Bahasa | English


INDUSTRI

Roda Manufaktur Bergerak Menuju Pemulihan

11 September 2020, 07:33 WIB

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus G Kartasasmita berjanji mendorong perbaikan aktivitas di sektor manufaktur pada semester II/2020. Arus konsumsi akan membaik bila penyebaran Covid-19 lebih terkendali.


Roda Manufaktur Bergerak Menuju Pemulihan Suasana perakitan kendaraan sebuah pabrik otomotif di Karawang, Jawa Barat. Foto: Antara Foto/Rizky Andrianto

Mesin-mesin industri manufaktur Indonesia mulai berdenyut lebih kencang menuju kecepatan normal. Indikatornya terlihat dari data Purchasing Managers’ Index (PMI) yang dirilis IHS Markit, Selasa (1/9/2020), yang menunjukkan bahwa indeks manufaktur Indonesia pada Agustus menjadi 50,8, naik dari posisi Juli 2020 yang masih di level 46,9.

Kenaikan PMI Indonesia memberikan sinyal bahwa sektor industri beranjak ke jalur positif pemulihan. Gerakannya lebih cepat dibanding beberapa negara Asia lainnya. Jepang masih ditahan di posisi 46,6 dan Thailand pada level 49,7 pada Agustus dan lebih rendah 3,8 poin pada Juli, masih sejengkal lagi untuk ke posisi normal. Kondisi normal ditandai oleh PMI yang masuk angka 50. Di atas 50 berarti industri tumbuh.

Berkaitan rilis PMI tersebut, Kepala Tim Ekonom IHS Markit Bernard Aw mengemukakan, peningkatan PMI pada medio kuartal III/2020 ini akan sangat bergantung pada pasar lokal, mengingat pasar global belum membaik. Maka, Bernard mengingatkan jangan terlalu berpuas diri, karena pertumbuhan permintaan pada Agustus ini merupakan hasil dari permintaan yang tertunda karena pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

“Permintaan harus terus membaik dalam beberapa bulan ke depan, tapi yang dikhawatirkan (selain kemungkinan pengetatan PSBB), adalah peningkatan pengangguran yang dapat merusak pemulihan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (1/9/2020).

Toh, kenaikan PMI Indonesia itu disambut antusias oleh Menperin Agus G Kartasasmita.  Agus menilai, sektor industri manufaktur telah menunjukkan geliat agresif di tengah tekanan dampak pandemi Covid-19 yang sudah berjalan lebih dari enam bulan ini.

“Ini merupakan kabar gembira, karena salah satu indikator perekonomian kita mulai merangkak naik. Capaian ini harus tetap dijaga dan terus ditingkatkan dengan tetap fokus dan kerja keras dalam upaya pemulihan ekonomi nasional,” ujar Agus dalam keterangan tertulisnya Selasa (1/9/2020).

Namun, Agus mengingatkan, aktivitas sektor industri harus tetap memperhatikan penerapan protokol kesehatan yang ketat. “Kami telah mewajibkan kepada perusahaan agar aktif melaporkan penerapan protokol kesehatan secara online melalui portal Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas).

 

Keluarkan Instruksi

Dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) sebelumnya telah mengeluarkan instruksi khusus, yang dikemas sebagai “lima langkah transformasi sektor industri” yang perlu diperhatikan pelaku industri.

Kelima langkah itu ialah, pertama, resolve atau menangani situasi pandemi di lingkungan perusahaan termasuk partisipasi karyawan dalam penerapan protokol kesehatan. Kedua, resilience atau upaya memperkuat perusahan agar bisa bertahan. Ketiga, return atau kembali menjalankan aktivitas dengan mempertimbangkan aspek yang penting bagi masing-masing perusahaan. Ketiga langkah itu juga harus ditindaklanjuti perusahaan dengan reimagination dan reform.

Tidak berhenti di situ, sejumlah regulasi pun telah dikeluarkan agar kelangsungan industri tetap berjalan dan produktif, meski wabah pandemi masih belum menunjukkan tanda-tanda melandai. Misalnya, Surat Edaran (SE) Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Operasional Pabrik dalam Masa Kedaruratan Kesehatan Masyarakat. Selain itu, ada juga SE Nomor 7 tentang Pedoman Pengajuan Permohonan Perizinan Pelaksanaan Kegiatan Industri dalam Masa Kedaruratan Kesehatan Masyarakat. Yang terakhir SE Nomor 8 Tahun 2020 tentang Kewajiban Pelaporan bagi Perusahaan Industri dan Perusahaan Kawasan Industri yang Memiliki Izin Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri.

Tentu, tak mudah melakukan lima langkah pengamanan seperti anjuran Menperin. Namun, laporan survei IHS Markit mengenai kinerja industri manufaktur pada bulan lalu itu cukup menggembirakan di tengah belum membaiknya perekonomian nasional secara keseluruhan.

Dari data PMI itu sendiri tampak bahwa sebetulnya kepercayaan bisnis meningkat sejak awal tahun ini, tapi kemudian ambruk pada Maret, April, dan Mei, dan kemudian mulai bangkit sejak Juni hingga dapat mencapai posisi 50,8 di bulan Agustus. Optimistis perusahaan mulai menguat sejak dibukanya kembali ekonomi nasional dan global secara bertahap Juni lalu.

Permintaan dari dalam negeri perlahan meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya, diikuti juga dengan pengapalan ke luar negeri. Meski belum terlalu besar, ekspor cukup membantu kinerja sektor pengolahan nonmigas.

