Bahasa | English


PEMINDAHAN IBU KOTA

Calon Ibu Kota itu di Gunung Mas atau di Bukit Soeharto

13 May 2019, 00:00 WIB

Calon ibu kota negara sudah mengerucut ke dua pilihan, yakni Gunung Mas (Kalimantan Tengah) dan Bukit Soeharto (Kalimantan Timur). Namun sinyal kuat sudah menunjuk ke Gunung Mas.


Calon Ibu Kota itu di Gunung Mas atau di Bukit Soeharto Presiden Joko Widodo didampingi sejumlah pejabat terkait melihat peta kawasan salah satu lokasi calon ibu kota negara saat peninjauan di Gunung Mas, Kalimantan Tengah, Rabu (8/5/2019). Sumber foto: Antara Foto

Adalah Presiden Joko Widodo yang menjelaskan terkait pemilihan lokasi pemindahan ibu kota, di mana sejumlah aspek menjadi pertimbangan pemerintah.

"Semua aspek memang harus dilihat, sosiologi, masalah lingkungan, masalah kebencanaan, masalah yang berkaitan dengan sosial politik, kebutuhan air bisa tersedia atau tidak, gambut dalam atau tidak, masalah konstruksi seperti apa. Semuanya akan dicek, dilihat, dikalkulasi oleh tim. Saya hanya melihat lapangannya, kemudian biar ada feeling begitu. Nah nanti dalam memutuskan biar tidak salah," kata Presiden.

Jika seluruh data kajian telah lengkap, Presiden menambahkan, pemerintah akan berkonsultasi dengan DPR RI sebelum memutuskan lokasi. Presiden meninjau lokasi alternatif ibu kota baru Negara Republik Indonesia yakni Kabupaten Gunung Mas di Provinsi Kalimantan Tengah, pada 8 Mei lalu.

Sebelumnya, Presiden juga sempat berkunjung ke Tugu Soekarno sebelum tiba di bandara. Tugu itu merupakan tiang sebagai batu pertama pembangunan Kota Palangka Raya yang diletakkan oleh Presiden Pertama RI Soekarno pada 17 Juli 1957.

Menurut Presiden Joko Widodo, lahan untuk ibu kota baru pemerintahan Indonesia di Gunung Mas paling siap. "Kalau dari sisi keluasan, di sini mungkin paling siap. Mau minta 300 ribu hektare ya siap di sini. Kalau kurang masih tambah lagi juga siap," kata Presiden di  lokasi calon ibu kota baru, di Kelurahan Tumbang Talaken, Kecamatan Manuhing, Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah

Presiden menyambangi "kawasan segitiga" yang menjadi calon wilayah ibu kota yakni Kota Palangka Raya, Kabupaten Katingan, dan Kabupaten Gunung Mas di Kalimantan Tengah. Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno pernah memiliki visi untuk menjadikan salah satu wilayah di provinsi itu, yakni di Kota Palangka Raya, sebagai ibu kota. “Beliau dulu memilih kemungkinan kan juga pasti ada alasan-alasan khusus dan alasan besar. Itu yang juga dilihat. Enggak mungkin sebuah keputusan disampaikan tanpa sebuah argumentasi data dan fakta lapangan yang matang,” ujar Jokowi.

Presiden menilai, Kawasan Segitiga atau Gunung Mas Kalimantan Tengah ini memiliki risiko bencana yang kecil. Namun dia menjelaskan, untuk pembangunan kesiapan infrastruktur harus dibangun dari awal.

Kabupaten Gunung Mas merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Kapuas, pada 2002. Kabupaten yang ibu kotanya bernama Kuala Kurun itu memiliki luas sekitar 10.804 kilometer persegi dan saat ini dihuni 109.947 jiwa. Wilayah itu tergolong dataran tinggi yang berpotensi untuk dijadikan daerah perkebunan. Daerah ini berada di ketinggian sekitar 100 hingga 500 meter di atas permukaan air laut.

Kepada wartawan, Jokowi memastikan, pemerintah mengkaji seluruh aspek, yakni sosiologi, lingkungan, kebencanaan, sosial-politik, ketersediaan air bersih, topografi, dan lain sebagainya. "Saya ini ke lapangan hanya satu (tujuan), mencari 'feeling-nya'. Biar dapat 'feeling-nya'. Kalau sudah dapat 'feeling-nya' nanti kalkulasi dan hitung-hitungan dalam memutuskan akan lebih mudah. Kalau ke lokasi saja belum, dapat 'feeling' dari mana," ujar Presiden.

