PEJABAT NEGARA
  Calon Kapolri Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo (kedua kanan) disaksikan Ketua DPR Puan Maharani (kedua kiri), Wakil Ketua DPR Aziz Syamsuddin (kiri) dan Sufmi Dasco Ahmad (kanan) memberi hormat usai sidang paripurna di kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (21/1/2021). Foto: ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Layanan Pizza Jenderal Listyo Sigit

  •   Kamis, 21 Januari 2021 | 12:23 WIB
  •   Oleh : Administrator

Komjen Listyo Sigit lulus fit and proper DPR. Ia menjanjikan adanya transformasi di Polri. Ia menggambarkan transformasi itu sebagai lembaga kepolisian yang mudah diakses ketika masyarakat membutuhkan bantuan, layanan, atau pengaduan.

Tahapan uji kelayakan dan kepatutan oleh Komisi III DPR RI pada Rabu (20/1/2021) berlangsung adem dan mulus. Dengan tangkas, Komisaris Jenderal (Komjen) Listyo Sigit Prabowo menguraikan dan menjawab pertanyaan terkait visi misinya sebagai calon Kapolri. Komjen Listyo Sigit menjalani tahap uji fit and proper ini setelah diajukan sebagai Kapolri baru, untuk menggantikan Jenderal Idham Azis yang akan memasuki pensiun per 1 Februari 2021.

Saat mengawali acara fit and proper itu, Komjen Listyo Sigit memperkenalkan rombongan yang menyertainya ke ruang sidang khusus Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan. Mereka semua adalah para perwira tinggi yang mewakili alumni Akpol 1987, 1988, 1989, dan 1990. Listyo Sigit sendiri alumnus Akpol 1991 dan telah meraih posisi yang bergengsi, yakni Kabareskrim. “Mohon izin melaporkan, Polri dalam keadaan solid,” katanya, yang disambut tepuk tangan riuh.

Tanpa harus menyatakannya secara verbal, Listyo Sigit ingin mengatakan bahwa soal angkatan tidak menjadi isu penting di tengah penggantian Kapolri kali ini. Di sisi lain, tidak seperti yang dikhawatirkan sebelumnya, kalangan Komisi III tidak pula mempersoalkan isu agama. Seperti telah diberitakan secara luas, Listyo Sigit adalah pemeluk Katolik.

Komjen Listyo Sigit mengemas visi misinya itu dalam tema ‘Transformasi Polri yang Presisi (Prediktif, Responsibilitas, Transparansi, dan Berkeadilan)’. Ia menggambarkan transformasi itu sebagai lembaga kepolisian yang mudah diakses ketika masyarakat membutuhkan bantuan, layanan, atau pengaduan. Hotline dengan nomor tunggal akan diberlakukan secara nasional. “Masyarakat akan bisa mengakses layanan kepolisian semudah memesan pizza,” katanya.

Terkait transformasi ini pula, Listyo mengatakan, ke depan Polri tidak boleh melaksanakan penindakan hukum hanya dengan mengedepankan aspek kepastian hukum, dengan tanpa mengindahkan asas keadilan serta keadaban sosial. “Tidak boleh lagi ada kasus seorang nenek yang mencuri kakao lalu diproses hukum hanya karena ingin mewujudkan kepastian hukum. Tak boleh lagi ada seorang anak melaporkan ibunya kemudian sang ibu diproses,” ujarnya menambahkan.

Proses fit and proper itu berlangsung empat jam. Namun, tak perlu waktu panjang lagi bagi Komisi III DPR  untuk membuat keputusan.  Ketua Komisi III  Herman Herry segera menyampaikan keputusan komisinya bahwa seluruh fraksi di Komisi III DPR  menyetujui Komjen Listyo Sigit Prabowo menjadi Kapolri menggantikan Jenderal Idham Azis. ‘’Keputusan diambil secara mufakat,’’  kata Herman Herry. Tahap berikutnya, keputusan uji kelayakan dan kepatutan ini akan dilaporkan ke Pimpinan DPR RI, yang dalam hitungan hari akan membawanya ke sidang paripurna. “Keputusannya akan ditetapkan dalam Rapat Paripurna DPR RI dalam waktu dekat dan akan diproses sesuai aturan perundang-undangan,” ujar Herman Herry.

