Bahasa | English


OLIMPIADE 2032

Momentum Indonesia Menata Diri

12 November 2020, 08:44 WIB

Indonesia dapat mencontoh Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok sebagai tiga negara Asia yang sukses menggelar Olimpiade. Termasuk dalam membina atlet agar bermental juara. 

 


Momentum Indonesia Menata Diri Presiden Joko Widodo bersama atlet berprestasi Indonesia. Foto : Setkab

Pencanangan Indonesia secara resmi sebagai kandidat tuan rumah Olimpiade seperti diumumkan Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (6/10/2020), merupakan sebuah loncatan besar bagi kemajuan dunia olahraga di tanah air. 

Olimpiade adalah salah satu cara untuk menaikkan citra dan martabat bangsa di mata internasional. Bukan sebaliknya, pamer diri atau sekadar gagah-gagahan. Itulah yang dilakukan Jepang, Korea Selatan (Korsel), dan Tiongkok ketika terpilih sebagai tempat penyelenggara Olimpiade. 

Jepang telah menjadi pembuka jalan bagi bangsa-bangsa di Asia untuk mewujudkan mimpi sebagai pelaksana Olimpiade. Saat pertama kali menggelar Olimpiade pada 1964, dengan Tokyo sebagai kota pelaksana, Jepang menunjukkan diri mampu bangkit dari keterpurukan akibat Perang Dunia II.

Dunia dibuat tercengang dengan modernisasi yang ditampilkan Jepang. Sembilan hari menjelang pembukaan Olimpiade 1964, Kota Tokyo memperkenalkan Shinkansen, sebuah jaringan kereta cepat pertama di dunia saat itu yang mampu melaju hingga kecepatan 300 kilometer (km) per jam. 

Kereta peluru ini melayani Tokyo ke Osaka dan Nagoya sejauh 513 km dalam waktu empat jam. Mereka juga memperkenalkan sistem penghitungan lomba dengan akurasi sangat tinggi dan penyiaran pertandingan dengan sistem satelit. 

Hal serupa dilakukan Korea Selatan ketika menggelar Olimpiade 1988. Negeri Ginseng ini baru saja bangkit setelah menghadapi krisis ekonomi dan politik delapan tahun sebelumnya. Namun mereka mampu membuktikan diri serta sukses sebagai tuan rumah. 

Hal yang sama juga dialami Tiongkok ketika Beijing terpilih sebagai tuan rumah. Negeri Panda itu berhasil menyingkirkan kritikan pedas dunia sebagai salah satu kota terpolusi dan terjorok. Kemampuan Tiongkok membangun fasilitas-fasilitas olahraga sangat modern dan mewah diacungi jempol banyak negara. 

Beijing juga menyediakan infrastruktur transportasi modern dengan bandar udara (bandara) besar dan sistem kereta cepat berteknologi tinggi. Otoritas Beijing juga mampu menjaga kualitas udara sesuai standar Badan Kesehatan Dunia atau WHO agar aman bagi para atlet yang berlomba. Beijing bahkan merelokasi sejumlah pabrik pencemar polusi ke lokasi lain, di luar ibu kota Tiongkok itu.  

Indonesia pun sebetulnya sejak jauh hari sudah mulai menyiapkan infrastruktur-infrastruktur olahraga berkualitas internasional. Hal itu dilakukan sejak pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) tak lagi dipusatkan di Jakarta. 

Sejak 2008 hingga saat ini, PON secara rutin digelar di luar Jakarta. Pada 2008, Provinsi Kalimantan Timur menjadi tuan rumah. Empat tahun kemudian, giliran Riau menjadi tuan rumah PON ke-18 diikuti Jawa Barat pada 2016, dan Papua tahun depan. Tradisi ini akan terus berlanjut ketika pada 2024 Provinsi Daerah Istimewa Aceh dan Sumatra Utara menjadi tuan rumah bersama.

Daerah-daerah tadi memunculkan pusat-pusat olahraga baru karena adanya infrastruktur-infrastruktur olahraga megah berkualitas internasional dibangun dengan anggaran tidak sedikit. 

Mereka juga membangun infrastruktur pendukung seperti bandara, jalan, dan jembatan dengan kualitas sangat baik. Papua, misalnya, untuk keperluan PON 2021 telah selesai membangun sebuah kompleks olahraga bernilai hampir Rp4 triliun di Sentani, Jayapura. 

Terdapat sejumlah fasilitas olahraga modern di dalamnya, termasuk Stadion Utama Lukas Enembe dan Arena Akuatik Lukas Enembe. Keduanya menjadi salah satu infrastruktur olahraga terbaik di Indonesia saat ini.

Stadion dan arena akuatik itu telah disertifikasi induk olahraga sepak bola dan renang dunia serta diizinkan untuk menggelar pertandingan-pertandingan internasional di Papua. 

 

Peningkatan Kualitas Atlet

Kita melihat bahwa Jepang, Korea Selatan dan Tiongkok telah membuktikan diri mampu menempa atlet-atlet mereka untuk menjadi pahlawan olahraga bagi negaranya. 

