Bahasa | English


VAKSIN COVID-19

Adu Cepat di Lintasan Vaksinasi

11 November 2020, 09:02 WIB

Sepuluh vaksin sudah melangkah masuk ke uji klinis tahap 3. Empat di antaranya dari Tiongkok. AstraZeneca dan siap memasok vaksin per Januari. Sinovac bisa lebih cepat.


Adu Cepat di Lintasan Vaksinasi Tim medis melakukan penanganan terhadap pasien dalam persiapan simulasi vaksinasi COVID-19 di Puskesmas Abiansemal I, Badung, Bali, Senin (5/10/2020). Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo

Lebih cepat lebih baik. Begitulah harapan masyarakat dunia akan ketersediaan vaksin Covid-19. Penyebaran virus SAR COV-2 penyebab pandemi Covid-19 itu, masih sulit dikendalikan. Dalam dua pekan terakhir, menurut catatan Organisai Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), secara global kasus baru Covid-19 melonjak 16 dan 14 persen, dengan episentrum di Benua Eropa dan Amerika.

Vaksin menjadi harapan untuk membendungnya. Namun, sampai pekan kedua November 2020, belum satu pun bakal vaksin yang memperoleh izin edar (emergency use authorization, EUA) di sebuah negara. Kecuali Uni Emirat Arab yang mengizinkan vaksin buatan Sinopharm, Tiongkok, diujicobakan secara luas. Selebihnya, masih menunggu hasil uji klinis tahap 3.

WHO sendiri merilis ada 44 kandidat vaksin Covid-19 yang kini telah memasuki tahap clinical trial (uji klinis), yakni diuji coba disuntikkan ke tubuh relawan. Dari jumlah itu, ada 10 kandidat yang telah memasuki uji klinis tahap 3. Dengan begitu, 10 kandidat inilah yang diharapkan akan lebih dulu sampai ke masyarakat melalui aksi vaksinasi.

Dari 10 bakal vaksin itu, ada empat yang dikembangkan oleh industri biomedis Tiongkok, yakni Vaksin Sinovac, Sinopharm (dua kandidat), dan CanSino. Dari Amerika ditawarkan dua kandidat vaksin masing-masing buatan Moderna dan Novavax. Biontech-Pfizer (Kanada) tak ketinggalan terjun ke ajang balap vaksinasi ini.

Dari Belgia, Jenssen Pharmaceutical Companies (anak perusahaan Johnson and Johnson) telah pula siap-siap menawarkan vaksin Covid-19. Rusia mengajukan vaksin hasil racikan Gameleya Research Institute. Adapun AstraZeneca mewakili kolaborasi Inggris-Swedia.

AstraZeneca, seperti diberitakan cbsnews.com, menyatakan siap melakukan analisa data akhir dari uji klinis tahap ketiganya pada November dan Desember ini. Chief Executif AstraZeneca Pascal Soriot yakin, analisa tersebut bisa memberikan keyakinan pada berbagai otoritas kesehatan di berbagai negara akan keampuhan vaksinnya.

Soriot percaya izin edar alias emergency use authorization itu akan segera dikeluarkan. Setelah itu, pihaknya akan mampu melayani permintaan vaksinasi di berbagai negara. ‘’Kami akan siap memasok ratusan juta dosis vaksin ke seluruh dunia mulai Januari 2021 nanti,’’ katanya.

Nantinya, AsreaZeneca akan memberikan label AZD1222 untuk vaksin barunya itu. Uji klinisnya melibatkan lebih dari 40 ribu relawan dari Inggris, Afrika Selatan, Brazil, Jepang, dan terbanyak dari Amerika Serikat (sekitar 30 ribu dari 80 kota). Tahapan uji klinisnya sempat tersendat gara-gara seorang relawan yang menerima suntikan bakal vaksin itu mengalami gejala sakit dengan gejala yang tidak lazim. Uji klinisnya dihentikan sepanjang September lalu.

Namun, setelah dilakukan evaluasi yang melibatkan otoritas kedokteran di AS, uji klinis vaksin tersebut bisa dilanjutkan. Meski sempat tertunda, AstraZeneca yakin data yang representative sudah akan terkumpul sebelum Natal 2020. Dengan demikian, awal tahun ia siap produksi.

Biontech-Pfizer dari Kanada juga optimistis bahwa sebelum tutup tahun 2020 ia sudah dapat memperlihatkan hasil uji klinisnya secara lengkap mulai tahap 1, 2, dan 3. Di awal 2021 vaksin asal Kanada itu sudah akan diproduksi yang siap memasok kebutuhan di Amerika yang masih terus dilanda pandemi berat hingga kini.

Adapun dua nama besar dalam industri biomedis asal Amerika Serikat, yakni Moderna dan Novavax, menyatakan uji klinisnya tidak bisa secepat yang diharapkan. Maka, keduanya baru bisa masuk ke arena pasar vaksin pada musim semi, yakni sekitar April 2021.

Dari Tiongkok, Sinovac punya peluang lebih cepat masuk ke gelanggang layanan vaksinasi. Sinovac telah masuk ke tahapan akhir fase tiga uji klinisnya. Selain melakukannya di Tiongkok, Sinovac pun melakukannya di Indonesia dan Brazil. Di Brazil, uji klinis itu melibatkan sekitar 9.000 relawan dan di Indonesia 1.620 relawan.

Dalam uji klinis di Brazil, Sinovac Biomedic bekerja sama dengan Butantan Institute of Biomedic dari Sao Paulo. Hasil lengkap uji klinis belum diumumkan. Hanya saja, diberitakan bahwa vaksin asal Tiongkok itu dinyatakan aman. Sedangkan efek imunogenitas, yakni kemampuan vaksin menginduksi antibodi, belum disampaikan ke publik.

