Bahasa | English


KARHUTLA

Siap Siaga Agar Asap tak Ganggu Tetangga

12 August 2019, 11:25 WIB

Presiden Jokowi menginstruksikan kewaspadaan atas ancaman kebakaran hutan pada kemarau panjang 2019. Pangdam dan Kapolda yang kebobolan kobaran api bisa dicopot dari jabatannya.


Siap Siaga Agar Asap tak Ganggu Tetangga Rakornas Karhutla Tahun 2019 di Istana Negara, Jakarta, Selasa (6/8/2019). Foto: ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Padamkan api secara dini sebelum kobarannya meluas dan membesar. Namun, lebih baik mencegahnya dengan patroli dan deteksi dini. Kalau ada yang coba bermain-main api untuk membuka lahan dengan membakar belukar, utamanya di lahan besar konsesi korporasi perkebunan/perhutanan, segera lakukan penegakan hukum. Namun, jangan lupa untuk pencegahan jangka panjang, upaya pembasahan kembali (rewetting) lahan gambut perlu diteruskan dan diperluas dengan membangun embung-embung.

Empat butir instruksi itulah yang disampaikan Presiden Joko Widodo di depan peserta Rapat Kordinasi Nasional Kebakaran Hutan dan Lahan (Rakornas Karhutla) di Istana Negara, Jakarta (6/8/2019). Presiden Jokowi menunjukkan pesan yang jelas, agar semua pihak siap siaga. Memperhatikan kemarau panjang yang kering, Presiden tak mau ada kelengahan yang memantik bencana kebakaran hutan yang besar.

Pesan kesiapsiagaan itu secara eksplisit dialamatkan kepada seluruh jajaran pemerintahan. Mulai dari Kapolda dan jajarannya hingga ke Kapolres, ke Panglima Kodam dan jajarannya hingga ke komandan kodim, gubernur, bupati, Panglima TNI, Kapolri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Badan Penanggulangan Bencana daerah (BPBD).

Presiden Jokowi mengingatkan, agar kebakaran besar 2015 tak terulang. Ketika itu, kebakaran melanda di banyak provinsi di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua, hingga memanggang 2,6 juta ha lahan. Asapnya menyiksa jutaan warga, bahkan mengganggu negeri tetangga Malaysia dan Singapura. Pada kemarau 2019 kali ini ada indikasi kenaikan hotspot dibanding 2018. 

‘’Harusnya setiap tahun turun, tidak boleh naik,’’ ujar Presiden di depan Rakornas yang dihadiri sejumlah menteri, Panglima TNI, Kapolri, Kepala BNPB hingga ke gubernur itu.

Sejak kebakaran besar terjadi 2015, Presiden memerintahkan dilakukan pencegahan, penanganan, dan penegakan hukum yang tegas. Hasilnya, sejak 2015 hingga pertengahan 2019, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) telah menjatuhkan 740 sanksi administrasi kepada korporasi  yang dinilai  melakukan pelanggaran tata kelola kawasan hutan.

Banyak di antara pengurus korporasi yang juga diajukan ke pengadilan atas tuduhan kejahatan terhadap lingkungan. Hasilnya, kejaksaan pun menangani dan melimpahkan 663 perkara ke pengadilan. Sebagian terdakwa dinyatakan berrsalah, divonis, dan dijebloskan ke bui.

Dampaknya cukup signifikan. Jika pada 2015 sekitar 2,6 juta ha area terpangggang, pada 2016 angka itu menyusut menjadi 438 ribu hektar, lalu 165 ribu ha pada 2017, kendati naik lagi ke 510 ribu ha pada 2018. Hingga Mei lalu, Karhutla tercatat di areal 43 ribu ha. Namun, Presiden perlu mewanti-wanti, karena menurut prakiraan Badan Meteorologi dan Klimatologi dan Geofisikan (BMKG), kemarau tahun 2019 ini akan lebih panjang, lebih kering, dan panas meranggas. Api lebih mudah tersulut. Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan, dinyatakan rawan karena kondisi udaranya sangat kering.

Sejumlah titik api pun telah muncul dan sedang dihadapi oleh Satgas Karhutla, yang dikordinasikan oleh BPBN, dengan melibatkaan TNI, Polri, aparatur daerah, dan unsur masyarakat. Belum seluruhnya padam, hingga asap jelaganya gentayangan ke sana-ke sini. Palembang, Pekanbaru, dan Palangkaraya telah dirayapi asap, dan sejumlah lainnya terbang sampai Singapura.