Rekam Jejak

Bukan rahasia lagi bahwa Komjen Listyo Sigit adalah sosok yang dekat dengan Presiden Joko Widodo. Ia pernah menjadi ajudan di awal masa jabatan Presiden Jokowi, dan tugas itu diembannya dua tahun (2014-2016) dengan pangkat komisaris besar (kombes). Presiden Jokowi mengenal Listyo Sigit ketika keduanya menjadi pejabat di Solo pada 2011. Joko Widodo adalah wali kota dan Listyo Sigit adalah Kapolres Solo. Sebagai wali kota, Joko Widodo terkesan oleh kecekatan Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Listyo Sigit dalam menjalankan tugas kepolisian.

Hanya setahun di Solo, ia ditarik ke Bareskrim Mabes Polri dan ditempatkan di Direktorat Tindak Pidana Umum. Di situ  ia bertugas dua tahun, lantas dipromosikan sebagai Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sulawesi Tenggara pada Mei 2013, dengan pangkat kombes. Ketika tugasnya bergeser ke istana sebagai ajudan, ia sudah menyandang pangkat kombes. Dari posisi ajudan presiden, Listyo Sigit dipromosikan sebagai Kapolda Banten pada 2016 dan dia menyandang pangkat brigjen. Ia pun jadi orang pertama di kalangan lulusan Akpol 1991 yang menyandang pangkat jenderal. Sekitar dua tahun di Banten, tepatnya pada Agustus 2018, dia pun kembali dipromosikan menjadi Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Divpropam) Mabes Polri dan mendapatkan dua bintang.

Jalan kariernya menuju puncak pun semakin terbuka tatkala Listyo Sigit kembali memperoleh promosi sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri sejak 6 Desember 2019. Ia menggantikan Idham Azis yang kemudian diangkat menjadi Kapolri. Kini, kembali Listyo Sigit pun akan menjadi pelanjut jejak Idham Azis. Di posisi terbarunya, yakni sebagai Kapolri. “Dia sangat siap menjadi Kapolri,” begitu komentar Jenderal (Purn) Tito Karnavian, yang kini menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri RI. Menurut Tito, Listyo Sigit punya rekam jejak penugasan yang lengkap.

Listyo Sigit mengawali karir kepolisiannya sebagai perwira reserse Polres Metro Tangerang sampai 1993, setelah itu berturut-turut ia dipercaya menjadi Kapolsek Duren Sawit (1999) dan Kapolsek Tambora (2003), keduanya di lingkup Polda Metro Jaya. Lalu, dia menjadi Kasat Intelkam Polres Metro Jakarta Barat (2005), lantas bergeser sebagai Kabag Pengendalian Personel di Polda Metro dengan pangkat AKBP. Hampir selama empat tahun ia bertugas di lingkungan Markas Polda Metro, sebelum kemudian dibebankan tanggung jawab sebagai Kapolres Pati (2009), lalu Kapolres Sukoharjo 2010, Wakil Kapolres (Kota Besar) Semarang, dan kemudian dipercaya menjadi Kapolres Solo.

Listyo Sigit juga tidak asing dengan urusan terorisme. Sewaktu menjabat Kapolsek Duren Sawit dengan pangkat ajun komisaris polisi (AKP), ia ikut terjun menangani kasus bom di Mal Atrium Senen, pada  Desember 2003. Ia ikut mengamankan dan menyelidiki tersangka pelaku yang beralamat di Klender, Jakarta Timur, yang termasuk dalam wilayah kerjanya.

Saat menjabat sebagai Kapolres Solo AKBP Listyo Sigit juga bahu-membahu dengan para petugas Densus 88, ketika mengungkap kasus peledakan bom di Gereka Bethel Injil Kepunton Solo, September 2011, yang melukai 28 jemaat gereja. Pelakunya yang dikenali sebagai Ahmad Yosefa Hayat, dari jaringan teroris Cirebon, meninggal di tempat kejadian.

Kecekatannya membangun ketertiban dan menangani kejahatan, termasuk kasus bom di Kepunton, ternyata membuat Pak Wali Kota Solo Joko Widodo terkesan. Joko Widodo kini Presiden RI dan Listyo Sigit Wibowo akan segera menjabat Kapolri,  dengan empat bintang di pundaknya.

 

 

Penulis: Putut Trihusodo
Editor: Elvira Inda Sari
Redaktur Bahasa: Ratna Nuraini