Presiden belum menjawab secara langsung perbandingan lokasi di Bukit Soeharto, Balikpapan, dengan di Kabupaten Gunung Mas itu.  Presiden  menjelaskan, nantinya tim besarnya akan pergi ke lokasi yang ditinjaunya lagi, berhitung, kemudian setelah matang terencana secara detail disampaikan kepada Presiden. Dari situlah, Pemerintah akan memutuskan.

Pasalnya, menurut Presiden,  upaya ini merupakan sebuah visi besar jangka panjang. Ia menambahkan, hal ini mungkin akan berguna 50 tahun-100 tahun yang akan datang dalam rangka mempersiapkan negara ini untuk masuk sebagai sebuah negara maju.

Sebelumnya terbetik kabar, Bukit Soeharto di Kutai Kartanegara Kalimantan Timur juga disebut-sebut sebagai calon kuat ibu kota RI. Lokasi ini juga sempat dikunjungi presiden sebelum ke Gunung Mas.

Terkait kunjungannya di Bukit Soeharto, Presiden Jokowi mengakui di sana memang ada keuntungan karena diapit oleh dua kota yang sudah jadi, Balikpapan dan Samarinda. Juga ada airport-nya dan dihubungkan oleh tol. Namun Presiden menegaskan, aspeknya bukan hanya itu.

“Banyak aspek yang lain yang harus dihitung, yang harus dikalkulasi. Misalnya, mengenai keluasan lahannya, kemungkinan kedekatan dengan pantai, sumber air bakunya seperti apa, topografinya cocok atau tidak, banyak sekali,” katanya.

Dan salah satu minusnya di sebagian kawasan itu, konon airnya asin, dan juga masih banjir. Presiden sendiri belum menjawab secara langsung perbandingan lokasi di Bukit Soeharto, Balikpapan, dengan di Kabupaten Gunung Mas itu. Presiden  hanya menjelaskan, nantinya tim besarnya akan pergi ke lokasi yang ditinjaunya lagi, berhitung, kemudian setelah matang terencana secara detail disampaikan kepada presiden. Dari situlah, pemerintah akan memutuskan.

Bukit Soeharto

Kawasan Bukit Soeharto di kawasan Taman Hutan Raya, yang masuk wilayah Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Daerah itu sudah 1,5 tahun terakhir ini dikaji sebagai pengganti DKI Jakarta sebagai ibu kota negara. Bukit Soeharto merupakan tempat transit untuk perjalanan dari Balikpapan menuju Samarinda atau Tenggarong. Daerah ini merupakan titik jenuh para sopir atau pengendara motor.

Ratu Beatrix dari Belanda pernah kagum terhadap hasil pengelolaan konservasi atau reboisasi di Taman Hutan Raya Bukit Soeharto pada pertengahan 1990-an. Kala itu, Bukit Soeharto yang memiliki luas sekira 61.000 Ha termasuk beranda atau contoh keberhasilan Indonesia dalam melestarikan lingkungan.

Di antara kawasan itu terdapat bumi perkemahan yang indah karena terdapat kolam dan pondok-pondok, serta terdapat zona kawasan hutan lindung serta hutan penelitian Universitas Mulawarman. Namun, bukit itu juga rawan terbakar karena di bawah lapisan tanahnya terdapat batubara.

Kerusakan di bukit itu terus meluas, yaitu ditandai dengan terus bertambahnya kawasan perladangan serta meningkatnya jumlah pemukiman, termasuk warung-warung liar di sisi kiri-kanan jalan Samarinda-Balikpapan yang membelah kawasan konservasi itu. Pada era Orde Baru, warga yang bermukim di kawasan itu hanya sekira 2.000 orang. Namun, jumlah warga yang mengkapling serta tinggal di kawasan itu kini diduga mencapai 6.000 orang.

Menurut catatan pemerhati lingkungan, kawasan itu cukup penting karena menjadi tempat sebaran beberapa jenis flora antara lain Meranti (Shorea spp.), Keruing (Dipterocarpus sp.), Mahang (Hypoleuca), Mengkungan (Gigantea), Hora (Ficus sp.), Medang (Lauraceae), Kapur (Dryobalanops spp.), Kayu tahan (Anisoptera costata), Nyatoh (Palaquium spp.), Keranji (Dialium spp.) dan Perupuk (Laphopetalum solenospermum). Taman Hutan Raya Bukit Soeharto juga menjadi habitat beberapa jenis satwa langka, antara lain, Orangutan (Pongo pygmaeus), Beruang madu (Helarctos malayanus), Macan Dahan (Neofelis nebulosa), Landak (Hystrix brachyura) dan Rusa sambar.

