Bahasa | English


DAMPAK COFID-19

Stimulan Pendongkrak Sektor Pariwisata

15 Febuary 2020, 10:52 WIB

Bangsa ini cukup liat untuk mensiasati kondisi pascawabah virus corona. Masih banyak peluang yang bisa diraih dengan hilangnya peluang pasar wisatawan asal Tiongkok.


Stimulan Pendongkrak Sektor Pariwisata Sejumlah wisatawan membawa barang bawaan setibanya di Terminal Kedatangan Internasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Rabu (22/1/2020). Selama tahun 2019, tercatat sebanyak 6.298.852 wisatawan mancanegara (wisman) dari berbagai negara tiba di Bali melalui Bandara Ngurah Rai, meningkat 171.415 orang wisman atau tumbuh sebesar tiga persen jika dibandingkan dengan catatan tahun sebelumnya. Foto : ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/foc.

Wabah virus corona telah memberikan dampak yang luar biasa bagi ekonomi global. Industri pariwisata salah satu yang terkena imbas dari virus berbahaya yang bermula dari Wuhan, Tiongkok itu.

Dampak dari virus itupun luar biasa. Hanya dalam waktu dua bulan, virus ini telah menyebar ke-28 negara, mulai dari tetangganya Korea, Jepang, Taiwan, Hong Kong, Asean, hingga Asia Selatan, Eropa, bahkan Kanada dan Amerika Serikat (AS).

Sebanyak 49 orang telah terinfeksi di sembilan negara Eropa. Di Kanada dan AS masing-masing 7 dan 13 orang. Di Hong Kong ada 42 kasus infeksi, Singapura 45 kasus, Thailand 33 kasus, dan Malaysia 11 kasus. Sejauh ini, angka kejangkitan di Indonesia masih nol. Di luar Tiongkok hanya ada dua kasus pasien meninggal, yakni di Filipina dan Hong Kong.

Kita pun mengapreasiasi kerja dunia berkaitan dengan wabah itu. Bahkan, Pemerintah Tiongkok pun dinilai cukup kooperatif dalam menangani virus dari Wuhan itu. Otoritas Kesehatan Tiongkok memberikan laporan lengkap dan terbuka atas pandemi yang kini bernama Covid-19 tersebut.

Ada banyak angle yang bisa diambil terkait pembahasan seputar dampak Covid-19. Salah satunya yang berhubungan dengan industri turisme dalam negeri dan upaya penyelamatan industri demi mengamankan devisa negara.

Dampak wabah Covid-19 bagi industri pariwisata, khususnya Indonesia tentu sangat berpengaruh. Bayangkan, sejumlah pembatalan kedatangan wisatawan asal Tiongkok yang terjadi sejak wabah virus diumumkan. Lengangnya kursi pesawat, begitu juga hotel, cruise operator, dan potensi bisnis lainnya pun menjadi lepas.

Sebagai gambaran, realisasi kunjungan wisatawan mancanegara selama 2019 mencapai 16,3 juta dari target 18 juta. Dari total kunjungan itu, sebanyak 12% wisatawan berasal dari Tiongkok, atau setara dengan 1,95 juta orang.

Porsi kunjungan itu memang kecil dibandingkan dengan total kunjungan orang Tiongkok yang berpergian ke seluruh dunia, yakni mencapai 150 juta orang. Potensi wisatawan Tiongkok untuk datang ke Indonesia sebenarnya masih bisa diambil. Sayangnya, virus Corona tengah mewabah, dan potensi itu lenyap, tak teraih.

Namun, pertanyaannya apakah kita kemudian harus menyesali kondisi itu? Tentu tidak. Bangsa ini cukup liat untuk mensiasati kondisi. Masih banyak peluang yang bisa diraih dengan hilangnya peluang pasar wisatawan asal Tiongkok.

Apalagi, sektor pariwisata merupakan andalan bagi negara ini untuk menghasilkan devisa. Adanya wabah virus corona juga telah menjadi perhatian Presiden Joko Widodo dan telah mewanti-wanti menterinya untuk memastikan pendemik itu tak masuk ke Indonesia.

Bahkan dalam satu kesempatan dalam wawancara dengan BBC Indonesia, Joko Widodo mengingatkan betapa masalah virus itu telah menjadi perhatiannya. “Isu ini sangat pentingan sekali buat Indonesia karena negara ini memiliki banyak titik destinasi turis, yang itu memerlukan sebuah persepsi. Itu memerlukan sebuah imej bahwa Indonesia tidak ada virus corona,” ujar Joko Widodo, Kamis (13/2/2020).

“Saya sampaikan kepada para menteri agar betul-betul dijaga agar tak masuk ke Indonesia, karena sekali masuk, apalagi ke destinasi wisata, saya kira ini akan sangat mengganggu income dan devisa dari sektor turisme.”

Dampak wabah itu juga dirasakan oleh Plt Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Nufransa Wira Sakti di Jakarta, Jumat (14/2/2020). Menurutnya, dampak virus corona sangat terasa pada pergerakan arus orang dari Tiongkok ke Indonesia setelah diberlakukannya larangan penerbangan dari atau ke negara tersebut.

 

Turun Drastis

Pergerakan penumpang masuk asal Tiongkok pernah mencapai puncak pada 25 Januari 2020 dan mengalami penurunan drastis hingga saat ini jumlah penumpang Tiongkok mencapai kurang dari 500 orang.

