Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


KELAUTAN DAN PERIKANAN

Produk Laut Kita Tetap Nomor Satu di Dunia

Wednesday, 8 May 2019

Indonesia telah menjadi eksportir terbesar tuna di dunia. Indonesia memiliki keunggulan, antara lain, sebagai pemimpin dunia dalam segi legalitas dan traceability komoditi hasil laut.


Produk Laut Kita Tetap Nomor Satu di Dunia Ikan tuna Indonesia sukses merajai dunia. Sumber foto: Antara Foto

Dubes Indonesia di Oslo Todung Mulya Lubis mengatakan, komoditi hasil laut Indonesia semakin mendominasi pasar dunia. Saat ini, Norwegia mengimpor beberapa produk ikan laut, seperti barramundi, tuna, red snapper, macarrel dan komoditi hasil laut lainnya, yakni kepiting (king crab), udang (emperor prawn atau shrimp), cumi-cumi, lobster, dan rumput laut.

Gencarnya pemberantasan IUU Fishing dan praktek penangkapan ikan (termasuk budidaya ikan) yang berkelanjutan menjadikan komoditi hasil laut Indonesia  semakin mendominasi pasar dunia di masa mendatang. Seperti diakui dunia, Indonesia termasuk pelopor penumpasan  Illegal, Unreported, Unregulated (IUU) Fishing dan pioneer dalam kerangka kerja sama The Agreement on Port State Measures (PSMA) FAO.

Todung Mulya Lubis saat berkunjung ke perusahaan Importir Norwegia Sletten Norge AS (sektor seafood) dan Scanesia AS (produk makanan/minuman kemasan) mendorong peran aktif SN-AS dalam meningkatkan volume dan nilai ekspor komoditi hasil laut Indonesia di Eropa, khususnya di Norwegia. Seiring itu dia juga mengundang partisipasi SN-AS dalam pameran perdagangan Trade Expo Indonesia (TEI) yang akan diadakan di ICE BSD Banten, pada Oktober mendatang, sekaligus pelaksanaan B to B Meeting dan mengunjungi sentra-sentra penangkapan, budidaya, pengolahan ikan lestari (sustainable fisheries) di Indonesia.

Pada pertemuan di kantor pusat Sletten Norge AS (SN-AS) di Oslo, CEO SN-AS Mani Sletten menyampaikan informasi mengenai beberapa produk yang selama ini diimpor langsung (direct) dari Indonesia, yaitu berbagai jenis ikan laut (barramundi, tuna, red snapper, dan macarrel) serta komoditi hasil laut lainnya, seperti kepiting (king crab), udang (emperor prawn/shrimp), cumi-cumi, lobster dan rumput laut.

Proses pembersihan, pemotongan, pengepakan (vacuum), dan pendinginan atau pembekuan komiditi  dilakukan di Indonesia selanjutnya dikirim ke Norwegia dengan kapal laut.

Volume rata-rata impor ke Norwegia sekitar 10-20 ton per minggu. SN-AS mendistribusikan produk yang diimpornya kepada whole-sellers di seluruh wilayah Norwegia dan Nordik, serta negara Eropa lainnya.

Kedaulatan Negara

Soal posisi Indonesia sebagai pengekspor ikan nomor satu itu juga dikatakan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Dalam salah satu talkshow bertajuk “Semangat Memperkuat Budaya untuk Bela Negara Generasi Milenial” di Universitas Sahid Jakarta, Selasa (9/4/2019), dia menyatakan bahwa usaha untuk menjaga kedaulatan negara dibuktikan dengan naiknya peringkat Indonesia sebagai pemasok tuna terbesar di dunia.

"Sekarang, Indonesia pemasok tuna terbesar  di dunia, pemasok kepiting nomor 1 di Amerika. Neraca perdagangan perikanan kita juga nomor 1 di Asia Tenggara," ujarnya.

Sekitar satu dari enam tuna yang ditangkap di seluruh dunia, selama tiga tahun terakhir, berasal dari Indonesia, yang merupakan 16 persen dari produksi tuna dunia. Sebagai penghasil tuna terbesar, Indonesia menjadi pemasok utama pasar Jepang, Amerika, Uni Eropa, Korea, dan Hong Kong.