Menurut laporan Badan Pusat Statistik, pada Juli total ekspor tercatat naik 14,33 persen dibandingkan dengan Juni. Bila dilihat secara keseluruhan, data PMI itu juga mengisyaratkan ada peluang  perbaikan di triwulan ketiga. Meski demikian, tidak bisa dipungkiri efisiensi dengan mengurangi jumlah tenaga kerja sebagai upaya bertahan dalam menghadapi pandemi Covid-19 masih tetap dilakukan oleh sebagian besar perusahaan.

Jalan untuk benar-benar pulih masih panjang. Sejumlah prediksi yang cenderung pesimistis pun masih mewarnai perjalanan ekonomi bangsa ini. Penyebabnya, hingga saat ini jumlah warga yang positif virus corona setiap harinya masih bertambah signifikan.

Padahal, kegiatan produksi manufaktur tidak terlepas dari konsumsi masyarakat. Langkah pemerintah mengguyur berbagai insentif untuk meningkatkan daya beli masyarakat dari bantuan langsung tunai, subsidi gaji, hingga paket sembako diharapkan dapat menjadi solusi.

Meski harus diakui, kontribusi terbesar penyumbang konsumsi rumah tangga masih berasal dari kelas menengah atas, dan untuk mendorong golongan ini membelanjakan uangnya adalah dengan memberi kepercayaan terhadap penanganan pandemi Covid-19.

Menjaga optimistis masyarakat akan penanganan dan pemulihan ekonomi wajib dilakukan pemerintah, termasuk langkah-langkah strategis dan fokus dalam mengatasi penyebaran wabah Covid-19. Pengendalian penularan Covid-19 menjadi kunci dalam menumbuhkan keyakinan masyarakat sebelum hadirnya vaksin. Di sisi lain, yang tak kalah pentingnya ialah kesadaran setiap orang dalam menjaga diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

Kita harus meyakini bahwa roda ekonomi tidak akan berputar baik bila warga negara tak ikut andil dalam menekan penularan virus ini. Selanjutnya, untuk menggenjot aktivitas produksi manufaktur, pemerintah juga diharapkan melakukan pemetaan bidang usaha yang menjadi andalan dalam kondisi saat ini.

Sektor yang bisa dijadikan tulang punggung ekonomi seperti industri komoditas, kimia, farmasi, dan makanan minuman harus didorong optimal. Pengendalian penyebaran Covid-19 dan penciptaan permintaan di dalam negeri menjadi kunci dalam menjaga momentum PMI hingga akhir tahun.

Janji Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita yang akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendorong perbaikan aktivitas di sektor manufaktur pada semester II/2020 tentu patut diapresiasi dan ditunggu realisasinya.

Pasalnya, ini menyangkut agar momentum pertumbuhan PMI bisa tetap terjaga hingga akhir 2020. Selain menjaga pelaksanaan program-program pemulihan ekonomi nasional (PEN) berikut insentif bagi sektor manufaktur bisa terserap dengan maksimal.

 

 

 

Penulis: Firman Hidranto
Editor: Putut Tri Husodo/Elvira Inda Sari
Redaktur Bahasa: Ratna Nuraini

Covid-19
Industri
Industri Manufaktur
Kementerian Perindustrian
LawanCovid19
Menperin
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita
Perindustrian
Narasi Terpopuler
Tertahan di Hulu, Hilir Jadi Pilihan
Menteri ESDM mengatakan target serapan pasar domestik untuk batu bara bisa tercapai. Menteri Luhut Binsar Panjaitan menawarkan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah. ...
Potret Rinci Dampak Pandemi
Sekitar 82% dari semua unit usaha di Indonesia mengalami penurunan pendapatan akibat pandemi. Sedangkan 35% harus mengurangi pegawai. Yang tumbuh di tengah pandemi hanya 2%. ...
Panas Bumi Tumpuan Energi Masa Depan
Panas bumi diyakini bakal menjadi salah satu sumber penting penyediaan energi listrik ke depan. Baru 8,9 persen potensi alam yang termanfaatkan. ...
Bangkit Setelah Diterjang Dua Badai
Setelah dihantam badai ganda, perang dagang Amerika vs Tiongkok dan pandemi, permintaan timah di pasar dunia merambat naik. Harga timah bangka bergerak menuju normal. ...
Pemulihan Ekonomi Tetap jadi Prioritas
Pagu anggaran Kementerian Perhubungan (Kemenhub) naik tipis di 2021. Tapi masih jauh dari perencanaan sebelumnya. Sehingga perlu penajaman program prioritas. ...
Mengejar Penyerapan, Meluaskan Sasaran
Bank Dunia menilai komitmen Indonesia cukup baik dalam penanganan Covid-19 dengan meningkatkan program perlindungan sosial reguler sebesar 28,01% menjadi 59,19%. ...
Luapan Badai nan tak Kunjung Melandai
Asia Selatan-Tenggara menjadi zona paling aktif dalam penularan Covid-19. Eropa kembali menggeliat naik. Amerika, Afrika, dan Pasifik Barat menyusut. Angka kematian menurun. ...
Solusi Mengatasi Ketimpangan Sinyal
Pencanangan Preparatory Work Agreement (PWA) Proyek Satelit Multifungsi Republik Indonesia (Satria) menjadi bukti investasi telekomunikasi di Indonesia masih bergairah. ...
Buah Segar Indonesia Melaju ke Pasar Dunia
Selama wabah pandemi permintaan buah dan sayur cukup meningkat. Masyarakat mencari makanan sehat untuk meningkatkan daya tahan tubuh. ...
Menanti Tanam Jagung Panen Sapi
Memanfaatkan lahan keringnya, Pemprov NTT menggalakkan gerakan Menanam Jagung Panen Sapi. Targetnya, ketahanan pangan menguat, pakan sapi tersedia, dan rakyat lebih sejahtera. ...