Di Indonesia, uji klinis vaksin Tiongkok itu dikerjasamakan dengan PT Biofarma Tbk dan dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Pajajaran Bandung. Sebanyak 1.620 relawan dilibatkan. Seperti di Brazil, dari Bandung, PT Biofarma menyampaikan bahwa vaksin tersebut aman. Tapi, efek imunogenitas dan efek afikasi (kemanjuran) belum diumumkan,

Namun, Sinovac Biomedic telah menyampaikan pada publik September lalu bahwa vaksinnya bukan saja aman, melainkan juga efektif memberikan imunogenitas kepada 98 persen relawan. Bahkan, dalam uji klinis atas 421 relawan lansia, berumur 60–89 tahun, vaksin itu pun dijamin aman dan efektif. Dari kelompok lansia itu, 98 persen mencapai imunogenitas pada level yang diharapkan.

Tidak semua pengembang vaksin itu merilis hasil uji klinisnya kepada publik. Namun, semuanya wajib menunjukkan hasil uji klinis tahap 1, 2, dan 3, kepada otoritas kesehatan di sebuah negara untuk mendapatkan izin edar. Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) adalah otoritas yang akan menentukan vaksin apa saja yang dinilai pantas menerima hak edar.

Dalam perjalanannya, industri biomedis telah mengembangkan berbagai platform vaksin. Pada kasus Covid-19, untuk menyingkat waktu Sinovac dan Sinopharm mengunakan platform klasik inactivated, yakni virus yang dilemahkan, sebagai bahan vaksin. 

CanSino, AstraZeneca, Gemaleya (Rusia), dan Jenssen Pharmaceutical memilih platform terkini yakni nonreplicating viral vector. Di sini, vaksin berisi virus yang tak mampu mereplikasi diri dalam sel manusia dan karenanya sama sekali tak berbahaya. Namun, dia berguna membawa bahan rekombinan asam nukleat khusus yang bisa menginduksi munculnya antibodi.

Novavax (AS) memilih platform protein subunit, sedangkan Moderna (AS) dan Biontech-Pfizer sama-sama menggunakan platform RNA. Semua bertujuan untuk menginduksi antibodi guna melawan virus melalui lintasan vaksinasi. 

Justru segala uji klinis itu dilakukan agar sebelum digunakan secara massal vaksin-vaksin itu secara sains telah terbukti aman, efektif, dan bisa melindungi penduduk bumi dari pandemi.


 

Penulis: Putut Trihusodo
Editor: Elvira Inda Sari
Redaktur Bahasa: Ratna Nuraini

AstraZeneca
Biofarma
CanSino
Cegah Covid-19
Covid-19
imunigenitas
LawanCovid19
Moderna
Obat Covid-19
Pandemi Covid-19
Pemeriksaan Covid-19
Penanganan Covid-19
Penanggulangan Covid-19
platform vaksin
SinoPharm
SinoVac
uji klinis
Vaksin Covid-19
Narasi Terpopuler
Mengalirkan Dana Pembiayaan Swasta
Indonesia membentuk sovereign wealth fund (SWF) atau lembaga pengelola investasi yang akan beroperasi awal 2021. Sejumlah investor asing sudah berkomitmen berpartisipasi. ...
Dari Riyadh, Roma, lalu Labuan Bajo
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Negara G-20 menyepakati penundaan pembayaran utang negara berkembang. Di antara Negara G-20, kinerja ekonomi Indonesia terbaik kedua setelah Tiongkok. ...
Simulasi Dahulu, Vaksinasi Kemudian
Keselamatan dan keamanan masyarakat merupakan prioritas tertinggi dalam pelaksanaan vaksinasi Covid-19. Untuk itu sejumlah tahapan ilmiah tengah dilakukan pemerintah dan wajib untuk diikuti. ...
Sukuk Hijau, Investasi dan Kontribusi bagi Lingkungan
Sukuk hijau atau green sukuk merupakan Surat Berharga Negara (SBN) syariah pertama di dunia yang mengedepankan konsep program pembiayaan untuk proyek-proyek ramah lingkungan. ...
Di Sana-Sini Masih Menjadi-Jadi
Kasus Covid-19 di dunia masih melonjak-lonjak. Sebagian Eropa lockdown. Di Benua Amerika pekan kedua November Covid-19 melesat 41%. Di Asia Selatan-Tenggara telah melandai. ...
Pertanian Tumbuh Subur, Ekspor Moncer
Kinerja ekspor membuat neraca perdagangan kembali mencetak surplus besar pada Oktober 2020 mencapai USD3,61 miliar ...
Perlu Tindakan, tak Cukup Imbauan
Presiden Joko Widodo minta aparat melakukan tindakan hukum bila terjadi kerumunan. Efek long weekend sangat nyata pada penularan Covid-19. Di Jateng positivity rate langsung naik dari 13,5% ke 17,4%. ...
Menuju Kawasan Damai, Stabil, Sejahtera
Perjanjian Kemitraan Ekonomi Regional Asean+ akan memberi ruang ekspor dan investasi yang lebih besar. Asean+ ini mewakili 30 persen ekonomi dunia. ...
Tekfin Melejit di saat Sempit
Industri teknologi finansial (tekfin) di Indonesia diprediksi akan tumbuh paling kencang di Asean dalam lima tahun ke depan. Perlu regulasi yang terintegrasi untuk menekan risiko. ...
Joglo Semar Berurat Nadi Jalan Beton
Ruas tol Bawen-Yogyakarta dipastikan dibangun pada 2021. Di akhir 2023 diharapkan dua ruas tol, yakni dari arah Semarang dan Solo, akan bertemu di Gamping, Yogyakarta Barat. ...