Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


TRANSPORTASI MUDIK 2019

Mobilitas Pemudik Kembali ke Asal

20 May 2019, 00:00 WIB

Pemerintah sudah mengantisipasi ritual mudik tahunan ini sejak jauh-jauh hari.


Mobilitas Pemudik Kembali ke Asal Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memimpin Rapat Koordinasi Kesiapan Angkutan Lebaran 2019, di Kementerian Perhubungan, Jakarta, Senin (22/4/2019). Sumber foto: Antara Foto

Lebaran sebentar lagi datang. Lebaran juga bermakna kembali ke asal. Sesuai dengan terjemahan dari Idul Fitri, juga kembali ke asal. Ya kembali ke asal juga berarti melakukan ritual kembali ke asal atau kampung halaman.

Melakukan kunjungan ke kampung halaman sepertinya wajib dilakukan meskipun harus melewati berbagai rintangan di perjalanan, seperti kemacetan dan berdesak-desakan. 

Tradisi mudik bisa dikatakan sudah menjadi bagian dari budaya bangsa ini. Tak dipungkiri, tingkat kekerabatan berbasis tautan mudik telah menjadi pengikat sosial. Artinya, sejauh apa pun perginya, pasti pulang juga yang menjadi tujuannya.

Dan,  puncak mudik Lebaran 2019 diperkirakan akan terjadi pada Jumat, 31 Mei 2019 atau H-5 lebaran. Pemerintah pun sudah mengantisipasi ritual mudik tahunan ini jauh-jauh hari.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) pun memperkirakan puncak arus mudik lebaran 2019 akan terjadi pada Jumat, 31 Mei 2019. Dalam rangka mengatur lalu lintas arus mudik tersebut, pemerintah pun harus menghitung dengan cermat sehingga arus mudik bisa berjalan lancar. 

Dalam rangka itu, pemerintah sudah melakukan rapat koordinasi kesiapan Angkutan Lebaran 2019 yang melibatkan perwakilan dari Kemenhub, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Polri, dan asosiasi angkutan.

Balitbang Kemenhub memprediksikan jumlah pemudik para 2019 mencapai jumlah 32 juta orang. Sedangkan survei Kemenhub menyebutkan bahwa pemudik yang menggunakan moda angkutan umum berjumlah 22,83 juta.

Angka itu menunjukkan potensi peningkatan pemudik dibanding data pada musim mudik sebelumnya sejumlah 20,86 juta.

Berjalan Lancar terlepas dari semua itu, pemerintah telah mengidentifikasi arus mudik 2019. Artinya, pemerintah cukup serius agar ritual mudik ke kampung halaman bisa berjalan lancar.

Identifikasi bisa terlihat dari potensi pemudik dari wilayah Banten, Jabodetabek, dan Bandung Raya tersebut, menurut data Kemenhub, dengan tujuan terbanyak ke daerah-daerah di Jawa Tengah (Surakarta dan sekitarnya, Semarang, dan Tegal) dan Jawa Barat (Bandung, Garut, Tasikmalaya). Sebanyak 16,7% di antaranya akan mudik pada 31 Mei 2019. 

"Masyarakat akan mudik paling banyak pada pukul 6 hingga 8 pagi," ujar Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiyadi.

Khusus dari Jabodetabek, jumlah pemudik mencapai 14,9 juta orang. Sebagian besar pemudik menggunakan bus dengan porsi 30% atau 4,46 juta orang. Kemudian, mobil pribadi mengekor dengan porsi 28,9% atau 4,3 juta orang dengan menggunakan 1 juta unit mobil pribadi.

Sekitar 1,72 juta atau 40% di antaranya akan melalui Jalur Tol Trans Jawa. Sisanya akan tersebar di jalur pantai utara (27,3%), lintas selatan (8,5%), lintas selatan-selatan (3,4%), jalan alternatif (12%), dan trans Sumatra (8,8%).

 Selain menggunakan moda transportasi kendaraan, pemudik juga akan menggunakan moda kereta api sebanyak 16,7% atau 2,49 juta orang, pesawat 9,5% atau1,41 juta orang, dan sepeda motor 6,3% atau 938.700 orang.

 Bagaimana dengan pemudik yang menggunakan sepeda motor? Moda transportasi ini masih tetap akan digunakan oleh masyarakat. Namun, pemudik moda sepeda motor diperkirakan mayoritas akan melalui jalan alternatif dengan porsi 56,9% atau 561.370 orang.

Kemudian jalan pantai utara (Pantura) menjadi jalur terbanyak kedua sebanyak 314.680 orang (31,9%), lintas selatan 69.930 orang (7,1%), dan lintas selatan-selatan 40.790 orang atau dengan porsi 4,1%.

