Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota

INISIATOR

Gebrakan Anak Vokasi dari Salatiga

Tuesday, 18 December 2018

Yang lebih penting adalah memahami bahwa ternyata sebuah prestasi kelas dunia bisa diciptakan.


Gebrakan Anak Vokasi dari Salatiga ULA Rocket Bracket V 1.0 Karya M Arie Kurniawan. Sumber foto: Grabcad

“Globalisasi itu sekarang....,” kata Arfi dengan penuh ketetapan hati walaupun terlihat grogi. Arfi, begitu Arfi'an Fuadi atau Arfian Fuadi biasa disapa, berbicara di forum TEDX yang berlangsung di Universitas Sebelas Maret, Surakarta, pada Desember 2015.

Dunia sudah begitu terbuka, artinya kesempatan juga ikut terbuka. Internet membuat kita bisa bersaing walaupun kita punya latar belakang yang berbeda. Itulah pesan yang disampaikan Arfi di depan peserta forum TEDX, forum bergengsi saat ini yang mempunyai moto ‘ideas worth spreading’.

Forum TEDX, adalah forum penyebaran gagasan yang lahir dari rahim Silicon Valley pada 1984. Forum adu gagasan berbentuk organisasi nirlaba ini, sudah berkembang menjadi forumnya para ‘pembaharu’ yang dilangsungkan di Amerika Utara, Eropa, hingga Asia.

Kehadiran Arfi di forumnya para ahli, penemu, perintis gagasan, hingga investor terkemuka tentu menyejajarkan Arfi dengan orang-orang terbaik dari berbagai bidang ilmu pengetahuan, rekayasa teknologi, hingga pembaruan sosial.

Sejak awal Arfi melihat kehadiran internet sebagai peluang. Dengan modal kemauan untuk belajar dan sebuah komputer yang dia rakit sendiri, Arfi, seperti banyak pemuda di berbagai pelosok Indonesia, memilih internet sebagai tempat berkreasi dan bertaruh untuk mengubah nasibnya.

Arfi (32) lahir di Salatiga, sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Bersama adiknya Arie Kurniawan, mereka tercatat memenangkan kompetisi Jet Engine Bracket Challenge atau lomba mendesain ‘katup’ mesin jet yang diselenggarakan oleh General Electric (GE) pada tahun 2013.

Kakak beradik ini hanya lulusan sekolah menengah atas. Arfi lulus dari SMA Negeri 7 Semarang, sedangkan Arie lulusan SMK Negeri 3 Salatiga jurusan otomotif. Mereka memenangkan kompetisi desain komponen mesin jet, mengalahkan insinyur dari angkatan udara Swedia di peringkat kedua, dan insinyur ahli ‘space stress’ dari Airbus di peringkat ketiga.

Situs grabcad.com mencatat nama M Arie Kurniawan sebagai pemenang pertama lomba desain Engine Bracket yang diselenggarakan oleh GE. Arie, adik Arfi yang lebih muda 5 tahun, adalah orang yang memasukkan desain rancangan mereka berdua ke kompetisi desain teknik yang berbasis ‘crowdsourcing’. Crowdsourcing adalah cara untuk memanfaatkan kontribusi dari desainer yang terhubung dalam komunitas dunia maya yang berasal dari pelosok dunia.

Alih-alih mengeluarkan dana riset dan pengembangan yang berbiaya tinggi, GE memilih untuk memanfaatkan "kepandaian" banyak orang yang terhubung dalam komunitas daring. Hasilnya hanya dengan menyediakan hadiah kurang lebih USD20.000 saja, GE bisa mendapatkan desain terbaik dengan cara yang amat efisien.

Pemenang pertama kompetisi atas nama M Arie Kurniawan mendapat USD7000, dengan prestasi mampu mereduksi berat komponen hingga 83,4% dari berat semula. Pemenang kedua Thomas Johansson mendapatkan USD5000, dengan kemampuan mereduksi hingga 82%. Pemenang ketiga, Sebastien Vavassori dengan kemampuan mereduksi hingga 80,70%. Pemenang keempat hingga kedelapan masing-masing mendapat USD1000.

