Bahasa | English


KARHUTLA

Kejahatan Menyulap Api Menjadi Traktor

30 July 2019, 09:19 WIB

Meski terus dipantau dan dilakukan penegakan, kasus karhutla masih saja terjadi. Antisipasi ditingkatkan menghadapi puncak kemarau Agustus-September 2019, agar bencana kebakaran besar 2015 tak terulang.


Kejahatan Menyulap Api Menjadi Traktor Petugas dari Satgas Karhutla Provinsi Riau berusaha memadamkan bara api yang membakar lahan gambut di Desa Karya Indah, Kabupaten Kampar, Riau, Jumat (26/07/2019). Foto: ANTARA FOTO/Rony Muharrman

Api itu berbanding  terbalik dengan air. Begitu air hujan menghilang, api pun menerjang. “Relasi buruk” itu biasa terjadi di kawasan yang masih menyisakan lahan-lahan budidaya, tapi berupa tanah kritis yang ditumbuhi belukar setelah kayu hutannya lama menghilang. Di sana api berbiak ketika kemarau datang. Ini bukan hukum alam, melainkan ulah manusia yang ingin membuka lahan kebun dengan memperalat api sebagai “traktor” pembersih lahan.

Hasilnya, kabut asap merayapi jalan-jalan di Kota Pekanbaru dan melayang di atas Sungai Siak. Bahkan, dari jarak dua tiga kilometer Tiang Utama Jembatan Siak 4, yang menjulang berbentuk huruf A terbalik, tidak  terlihat lagi karena berselimutkan kabut, Kamis (25/7/2019). Warga tak hanya mengeluhkan soal kabut yang membuah perih di mata, sesak di dada, juga bau sangit yang menyengat hidung.

Meski tak separah Pekanbaru, kabut asap juga menyergap Palembang. Kawasan Benteng Kuto Besak, Pasar 16 Ilir, di dekat Jembatan Ampera 1, serta Jaka Baring Sport City, pada awal Juli lalu. Dampaknya belum terlalu serius. Jarak pandang di Bandara Mahmud Badaruddin II sekitar 5 km, dalam batas aman untuk penerbangan.

Temperatur siang hari di Palembang, dalam pemantauan Kantor BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) setempat, tercatat 32 Celsius. Bila kabut kian pekat, suhu udara cenderung naik karena ada energi matahari yang tertahan di lapisan atmosfir bawah akibat partikel debu tersebut. Pada kabut yang ekstrim, temperatur udara Palembang pernah melesat mencappai 40° Celsius.

Dengan curah hujan yang di bawah normal, titik-titik panas (hotspot) di Sumatra Selatan tahun 2019 ini cukup besar. Periode Januari-Juni 2019 tercatat 311 hotspot di Sumsel, utamanya  sepanjang  Mei-Juni, di mana pada sebagian daerah telah memasuki musim kemarau lebih cepat. Beberapa titik api di Selatan Palembang  awal Juli lalu telah dipadamkan, sebelum api memanggang lahan sekitarnya.

Tidak mau kecolongan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel melakukan antisipasi ekstra. Selain memantau titik panas yang datang-pergi, BPBD Sumsel mengatakan  telah menyiagakan tiga heli pembom air agar  bisa cepat bertindak bila api muncul. Toh, memasuki pekan ke-4 bulan  Juli ini, 18 titik panas terpantau lagi di wilayah Sumsel.

Kondisi Riau lebih rawan. Pada saat yang sama 35 titik api terlihat di berbagai daerah di Riau, terpantau di Jambi, Bengkulu, dan Bangka.

Api juga mengintai di Kalimantan Tengah. Foto satelit menunjukkan bahwa pada sepanjang tiga pekan pertama Juli 2019 ada 219 titik panas, sebagian besar berkerumun di Kabupaten Sungai Pisang dan di Kotawaringin Timur. Dalam jumlah yang lebih ringan ada di Kabupaten Barito dan Kapuas. Bahkan, di Kota Palangkaraya sendiri ada enam kasus karhutla (kebakaran hutan dan lahan). Berkat reaksi cepat aparatur negara yang dibantu masyarakat, api bisa dilokalisasi di 380 hektar saja.

Karena kebakaran sudah menjadi kasus rutin, BPBD pada tingkat kabupaten/kota sudah terlatih beraksi dalam Satgas Penanggulangan Karhutla. Selain melibatkan aparatur pemerintah termasuk BPBD, Satgas Karhutla ini belakangan mengikutsertakan masyarakat dan perusahaan swasta yang menguasai lahan di sekitar titik api.

Terkait ancaman karhutla ini,  secara dini Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo menginspeksi kesiapan Satgas Gabungan Karhutla Provinsi Riau, jelang pertengahan Juni lalu. Satgas itu terdiri dari personel BPBD, satuan TNI/Polri, dan apatur daerah lainnya. Setelah menjalani pelatihan teknis-peralatan kordinasi, 1.500 personel satgas itu dilepas  secara resmi oleh Doni Monardo,  untuk terjun mencegah dan menangani karhutla bersama unsur masyarakat lain. Kepala BNPB itu juga memberikan bantuan dana siap pakai kepada BPBD Riau Rp300 juta, Polda Riau Rp250 juta, dan Rp1 miliar untuk Korem 031/Wirabima.