Khusus untuk puncak arus balik, Kemenhub memprediksi akan terjadi pada Minggu, 9 Juni 2019 atau H+3 lebaran. Pada puncak arus balik, sekitar 22,4% dari pemudik akan kembali ke kota tempat tinggalnya.

Ritual mudik sebenarnya bukan hanya milik Indonesia saja. Beberapa negara juga memiliki kesamaan dalam tradisi mudik tersebut. Misalnya, Malaysia yang disebut dengan ‘Pulang Kampoeng’. Sama dengan Indonesia, tradisi mudik itu diselenggarakan dalam rangka Idul Fitri atau Hari Raya Puasa.

Tradisi yang sama juga terjadi di Mesir. Berbeda dengan Indonesia dan Malaysia, negeri di jazirah Sungai Nil ini memperingati Hari Raya Qurban dengan tradisi mudik, bukan perayaan Idul Fitri. Selain Malaysia dan tradisi mudik juga dikenal di negara serumpun lainnya, seperti Brunei dan Singapura. Begitu juga dengan India, Bangladesh, atau Pakistan.

Cina terutama di kawasan muslimnya Xinjiang dan Yunnan juga memiliki tradisi yang sama. Tradisi yang sama juga terjadi ketika mereka merayakan Imlek. Bayangkan 1,3 miliar penduduknya melakukan ritual pulang kampung selama perayaan Imlek tersebut.

Terlepas dari semua itu, harapannya, ritual mudik 2019 di Indonesia akan berjalan lancar. Tentunya, manajemen angkutan moda yang baik menjadi harapan kita semua sehingga masyarakat tetap bisa terlayani dengan baik dan nyaman untuk pulang ke kampung halamannya.

Tak dipungkiri, kita tidak bisa menghilangkan budaya mudik yang sudah berjalan sekian lama. Apalagi dalam konteks sosiologis, kekerabatan di bangsa ini memang paling erat dan medium mudik telah menjadi alat pengikat antarkeluarga. (F-1)

Infrastruktur
Sosial
Narasi Terpopuler
Angin Segar dari Pertemuan G20 Fukuoka
Digital ekonomi Indonesia menjadi yang terbesar di Asia Tenggara dengan nilai diprediksi mencapai USD100 miliar pada 2025 dari sebelumnya USD27 miliar pada 2018. ...
Mengoptimalkan Aspal Buton Mengurangi Ketergantungan Impor
Aspal Buton merupakan satu-satunya aspal di Indonesia yang terbaik dan terbesar di dunia. Sejak 2015, pemerintah RI juga mengarahkan untuk mengoptimalkan penggunaan aspal Buton untuk pembangunan jalan...
Menunggu Investasi Setelah Naik Kelas
Berbagai Lembaga survei menempatkan ekonomi Indonesia dalam kacamata positif. Kini waktunya Indonesia lebih giat menebarkan jalan untuk menarik investasi langsung ke dalam negeri. ...
Peluang Investasi di Indonesia semakin Menarik
Indonesia kini memiliki peringkat kredit BBB/Outlook stable, meningkat dibandingkan periode sebelumnya di posisi BBB-/Outlook stable. ...
Rekayasa Menekan Angka Kecelakaan
Angka kecelakaan pada arus mudik 2018 menurun drastis. Jalan tol,  perbaikan jalan negara dan provinsi, serta rekayasa lalu lintas yang ketat dinilai berhasil menekan laju kecelakaan. Pemudik dar...
PT PELINDO II Naik Peringkat
IPC memiliki 12 (dua belas) cabang pelabuhan yang tersebar di wilayah bagian barat Indonesia, yakni Pelabuhan Tanjung Priok, Sunda Kelapa, Palembang, Pontianak, Teluk Bayur, Banten, Bengkulu, Panjang,...
Indonesia Berpotensi Raih Berkah
Perlu segera diantisipasi dampak perang dagang AS-Cina agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga dan bisa lebih baik ke depannya. ...
Buah dan Sayur Makin Menjanjikan
Nilai tukar petani (NTP) Januari-Mei 2019 mencatat yang tertinggi  selama enam tahun. Ada harapan beberapa bulan ke depan akan terus bergerak positif. Namun, subsektor perkebunan rakyat masih bel...
Tujuh Dermaga di Gerbang Jawa-Sumatra
Arus mudik Jawa-Sumatra 2019 berjalan lancar. Terminal kelas eksekutif ikut menyambut para pemudik. Dermaga baru dan feri-feri besar membuat kapasitas penyebarangan meningkat ...
Hore, Peringkat Indonesia Naik Lagi
Lembaga pemeringkat dunia S&P menaikkan peringkat utang Indonesia dari BBB- dengan outlook stabil menjadi BBB. Kesempatan Indonesia untuk meraih investasi langsung lebih banyak. ...