Sementara itu dalam catatan Perum Perindo, transaksi ekspor ke Jepang pada 2018 sebanyak 298,7 ton atau senilai 4,45 juta dolar AS. Negeri Sakura merupakan salah satu negara tujuan eskpor Perum Perindo, selain Amerika Serikat, Timur Tengah, dan beberapa negara di Eropa.

Pada kuartal yang sama tahun ini, Perum Perindo juga menjalin kerja sama dengan perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat, ATA Group Companies Inc.

Keduanya sepakat bekerja sama dalam hal perdagangan dan pengembangan bisnis perikanan. ATA Group Companies Inc membeli ikan dari Perum Perindo senilai 150 juta dolar AS. Jenis produk perikanan yang diminati yaitu kerapu, udang, kepiting, dan tuna.

Sedangkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebutkan ekspor hasil perikanan Januari-Oktober 2018 sebanyak 915.000 ton, naik jika dibandingkan periode yang sama pada 2017 sebesar 862.000 ton.

Sedangkan dari sisi nilai, Januari-Oktober 2018 mencapai 3,99 miliar dolar AS, naik jika dibandingkan pada periode yang sama 2017 yang mencapai 3,61 miliar dolar AS.

Sebagaimana diwartakan, FAO memprediksi pasar seafood dunia pada 2024 mencapai 240 juta ton, di mana 160 juta ton di antaranya adalah dari perikanan budidaya. (E-2)

Ekonomi
Komoditas
Narasi Terpopuler
Pengembangan Blok Masela yang Lama Terjeda
Isu pengembangan blok Masela sudah lama tak terdengar. Berbagai kendala menghadap laju proyek ini. Investor pun diingatkan untuk memperbarui komitmennya, jika tak ingin dibatalkan. ...
Infrastruktur Mulus Dukung Mudik Lancar
Animo masyarakat melakukan mudik lebaran kali ini lebih besar dari pada tahun sebelumnya. Infrastruktur yang memadai memungkinkan mudik melalui jalur darat kian menjadi primadona. ...
Indeks Pembangunan Manusia Terus Meningkat
IPM Indonesia 2018 di atas 70 tersebut mengindikasikan bahwa pembangunan manusia Indonesia masuk kategori tinggi. ...
Mobilitas Pemudik Kembali ke Asal
Pemerintah sudah mengantisipasi ritual mudik tahunan ini sejak jauh-jauh hari. ...
Tiga Kades di Ajang Internasional
Tiga kepala desa (kades) mewakili pemerintah tampil di forum internasional. Standing aplaus pun diberikan oleh peserta yang hadir seusai presentasi. Mereka bercerita soal manfaat dana desa dan pengelo...
Penggunaan Panas Bumi Terus Digenjot
Bangsa ini patut berbangga karena negara ini tercatat sebagai pengguna listrik panas bumi terbesar ke-2 di dunia, setelah Amerika Serikat. ...
Rajawali Bandung Terbang Mendunia
Dalam versi militernya, CN-235-220 dan NC-212i andal sebagai penjaga pantai, ngarai, dan  medan bergunung-gunung. Mampu beroperasi siang atau malam dalam segala cuaca. Reputasinya diakui dunia in...
Calon Ibu Kota itu di Gunung Mas atau di Bukit Soeharto
Calon ibu kota negara sudah mengerucut ke dua pilihan, yakni Gunung Mas (Kalimantan Tengah) dan Bukit Soeharto (Kalimantan Timur). Namun sinyal kuat sudah menunjuk ke Gunung Mas. ...
Penggunaan Biodiesel Semakin Meluas
B100 itu merupakan biodiesel dengan kandungan 100% bahan bakar nabati. ...
Indonesia Tak Lagi Ekspor Coklat Mentah
Indonesia telah menjadi penyuplai bahan baku kakao terbesar ketiga di dunia.  Dan Indonesia adalah negara unggulan eksportir barang jadi produk untuk kakao. ...