Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


ORGANISASI KEAGAMAAN

Harlah NU, Semangat Moderat yang Makin Relevan

Saturday, 9 Febuary 2019

NU berhasil menciptakan sebuah kearifan yang menyatukan dengan indah antara semangat keislaman dan semangat keindonesiaan.


Harlah NU, Semangat Moderat yang Makin Relevan Presiden Joko Widodo hadiri Harlah ke-73 Muslimat NU di Jakarta. Sumber Foto: Antara Foto

Sejarah panjang menghiasi perjalanan Nahdatul Ulama (NU). Organisasi berbasis masa Islam tradisional ini merupakan wadah perkumpulan dengan jemaah terbesar di Nusantara. Lahir sebagai respons kondisi Indonesia di zaman penjajahan Belanda.

Belanda saat itu membutuhkan tenaga klerk untuk memudahkan mencari SDM membantu hal-hal administratif. Mereka mendirikan lembaga-lembaga pendidikan yang awalnya dikhususkan bagi anak-anwk bangsawan.

Pendidikan selain mengajarkan pengetahuan, mau tidak mau juga mengajarkan cara berpikir, transformasi budaya, dan doktrin. Sebagai penjajah, tentu saja ada banyak doktrin ketaatan pada sistem kolonial yang disuntikkan kepada anak didik.

Sementara itu, rakyat jelata belum tersentuh dengan sistem pendidikan Belanda. Tingkat literasi rakyat sangat rendah.

Para ulama yang mengenyam pendidikan memahami kebutuhan rakyat. Mereka terpicu untuk membangun lembaga pendidikan berbasis akar tradisi dan keagamaan. Mereka ingin melakukan pencerdasan kepada rakyat dengan tetap menanamkan perasaan terjajah, kecintaan pada agama, dan sesuai dengan tradisi lokal. Bukan tradisi Eropa yang dicangkokkan begitu saja kepada anak-anak Indonesia.

Jauh sebelum NU didirikan, para pendirinya sudah mendirikan organisasi bernama Nahdatul Wathon (1916) dan Nahdatul Tujjar (1918). Bahkan sebelum itu, Kiai Wahab Chasbullah telah memotori lahirnya kelompok diskusi yang dinamakan Taswikul Afkar (1914).

Berdirinya Nahdatul Ulama merupakan kelanjutan dari berbagai pergerakan tersebut. Hadirnya NU, juga merupakan respons dari keresahan kiai-kiai di Jawa atas perkembangan ideologi Islam puritan yang muncul di jazirah Arab. Kemenangan Ibnu Saud yang merampas kekuasaan di Mekah dan Madinah, lalu menjadikan ideologi tersebut sebagai azas tunggal Islam, membuat kiai-kiai di Indonesia berkomunikasi secara intens.

Para kiai yang kebanyakan belajar di Madinah dan Mekah itu sadar, Saudi sedang melakukan sebuah gerakan pemurnian Islam yang sebetulnya hanya bungkus kepentingan politik. Bagi para kiai gerakan seperti itu sesungguhnya merupakan penyimpangan terhadap ajaran Islam. Sebuah ajaran yang sebelumnya adaptif terhadap kondisi masyarakat ingin dipaksakan menjadi sebuah tafsir tunggal.

Kiai Wahab Chasbullah dan KH Hasyim Asyari sebagai dua tokoh besar waktu itu mengundang kiai-kiai lain di Jawa Timur, Madura, Jawa Tengah, dan Jawa Barat untuk mendiskusikan antisipasi perkembangan Islam dunia.

Mereka berkumpul di rumah Kiai Wabah Chabullah di Surabaya. Intinya membahas sebuah resolusi agar penguasa Saudi tetap memberi ruang bagi mazhab-mazhab dan aliran pemikiran lain dalam Islam untuk tetap tumbuh.

Para kiai ingin mengirimkan utusan menemui penguasa Arab yang baru. Untuk itu dibutuhkan organisasi. Maka Kiai Wahab dan Kiai Hasyim Asyari sepakat mendirikan organisasi bernama Nahdatul Ulama. Organisasi itu berdiri pada 16 Rajab 1344 H atau 31 Januari 1926. Di kalangan nahdiyin, hari kelahiran NU diperingati dua kali, yang satu berdasarkan penanggalan hijriyah, sedangkan satunyanya lagi berdasarkan penanggalan masehi.

