Bahasa | English


PIMPINAN DPR

Figur Generasi Ketiga yang Fleksibel, Lincah, dan Moderat

9 October 2019, 04:05 WIB

M Azis Syamsuddin menjadi Wakil Ketua DPR-RI. Ia mewakili generasi ketiga Golkar yang berkiprah pascareformasi. Tanpa beban masa lalu, Azis lincah dalam melangkah, tapi tetap dalam tradisi moderasi Golkar.


Figur Generasi Ketiga yang Fleksibel, Lincah, dan Moderat M Aziz Syamsuddin (kedua kiri) usai pelantikan dalam Rapat Paripurna ke-2 Masa Persidangan I Tahun 2019-2020 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (1/10/2019). Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

Percaya diri, tangkas beradu argumen, dan berani bermanuver. Itulah Azis Syamsuddin, kader Partai Golkar yang kini menjadi satu dari empat Wakil Ketua DPR RI. Berusia 49 tahun, Azis adalah politikus Golkar yang tumbuh di pascareformasi. Tanpa beban sejarah masa lalu, Azis lincah melangkah. Pada lima tahun terakhir, ia menjadi tokoh terkemuka Golkar yang tumbuh sebagai generasi ketiga.

Sirkulasi di Partai Golkar berlangsung secara alamiah. Generasi pertamanya muncul bersama tumbuh kembangnya Orde Baru di bawah Presiden Soeharto. Kiprah mereka umumnya berakhir setelah orde baru lengser. Generasi keduanya yang mulai berkiprah tahun 1980-an dan awal 1990-an pun perlahan lahan meninggalkan pentas di dekade pertama tahun 2000-an. Kini generasi ketiga naik ke panggung utama menjadi frontman.

Di antara mereka ada nama-nama Azis Syamsuddin, Agus Gumiwang Kartasasmita, Airlangga Hartarto, Bambang Soesatyo, Tb Ace Hasan Syadzily, Nusron Wahid, dan seterusnya. Mereka tumbuh dengan karakter yang berbeda dari pendahulunya, yang berkembang ketika Golkar begitu dominan di pentas politik nasional. Generasi Azis Syamsuddin lahir dari proses evolusi politik domestik Golkar.

Generasi terbaru di jajaran elite Golkar ini lebih punya daya persuasi, lebih pandai bernarasi, fleksibel dalam bermanufer, dan bersedia banting tulang di lapangan. Mereka mewarisi tradisi teknokratik dari pendahulunya, hal yang membuatnya bernaluri terus ada dalam kekuasaan. Mentor dan patron tetap diperlukan, namun kemampuan mereka beradaptasi dengan situasi yang baru dan aksetabilitas publik tetaplah menjadi penentunya.

Dalam situasi ini M Aziz Syamsuddin meniti karir politiknya. Ia menyelesaikan pendidikan tinggi dengan double degree, sarjana ekonomi dari Universitas Krisnadwipayana dan Fakultas Hukum dari Universitas Trisakti 1993. Ia merintis karir sebagai lawyer. Sempat menempuh pendidikan S-2 di bidang finance di Western Sidney University, Australia, pada akhir 1990-an, yang berlanjut dengan S-2 dan S-3 dalam ilmu hukum dari Universitas Padjajaran. Bekal pendidikannya sangat memadai.

Merintis karir politik di Golkar sejak 2004 bukannya tanpa modal. Ia telah menjadi pengurus pusat di Kosgoro, salah satu ormas inti Golkar. Ia juga aktif di organisasi advokat, selain menjabat Ketua Umum KNPI 2008-2012. Tak heran bila ia dipercaya menjadi wakil Golkar pada Pemilu 2004 dari dapil (Daerah Pemilihan) Lampung II. Ia memperoleh tiket ke Senayan. Dari Dapil II Lampung itu pula, Azis kembali meraih suara cukup besar yang mengantarkannya kembali ke Senayan pada  Pemilu 2009, 2014, dan 2019.  

Sebagai anggota dewan, kiprahnya cukup menonjol. Ia dipercaya menjadi Wakil Ketua Komisi III, yang antara lain, menangani bidang hukum (mitra kerjanya antara lain Kejaksaan Agung, KPK, Kemenkumham, dan Polri) selama 10 tahun, sejak 2004 hingga 2014. Sempat setahun menjabat Ketua Komisi III (2014-2015), untuk kemudian dipercaya menjadi Ketua Badan Anggaran (Banggar) PR-RI 2016-2019. Adalah jenjang yang normal ketika kini ia menjadi Wakil Ketua DPR-RI.