Steve Liguori, Direktur Eksekutif GE untuk Inovasi dan Model Baru, dalam sebuah artikel di wired.com mengungkapkan kalimat pertama yang diterimanya saat menyampaikan hasil sayembara ini ke Jeff Immelt, Direktur Utama dan CEO GE. "Dari mana kamu mendapatkan anak-anak ini? Berapa banyak pengalaman dunia penerbangan yang mereka punya?" kata Liguori. Dan orang nomor satu GE itu bahkan lebih terheran-heran lagi saat jawabannya adalah ‘nol’ pengalaman, ungkap Liguori lebih lanjut.

Fenomena Arfi dan Arie adalah cerita zaman ini. Kemampuan mereka mengalahkan desainer kelas dunia dari perusahaan penerbangan kelas dunia, hingga lulusan universitas teknik paling bergengsi di bidang kedirgantaraan, adalah bukti bahwa kreativitas dan kerja keras dengan semangat belajar yang tidak pernah putus bisa melahirkan karya yang terbaik.

Tetapi lebih penting lagi adalah memahami bagaimana sebuah prestasi kelas dunia bisa diciptakan. Keterbukaan informasi, perubahan sistem ekonomi global, keinginan untuk berinovasi, pentingnya kolaborasi, partisipasi, dan saling berbagi ilmu pengetahuan adalah jalan yang paling memungkinkan untuk bisa memenangkan masa depan.

Jika ada pertanyaan, internet kencang buat apa? Jawabannya sudah jelas belajar dari cerita Arfi dan Arie, yakni untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. (Y-1)

Narasi Terpopuler
Urun Biaya Menambal Defisit BPJS
Pemerintah akan mengenakan tarif urun biaya yang harus dibayar pasien BPJS setiap kali mereka menerima layanan kesehatan. Tapi hanya berlaku untuk penyakit dan layanan tertentu. ...
Program Hilirisasi Perlu Terus Digenjot
Dari sisi manufacturing value added, tren industri pengolahan Indonesia terus membaik. ...
Negeri Aman Wisatawan Berdatangan
Gallup’s Report menyebutkan, Indonesia negara paling aman nomor 9 di dunia. Risiko pembunuhan di Indonesia juga rendah dibanding negara tetangga. Yang tinggi risiko bencana alam. ...
Mengejar Pencapaian Akses 100% di 2019
Akses air bersih dan sanitasi sudah menjadi kebutuhan dasar manusia. Dan, negara wajib memenuhi kebutuhan dasar tersebut. ...
Mengukur Potensi Lewat Aksi Para Jagoan
Di Indonesia, jumlah penduduk yang besar dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang stabil menjadi modal tumbuhnya perusahaan-perusahaan start-up hingga mampu melambungkan valuasi. ...
Program Hilirisasi Perlu Terus Didorong
Sektor batu bara masih sangat dibutuhkan dalam pembangunan ke depan. ...
Mengusahakan Multicurrency untuk Stabilitas
Sejatinya, kerja sama RI dengan Thailand dan Malaysia demi meningkatkan penggunaan Rupiah, Baht dan ringgit secara lebih luas. Namun efeknya dalam bertransaksi pun tidak perlu lagi dikonversi ke mata ...
Sofyan Djalil Ngebut Menyalip Target
Realisasi sertifikasi tanah 2018 mencapai 9,3 juta buah, jauh melampaui  target 7 juta lembar. Realisasi 2017 juga melewati target. Sertifikasi tanah kini mudah dan murah. ...
Kontribusi Indonesia bagi Dunia Besar
Indonesia tidak hanya siap untuk negosiasi, tapi juga komitmen ikut serta dalam pengendalian perubahan iklim.  ...
Manis, Segar, dan Bebas Hama Penyakit
Kenaikan ekspor keseluruhan hortikultura tahun 2018 mencapai 12%. Untuk buah-buahan 26,3%. Kini Indonesia mencatat surplus duren. ...