Dengan kata lain, kelahiran NU eidasari pada sikap moderat untuk membiarkan berbagai aliran pemikiran hidup dalam Islam. Kedua juga sebagai wadah untuk terus menanamkan kecintaan rakyat pada bangsanya.

Tampaknya sampai sekarang kondisi umat Islam tidak juga bergeser. Ekspansi ajaran Islam purita terus- menerus mendesakkan tafsir tunggalnya. Sementara itu, jamaah NU tetap mempertahankan pemikiran moderatnya. Yakni, bukan hanya terbuka dan menerima berbagai aliran pemikiran dalam Islam, NU juga tetap mempertahankan budaya lokal Nusantara sebagai bagian utuh dari tradisi umat Islam Indonesia.

NU pun mengambil jalan moderat ketika rasa kebangsaan ingin dibenturkan dengan semangat keagamaan. Doktrin yang paling berpengaruh dari kiai NU adalah hubbul wathon minal iman, mencintai bangsa adalah bagian dari iman.

Dengan jalan moderat itu, NU merupakan tonggak untuk terus mempertahankan Indonesia dari berbagai serangan ideologi luar. Kelenturan ideologi NU ikut menyelamatkan bangsa ini dari berbagai pertikaian ideologi.

Kini NU berusia hampir satu abad. Harlah NU ke-93 justru membuktikan apa yang menjadi dasar pemikiran berdirinya organisasi ini, makin relevan sampai sekarang. Kiprahnya terus membuktikan bisa menjadi perekat berbagai ideologi yang saling berbenturan.

NU berhasil menciptakan sebuah kearifan yang menyatukan dengan indah antara semangat keislaman dan semangat keindonesiaan. (E-1)

Narasi Terpopuler
Keberpihakan dan Pembiayaan yang Kian Deras
Rendahnya kredit macet UMKM menunjukkan bahwa sektor itu sangat disiplin dalam membayar kewajiban angsuran mereka. ...
Akhiri Polemik, Bersatu Padu Sambut Pasar Halal
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menepis anggapan bahwa lahirnya UU Jaminan Produk Halal melucuti peran MUI terkait sertifikasi halal sebuah produk. ...
Memacu Pertumbuhan Sekaligus Menjaga Keseimbangan
Menjawab kekhawatiran calon investor terhadap fokus kebijakan fiskal, Sri Mulyani menegaskan resepnya adalah menemukan titik kebahagiaan yang optimal. ...
Harlah NU, Semangat Moderat yang Makin Relevan
NU berhasil menciptakan sebuah kearifan yang menyatukan dengan indah antara semangat keislaman dan semangat keindonesiaan. ...
Pelaku Ekonomi Mikro Kecil Didorong Naik Kelas
Pertumbuhan dan perkembangan usaha kecil milik masyarakat diyakini dapat berkontribusi signifikan bagi pertumbuhan perekonomian nasional. ...
Api Nan Tak Boleh Padam
Di tengah revolusi perkakas digital, pers Indonesia terus bertekad menghasilkan karya yang valid dan kredibel di atas platform apa pun. Tabloid dan koran boleh surut, tapi komitmen keindonesiaan takka...
Menciptakan Nilai Ekonomi Baru bagi Sampah Plastik
Intinya mengubah cara pandang terhadap plastik kemasan bekas pakai, tidak sebagai sampah, tapi sebagai sebuah komoditas yang berpotensi untuk dikembangkan ...
Gerbong INKA Mengalir Hingga Bangladesh
PT INKA bahkan diproyeksi akan menjadi salah satu pemain besar dalam industri perkeretaapian dunia. ...
Jurus Ampuh Meredam Gejolak Rupiah
Nilai tukar rupiah awal 2019 bahkan diprediksi cenderung menguat karena beberapa faktor, yakni aliran modal masuk, melambatnya laju kenaikan bunga The Fed, serta konsistensi kebijakan ekonomi yang dik...
Mesin Biosolar Tancap Gas Mengejar Devisa
Kilang-kilang Pertamina kini dikerahkan mem-blending biosolar. Pemakaian biodisel lokal meningkat dan impor solar menyusut dan harga sawit diharapkan terkerek. Target 2019: hemat devisa Rp42 triliun. ...