Sebagai penanggung jawab sektor pariwisata, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio pun sangat menyadari dampak bagi sektor yang diampunya.

Bahkan, bagi maskapai penerbangan, Wishnutama mendorong agar maskapai segera mengisi kekosongan slot penerbangan di sejumlah bandara Tanah Air menyusul keputusan pemerintah yang menutup penerbangan dari dan ke Tiongkok sejak Rabu (5/2/2020).

Dalam kesempatan Airlines Coordination Meeting di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona di Jakarta, Rabu (12/2/2020), Wishnutama menjelaskan “adanya travel warning dan larangan penerbangan terkait penyebaran virus corona berdampak buruk terhadap industri penerbangan dan juga pariwisata.”

“Semua orang terdampak karena masalah ini. Kita sama-sama mendengarkan, menerima masukan, dan mencari solusi. Bagaimana kita dapat melihat opportunity ke depan," kata Wishnutama.

Dalam rangka itu, pemerintah pun siap memberikan stimulan berupa insentif yang diberikan kepada maskapai yang mengisi slot kosong penerbangan di sejumlah bandara Tanah Air.

Tidak itu saja, Kemenparekraf juga berencana memberikan bantuan promosi dengan membuat bundled package penerbangan, akomodasi, dan atraksi dengan harga yang kompetitif, bekerja sama dengan Online Travel Agent (OTA) dan juga Travel Agent/Tour Operator (TA/TO).

Selain itu, pemerintah juga siap memberikan bantuan promosi dengan skema joint promotion. Apalagi, negara ini juga memiliki lima destinasi pariwisata super prioritas, Kelima destinasi itu adalah Danau Toba, Borobudur, Likupang, Labuan Bajo, dan Mandalika. Kesemua destinasi itu layak jual dan bisa menggantikan destinasi turis yang telah mengagendakan berwisata ke Tiongkok.

Adanya wabah virus itu harus menjadi peluang bagi sektor pariwisata negara ini untuk menangkap peluang pasar dari berbagai belahan dunia lainnya, seperti pasar Eropa, Amerika Utara, dan Timur Tengah.

Bahkan bila perlu disiapkan kebijakan fiskal dan nonfiskal untuk menstimulasi sektor pariwisata tersebut. Inilah saatnya, semua pemangku kepentingan bergandengan tangan dan bahu-membahu untuk melihat wabah ini sebagai peluang dan menjadikan negara ini sebagai destinasi wisata global. Wonderful Indonesia.

 

Penulis : Firman Hidranto
Editor : Ratna Nuraini

Narasi Terpopuler
Lagi, Terobosan yang Kian Memudahkan
Pemerintah melakukan percepatan pembentukan Perda Rencana Tata Ruang dan pemberlakuan Online Single Submission di 57 kabupaten dan kota daerah tujuan investasi.  Semua disiapkan untuk mempermudah...
Yang Pergi dan Diharap Tidak Kembali
Pemerintah menutup pintu bagi bekas pendukung ISIS, kecuali yang di bawah 10 tahun. Otoritas Suriah tidak mau terlalu lama mengurusnya. Sebagian mereka seperti dibiarkan kabur. Badan internasional per...
Penghiliran Semakin Digenjot
Regulasi yang mengatur sektor itu perlu segera dibenahi dan diselaraskan sehingga memenuhi tuntutan bisnis di masa depan dan ekonomi bangsa ini. ...
Dam Kering di Hulu untuk Jakarta
Bendungan kering (dry dam) di Ciawi dan Bendungan Sukamahi hanya akan membantu menahan banjir Jakarta. Karena banyak pekerjaan lain di Jakarta yang perlu dilakukan secara bersamaan. ...
Babak Baru Kerja Sama Ekonomi Indonesia-Australia
DPR RI mengesahkan Rancangan Undang-Undang tentang Persetujuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia/IA-CEPA menjadi undang-undang. UU itu diharapkan membawa kemajuan pada perdagangan ant...
Sinar Gamma di Bawah Pohon Mangga
Di Indonesia ada sekitar 1.200 lembaga yang mengoperasikan piranti radioaktif. Sebagian besar rumah sakit. Cemaran radiasi Cs-137 di Serpong diduga dari limbah piranti tersebut. Tak ada kebocoran di R...
Inikah Resep Mujarab Pemusnah Wabah?
Memasuki pekan ketiga Februari 2020, berarti sudah satu bulan berlalu sejak pertama virus Covid-19 menjangkiti manusia. Para ahli bekerja siang dan malam demi menemukan vaksin penangkal atau obat peny...
Berlipat Ganda dalam Sembilan Dasawarsa
Sepanjang 1930-2010 jumlah penduduk Indonesia berlipat 4,4 kali. Dekade pertama reformasi mencatat laju pertumbuhan penduduk lebih tinggi dari 1990-an. ...
Tertarik dengan Indonesia? Datang Saja ke BKPM
Inpres 7 tahun 2019 diberlakukan, semua urusan investasi hanya di BKPM. Pemerintah juga menerbitkan enam paket pendorong investasi. Semua untuk mendongkrak peringkat Ease of Doing Business (EODB) memb...
Roman dan Satire di Tengah Ancaman Corona
Kesan sarat kemewahan selalu melekat pada perjalanan wisata dengan kapal pesiar. Termasuk moda tersebut harus dialihfungsikan menjadi karantina bagi penyakit mematikan virus Corona Virus Desease 2019 ...