Bahasa | English


SUKU LAUT

Bajau dalam Satu Tarikan Nafas

16 January 2020, 12:37 WIB

Guillaume yang berpakaian selam hasil teknologi maju seperti sesosok "alien" di antara dua pemuda yang menyelam hanya bercelana pendek tanpa baju.


Bajau dalam Satu Tarikan Nafas Sumber Foto : 99.co

Keliling dunia dalam satu tarikan nafas, begitulah kira-kira terjemahan bebas film pendek karya Guillaume Nery, 38 tahun, yang baru dirilis pada Februari 2019. Film ini berjudul "One Breath Around The World yang berdurasi sekitar 13 menit. Ini adalah film karya Guillaume Nery  yang menceritakan 'passion'-nya pada dunia menyelam bebas alias menyelam tanpa bantuan alat pernapasan. Yang menarik dari film karya "Giyom" (dibaca demikian) ini adalah salah satu adegan dalam filmnya yang memunculkan orang-orang Suku Bajau.

Film ini adalah film pendek istimewa yang pengambilan gambarnya diambil dengan cara istimewa pula. Guillame digambarkan menyelam bebas puluhan meter di bawah permukaan laut sambil melakukan berbagai hal seperti wajarnya seorang yang sedang berada di atas permukaan laut. Dia berjalan sambil membawa batu pemberat agar tidak mengambang, kemudian merangkak, melompat, memanjat, mengayuh, mengepak, dan berbagai manuver lainnya. Sedangkan sang pengambil gambar, istrinya sendiri, Julie Gautiere, harus bertarung dengan kendala teknis kamera kedap air dan kepiawaian menyelam bebas.

Perempuan yang juga penyelam bebas profesional ini tentu saja harus jago memutuskan gambar mana yang harus diambil. Dia harus menghitung jangan sampai kehilangan momentum yang sangat berharga. Sementara itu dia harus mencari pencahayaan yang sempurna, sekaligus melakukan gerakan tubuh akrobatik agar kamera bisa mengambil berbagai sudut pengambilan gambar yang dramatis. Untuk melihat film pendek ini bisa kunjungi tautan film dalam alamat ini https://www.nationalgeographic.com/adventure/2019/04/freedivers-guillaume-nery-julie-gautier-one-breath-around-world/

 

Orang Bajau Menginspirasi

Semua yang Guillaume lakukan selama 'bergerak' di bawah laut adalah aktivitas yang wajar dilakukan oleh orang-orang Suku Bajau atau Orang Bajau Laut yang saat ini hidup di berbagai wilayah kepulauan di Nusantara. Dalam laman fesbuknya, Guillaume menceritakan pengalaman empat hari bersama Suku Bajau sebagai peristiwa yang paling luar biasa di dalam hidupnya.

Di menit keenam detik ke dua puluh lima film itu, tampak Guillaume yang telah sampai di sebuah dasar laut berterumbu karang melambaikan tangan. Tampak dari arah atas yang terlihat gelap, perlahan dua orang pemuda Suku Bajau menyelam turun ke dasar sambil membawa buluh penumbak ikan. Guillaume yang berpakaian selam hasil teknologi maju seperti sesosok "alien" di antara dua pemuda yang menyelam hanya bercelana pendek tanpa baju. Mereka hanya mengenakan pelindung mata berkerangka kayu bulat yang mereka buat sendiri.

Erik Abrahamsson dan Erika Schagatay adalah dua orang peneliti Swedia yang mempelajari Studi Antropologi kehidupan Orang Bajau Laut. Dalam Jurnal Human Evolution, Vol. 29 n. 1-3 (171-183) - 2014, mereka menyebut para pengelana laut yang hidup di kawasan Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina ini adalah ahli menyelam yang alami. Mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan menyelam bebas di laut. Jika laki-laki Bajau adalah para penumbak ikan, perempuan-perempuan Bajau adalah pengumpul biota laut di perairan yang dangkal. Mereka menyelam sejak masih sangat belia dan menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan hidup di atas dan di dalam laut.

Studi Abrahamsson dan Schagatay bertujuan untuk mempelajari cara hidup orang Bajau dan terutama kemampuan menyelam bebas mereka. Mereka ingin mengungkap potensi manusia modern dengan kemampuan menyelam bebas dalam satu tarikan nafas mampu memenuhi kebutuhan berburu ikan dan mengumpulkan hasil laut.

Pengelana Laut

Di Asia Tenggara, menurut Abrahamsson dan Schagatay, setidaknya ada tiga kelompok 'Sea Nomads' atau pengelana laut. Mereka adalah kelompok etnis tertentu yang mempunyai tradisi hidup di rumah-perahu. Ada tiga sebutan untuk mereka yakni, moken, orang laut, dan bajau laut. Ada yang tinggal di rumah yang didirikan di atas tiang-tiang pancang di atas permukaan laut, ada yang di pinggir pantai yang bersentuhan dengan laut, dan ada yang tinggal di rumah sekaligus perahu yang bisa berlayar di laut.