Dengan segala kesiapan ini, kasus karhutla bisa ditekan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan bahwa kasus karhutla mengalami penurunan signifikan sejak 2015 hingga 2019. Pada tahun 2015 terjadi kebakaran hutan dahsyat, yang memanggang area seluas 2,6 juta hektar. Pada tahun 2016 angka itu turun menjadi 438 ribu hektar, lalu 165 ribu ha pada 2017, naik lagi ke 510 ribu  ha pada 2018, dan hingga pertengahaan 2019 ini tercatat Karhutla sebatas pada areal 43 ribu ha.

Serangkaian upaya dilakukan untuk mencegah  karhulta itu. Mulai dari monitoring, membentuk satuan patroli, monitoring yang tanpa putus, melakukan pembasahan kembali (rewetting) atas lahan  gambut dengan menimbun  kanal-kanal drainasenya, membentuk Satgas Antikarhutla, dan yang utama adalah penegakan hukum.

Bukan rahasia lagi, bahwa karhutla lebih  banyak dipicu dari lahan-lahan yang dikuasai oleh korporasi besar. Maka, sejak tahun 2015 hingga 2019 saat ini lebih 550 kasus kejahatan terkait lingkungan hidup dan kehutanan dibawa ke pengadilan. Tak kurang dari 500 perusahaan dikenai sanksi administrasi dan banyak pengurus perusahaan diseret ke penjara.

Namun, dunia usaha  kehutanan adalah bisnis dengan potensi pelanggaran yang besar. Masih ada saja yang mencoba bermain kucing-kucingan dan menyulap api menjadi traktor pembersih lahan, terutama di Riau, Jambi, Sumsel, Kalbar, Kalteng, Kaltim, bahka belakangan Papua. Tak heran, bila mata petugas, mata satelit dan pegiat media sosial, terus memantau kawasan tersebut. Pemerintah juga tak boleh lengah. (P-1)

Kebakaran Hutan
Narasi Terpopuler
Tak Tembus Oleh Hujan Tak Retak Oleh Beban
Campuran karet pada adonan aspal membuat jalan tak mudah melesak oleh roda. Tapi,  karet bisa melapuk oleh sengatan ultraviolet matahari. Penggunaan karet massal akan menolong petani, ...
Pusat Reparasi Burung Besi Siap Beraksi
Garuda dan Lion kerja sama membangun industri maintenance, repair, dan overhaul  (MRO) di Batam. Selain pasar domestik, bengkel ini membidik pasar Asia Tenggara dan Asia  Selatan. Spareparts...
Janji Penuhi Kebutuhan Dasar Rakyat Semakin Nyata
Dengan keluarnya PMK baru, para pengembang diharapkan semakin bersemangat membangun rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). ...
Yogyakarta Istimewa, Banda Aceh Luar Biasa
Kota Yogya menorehkan skor tertinggi IPM di Indonesia. Banda Aceh ada di posisi ketiga. Kota-kota dengan IPM tinggi dapat  tumbuh dengan kreativitas dan inovasi warganya tanpa mengeksploitasi ala...
Guru Terus Dididik, Siswa Terus Dibantu
Meski IPM Indonesia masuk kategori tinggi, pembangunan SDM akan terus digenjot. Bantuan bidikmisi dan KIP-Kuliah akan menjangkau 818 ribu orang. Matematika, sains, literasi untuk siswa SD. ...
Sektor Manufaktur Masih Positif
Pemerintah terus genjot kapasitas produksi industri manufaktur agar dapat memenuhi kebutuhan pasar domestik, bahkan mampu mengisi permintaan pasar ekspor. ...
Biarkan Air Kembali kepada Gambut
Selain menjadi rusak, lahan gambut yang kering mudah dilalap api. Tidak hanya moratorium, Presiden juga ingin memperbaiki kondisi lahan gambut. Embung menjadi salah satu solusi untuk terus membuatnya ...
Momentum Tancap Gas, Pascaterbitnya PMK Antidumping
Kondisi industri TPT (tekstil dan produk tekstil) Indonesia secara umum justru masih menjanjikan. ...
Kolaborasi Negeri Serumpun Menolak Diskriminasi
Pengenaan bea masuk (BM) bagi produk biodiesel asal Indonesia dari Uni Eropa sebesar 8%-18%. Meskipun baru diterapkan pada 2020, bisa dikatakan telah melukai harga diri bangsa ini. ...
Jalur Inspeksi Dari Paiton Hingga Cilegon
Banten, DKI dan Jawa Barat, menyumbang 60 persen listrik Jaba-Bali. Karena bebannya tinggi, wilayah ini perlu pasokan 2.000-3.000 MW dari Timur. Jalur transmisi-distribusi tetap rawan tertimpa ganggua...