban pada 2020.

AS dan Tiongkok memang sedang dalam masa perundingan untuk menyepakati perjanjian perang dagang fase pertama. Namun, kedua negara ini belum juga meneken kesepakatan tersebut.

Trump sebelumnya menyatakan penandatanganan kesepakatan kemungkinan besar baru terjadi setelah pemilu di AS tahun depan. Sementara itu, pasar menanti kedua negara segera menyepakati perjanjian perdagangan agar ekonomi global pulih.

Hal ini juga yang menjadi sorotan pemerintah. Ditambah, situasi di Eropa juga tidak bisa dibilang cukup baik. Rencana Inggris untuk keluar dari keanggotaan Uni Eropa atau disebut Brexit disebut-sebut akan mempengaruhi situasi politik dan ekonomi di Eropa dan global. Hasilnya ekonomi Indonesia masih cukup menantang tahun depan.

Di tengah situasi ini, pemerintah akan menggenjot agar proses penerbitan undang-undang (UU) terkait omnibus law bisa segera rampung. UU itu khususnya mengenai cipta lapangan kerja.

Sementara itu, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini hanya akan berkisar 3 persen, lebih rendah dari tahun lalu yang mencapai 3,6 persen. Perlambatan juga terjadi pada pertumbuhan ekonomi AS yang diramal merosot dari 2,9 menjadi 2,3 persen dan Tiongkok dari 6,6 persen menjadi 6,2 persen.

Imbasnya, permintaan ekspor sejumlah negara di dunia, termasuk Indonesia, turun. Menurut data laju volume perdagangan dunia cuma tumbuh 2,6 persen hingga 3 persen tahun ini, di bawah beberapa tahun lalu yang biasanya di atas pertumbuhan ekonomi.

Penurunan volume perdagangan global ini berdampak pada penurunan harga komoditas ekspor. Ini berdampak ke ekonomi Indonesia. 2018, harga komoditas ekspor kita turun 2,8 persen. 2019, turun lebih dalam 4 persen.

Memang AS dan Tiongkok masih berupaya untuk menyelesaikan kesepakatan perdagangan (trade deal) fase I. Namun, pelaku pasar pesimistis kesepakatan itu terjadi sebelum akhir tahun.

AS dan Tiongkok merupakan mitra dagang utama Indonesia. Konsekuensinya, pelambatan pertumbuhan ekonomi di kedua negara akan menekan permintaan ekspor dalam negeri.

Ia mengingatkan setiap penurunan pertumbuhan ekonomi AS sebesar 1 persen, pertumbuhan ekonomi Indonesia merosot 0,05 persen. Kemudian, setiap penurunan laju ekonomi Tiongkok, laju pertumbuhan ekonomi terseret 0,27 persen.

Artinya, setiap 1 persen penurunan pertumbuhan ekonomi AS dan Tiongkok, ekonomi Indonesia turun 0,32 persen. (E-1)

Pertumbuhan Ekonomi
Sektor Perdagangan
Narasi Terpopuler
Merdeka Sinyal hingga Pelosok Negeri
Tahun 2020 pemerintah menargetkan seluruh desa dan kelurahan akan terjangkau sinyal 4G. Tersisa 12.548  yang akan dirampungkan saat ini. ...
Harta Tersembunyi di Bumi Cenderawasih
Kunci keberhasilan menekan kebakaran lahan gambut di Papua adalah pelibatan tokoh setempat. Melalui mereka, warga diingatkan tentang bahaya membakar lahan. ...
Menata Riset agar Berdaya Saing
Prioritas Riset Nasional merupakan instrumen kebijakan untuk mensinergikan kegiatan riset dan pengembangan kementerian/lembaga. ...
Meruncingkan Ujung Tombak Transformasi Ekonomi Nasional
Lima tahun ke depan, pertumbuhan ekonomi kita tidak lagi berbasis pada bahan mentah, tetapi bertransformasi menjadi nilai tambah. ...
Momentum Perbaiki Layanan Kesehatan Nasional
Pemerintah menyebut pandemi Covid-19 menjadi momentum bagi perbaikan sistem kesehatan nasional. ...
Tetap Wujudkan Kegembiraan Anak di Masa Pandemi
Kesehatan fisik anak, baik melalui pemenuhan gizi anak dan imunisasi dasar, serta kesehatan mental anak merupakan hal yang perlu diperhatikan menghadapi adaptasi kebiasaan baru masa pandemi. ...
Korporasi Padat Karya pun Bernapas lagi
Fasilitas penjaminan kredit ini mampu mendorong sektor swasta menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi nasional, melengkapi dorongan dari belanja pemerintah. ...
Memompa Solidaritas Sosial di Tengah Pandemi
Momentum ibadah kurban tahun ini diharapkan dapat membawa maslahat secara luas dari sisi sosial bagi masyarakat yang terhimpit ekonomi karena pandemi. ...
Memotong Antrean Beli Tiket Feri
Aplikasi Ferizy memudahkan para pelancong yang ingin bepergian ke kawasan wisata di Banyuwangi, Gunung Bromo, Bali, Banten, maupun pesisir Pantai Lampung. ...
Investasi Tetap Bergeliat di Tengah Pandemi
Investasi di sektor industri tumbuh di tengah pandemi Covid-19. Dari total 50 investor yang masuk ke kawasan industri sampai Juni 2020, sebanyak 29 investor kategori penanaman modal asing (PMA) dan 21...