Pada Olimpiade Tokyo 1964, atlet-atlet Negeri Sakura membawa negaranya bertengger di peringkat ketiga perolehan medali di bawah Uni Soviet dan Amerika Serikat yang keluar sebagai juara. 

Hal serupa dilakukan atlet-atlet Korea Selatan pada 1988 saat membawa negara mereka berada di urutan keempat perolehan medali. Atlet-atlet Tiongkok memberi kejutan besar saat negara mereka menjadi tuan rumah. 

Bermodalkan 51 medali emas, 22 perak dan 30 perunggu, mereka mengantarkan Tiongkok untuk pertama kali dalam sejarah sebagai juara umum Olimpiade. 

Prestasi hebat para atlet asal Jepang, Korsel, dan Tiongkok tak hanya dilakukan ketika negaranya menjadi tuan rumah Olimpiade. Mereka konsisten menjaga posisi negaranya agar selalu berada di urutan 10 besar perolehan medali di sepanjang ajang Olimpiade yang diikuti negaranya. 

Jepang, Korsel, dan Tiongkok telah lama bereksperimen untuk mengembangkan sektor olahraga di negara mereka hingga menjadi sebuah industri. Mereka melibatkan sains dan teknologi untuk memajukan olahraga di ketiga negara. 

Presiden Komite Olimpiade Tiongkok Gou Zhongwen mengatakan, Pemerintah Tiongkok sejak 1995 telah membangun 620.000 gelanggang olahraga (GOR) dan stadion di penjuru negeri sebagai pusat pembinaan olahraga berbentuk akademi-akademi olahraga. 

Sistem kurikulum khusus olahraga prestasi juga ikut disiapkan agar menghasilkan atlet-atlet profesional dan bermental juara. “Kami setiap tahun harus menyeleksi 4.000 bibit atlet unggulan untuk bertanding di ajang Olimpiade yang kami ikuti. Mereka berasal dari 20.000 lokasi pemusatan latihan di daerah-daerah,” kata Gou seperti dikutip dari Inside The Game, Maret 2019. 

Indonesia tak perlu ragu untuk meniru langkah ketiga negara raksasa olahraga di benua Asia itu. Sudah saatnya induk-induk organisasi cabang olahraga di Tanah Air memanfaatkan kehadiran infrastruktur-infrastruktur olahraga berkelas internasional di daerah sebagai pusat pembinaan atlet-atlet muda berpestasi. 

Ini agar fasilitas olahraga tadi tetap dapat dimanfaatkan dan tidak terbengkalai. Kejuaraan-kejuaraan berskala nasional atau internasional harus secara rutin digelar. 

Indonesia pernah mencetak sejumlah atlet juara Olimpiade dan semuanya dari cabang olahraga bulutangkis. Susi Susanti, Alan Budikusuma, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Taufik Hidayat, Candra Wijaya, Tony Gunawan, Hendra Setiawan, Markis Kido, Tontowi Ahmad, dan Liliyana Natsir adalah para pebulutangkis yang telah membuat lagu Indonesia Raya berkumandang di arena Olimpiade. 

Indonesia masih memerlukan lebih banyak lagi atlet-atlet dari berbagai cabang olahraga sekaliber mereka untuk bisa berbicara banyak di ajang Olimpiade 12 tahun lagi. Pemanfaatan sains dalam olahraga harus semakin ditingkatkan agar dapat memperbaiki teknik bertanding para atlet. Belum lagi upaya pemenuhan nutrisi untuk atlet. 

 

Olimpiade Hemat Biaya

Pelaksanaan Olimpiade identik dengan anggaran besar. Tiongkok adalah contohnya di mana mereka telah menghabiskan biaya hingga USD40 miliar atau sekitar Rp560 triliun dengan kurs Rp14.200 per dolar untuk membangun seluruh fasilitas olahraga dan fasilitas pendukung saat Olimpiade 2008. 

Negara itu juga memperluas kapasitas Bandara Internasional Beijing sehingga menjadi salah satu bandara terbesar di dunia. Tiongkok juga membangun kereta bawah tanah, jaringan kereta cepat, dan memperbanyak jalan tol baru. 

Namun bertepatan dengan Hari Kota Sedunia pada 30 Oktober 2020 lalu Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) Thomas Bach menyampaikan bahwa ke depannya Olimpiade diminta agar dilaksanakan secara sederhana dan hemat biaya. Tuan rumah Olimpiade harus mampu menampilkan sisi inovasi dan kreativitas dalam pelaksanaan dibandingkan bermewah-mewah. 

Indonesia telah berpengalaman dengan pengelolaan anggaran yang terbatas. Ini dibuktikan ketika menjadi tuan rumah Asian Games 2018 meski dengan keterbatasan anggaran tetap mampu menghadirkan perhelatan yang mendapat pujian banyak pihak termasuk dari IOC. 