Pada saat mereka melakukan tiga kali periode kunjungan  selama total sembilan bulan lamanya di antara tahun 2010 hingga 2013 mereka berkunjung ke tiga lokasi Suku Bajau. Jika ditambah dengan kunjungan Erika beberapa tahun sebelumnya di 1988, mereka berarti sudah mengunjungi enam tempat yakni,

  1. Topa, Buton, Sulawesi Tenggara
  2. Ambon, Maluku
  3. Matina Aplaya, Davao, Filipina
  4. Pulau Tukang Besi, Sulawesi Tenggara
  5. La solo, Sulawesi Tenggara
  6. Riau

Agar tidak melebar, Abrahamsson dan Schagatay fokus mempelajari kelompok suku laut yang terbesar yakni Bajau Laut. Suku ini menurut perkiraan beberapa ahli sebelumnya seperti Blust dan Pallesen (2007, 1986) hidup dari berburu dan mengumpulkan hasil laut dengan menyelam bebas dan berlayar setidaknya sudah seribu tahun. Tradisinya sama mereka menyelam menangkap ikan dan mengumpulkan biota laut dengan peralatan yang sangat minimal. Hasil itu kemudian ditukar dalam perdagangan dengan umbi-bumbian, beras, buah dan kebutuhan pokok lainnya.

Terpisah 100 Tahun

Abrahamsson dan Schagatay, mencoba membandingkan dua kelompok besar Bajau Laut yang berada di Davao, Filipina, dengan Buton, Sulawesi Tenggara. Satu hal yang membuat mereka tercengang, ternyata sekalipun mereka setidaknya telah menjadi dua suku yang terpisah selama 100 tahun ternyata rumah-rumah mereka dan peralatan memancing dan berburu ikan merak tetap sama. Walaupun dialek bahasa mereka berbeda, menyesuaikan dialek wilayah sekitar, ternyata semua kata-kata yang menyangkut kehidupan di laut tetap sama. Semuanya berasal dari asal-usul orang Bajau di kepulauan yang berserak di Sulawesi Tenggara.

Ada satu contoh seorang penyelam Bajau yang mempertemukan antara studi Abrahamsson dan Schagatay dengan pengalaman Guillaume Nery. Dia adalah seorang Bajau bernawa Tarawi yang memiliki keahlian menyelam luar biasa untuk orang berumur di atas 60 tahun. Guillaume menyebut teknik yang dimiliki Tarawi yang diajarkan pada dua anaknya, Ramli dan "Bruce" Li sebagai teknik menyelam khas orang Bajau yang dia sebut seperti gaya 'bebek'. Dengan gaya ini Tarawi bisa bertahan di bawah laut selama tiga sampai empat menit. Kemampuan ini tidak berbeda banyak dengan seorang penyelam bebas "Constant Weight" yang beberapa kali mencatat rekor dunia alias Guillaume Lery. Jika Giyom dalam satu tarikan nafas bisa menjadi beberapa kali pemegang rekor dunia dengan ketenaran dan kekayaan, satu tarikan nafas orang Bajau hanya cukup untuk menumbak seekor kerapu yang akan dikumpulkan aneka 'makanan' laut lainnya. (Y-1)

Ragam Terpopuler
Cartridge-nya Isi Ulang, Diagnosisnya Lima Menit
Dengan Abbott ID Now diagnosis Covid-19 dapat dilakukan dalam lima menit. Yang diidentifikasi DNA virusnya. Ratusan unit X-pert TM di Indonesia bisa dimodifikasi jadi piranti diagonis molekuler. Lebih...
Masker Kedap Air Tak Tembus oleh Virus
Sebanyak 30 perusahaan garmen bersiap memproduksi massal masker nonmedis dan masker medis. Bahannya tak tembus oleh virus. Impor bahan baku dibebaskan dari bea masuk. ...
Bisikan Eyang Sujiatmi di Hati Presiden Jokowi
Eyang Sujiatmi telah pergi. Kerja keras, kedisiplinan, dan kesederhanaannya akan selalu dikenang anak-anaknya. ...
Menikmati Surga Bahari di Atas Pinisi
Pesona tujuh layar kapal pinisi sulit diingkari. Sosoknya instagramable. Wisata berlayar dengan pinisi kini berkembang di Labuan Bajo, Raja Ampat, Bali, dan Pulau Seribu Jakarta. ...
Berubah Gara-gara Corona
Corona mengubah hampir segalanya, termasuk gaya orang berjabat tangan. Penelitian menyebutkan, tangan merupakan wadah bakteri paling banyak. ...
Melepas Penat di Gunung Gumitir
Namanya Gumitir. Kawasan yang ada di perbatasan Jember-Banyuwangi itu menawarkan banyak sajian. Dari kafe hingga wisata kebun kopi. ...
Sulianti Saroso, Dokter yang Tak Pernah Menyuntik Orang
Tugas dokter tak hanya mengobati pasien. Kesehatan masyarakat harus berbasis gerakan dan didukung  kebijakan serta program pemerintah. Kepakarannya diakui WHO. ...
Sampar Diadang di Pulau Galang
Pemerintah beradu cepat dengan virus penyebab Covid-19. Tak ingin korban kian berjatuhan, dalam sebulan rumah sakit khusus penyakit menular siap ...
Bermula dari Karantina di Serambi Batavia
Dengan kemampuan observasi biomolekulernya, RSPI Sulianti Saroso menjadi rumah sakit rujukan nasional untuk penyakit infeksi. Ada benang merahnya dengan Klinik Karantina Pulau Onrust. ...
Tak Hanya Komodo di Labuan Bajo
Labuan Bajo disiapkan pemerintah sebagai destinasi super prioritas Indonesia. ...