Lahir di Jakarta sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, Azis Syamsuddin tumbuh di keluarga kelas menengah yang sering berpindah rumah. Ayahnya adalah pegawai BNI yang mendedikasikan waktu cukup panjang sebagai Kepala Cabang. Azis sempat menghabiskan masa kanak-kanaknya di Jember, Jawa Timur, dan menghabiskan masa remajanya di Padang, sebelum kemudian hijrah lagi ke Jakarta, mengikuti kepindahan ayahnya yang masuk ke jajaran manajemen tinggi di Bank BNI akhir 1980-an.

Sebagai kader Golkar, sesuai tradisi barunya, Azis Syamsuddin tetap berada di garis yang moderat di berbagai isu. Maka, ia hampir tak pernah terlibat dalam narasi kontroversial, baik ketika memimpin Komisi III maupun mengetuai Banggar DPR. Ia dalam garis yang bisa memahami politik anggaran dari Pemerintahan Joko Widodo, termasuk dengan kebijakan utang untuk menambal APBN.

Dengan posisi sebagai unsur pimpinan DPR RI, Azis semakin kokoh dalam jajaran elite Golkar. Bersama Bambang Soesatyo, yang kini menjabat Ketua MPR-RI dan Airlangga Hartarto sang Ketua Umum, Azis berpeluang masuk dalam lapis tertinggi Partai Golkar yang akan melakukan Musyawarah Nasional di sekitar akhir tahun 2019 ini.

Azis juga memiliki syarat penting lainnya untuk menjadi elite partai, yakni kondisi ekonomi yang mapan. Dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang dilaporkannya ke KPK pada bulan Maret 2019 lalu, Azis Syamsuddin mencatatkan harta kekayaannya sekitar Rp95 miliar. Dalam hal ini, dia berada di posisi ketiga di antara pimpinan DPR, di bawah Rahmad Gobel (Rp420 miliar) dan Puan Maharani yang Rp363 miliar. (P-1)

Pimpinan DPR
Narasi Terpopuler
Jerih Payah Menuju Panggung Dunia
Melalui program Instagram dan program TEMS, plus besutan implementasi konsep “low cost, high quality, dan social responsibility” sebagai visi manajemen pelayanan rumah sakit akhirnya memba...
Strategi Menangkal Radikalisme Keagamaan
Indonesia sebenarnya memiliki infrastruktur keagamaan atau tradisi keberagamaan yang sangat kuat dalam menangkal radikalisme. ...
Mengintip Kisi-Kisi RUU Pajak
Pemerintah sedang menyiapkan UU baru yang mengatur soal perpajakan. Banyak kemudahan, meski aturannya kini lebih tegas untuk meningkatkan kepatuhan pembayar pajak. ...
Mencari Solusi Harga Gas yang Terjangkau
Kadin menilai, penurunan harga gas tersebut bisa membantu Indonesia terhindar dari resesi. ...
UU KPK Baru, antara Perppu atau Uji Materi
Presiden Jokowi mengaku akan menampung dan mempertimbangkan usulan Perppu, sembari melihat opsi-opsi lain. Aspek sisi politis tentu menjadi salah satu poin pertimbangan utama. ...
Fondasi Ekonomi yang Mampu Menahan Badai Tsunami Global
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, perekonomian Indonesia masih tetap tumbuh berkualitas dan stabil. ...
Menerobos Dunia Pendidikan
Mendikbud Nadiem Makarim bukan orang yang acap berkecimpung di dunia pendidikan. Tapi dia diharapkan justru mampu membawa dunia pendidikan Indonesia setara dengan negara lain. ...
Krisis tak Mampir di Gambir
Sejumlah negara sangat was-was dengan akibat perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat. Bahkan sejumlah negara sudah menyiapkan sejumlah jurus penolaknya. Tapi syukurlah, sepertinya krisis tak...
Ibu Kota Negara Impian Sang Presiden
Ibu kota baru akan menjadi kota yang mampu menampilkan diri sebagai kota masa depan. Pemindahan ibu kota  tidak berarti hanya memindahkan pusat pemerintahan dan lokasi. Di luar itu dibutuhkan pul...
Ini Program Quick Wins Pemerintah
Program prioritas (quick wins) yang disiapkan berjangka enam bulan itu merupakan program untuk merespons pelambatan ekonomi global. ...