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut, untuk mendanai Asian Games 2018 pemerintah mengeluarkan anggaran bersumber dari APBN 2015-2018 sebesar Rp24 triliun. Angka itu masih lebih kecil dari apa yang dikeluarkan Qatar dan Tiongkok saat menggelar Asian Games. 

Qatar harus mengeluarkan hingga Rp36 triliun saat Doha menjadi tuan rumah Asian Games 2006 dan Tiongkok menggelontorkan Rp210 triliun agar ajang Asian Games 2010 di Guangzhou bisa terlaksana. 

Berkaca dari hal itu, Indonesia diyakini bisa menggelar sebuah event Olimpiade yang bersahaja dan tak terlupakan dengan biaya yang hemat. Terlebih, pemerintah sejak enam tahun terakhir gencar berinvestasi pada pembangunan infrastruktur pendukung.

Mengutip data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, hingga 2024 nanti di Sumatra, Jawa, dan Sulawesi akan ada lebih dari 4.800 km jalan bebas hambatan baru. Begitu pula pembangunan belasan ribu kilometer ruas jalan baru di seluruh pulau. Sejumlah bandara dan pelabuhan baru juga ikut dibangun termasuk perluasan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng. 

Infrastruktur perkotaan pun telah ikut dibenahi dengan terbangunnya jaringan kereta bawah tanah di Jakarta, kereta ringan di Jabodetabek dan Palembang, sistem bus terpadu terhubung jalan tol dalam kota, pembenahan jaringan kereta dalam kota,kereta cepat Jakarta-Bandung, dan rencana kereta cepat Jakarta-Surabaya. 

Sektor pariwisata yang diharapkan dapat membantu menambah devisa negara saat Olimpiade digelar pun mulai dibenahi. Pemerintah berkreasi dengan mengembangkan 10 destinasi wisata baru selain Bali. Terakhir, pencalonan Indonesia sebagai tuan rumah Olimpiade 2032 seperti dipesankan Presiden Joko Widodo, harus dilihat sebagai upaya kita menata diri dan memperbaiki berbagai hal yang masih kurang dan perlu ditingkatkan.

 

 

Penulis: Anton Setiawan
Editor: Firman Hidranto/Elvira Inda Sari
Redaktur Bahasa: Ratna Nuraini

Presiden RI
Asian Game 2018
DKI Jakarta
Indonesia
Olimpiade 2032
Presiden Joko Widodo
Narasi Terpopuler
Energi Surya Berakselerasi di Tengah Pandemi
Indonesia berkomitmen porsi energi baru dan terbarukan (EBT) dalam bauran energi nasional sebesar 23 persen pada 2025. ...
Semuanya Harus Extraordinary
Pada Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) kementerian/lembaga dan Daftar Alokasi TKDD (Transfer Daerah dan Dana Desa) tahun 2021, ada prioritas belanja pada delapan sektor dan fokus pada empat isu...
Nota Sri Mulyani untuk Lembaga Keuangan Dunia
Di sejumlah event dunia, Menkeu Sri Mulyani menekankan pentingnya kesetaraan akses vaksin, bauran kebijakan fiskal, makroprudensial, dan moneter. Pada skenario optimistis, di 2020 India tumbuh 8,8 per...
Satria Menghubungkan Nusantara
Satelit Satria akan berkapasitas 150 Gbps dan menjadi satelit mulitfungsi terbesar di Asia untuk keperluan layanan internet. Kapasitas itu mampu melayani 150.000 titik di seluruh tanah air yang sulit ...
Mengalirkan Dana Pembiayaan Swasta
Indonesia membentuk sovereign wealth fund (SWF) atau lembaga pengelola investasi yang akan beroperasi awal 2021. Sejumlah investor asing sudah berkomitmen berpartisipasi. ...
Dari Riyadh, Roma, lalu Labuan Bajo
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Negara G-20 menyepakati penundaan pembayaran utang negara berkembang. Di antara Negara G-20, kinerja ekonomi Indonesia terbaik kedua setelah Tiongkok. ...
Simulasi Dahulu, Vaksinasi Kemudian
Keselamatan dan keamanan masyarakat merupakan prioritas tertinggi dalam pelaksanaan vaksinasi Covid-19. Untuk itu sejumlah tahapan ilmiah tengah dilakukan pemerintah dan wajib untuk diikuti. ...
Sukuk Hijau, Investasi dan Kontribusi bagi Lingkungan
Sukuk hijau atau green sukuk merupakan Surat Berharga Negara (SBN) syariah pertama di dunia yang mengedepankan konsep program pembiayaan untuk proyek-proyek ramah lingkungan. ...
Di Sana-Sini Masih Menjadi-Jadi
Kasus Covid-19 di dunia masih melonjak-lonjak. Sebagian Eropa lockdown. Di Benua Amerika pekan kedua November Covid-19 melesat 41%. Di Asia Selatan-Tenggara telah melandai. ...
Pertanian Tumbuh Subur, Ekspor Moncer
Kinerja ekspor membuat neraca perdagangan kembali mencetak surplus besar pada Oktober 2020 mencapai USD3,61 miliar ...