Kabupaten Gunung Mas

Kabupaten ini dibatasi oleh sebelah utaranya kabupaten Murung Raya, sebelah selatan Kabupaten Pulang Pisau dan Kota Palangka Raya, sebelah barat Kabupaten Katingan dan Kalimantan Barat, dan bagian Timur Kabupaten Kapuas. Luas Kabupaten Gunung Mas  adalah 10.804 km² dan merupakan kabupaten terluas keenam dari 14 kabupaten yang ada di Kalimantan Tengah (7,04% dari luas Provinsi Kalimantan Tengah). Luas wilayah tersebut terdiri atas kawasan hutan belantara, kawasan pemukiman, sungai, danau dan rawa, serta daerah pertanian (sawah, ladang dan kebun)

Wilayah Gunung Mas termasuk dataran tinggi yang memiliki potensi untuk dijadikan daerah perkebunan. Daerah utara merupakan daerah perbukitan dengan ketinggian antara 100-500 meter dari permukaan air laut dan mempunyai tingkat kemiringan  8-15 derajat. Gunung Mas juga mempunyai daerah pegunungan dengan tingkat kemiringan 15-25 derajat. Pada daerah tersebut terdapat pegunungan Muller dan pegunungan Schwaner dengan puncak tertinggi (Bukit Raya) mencapai 2.278 meter dari permukaan laut.

Bagian selatan terdiri dari dataran rendah dan rawa-rawa yang sering mengalami banjir pada musim hujan. Kabupaten Gunung Mas juga memiliki wilayah perairan yang meliputi danau, rawa-rawa dan terdapat 4 jalur sungai yang melintasi wilayah ini, yaitu Sungai Manuhing, Sungai Rungan, Sungai Kahayan, dan Sungai Miri.

Jumlah penduduk Kabupaten Gunung Mas sekitar 96.838 jiwa (hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010). (E-2)

Ekonomi
Infrastruktur
Sosial
Narasi Terpopuler
Saatnya Coklat Bercita Rasa Nusantara Go Global
Bila kualitas dan perluasan perkebunan kakao ditingkatkan, Indonesia berpeluang menjadi produsen terbesar biji kakao dunia. ...
Penggunaan Panel Surya Terus Didorong
Penggunaan energi berbasis surya ternyata baru di bawah 100 megawatt (MW). Padahal dari sisi potensinya bisa mencapai 207 gigawatt (GW). ...
Penyesuaian Dengan Tarif Dunia
Pemerintah berniat menaikkan tarif cukai 23 persen. Dimaksudkan membendung prevalensi perokok di Indonesia yang mencapai 33,9 persen, tertinggi di dunia. Di Thailand cukainya 80 persen. ...
Tanah Tabi Calon Provinsi Paling Siap di Papua
Bahkan telah ditentukan Kota Jayapura yang kelak menjadi ibu kota provinsi baru nanti. Sedangkan nama DOB yang sempat muncul, yaitu Provinsi Papua Tabi, Tabi Papua, atau Provinsi Tanah Tabi. ...
Usaha Berbasis Kayu Tetap Jalan, Hutan Pun Tetap Lestari
Industri pengolahan kayu kini tidak lagi kesulitan untuk memperoleh bahan baku. Mereka banyak menyerap kayu dari hutan tanaman industri dan hutan tanaman rakyat. ...
Penerimaan Pajak dan Cukai Terus Tumbuh Positif
APBN 2020 diketok di angka Rp2,528,8 triliun, naik tipis 2,75 persen dari 2019. Defisit pun terjaga di posisi 1,76 persen. PNBP terus menguat. ...
Provinsi Baru Papua, Sebangun dengan Wilayah Adat
Masyarakat Papua minta pemekaran provinisi Papua dan Papua barat menjadi tujuh wilayah adat. Tapi Presiden RI Joko Widodo hanya menyetujui beberapa. Itu pun masih harus ada kajian terlebih dulu. ...
Kota Karet Dulu, Kota Hijau Kemudian
Forum Segitiga Indonesia-Malaysia-Thailand melakukan percepatan program penguatan kerja sama subregional itu. Jalur multimoda Dumai-Malaka akan beroperasi 2020. Arus barang lebih efisien. ...
Warisan Sang Maestro
Berkat sentuhan Habibie-Habibie muda, pesawat CN-235, N 212, dan N 219, juga kapal korvet, dan kereta listrik, tampil dengan eksterior yang elegan dan aeerodinamis.  Ekonomi berbasis teknologi pe...
Garis Bawah Presiden untuk Iklim Investasi Indonesia
Indonesia akan segera merevisi puluhan undang-undang dan aturan yang berkait dengan investasi. Hal itu dipentingkan untuk mempermudah dan mempersingkat prosedur sebagai salah satu daya tarik investasi...