Memasuki bukan Agustus ini sejumlah media Singapura pun semakin sering memberikan peringatan ke masyarakat pembacanya: Singapura Akan Menerima Kiriman Asap Tipis dalam Beberapa Hari ke Depan. Begitu halnya dengan media di Malaysia. Semua dikaitkan dengan kebakaran lahan hutan di Sumatra. Presiden Joko Widodo menyatakan dirinya malu asap api hutan mengangggu tetanggga. Apalagi, dalam waktu dekat Presiden akan melakukan kunjungan kerja ke Singapura dan Malaysia.

Mengantisipati situasi yang tak diinginkan, Presiden Jokowi punya amanat khusus untuk TNI dan Polri. ‘’Aturan main 2015 itu masih berlaku. Jadi, Kepada Panglima TNI dan Kapolri saya ingatkan lagi. Copot jajaran yang tidak bisa menangani karhutla,’’ katanya.

Bahwa TNI dan Polri mengemban penugasan khusus, sehingga ada “aturan main” Pangdam dan Kapolda akan dicopot bila daerahnya kebobolan api, boleh jadi karena kedua badan ini lebih punya daya tangkal kuat di lapangan. TNI dan Polri juga punya personel  yang sewaktu-waktu bisa digerakkan. Secara legal, keduanya diperintahkan terjun dalam penanganan karhutla seperti tertuang pada Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 11 tahun 2015.

Melindungi masyarakat dan lingkungan hidup menjadi salah tugas pokok Polri sebagaimana amanat UU nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Bagi TNI, ikut menangani karhutla adalah salah satu bentuk pelaksanaan operasi militer selain perang (military operation other than war) sebagaimana diatur dalam UU No. 34 tahun 2001 tentang Tentara Nasional Indonesia.

Jadi, perintah pencopotan pejabat militer dan Polri jika bobol menangani karhutla di daerah kerjanya, adalah tindakan yang sah menurut hukum. (P-1)

Kebakaran Hutan
Narasi Terpopuler
Merdeka Sinyal hingga Pelosok Negeri
Tahun 2020 pemerintah menargetkan seluruh desa dan kelurahan akan terjangkau sinyal 4G. Tersisa 12.548  yang akan dirampungkan saat ini. ...
Harta Tersembunyi di Bumi Cenderawasih
Kunci keberhasilan menekan kebakaran lahan gambut di Papua adalah pelibatan tokoh setempat. Melalui mereka, warga diingatkan tentang bahaya membakar lahan. ...
Menata Riset agar Berdaya Saing
Prioritas Riset Nasional merupakan instrumen kebijakan untuk mensinergikan kegiatan riset dan pengembangan kementerian/lembaga. ...
Meruncingkan Ujung Tombak Transformasi Ekonomi Nasional
Lima tahun ke depan, pertumbuhan ekonomi kita tidak lagi berbasis pada bahan mentah, tetapi bertransformasi menjadi nilai tambah. ...
Momentum Perbaiki Layanan Kesehatan Nasional
Pemerintah menyebut pandemi Covid-19 menjadi momentum bagi perbaikan sistem kesehatan nasional. ...
Tetap Wujudkan Kegembiraan Anak di Masa Pandemi
Kesehatan fisik anak, baik melalui pemenuhan gizi anak dan imunisasi dasar, serta kesehatan mental anak merupakan hal yang perlu diperhatikan menghadapi adaptasi kebiasaan baru masa pandemi. ...
Korporasi Padat Karya pun Bernapas lagi
Fasilitas penjaminan kredit ini mampu mendorong sektor swasta menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi nasional, melengkapi dorongan dari belanja pemerintah. ...
Memompa Solidaritas Sosial di Tengah Pandemi
Momentum ibadah kurban tahun ini diharapkan dapat membawa maslahat secara luas dari sisi sosial bagi masyarakat yang terhimpit ekonomi karena pandemi. ...
Memotong Antrean Beli Tiket Feri
Aplikasi Ferizy memudahkan para pelancong yang ingin bepergian ke kawasan wisata di Banyuwangi, Gunung Bromo, Bali, Banten, maupun pesisir Pantai Lampung. ...
Investasi Tetap Bergeliat di Tengah Pandemi
Investasi di sektor industri tumbuh di tengah pandemi Covid-19. Dari total 50 investor yang masuk ke kawasan industri sampai Juni 2020, sebanyak 29 investor kategori penanaman modal asing (PMA) dan 21...